JEJAK SHANG DYAH (Episode 02) - www.okenews.net

Minggu, 25 Januari 2026

JEJAK SHANG DYAH (Episode 02)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI)
Jejak adalah bahasa sunyi yang ditinggalkan langkah; ia mungkin terhapus oleh waktu, namun maknanya tetap tinggal, meresap ke bumi, menjadi saksi bahwa seseorang pernah hadir, pernah peduli, dan pernah berjanji pada semesta.

Oleh : AM PUPU
Guru Muhir_Pendiri Repoq Literasi, Lombok Timur
Di suatu senja yang lembut, ketika garis cakrawala mengabur antara langit dan laut, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berjalan menyusuri bibir pantai. Pasir dingin menyentuh telapak kakinya, ombak berbisik pelan seolah menyimpan rahasia yang tak pernah diucapkan. Tak seorang pun mengenalinya. Ia hadir dalam tubuh manusia biasa, tanpa sinar keagungan, tanpa tanda-tanda asalnya yang luhur.

Mereka yang berpapasan hanya menangkap siluet seorang wanita cantik yang hampir sempurna, langkahnya tenang, tatapannya jauh menembus samudra. Tak ada yang menyangka bahwa di balik wajah yang sederhana itu berdiam kekuatan purba dan kebijaksanaan yang telah melintasi zaman. Di pantai yang sunyi itu, Dewi Anjani membiarkan dirinya larut dalam kefanaan, menikmati dunia sebagaimana manusia memandangnya, tanpa puja, tanpa takut, hanya angin, ombak, dan rahasia yang setia menemaninya.

Langkahnya melambat. Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani menunduk, memandangi serpihan-serpihan asing yang terseret ombak ke pasir: plastik kusam, potongan jaring yang koyak, sisa-sisa dunia yang kehilangan kepedulian. Dadanya terasa sesak, bukan oleh lelah, melainkan oleh keprihatinan yang mengendap lama.

"Beginikah rupa titipan yang dulu dijaga dengan doa dan rasa hormat?" Suara itu tak terucap, namun bergema jelas di ruang batinnya.

Ia mengangkat wajah, menatap laut yang dulu jernih seperti cermin langit."Wahai manusia’, bisiknya dalam hati, “tanganmu mampu membangun peradaban, tetapi mengapa ia juga begitu ringan melukai ibu yang menghidupimu?"

Angin pantai menyibakkan rambutnya, seolah menjawab dengan keluhan panjang. “Hutan kau tebang tanpa jeda, gunung kau koyak demi keserakahan sesaat. Sungai kau jadikan tempat membuang lupa, lalu kau heran ketika air tak lagi memberi kehidupan.”

Setiap langkah terasa seperti menapaki luka. “Apakah kau tak lagi mendengar napas alam? Ataukah hatimu telah terlampau bising oleh keinginanmu sendiri?”

Namun di balik keprihatinan itu, Shang Dyah masih menyimpan seberkas harap. ”Jika tangan manusia mampu merusak, ia pun mampu menyembuhkan,” gumamnya lirih dalam batin. “Asal mereka mau kembali mengingat: bahwa mereka bukan penguasa, melainkan bagian dari semesta”.

Ombak kembali menyentuh kakinya, dan ia melangkah maju, membawa duka, doa, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti sejenak. Pandangannya kosong, menembus garis ombak yang pecah lalu hilang, seperti kesadaran manusia yang datang sebentar lalu lenyap tanpa jejak.

“Kasihan… sungguh kasihan kalian,” ucapnya dalam batin, tanpa nada marah, hanya kelelahan yang dalam.

“Kalian menangis pada banjir, mengutuk panas, menyalahkan takdir dan langit, namun tak pernah sungguh berani bercermin.”

Ia menarik napas perlahan. “Betapa mudahnya jari-jari itu menunjuk ke luar, tetapi betapa beratnya mengarah ke dada sendiri.”

Di hadapan matanya terbayang wajah-wajah manusia: cemas, marah, putus asa. “Kalian bertanya mengapa bumi tak lagi ramah, tanpa menyadari bahwa kaki kalianlah yang menginjaknya tanpa rasa. Kalian mengeluh alam tak setia, padahal kalian lebih dahulu mengkhianatinya.”

Ada iba yang menghangatkan sekaligus melukai.“Andai kalian tahu, bisiknya dalam hati, bahwa alam tak pernah berniat menghukum. Ia hanya merespons. Ia hanya memantulkan apa yang kalian lakukan kepadanya.”

Langkahnya kembali bergerak, lebih pelan dari sebelumnya.“Kalian adalah anak-anak semesta yang lupa asal-usulnya, lanjut suara batin itu. Lupa bahwa setiap pohon yang tumbang, setiap laut yang tercemar, sesungguhnya adalah bagian dari diri kalian sendiri yang ikut runtuh.”

Ia menunduk, seolah memberi hormat pada pasir dan ombak. “Namun bagaimana mungkin kesadaran tumbuh, jika kesalahan selalu dilemparkan pada nasib?” Gumamnya dalam hati

Di antara rasa kasihan itu, Shang Dyah menyimpan kesunyian yang pahit; “Manusia bukan tak mampu memahami. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa kerusakan ini… adalah karya tangan mereka sendiri.”  

Ketika gumam batin itu masih bergetar pelan di dalam dadanya, suara lain menyusup dari kejauhan. Suara manusia, nyata, serak oleh usia dan asin laut. Tak jauh darinya, dua orang nelayan setengah baya duduk di atas perahu kayu yang catnya mulai terkelupas. Tangan mereka cekatan merapikan jaring, meski gerakannya tak lagi sekuat dulu.

“Sedikit sekali hari ini,” ujar yang satu, menghela napas panjang sambil menggulung tali.
“Iya,” sahut temannya lirih, “bahkan tak cukup buat beli solar besok.”

Mereka terdiam sejenak, hanya bunyi jaring yang bergesek dan ombak yang memukul lambung perahu. “Ingat waktu kita masih kecil?” lanjut nelayan pertama. “Bapak kita pulang sebelum matahari tinggi, perahu penuh ikan. Kita sampai kewalahan bantu nurunin.”

Yang lain tersenyum pahit. “Sekarang? Setengah hari di laut, hasilnya segini.” Ia mengangkat jaring yang nyaris kosong. “Lautnya sudah bukan laut yang dulu.”

Percakapan itu membuat langkah Shang Dyah melambat. Ia merapat, berpura-pura hanya seorang pejalan yang menikmati senja, namun telinganya menangkap setiap kata.

“Sejak pantai dipagari tambak udang itu,” gerutu nelayan pertama, suaranya menurun, “air jadi lain. Mangrove habis, ikan entah ke mana.”

“Iya,” jawab temannya, nada suaranya getir. “Katanya demi kemajuan. Tapi kita yang di laut ini malah mundur.”

Ada jeda panjang. Angin membawa bau lumpur tambak yang asing bagi laut. Shang Dyah berdiri tak jauh dari mereka, hatinya bergetar. Gerutu kecil itu, sederhana dan jujur, terdengar lebih tajam daripada ratapan panjang. Ia menyimak dalam diam, menyadari bahwa tanpa mereka sadari, kedua nelayan itu sedang mengucapkan kebenaran yang selama ini dihindari banyak manusia.

Ombak kembali memecah di pasir. Dan Shang Dyah, kian mendekat, mendengarkan namun bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh keprihatinan yang bersemayam di dalam dirinya. Kedua nelayan itu kembali terdiam, seolah pikiran mereka sama-sama terseret ke arah pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban utuh. Di wajah mereka tergambar kebingungan yang lama dipendam.

“Entah kenapa ya,” gumam salah satu dari mereka sambil menatap laut, “sejak tambak itu jalan beberapa tahun lalu, ikan makin jarang. Padahal lautnya masih di sini, ombaknya masih sama.”

“Iya,” sahut yang lain pelan. “Rasanya ada yang berubah, tapi kita nggak paham betul apa. Kita ini cuma nelayan, taunya melaut, bukan hitung-hitungan tambak.”

Mereka menggeleng, pasrah pada ketidaktahuan yang terasa menyesakkan. Ada jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka pahami; jarak yang membuat keluhan hanya berhenti sebagai gerutu.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani, yang sejak tadi menyimak, melangkah lebih dekat. Ia menyamarkan kegundahan batinnya, membiarkan wajahnya tampil sebagai perempuan biasa yang singgah di pantai menjelang senja. “Permisi,” sapanya lembut, disertai senyum tipis. “Sepertinya laut hari ini kurang ramah, ya?”

Kedua nelayan itu menoleh.“Ah, iya, Naken,” jawab salah satu dari mereka, ramah meski letih. “Akhir-akhir ini memang begitu. Ikan susah dicari.”

Shang Dyah mengangguk pelan, seolah hanya ikut merasakan. “Dari dulu juga begini?” tanyanya basa-basi, nada suaranya ringan, namun matanya menyimpan perhatian yang dalam. “Tidak,” jawab nelayan yang lain. “Dulu laut ini murah hati. Sekarang… entahlah.”

Shang Dyah berdiri di antara mereka dan laut, membiarkan percakapan itu mengalir. Dalam diam, ia tahu, inilah celah kecil tempat kesadaran bisa mulai bersemi; dari obrolan sederhana, dari tanya yang jujur, dari manusia-manusia yang sesungguhnya hanya ingin hidup berdamai dengan alam.

Shang Dyah tersenyum kecil, lalu menatap laut sejenak sebelum kembali memandang kedua nelayan itu. Suaranya tetap lembut, namun kini berisi, seolah setiap kata telah lama disusun dengan pengetahuan yang matang.

“Sebenarnya,” ujarnya perlahan, “tambak udang tidak hanya mengambil ruang di pesisir. Dalam prosesnya, tambak menghasilkan limbah cair yang kembali mengalir ke laut.” Ia berhenti sejenak, memastikan mereka mendengarkan.

“Air buangan itu biasanya mengandung sisa pakan, kotoran udang, serta zat kimia seperti amonia, nitrat, dan fosfat. Jika jumlahnya kecil, laut masih bisa menyesuaikan diri. Tetapi jika dibuang terus-menerus dan tanpa pengolahan, zat-zat itu akan mengubah kualitas air.”

Kedua nelayan itu saling pandang, lalu kembali menatapnya. “Perubahan ini,” lanjut Shang Dyah, “menyebabkan eutrofikasi. Fitoplankton tumbuh berlebihan, oksigen terlarut di air menurun, dan biota laut yang membutuhkan oksigen tinggi, termasuk ikan-ikan tangkapan Bapak, perlahan menjauh atau mati.”

Ia menunjuk ke arah garis pantai yang kini tertutup pagar tambak. “Belum lagi hilangnya mangrove. Padahal mangrove adalah tempat pemijahan dan pembesaran banyak jenis ikan dan udang liar. Ketika mangrove rusak, siklus hidup biota laut ikut terputus.”

Nada suaranya tetap tenang, nyaris seperti dosen yang menjelaskan di ruang kuliah terbuka, dengan laut sebagai papan tulisnya. “Jadi bukan laut yang pelit,” simpulnya pelan. “Lingkungannya saja yang berubah, sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan seperti dulu.”

Kedua nelayan itu terdiam lama. Di wajah mereka tampak keterkejutan yang bercampur pemahaman baru. Shang Dyah menunduk ringan, seolah tak ingin terlihat menggurui. “Ini bukan kesalahan satu dua orang,” tambahnya lembut. “Ini soal bagaimana manusia sering lupa bahwa laut adalah sistem hidup yang saling terhubung. Jika satu bagian dilukai, bagian lain akan ikut merasakan.”

Ombak kembali datang dan surut, seakan mengamini penjelasan itu. Dan di senja yang semakin meredup, benih kesadaran mulai tumbuh, pelan namun nyata, di antara kata-kata yang akhirnya menemukan maknanya.

Senja perlahan menanggalkan warna keemasannya. Langit yang tadi berpendar hangat kini berangsur gelap, memasuki gerbang petang yang pekat dan sunyi. Garis laut dan langit menyatu dalam bayang kebiruan, sementara lampu-lampu kecil di perahu mulai dinyalakan satu per satu, berkelip seperti kunang-kunang yang kelelahan.

Shang Dyah menatap perubahan itu dengan diam. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergerak lebih jauh. Bagaimana kehidupan mereka di darat? batinnya bertanya. Bagaimana keluarga yang menunggu di rumah, menggantungkan harap pada laut yang kian menua?

Ia memandang kembali dua nelayan itu. Kerut di wajah mereka bukan hanya milik angin dan matahari, melainkan juga beban yang dipikul bertahun-tahun. Ada dorongan halus dalam dirinya untuk melihat lebih dekat, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai saksi kehidupan.

Shang Dyah pun sedikit memajukan langkah, berusaha menarik perhatian mereka tanpa kesan memaksa. “Petangnya cepat sekali gelap,” ujarnya sambil menatap langit. “Biasanya kalau sudah begini, rumah pasti sudah menunggu.”

Salah satu nelayan tersenyum tipis. “Iya, Naken. Istri sudah pasti resah kalau kami pulang kemalaman.” “Apa rumahnya jauh dari sini?” tanya Shang Dyah, nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa yang lahir dari keakraban mendadak.

“Tidak terlalu,” jawab yang lain. “Masih di kampung pesisir, tak jauh dari tambak itu.
Shang Dyah mengangguk pelan, lalu tersenyum hangat.

“Kebetulan saya belum tahu jalan di sekitar sini,” katanya, sedikit merendahkan suara. “Kalau tidak keberatan, boleh saya ikut sampai ke kampung? Sekalian ingin mengenal kehidupan nelayan lebih dekat.”

Kedua nelayan itu saling berpandangan, lalu mengangguk. “Boleh saja,” kata salah satu dari mereka. “Anggap saja jalan pulang bertiga.”

Di bawah langit yang kian gelap, Shang Dyah melangkah bersama mereka. Dalam hati, ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah rumah sederhana, melainkan menuju kisah manusia yang ingin ia pahami sepenuhnya; dari laut hingga ke ruang paling sunyi dalam kehidupan mereka.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah panggung kecil yang berdiri rapuh di tepi kampung pesisir. Kayunya kusam, beberapa bagian tampak lapuk dimakan usia dan udara asin. Begitu kedua nelayan itu mendekat, pintu rumah terbuka. Tiga orang anak berlarian keluar, wajah mereka cerah meski pakaian sederhana melekat di tubuh mungil itu. Di belakang mereka, seorang wanita menyusul, menyeka tangan di kain sarung, matanya memancarkan lega.

“Bapak pulang,” ujar wanita itu lirih namun hangat.

Shang Dyah berhenti sejenak, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang terasa menghangat sekaligus perih. Anak-anak itu menatapnya penuh rasa ingin tahu, sementara sang ibu tersenyum sopan. 

“Maaf, Bu,” kata Shang Dyah dengan suara halus, sedikit menundukkan kepala. “Bolehkah saya menumpang sholat Magrib?”

Wanita itu tampak terkejut sejenak, lalu mengangguk cepat. “Tentu, silakan. Rumah kami sederhana, tapi semoga cukup.”

Shang Dyah mengucapkan terima kasih. Saat diarahkan ke bagian belakang rumah untuk mengambil air wudhu, langkahnya melambat. Ia menyusuri lantai kayu yang berderit pelan, melewati dinding-dinding tipis yang tak sepenuhnya menahan angin malam. Di halaman belakang, sebuah sumur tua berdiri miring, dikelilingi ember plastik yang retak dan tanah becek bercampur pasir.

Pandangan Shang Dyah menyapu sekitar. Rumah itu jauh dari kata layak huni. Atapnya rendah, beberapa genting tampak bergeser. Tak ada sekat yang jelas antara ruang tidur dan dapur. Namun di tengah keterbatasan itu, terasa ketekunan dan ketabahan yang diam-diam tumbuh.

Sambil membasuh wajah dan tangannya dengan air dingin, Shang Dyah menunduk. Bukan karena air, melainkan karena rasa yang menekan di dalam dadanya. Beginikah harga dari laut yang terluka? batinnya bergumam. Manusia-manusia yang setia menjaganya justru hidup dalam kekurangan.

Air wudhu menetes dari jemarinya ke tanah. Dan di balik tubuh manusianya yang sederhana, Shang Dyah menyimpan tekad yang kian menguat, lahir dari apa yang baru saja ia saksikan di rumah kecil itu.

Usai sholat Magrib, rumah kecil itu dipenuhi suasana yang hangat dan sederhana. Lampu minyak menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding kayu yang kusam. Shang Dyah duduk bersila bersama keluarga nelayan itu. Anak-anak berkumpul di dekat ibunya, saling berdesakan, sesekali mencuri pandang ke arah tamu yang mereka anggap istimewa meski tak tahu alasannya.

Sang istri menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus di atas piring enamel yang pinggirnya terkelupas. “Maaf seadanya,” ucapnya lirih.

“Terima kasih,” jawab Shang Dyah tulus, senyumnya hangat, tangannya menerima suguhan itu dengan penuh hormat.

Percakapan mengalir perlahan. Tentang laut, tentang cuaca, tentang hari-hari yang kian berat. Salah satu nelayan mulai bercerita, suaranya datar namun sarat kelelahan.

“Sekarang melaut bukan soal berani lagi,” katanya. “Kadang kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap tak cukup.”

Istrinya menunduk, jemarinya meremas ujung kain. “Anak-anak tetap harus sekolah,” katanya pelan. “Kadang kami harus memilih, beli beras atau bayar buku.”

Anak-anak itu terdiam, seolah sudah terlalu akrab dengan kata-kata semacam itu. Salah satu dari mereka mendekat ke ayahnya, bersandar tanpa suara.

Shang Dyah mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tetap tenang, matanya lembut, namun di dalam batinnya sesuatu runtuh perlahan. Inilah akibat dari kerusakan yang tak pernah mereka lakukan, jerit hatinya lirih. Mereka membayar harga dari keserakahan yang bukan milik mereka.

Ia menahan napas, menelan getir yang naik ke dadanya. Betapa kejam dunia ketika yang paling setia justru yang paling menderita. Tangis itu tak pernah sampai ke wajahnya, namun di dalam, batinnya menangis pedih, tersedu tanpa suara.

Di tengah kisah-kisah sederhana itu, tawa kecil anak-anak sesekali pecah, menyingkap keteguhan yang tak tergoyahkan oleh kemiskinan. Dan di sanalah Shang Dyah duduk, menyaksikan cinta, ketabahan, dan luka yang hidup berdampingan dalam satu ruang sempit.

Malam kian pekat di luar, namun di dalam rumah kecil itu, api kehidupan tetap menyala. Shang Dyah menunduk pelan, menyimpan semua kisah itu dalam hatinya, bersumpah dalam diam bahwa penderitaan ini tak akan dibiarkan berlalu tanpa makna.

Malam semakin larut ketika Shang Dyah perlahan berdiri. Ia merogoh saku, menatap layar ponselnya, lalu berpura-pura menekan beberapa angka. Suaranya dibuat pelan namun cukup terdengar.

“Iya… aku sudah selesai,” katanya seolah berbicara dengan seseorang di seberang sana. “Tolong jemput aku di pantai tempat tadi kamu menurunkanku.”

Ia menutup panggilan itu dengan senyum kecil, lalu menoleh kepada keluarga nelayan tersebut. “Sepertinya saya harus pamit,” ucapnya lembut. “Teman saya akan menjemput di pantai.”

Sang istri bangkit tergesa. “Sudah malam, Naken. Terima kasih sudah singgah.”

Shang Dyah mengangguk hormat. Namun sebelum melangkah pergi, ia membuka ransel hitam pekat yang sejak tadi setia di punggungnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan dua helai kaos berwarna merah menyala, masih terlipat rapi. Warna itu tampak kontras di bawah cahaya lampu minyak yang redup.

“Ini… sedikit oleh-oleh,” katanya sambil menyerahkan kaos itu kepada sang nelayan. “Semoga bisa dipakai.”

Nelayan itu tampak kikuk, tangannya ragu menerima. “Wah, ini terlalu—”

“Tidak apa-apa,” potong Shang Dyah lembut, senyumnya menenangkan. Lalu ia mendekat kepada sang istri, menyelipkan sejumlah uang ke dalam genggaman tangannya. Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. “Untuk keperluan anak-anak,” bisiknya pelan.

Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia hendak berkata sesuatu, namun Shang Dyah hanya menggeleng perlahan, memohon agar tak ada penolakan.

Anak-anak memandang dengan mata bulat, tak sepenuhnya mengerti, namun merasakan hangatnya perpisahan itu.

Mereka mengantar Shang Dyah hingga ke gerbang kecil dari bambu yang berdiri miring di depan rumah. Angin malam menyapa lembut, membawa aroma laut yang pekat.

“Hati-hati di jalan, Naken,” ujar sang nelayan.

Shang Dyah menunduk hormat, lalu melangkah pergi. Dari balik bayang malam, ia sempat menoleh sekali lagi. Rumah kecil itu berdiri sunyi, namun di dalamnya tersimpan harapan yang rapuh dan doa-doa yang tak pernah berhenti.

Ia melanjutkan langkah menuju pantai stelah menorehkan ujung pemajanya pada lambung sampan sang nelayan;  tubuhnya menjauh, namun hatinya tertinggal; bersama keluarga nelayan yang baru saja ia temui, dan janji sunyi yang kini kian menguat di dalam dirinya. Berambung pekan depan

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments