www.okenews.net

Berita Utama

Politik

Sosial



 


Video

Selasa, 03 Februari 2026

Tradisi Nyelamet Dowong di Lotim, Ikhtiar Warga Jaga Padi dan Dukung Swasembada Pangan

Ritual Adat Nyelamet Dowong

Okenews.net- Masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar tradisi adat Nyelamet Dowong, sebuah ritual tahunan yang sarat makna sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar menjaga tanaman padi dari serangan hama menjelang masa panen.

Tradisi ini diawali dengan iring-iringan puluhan perempuan yang membawa Tembolaq, baki tradisional khas Sasak berisi hasil bumi, nasi, ketupat, serta aneka kue tradisional Lombok. Tembolaq tersebut dibawa dari area masjid menuju makam leluhur untuk pelaksanaan zikir, doa bersama, serta pengambilan air suci di mata air Merta Sari.

Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet, menjelaskan bahwa Nyelamet Dowong merupakan warisan leluhur yang wajib dilaksanakan setiap tahun saat padi berusia sekitar satu bulan.

“Upacara adat ini selalu dilakukan sebelum panen. Tujuannya untuk menyelamatkan padi dari hama dan memohon hasil panen yang baik,” ujarnya, Senin (02/02/2026).

Rangkaian ritual berlangsung selama dua hari. Pada hari Jumat, warga melakukan pembersihan makam para leluhur. Ritual dilanjutkan pada hari Minggu dengan prosesi pemotongan ayam di satu lokasi khusus.

“Pemotongan ayam ini memiliki filosofi agar penyakit tidak menyebar. Darah ayam dialirkan ke daun bambu, yang sejak dulu dimanfaatkan sebagai pestisida alami,” jelas Lalu Selamet.

Daun bambu yang telah terkena darah ayam tersebut kemudian diletakkan di tengah sawah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, aroma amis darah ayam akan menarik hama, sehingga hama tersebut mati secara alami tanpa bahan kimia.

Selain itu, air suci dari mata air Merta Sari dialirkan ke area persawahan. Air tersebut diyakini membantu membersihkan sisa hama yang telah mati sekaligus membawa berkah bagi tanaman padi.

“Intinya, tradisi ini adalah wujud rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar panen melimpah, sekaligus mendukung cita-cita swasembada pangan,” pungkasnya.

Antusiasme warga juga terlihat dari partisipasi aktif masyarakat. Salah seorang warga, Amaq Muslihin, mengaku dengan sukarela menyediakan berbagai hidangan untuk dinikmati bersama.

“Kami menyiapkan makanan secara swadaya untuk dinikmati bersama. Apalagi padi saya sudah mulai menguning, semoga setelah doa bersama ini hasil panen semakin baik,” katanya.

Tradisi Nyelamet Dowong tidak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga mencerminkan keharmonisan masyarakat Lombok Timur dalam menjaga alam, budaya, dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Senin, 02 Februari 2026

Aroma Merah Shang Dyah di Laut Sunyi (Episode 03)

Ilustrasi: Para nelayan pulang ditunggui istri. Terlihat Shang Dyah dari jauh 
Aroma mistis itu mengalir tanpa rupa; bukan wangi, bukan pula bau; melainkan jejak sunyi yang hanya bisa dikenali oleh ingatan jiwa, hadir pelan seperti doa yang lupa diucapkan namun tiba-tiba terasa menggenang di dada.

Oleh: Am. Pupu 
Guru Muhir_Founder Repok Literasi
Perahu kecil itu meluncur pelan di atas laut pagi. Pe Dirata dan Loq Jinep berdiri berdampingan, tubuh mereka dibalut baju merah; pemberian Shang Diyah; yang kontras namun hangat di bawah cahaya matahari. Warna itu seperti doa yang ikut berlayar, menempel di dada mereka, menguatkan langkah sebelum hari benar-benar terbangun.

Cuaca begitu bersahabat. Angin hanya berbisik lembut, nyaris tak terasa. Lautan terhampar tenang seperti kolam renang, permukaannya memantulkan langit biru pucat tanpa riak berarti. Tak ada gelombang yang tergesa, tak ada awan yang mengancam. Semesta seolah sengaja melambat agar dua nelayan itu bisa bekerja dengan hati yang ringan.

Saat perahu mencapai titik yang mereka kenal baik, jangkar dilepas. Bunyi besinya tenggelam pelan, lalu sunyi kembali merajai. Di atas air yang nyaris diam, jaring ditebar dengan gerak yang terlatih; tidak terburu-buru, tidak ragu. Setiap simpul jaring seakan mengikuti irama napas mereka, jatuh rapi, menyatu dengan ketenangan laut.

Di antara diam dan kerja, ada rasa damai yang mengalir. Seperti keyakinan sederhana bahwa hari ini laut akan ramah, rezeki akan menemukan jalannya, dan baju merah itu; pemberian yang tulus menjadi saksi bisu betapa tenangnya hidup ketika manusia, alam, dan niat baik berjalan searah.

Tanpa mereka sadari, jauh di kedalaman yang tak tersentuh cahaya, Adipati Segara Dalem tengah memandang. Pandangannya yang menembus air dan waktu, tertumbuk pada dua nelayan berbaju merah di atas perahu kecil. Dari kejauhan itu, tercium aroma warna yang amat dikenalnya: aroma lama yang  hangat dan sacral; symbol milik Shang Dyah. Hatinya bergetar pelan; ingatan dan penghormatan berbaur dalam satu tarikan napas samudra.

Dengan isyarat sunyi, Adipati Segara Dalem memerintahkan para punggawanya. Perintah itu mengalir seperti arus yang patuh: ombak ditenangkan, arus bawah laut dihentikan. Laut pun tunduk, menahan geraknya, menjaga perahu kecil itu tetap dalam pelukan damai.

Tak berhenti di situ, ia berkoordinasi dengan para adipati penjaga binatang laut. Pesan disampaikan dari palung ke palung, dari karang ke karang: bahawa hari ini adalah hari penyambutan. Ikan-ikan pun bergerak dalam keteraturan yang tak terlihat, mengikuti irama yang hanya samudra pahami.

Di permukaan, Pe Dirata dan Loq Jinep tetap bekerja. Mereka berdua, tak mengetahui apa-apa. Ketika jaring ditarik, keajaiban terhampar tanpa gaduh: berbagai jenis ikan; berkilau perak, keemasan, dan gelap kebiruan, terperangkap dengan tenang. Tak ada perlawanan yang liar, hanya kepatuhan lembut seolah mereka datang untuk memenuhi takdir hari itu.

Perahu kecil itu pun sarat berkah. Laut tetap tenang seperti semula, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Hanya samudra yang tahu: hari itu, dua nelayan berbaju merah telah berjalan dalam pengawalan yang tak terlihat, disambut oleh seluruh isi laut, karena satu aroma warna yang dikenali dan dihormati sejak lama.

Saat jaring itu benar-benar terangkat dan isi perahu nyaris penuh, Pe Dirata dan Loq Jinep saling berpandangan. Mata mereka berbinar, senyum pecah tanpa aba-aba. Mereka tertawa kecil; tawa orang laut yang biasanya lebih akrab dengan pasrah daripada berlimpah. Terlintas di benak mereka hari-hari sebelumnya, saat pulang dengan jaring ringan, kadang nyaris kosong, kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Tak jarang mereka menyebut laut pelit, sambil tetap menunduk menerima nasib.

Kali ini berbeda. “Hari ini… sungguh tak seperti biasanya,” gumam salah satu, suaranya bergetar.

Mereka pun tak henti-hentinya memuji nama Tuhan. Di sela mengikat hasil tangkapan, di antara tarikan napas dan degup jantung, syukur mengalir spontan; bukan dalam kata yang tinggi, melainkan pujian sederhana yang lahir dari hati nelayan: tentang rezeki, tentang keselamatan, tentang laut yang hari ini begitu murah hati.

Perahu lalu diarahkan ke tepian, mesin dinyalakan pelan, membelah air yang masih tenang. Di sepanjang perjalanan pulang, rasa gembira itu tetap melekat. bukan sekadar karena ikan yang banyak, tetapi karena keyakinan bahwa hari ini mereka benar-benar diperhatikan.

Di dekat pantai, mereka bertemu nelayan lain. Perahu-perahu kecil bersisian, wajah-wajah letih dengan jaring yang tak seberat milik mereka. Ada yang hanya tersenyum tipis, ada yang menghela napas panjang. Saling sapa pun terjadi; sapaan khas orang laut, singkat namun hangat. Tak ada kesombongan, hanya cerita singkat dan tawa ringan.

Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan rendah hati, tetap menyebut nama Tuhan dalam setiap penjelasan. Mereka tahu, laut tak selalu memberi sama rata. Hari ini mereka beruntung; esok bisa saja giliran yang lain.

Dan perahu itu pun terus melaju ke darat, membawa hasil tangkapan, membawa cerita, dan membawa syukur yang tak habis-habis; yakni sebuah kegembiraan sederhana yang akan mereka kenang lama, sebagai hari ketika laut, langit, dan doa bertemu dalam satu perjalanan pulang.

Di pesisir pantai, suasana mulai riuh oleh penantian. Anak-anak berlarian di pasir basah, para orang tua berdiri berderet memandang laut, dan suara ombak kecil bersahutan dengan panggilan nama yang dilemparkan ke cakrawala. Mata-mata menajam ke arah biru, mencari siluet perahu yang dikenali dari jauh. Angin membawa aroma garam dan harap yang tertahan.

Di antara keramaian itu, istri-istri mereka menunggu. Tubuh tegak, tangan saling menggenggam, wajah menyimpan harap yang bercampur cemas. Tak banyak kata terucap. Seribu harap tercurah tanpa suara; tentang keselamatan, tentang rezeki, tentang pulang.

Hanya mata yang berbicara, menengadah ke langit seolah menitipkan pesan yang tak perlu diucapkan.

Dalam diam itu, ingatan berlabuh pada Sang Maha Rahman lan Maha Rahim. Nama-Nya tak selalu dilafalkan, namun hadir penuh di dada. Setiap hembusan napas adalah doa, setiap kedipan mata adalah pengakuan: bahwa laut luas ini ada dalam genggaman-Nya, dan pulang adalah anugerah.

Ketika akhirnya perahu tampak yang mula-mula hanya titik, lalu bentuk; riuh pesisir menghangat. Senyum merekah, langkah dipercepat, dan hati yang semula menahan kini melonggar. Di tepi pantai itu, antara pasir dan air, harap menemukan jawabnya. Bukan lewat kata-kata besar, melainkan lewat tatapan yang bertemu, pelukan yang segera menyusul, dan syukur yang mengalir pelan, yak ubahnya seperti ombak kecil yang setia kembali ke pantai.

Begitu perahu merapat, istri Pe Dirata dan istri Loq Jinep segera bergegas menyambut. Langkah mereka cepat namun tertahan, seperti biasa, antara ingin segera tiba dan takut berharap terlalu tinggi. Di tangan kiri masing-masing tergenggam wadah kecil, wadah yang selama ini akrab dengan kesunyian. Wadah itu tak pernah penuh oleh tangkapan suami mereka; paling sering hanya berisi sedikit ikan yang sekadar cukup untuk membayar hutang solar, itu pun sering kali tak mampu mereka lunasi. Wadah kecil itu menjadi saksi hari-hari panjang menunggu, menawar, dan menahan malu.

Mereka mendekati perahu dengan mata yang menunduk, kebiasaan yang lahir dari seringnya pulang tanpa kabar baik. Namun langkah itu mendadak terhenti. Pandangan mereka terangkat, dan seketika napas tertahan.

Terkejut;
Bukan oleh satu atau dua ekor, melainkan hasil tangkapan yang begitu banyak. Ikan berkilau menumpuk rapi, memenuhi perahu hingga ke bibirnya. Mata mereka membesar, tangan yang memegang wadah kecil mengencang. Sejenak mereka tak berkata apa-apa, seolah takut pemandangan itu menguap jika disapa kata.

Wadah kecil itu kini tampak terlalu kecil untuk kenyataan di hadapan mereka.

Di wajah mereka, harap yang lama terlipat kini terbuka perlahan, bercampur takzim dan syukur yang mengalir tanpa suara. Mata kembali menengadah, kali ini bukan untuk meminta, melainkan untuk mengakui anugerah; bahwa hari ini, laut telah menjawab doa yang selama ini hanya berani disimpan di dada.

Melihat perahu sarat hasil tangkapan itu, masyarakat pesisir segera bergerak. Tanpa komando, tanpa hitungan, tangan-tangan terulur dan kaki-kaki menjejak pasir basah. Gotong royong mengalir begitu saja; seperti kebiasaan lama yang tak perlu diajarkan.

Beberapa orang mendorong dari buritan, yang lain menarik dari haluan, sebagian lagi sigap mengganjal dengan kayu agar perahu tak kembali terseret air. Suara aba-aba bercampur tawa dan seruan pendek, menyatu dengan desah napas dan decit kayu yang bergesekan dengan pasir. Pasir pantai ikut bergerak, berderak pelan, menyambut kerja bersama itu.

Anak-anak menepi sambil bersorak kecil, para perempuan berdiri dekat hasil tangkapan, mata mereka masih tak percaya. Perahu didorong perlahan, lalu mantap, hingga akhirnya naik ke atas, aman dari jangkauan ombak. Ketika kayu lunas berhenti bergerak, kelegaan pun menyebar—seperti napas panjang yang dilepas bersama.

Di tepi pantai itu, kebersamaan terasa nyata. Bukan hanya karena ikan yang banyak, tetapi karena hari itu rezeki dirayakan bersama. Tak ada yang berdiri sendiri; semua bahu bersentuhan, semua tangan berperan. Dan laut pun, dari kejauhan, tetap tenang; seolah ikut menyaksikan bagaimana syukur menjelma gotong royong, menguatkan satu sama lain di pasir yang sama.

Begitu perahu benar-benar aman di atas pasir, Pe Dirata menepuk lambung sampan sambil tertawa lega. Ia menoleh ke kerumunan yang masih riuh.

Eh, jangan ada yang pulang dulu!” serunya lantang.
“Ambil-ambil dulu ikannya… menciroq!”
Loq Jinep ikut menyahut, suaranya kalah oleh gelak tawa,
“Iya, iya… sesuai adat pantai kita. Tadi sudah bantu dorong, masa pulang tangan kosong?”
“Ah, Pe Dirata, ini banyak sekali! Kami malu ambilnya,” sahut seorang nelayan lain sambil tersenyum.
“Malu apa?” jawab Pe Dirata cepat.
Kalau tidak diambil, justru kami yang malu. Tradisi itu janji, bukan sekadar ikan.”
“Ambil secukupnya,” tambah Loq Jinep sambil menunjuk keranjang.
“Buat lauk rumah, buat anak-anak. Jangan pilih-pilih, semua rezeki sama.”

Suasana pun makin ramai.
“Aku ambil dua ekor saja ya!”
“Ambil tiga, biar sekalian!”
“Eh, ini yang besar boleh?”
“Boleh! Asal jangan bawa perahunya sekalian!”
Tawa pecah.

Tangan-tangan bergerak, ikan berpindah dari perahu ke wadah-wadah kecil, ke ember, ke kain yang dilipat. Anak-anak bersorak saat melihat sisik berkilau, para ibu saling bercanda sambil menghitung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tradisi menciroq hidup kembali—bukan sebagai kewajiban kaku, melainkan sebagai ikatan rasa. Ikan bukan sekadar imbalan, melainkan tanda terima kasih, pengakuan atas tenaga, dan cara berbagi bahagia.

Pe Dirata dan Loq Jinep saling pandang, senyum mereka tenang. Hari itu, rezeki tak berhenti di perahu. Ia mengalir ke banyak tangan, menjelma suara riuh, tawa, dan rasa cukup di pesisir pantai.

Sore mulai turun ketika Pe Dirata dan Loq Jinep melangkah pulang. Di kiri kanan mereka, istri-istri setia mendampingi, wajah yang sejak pagi menyimpan cemas kini berubah terang oleh senyum yang tak putus. Dua orang anak berjalan di depan, kadang berlari kecil, kadang menoleh ke belakang memastikan ayah mereka benar-benar ada di sana.

Langkah-langkah itu ringan, seolah beban hari-hari sebelumnya tertinggal di pasir pantai. Ember kecil berisi ikan bergoyang pelan, berkilau setiap kali terkena cahaya senja. Anak-anak tertawa riang, saling menunjuk ikan sambil bertanya dengan mata berbinar—pertanyaan yang biasanya hanya berujung diam, kini dijawab dengan canda dan janji.

Di sepanjang jalan, sapaan bersahut-sahutan.
“Pulang awal hari ini!”
“Rezekinya laut hari ini ramah!”
Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan anggukan dan senyum, menyelipkan pujian pada Tuhan di sela percakapan, sederhana dan jujur.

Sesampainya di rumah, halaman kecil terasa lebih luas dari biasanya. Kegembiraan mengisi ruang—bukan karena kemewahan, melainkan karena cukup. Anak-anak duduk dekat pintu, istri menata ikan dengan hati-hati, dan kedua nelayan itu menarik napas panjang, saling bertukar pandang penuh makna.

Hari itu mereka pulang bersama, bukan hanya membawa hasil laut, tetapi membawa harapan yang hidup, tawa yang menghangatkan, dan keyakinan baru bahwa esok—apa pun yang datang—akan mereka hadapi sebagai keluarga, dengan hati yang lebih tenang.

Mereka tak sepenuhnya memahami bagaimana hari itu berubah menjadi begitu murah hati. Tak ada tanda yang berbeda, tak ada jaring baru, tak ada hitungan yang diubah. Yang ada hanya laut yang tenang dan doa yang biasa—namun hasilnya jauh dari kebiasaan. Mereka pun memilih diam, menyimpan keheranan itu dalam rasa syukur yang sederhana.

Di sisi lain, istri-istri mereka mulai sibuk membersihkan ikan. Sisik berkilau diterpa cahaya sore, pisau bergerak cepat, ember demi ember terisi. Namun jumlahnya terlalu banyak untuk dua pasang tangan. Tawa kecil bercampur helaan napas terdengar—kewalahan, namun bahagia.

Akhirnya, salah satu dari mereka memanggil seorang wanita paruh baya yang tinggal tak jauh dari pesisir. Perempuan itu datang dengan langkah tenang dan senyum paham, seolah mengerti bahwa hari ini bukan hari biasa. Mereka bekerja bersama, tanpa banyak tanya, membiarkan tangan yang berbagi menyelesaikan apa yang tak sanggup dikerjakan sendiri.

Dan sore itu pun menutup kisahnya dengan lembut. Di tepi pantai, di antara ikan yang bersih dan hati yang lapang, semua kembali pada satu pengakuan sunyi: ada hal-hal yang tak perlu dipahami sepenuhnya—cukup diterima dengan syukur. Bersambung pekan depan (episode 04).

Minggu, 01 Februari 2026

IAIH Pancor Dampingi Guru PAUD Perkuat Pemahaman Gizi dan PMT Anak Usia Dini

IAIH Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan guru PAUD yang difokuskan pada penguatan kompetensi gizi dan praktik penyajian Pemberian Makan Tambahan (PMT).


Kegiatan bertajuk “Pendampingan Guru PIAUD: Meningkatkan Kompetensi Konseptual dan Praktik Penyajian Makan Tambahan (PMT) untuk Anak Usia Dini” tersebut digelar di Aula IAIH Pancor dan diikuti oleh guru dari berbagai satuan PAUD, TK, RA, dan SPS yang tersebar di Pulau Lombok hingga Sumbawa.


Sejumlah lembaga pendidikan turut terlibat dalam kegiatan ini, di antaranya TK Bumi Gora Lombok Timur, TK Negeri 2 Masbagik, PAUD IT Qurrota A’yun Mataram, TK Mulajati Lombok Utara, RA Batu Rakit Bayan, TK Insan Qur’ani Sembalun, hingga TK Doremi Kecamatan Buer, Sumbawa Besar.


Kaprodi PIAUD IAIH Pancor, Baiq Halimatuzzuhrotulaini, M.Pd., mengatakan bahwa pendampingan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman guru PAUD terhadap pentingnya pemenuhan gizi sebagai bagian dari layanan pendidikan anak usia dini.


Menurutnya, PMT tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelengkap kegiatan belajar, melainkan memiliki peran strategis dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.


“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan guru PAUD memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun serta menyajikan makanan tambahan yang sehat, aman, dan bergizi,” ujarnya, Jumat (31/1/2026).


Ia menambahkan, guru PAUD merupakan pihak yang paling dekat dengan anak di lingkungan pendidikan, sehingga memiliki peran penting dalam memastikan kualitas asupan makanan tambahan yang diberikan.

Program pendampingan ini menargetkan peningkatan kapasitas guru dalam memahami gizi anak usia dini, merancang menu PMT yang sehat, serta mengelola program PMT secara terencana dan berkelanjutan di satuan PAUD.


Dalam pelaksanaannya, kegiatan dikemas dengan metode terpadu yang mengombinasikan pemaparan materi, diskusi interaktif, simulasi, hingga praktik langsung penyusunan dan penyajian PMT. Pendekatan ini dilakukan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung di lembaga masing-masing.

Ke depan, Prodi PIAUD IAIH Pancor menargetkan kegiatan serupa menjadi agenda rutin pengabdian kepada masyarakat.


“Kami berharap pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi ruang kolaborasi antara kampus dan lembaga PAUD dalam meningkatkan kualitas guru serta layanan pendidikan anak usia dini, khususnya di wilayah NTB,” pungkasnya.


Mahasiswa PIAUD IAIH Pancor Tampilkan Kreativitas Lewat Pentas Seni Akhir Semester

Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)

Okenews.net- Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor menggelar Pentas Seni Mahasiswa bertema “Berkarya, Berbudaya, dan Berkreasi” di Aula IAIH Pancor, Kamis (30/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari evaluasi akhir semester sekaligus wadah pengembangan bakat seni mahasiswa.


Beragam penampilan seni musik dan tari disuguhkan mahasiswa PIAUD, dengan memadukan unsur budaya nusantara dan sentuhan modern. Pentas seni tersebut tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga mencerminkan hasil pembelajaran yang telah ditempuh mahasiswa selama satu semester.


Kaprodi PIAUD IAIH Pancor, Baiq Halimatuzzuhrotulaini, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran terintegrasi, bukan sekadar hiburan semata.

Menurutnya, mahasiswa dilibatkan secara langsung mulai dari perencanaan konsep pertunjukan, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi, sehingga mampu melatih kreativitas, kepercayaan diri, dan kemampuan manajerial.


“Pentas seni ini menjadi sarana mahasiswa untuk mengaktualisasikan kemampuan akademik dan non-akademik yang telah diperoleh selama perkuliahan,” ujarnya di sela kegiatan.


Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sejalan dengan capaian pembelajaran Prodi PIAUD, khususnya dalam membekali mahasiswa agar mampu merancang dan mengimplementasikan pembelajaran anak usia dini yang kreatif dan inovatif.


Selain aspek keterampilan seni, pentas seni ini juga menekankan penguatan pendidikan karakter dan kecintaan terhadap budaya lokal. Nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, serta apresiasi terhadap budaya nusantara ditanamkan melalui setiap penampilan.


“Mahasiswa tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi juga memahami makna budaya dari karya yang dibawakan,” tambahnya.


Ia menegaskan, kemampuan seni dan kreativitas menjadi bekal penting bagi calon guru PAUD dalam menciptakan proses pembelajaran yang menarik, komunikatif, dan menyenangkan bagi anak.


Ke depan, Prodi PIAUD IAIH Pancor menargetkan pentas seni mahasiswa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi agenda tahunan kampus sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas lulusan.


Jumat, 30 Januari 2026

Wabup Lombok Timur Lantik Puluhan Pejabat, Tekankan Pelayanan Publik dan Penguatan Sektor Kesehatan

Pelantikan Pejabat Lingkup Pemda Lombok Timur

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali melakukan penyegaran birokrasi. Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, melantik dan mengambil sumpah puluhan pejabat administrator, pejabat pengawas, serta kepala UPTD Puskesmas di Aula Pendopo Bupati Lombok Timur, Jumat (30/01/2026).


Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya penataan organisasi pemerintahan guna meningkatkan kinerja aparatur sipil negara (ASN). Dalam sambutannya, Wabup menegaskan bahwa mutasi dan rotasi jabatan merupakan hal yang wajar dalam sistem birokrasi sebagai langkah strategis memperkuat kapasitas organisasi.


Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), penataan birokrasi yang profesional, serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Menurutnya, tuntutan masyarakat terhadap layanan pemerintah semakin tinggi sehingga ASN harus bekerja lebih adaptif dan responsif.


Wabup juga mengingatkan seluruh pejabat yang dilantik agar mengimplementasikan nilai-nilai ASN BerAKHLAK dalam setiap pelaksanaan tugas. Pesan Bupati Lombok Timur turut disampaikan, yakni agar seluruh pejabat mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, khususnya di sektor kesehatan.


“Pejabat yang baru dilantik diharapkan segera menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja masing-masing, sehingga pelayanan dapat berjalan cepat, efektif, dan optimal,” ujarnya.


Selain mengucapkan selamat, Wabup menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi ASN sebagai bekal menghadapi tantangan pelayanan publik ke depan. Pada kesempatan tersebut, dilantik tiga pejabat administrator, 48 pejabat pengawas, serta 18 kepala UPTD Puskesmas.


Pelantikan ini diharapkan dapat memperkuat kinerja pemerintah daerah, terutama dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat Lombok Timur.

Kamis, 29 Januari 2026

Revitalisasi Puluhan Sekolah di Lotim Diresmikan, Bupati Tegaskan Pendidikan Tak Bisa Jalan Sendiri

Peresmian Revitalisasi Sekolah Oleh Bupati Lombok Timur

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pendidikan melalui peresmian program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Peresmian tersebut berlangsung di SDN 1 Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kamis (29/01/2026),

Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin menekankan bahwa keterbatasan anggaran pemerintah, baik dari APBD maupun APBN, menuntut adanya kolaborasi lintas sektor. Ia menilai keterlibatan pihak ketiga, seperti lembaga sosial dan swasta, menjadi faktor penting dalam percepatan pembangunan sarana pendidikan.

Menurutnya, pembangunan dunia pendidikan tidak mungkin hanya bergantung pada anggaran negara. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta pihak swasta harus terus diperkuat agar kualitas pendidikan dapat meningkat secara merata.

Bupati juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dari aspek moral, akhlak, dan ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan pendidikan, Pemkab Lombok Timur juga tengah menyiapkan pengembangan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Lenek Duren, program tersebut direncanakan akan dilanjutkan di Kecamatan Jerowaru. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep Sekolah Unggul Garuda sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan.

Tak hanya sektor pendidikan, Bupati turut menyinggung peningkatan kualitas layanan publik lainnya. Ia mengingatkan kepala sekolah, tenaga pendidik, serta tenaga kesehatan untuk bekerja sesuai tugas dan fungsi. Bupati menegaskan agar tidak ada lagi keluhan pelayanan kesehatan yang lambat, termasuk yang berkaitan dengan administrasi BPJS.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, mengungkapkan bahwa lahan pembangunan sekolah di Lenek Duren merupakan hasil hibah dari kepala sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik harus sejalan dengan peningkatan prestasi siswa.

Ia juga memberikan penekanan kepada kepala sekolah agar mampu menjadi motor penggerak kemajuan pendidikan. Menurutnya, sarana yang telah memadai harus dibarengi dengan kepemimpinan sekolah yang kuat dan inovatif. Jika fasilitas lengkap namun prestasi tidak meningkat, evaluasi akan menjadi langkah yang tidak terhindarkan.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Dikbud turut mengapresiasi pola pengerjaan bantuan dari Kementerian Pendidikan yang dilakukan secara swakelola. Skema ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena melibatkan tenaga lokal dalam proses pembangunan.

Ketua Panitia, Nur Hidayati, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan para donatur, khususnya melalui program Classroom Hope. Ia menyebut revitalisasi sekolah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga investasi bagi kenyamanan dan kesehatan mental guru serta peserta didik.

Program revitalisasi pendidikan tahun ini menyasar sebanyak 36 Sekolah Dasar (SD) dan 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di tujuh kecamatan, dengan Kecamatan Lenek menjadi salah satu wilayah prioritas.

Acara peresmian ditutup dengan prosesi pengguntingan pita oleh Bupati Lombok Timur bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai tanda resmi digunakannya gedung sekolah yang telah direvitalisasi.

Rabu, 28 Januari 2026

Pemda Lombok Timur Siap Dikawal BPK, Wabup Edwin Pastikan Pemeriksaan Berjalan Lancar

Wakil Bupati Lotim, Edwin Hadiwijaya

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung proses pemeriksaan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal itu ditegaskan Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, saat menerima tim BPK dalam pertemuan awal atau entry meeting di ruang kerjanya, Rabu (28/01/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Wabup Edwin memastikan seluruh rangkaian pemeriksaan yang akan berlangsung selama 45 hari ke depan dapat berjalan lancar dan transparan. Ia menyatakan akan mengawal langsung proses tersebut, termasuk menunjuk person in charge (PIC) guna mempermudah koordinasi serta penyediaan data yang dibutuhkan oleh tim pemeriksa.

Menurutnya, kehadiran BPK justru menjadi sarana evaluasi penting bagi pemerintah daerah. Laporan hasil pemeriksaan awal yang disampaikan BPK dinilai sangat membantu Pemda dalam memetakan berbagai aspek yang perlu dibenahi ke depan.

Didampingi sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan Inspektur Daerah, Wabup menegaskan komitmen Pemda Lombok Timur untuk terus melakukan perbaikan tata kelola keuangan. Upaya tersebut, kata dia, tidak semata demi mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), tetapi sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat.

Terkait tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan (LHP), Wabup mengakui masih terdapat sejumlah kendala. Meski demikian, ia optimistis seluruh rekomendasi BPK dapat diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Entry meeting ini sekaligus menandai dimulainya pemeriksaan resmi BPK terhadap pengelolaan keuangan dan kinerja Pemkab Lombok Timur. Adapun fokus pemeriksaan meliputi piutang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pendapatan asli daerah (PAD), pengelolaan aset, serta Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Wabup Lotim Dampingi Mahasiswa IKMM, Posyandu Ternak di Lendang Nangka Utara

Pendampingan Posyandu Ternak Oleh Wabup Lotim
Okenews.net- Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, turun langsung mendampingi mahasiswa Ikatan Keluarga Mahasiswa Masbagik (IKMM) dalam rangkaian program IKMM Mengabdi 2026 yang digelar di Desa Lendang Nangka Utara, Rabu (28/01/2026).

Salah satu program unggulan yang mendapat perhatian khusus adalah Posyandu Ternak, sebuah inisiatif yang bertujuan menjaga kesehatan hewan ternak sebagai penopang ekonomi masyarakat desa. Program ini digagas sebagai bentuk sinergi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati menegaskan bahwa keterlibatan pemerintah dalam program pengabdian mahasiswa bukan sekadar simbolik. Menurutnya, kehadiran pemerintah bertujuan memastikan setiap kegiatan menyentuh kebutuhan riil masyarakat, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun kesehatan.

“Pengabdian masyarakat harus berdampak langsung. Tidak hanya seremonial, tetapi benar-benar menyentuh sektor-sektor vital yang menopang kehidupan warga,” ujar Edwin.

Posyandu Ternak ini dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur, dengan fokus pada pemberian vaksinasi dan vitamin ternak. Program tersebut menyasar dua dusun, yakni Dusun Otak Pancor dan Dusun Benteng Selatan, yang mayoritas warganya menggantungkan hidup dari sektor peternakan.

Lebih lanjut, Edwin mengungkapkan bahwa Desa Lendang Nangka Utara pada tahun 2026 ditetapkan sebagai salah satu lokasi Program Desa Berdaya Provinsi NTB. Program ini akan memberikan intervensi pemberdayaan ekonomi secara intensif kepada sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) kategori miskin ekstrem.

“Insya Allah, fokus utamanya adalah mendorong kemandirian ekonomi masyarakat agar kesejahteraan mereka meningkat secara berkelanjutan,” jelasnya.

Kegiatan tersebut ditandai dengan pemberian obat cacing secara simbolis, sebagai penanda dimulainya gerakan kesehatan ternak secara massal di wilayah tersebut.

Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Dinas Peternakan, Kepala Desa Lendang Nangka Utara, para Kepala Dusun, Ketua IKMM, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta puluhan mahasiswa dan peternak lokal yang menyambut antusias program tersebut.

Angka Stunting Lotim Masih Tertinggi di NTB, Wabup Tekankan Validasi Data dan Kolaborasi Lintas Sektor

Pendampingan Analisis Situasi dalam Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting

Okenews.net-Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting dengan menempatkan akurasi data sebagai fondasi utama kebijakan. Hal tersebut ditegaskan Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, saat membuka kegiatan Pendampingan Analisis Situasi dalam Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, yang digelar di Ruang Rapat Bappeda Lombok Timur, Rabu (28/01/2026).

Dalam forum tersebut, Wabup yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) menilai pendampingan ini menjadi momentum strategis untuk memastikan seluruh program penanganan stunting benar-benar berbasis pada data yang valid dan terukur.

Ia mengungkapkan, Lombok Timur masih menghadapi tantangan serius karena tercatat sebagai daerah dengan angka stunting tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data Desember 2025, prevalensi stunting mencapai 22,39 persen, dan pada Januari 2026 kembali ditemukan penambahan kasus sebesar 0,8 persen atau 545 kasus baru.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Karena itu, saya minta agar data yang ada benar-benar dicek dan divalidasi ulang, terutama data dari 21 kecamatan, agar intervensi yang kita lakukan tepat sasaran,” tegasnya.

Wabup juga menekankan bahwa upaya penurunan stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada organisasi perangkat daerah (OPD). Keterlibatan organisasi kemasyarakatan, pemerintah desa, hingga unsur masyarakat dinilai sangat penting untuk mempercepat penanganan di lapangan.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Tim Pendamping, Arifin Effendy Hutagalung, Analis Kebijakan Madya sekaligus Koordinator Substansi Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Ditjen Bina Bangda, menegaskan bahwa kualitas perencanaan menjadi kunci pencapaian target nasional penurunan stunting.

Ia menyebutkan, berdasarkan RPJMN, target prevalensi stunting nasional ditetapkan sebesar 14,2 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan analisis data yang tajam serta konvergensi lintas sektor yang konsisten dan berkelanjutan.

Menurutnya, Kementerian Dalam Negeri memiliki peran strategis dalam memastikan kebijakan nasional diterjemahkan secara tepat ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran daerah, sekaligus memperkuat tata kelola data melalui sistem terintegrasi seperti SIPD dan sistem sektoral lainnya.

“Kolaborasi TP3S hingga tingkat kecamatan, desa, dan dusun harus diperkuat karena merekalah garda terdepan penanganan stunting,” ujarnya.

Melalui kegiatan pendampingan ini, diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi data yang lebih konkret dan akurat, sehingga menjadi rujukan bersama dalam penyusunan program dan kebijakan penurunan stunting di Lombok Timur ke depan.

Ratusan Mahasiswa IAIH Pancor Siap Mengabdi ke Penjuru Negeri, KKN 2026 Digelar Berskala Nasional

IAIH Hamzanwadi Pancor 

Okenews.net- Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun Akademik 2026. Ratusan mahasiswa resmi dilepas untuk terjun langsung ke tengah masyarakat dalam program pengabdian yang akan berlangsung selama dua bulan.


Kegiatan pembekalan sekaligus pelepasan KKN tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa sebelum diterjunkan ke berbagai daerah, baik di dalam maupun luar Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Tahun ini, jangkauan lokasi KKN IAIH Pancor diperluas hingga skala nasional, mencakup wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, hingga Bali.


Wakil Rektor I IAIH Pancor, Dr. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan tinggi. Menurutnya, KKN bukan sekadar formalitas akademik, melainkan sarana pembelajaran sosial yang memiliki nilai historis dan edukatif yang kuat.


“Kuliah Kerja Nyata adalah kewajiban akademik yang tidak bisa digantikan dengan aktivitas lain. Ini bukan soal administrasi kelulusan, tetapi proses pembelajaran nyata yang telah menjadi tradisi pendidikan tinggi sejak 1951,” ujarnya, Selasa (28/01/2026).


Ia menekankan bahwa capaian akademik setinggi apa pun, termasuk IPK, tidak dapat menghapus kewajiban mahasiswa untuk mengikuti KKN. Bahkan, ia menyebut KKN sebagai pengalaman unik yang hanya bisa dirasakan sekali selama masa studi.


“KKN hanya sekali seumur hidup bagi mahasiswa. Ini adalah pengalaman belajar yang sangat berharga dan tidak tergantikan,” tegasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Hayyi juga berpesan agar mahasiswa membawa dua semangat utama selama menjalankan pengabdian, yakni semangat belajar dan semangat mengajar. Mahasiswa diharapkan mampu membaca realitas sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat, sekaligus hadir sebagai agen perubahan yang memberi manfaat nyata.


“Mahasiswa tidak cukup hanya hadir dan menjalankan program. Mereka harus mau belajar dari masyarakat dan, di saat yang sama, mengabdi dengan penuh tanggung jawab agar kehadirannya memberikan dampak positif dan berkelanjutan,” jelasnya.


Tak kalah penting, ia mengingatkan seluruh peserta KKN untuk menjaga sikap, etika, serta nama baik diri, keluarga, dan almamater selama berada di lokasi pengabdian.


“Di mana pun kalian berada, kalian adalah duta kampus. Jaga nama baik institusi dan jadikan KKN sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkasnya.


Pemuda Jerowaru Pasang Arah Baru: KNPI Resmi Dilantik, Pariwisata Jadi Tumpuan Masa Depan

DPK KNPI Jrowaru

Okenews.net- Semangat perubahan mengemuka dari Kantor Camat Jerowaru, Rabu (28/01/2026), saat Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jerowaru resmi dilantik untuk masa bakti 2025–2028. Pelantikan tersebut sekaligus menjadi momentum awal konsolidasi gerakan pemuda melalui rapat kerja, dengan tekad besar membangun Jerowaru yang lebih maju dan berdaya saing.


Mengusung tema “Membentuk Generasi Muda yang Visioner Menuju Jerowaru Maju”, kepengurusan baru KNPI Jerowaru menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar hadir sebagai organisasi formal, tetapi sebagai kekuatan sosial yang aktif mendorong perubahan di tingkat kecamatan.


Ketua DPK KNPI Jerowaru, Riadi, menekankan bahwa pemuda harus tampil sebagai agen pembangunan yang memiliki visi jelas, kepedulian sosial, serta keberanian mengambil peran strategis di tengah masyarakat. Menurutnya, KNPI harus menjadi ruang pemersatu sekaligus motor penggerak potensi pemuda Jerowaru.


“KNPI hadir untuk melahirkan generasi muda yang visioner, berdaya saing, dan mampu membawa Jerowaru ke arah yang lebih baik,” ujar Riadi.


Ia mengungkapkan, sektor pariwisata akan menjadi salah satu fokus utama program KNPI ke depan. Dengan potensi alam dan budaya yang dimiliki Jerowaru, penguatan peran pemuda di sektor ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.


“Jerowaru punya modal besar di sektor pariwisata. Jika dikelola dengan baik dan melibatkan pemuda, ini bisa menjadi penggerak kemajuan daerah,” tambahnya.


Dari tingkat kabupaten, Wakil Ketua KNPI Lombok Timur Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK), Karomi, mengingatkan bahwa ber-KNPI bukan hanya soal jabatan struktural, melainkan amanah perjuangan untuk masyarakat dan masa depan pemuda.


“KNPI harus menjadi rumah besar pemuda Jerowaru. Di sinilah proses kaderisasi, penguatan karakter, dan perjuangan pemuda dimulai,” tegasnya.


Ia berharap kepengurusan baru mampu menjaga soliditas organisasi, memperkuat gerakan kepemudaan, serta melahirkan kader-kader berintegritas yang peka terhadap persoalan sosial di wilayahnya.


Sementara itu, Camat Jerowaru, Sirah, menegaskan bahwa pemuda merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah. Ia menyatakan keterbukaan pemerintah kecamatan untuk berkolaborasi dengan KNPI, khususnya dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan dan program kepemudaan yang berdampak langsung bagi masyarakat.


“Pemuda harus mampu menghadirkan program nyata yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga,” ujarnya.


Sirah juga menyinggung sejumlah tantangan yang dihadapi Jerowaru, termasuk dampak bencana banjir di beberapa desa yang masih membutuhkan penanganan dan sinergi lintas sektor. Menurutnya, luas wilayah dan kompleksitas persoalan Jerowaru menuntut kolaborasi kuat antara pemuda, pemerintah desa, dan kecamatan.


“Jerowaru ini tantangannya besar. Karena itu, sinergi menjadi kunci,” pungkasnya.


Pemerintah Kecamatan Jerowaru menyatakan dukungan penuh terhadap seluruh kegiatan KNPI selama sejalan dengan arah pembangunan daerah. Harapannya, KNPI dapat menjadi motor penggerak pemuda yang progresif, transparan, dan berorientasi pada kemajuan Jerowaru ke depan.

Menuju Baznas Digital, Lombok Timur Belajar ke Lombok Tengah Demi Transparansi Zakat

BAZNAS Lombok Timur

Okenews.net- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lombok Timur mulai mengakselerasi transformasi digital dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Langkah ini ditempuh sebagai upaya memperkuat transparansi, akuntabilitas, serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga pengelola zakat.


Sebagai bentuk keseriusan, Baznas Lombok Timur mengutus tim teknologi informasi (IT) untuk melakukan studi tiru ke Baznas Kabupaten Lombok Tengah, daerah yang dinilai sukses menerapkan sistem informasi digital dan meraih penghargaan nasional melalui Baznas Award.


Ketua Baznas Lombok Timur, H. Muhammad Kamli, menyebut Lombok Tengah menjadi rujukan karena dinilai paling optimal dalam memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen Baznas (SIMBA) beserta aplikasi pendukung lainnya.


“Lombok Tengah termasuk yang terbaik dalam pengelolaan aplikasi SIMBA. Kami ingin melihat langsung bagaimana operator di sana bekerja, agar sistem yang sama bisa kita terapkan di Lombok Timur demi transparansi lembaga,” ujarnya, Selasa (27/01/2026).


Menurut Kamli, secara kualitas sumber daya manusia, Baznas Lombok Timur telah memiliki tenaga IT yang mumpuni. Namun, penguatan sistem terintegrasi dan sarana pendukung menjadi kebutuhan mendesak agar pengelolaan ZIS berjalan lebih efektif dan profesional.


Transformasi digital ini difokuskan pada penguatan empat pilar utama pengelolaan zakat, yakni pengumpulan, administrasi, pendistribusian, dan pelaporan.


Senada dengan itu, Sekretaris Baznas Lombok Timur, Nuruh Hadi, menjelaskan bahwa keberhasilan Lombok Tengah tidak hanya terletak pada SIMBA yang bersifat nasional, tetapi juga pada pengembangan aplikasi tambahan yang mampu memperluas konektivitas data dan mempercepat proses kerja.


“Empat bidang itu jadi fokus utama. Dengan sistem tambahan, data bisa langsung terhubung. Misalnya, hasil survei lapangan bisa diinput lewat HP dan otomatis masuk ke laporan pusat secara real-time,” jelasnya.


Keunggulan lain dari sistem digital ini adalah kemudahan akses informasi bagi masyarakat. Ke depan, para muzakki dapat memantau langsung penyaluran zakat mereka melalui website maupun media sosial resmi Baznas.


Selain itu, sistem ini dirancang untuk mencegah terjadinya duplikasi bantuan. Basis data mustahik yang terintegrasi memungkinkan Baznas memastikan bantuan disalurkan secara lebih adil dan merata.


“Kalau seseorang sudah menerima bantuan di tahun tertentu, datanya akan tercatat. Tahun berikutnya kita bisa memprioritaskan yang belum tersentuh bantuan. Ini bagian dari keadilan sosial,” tambah Kamli.


Baznas Lombok Timur menyadari bahwa pembangunan infrastruktur digital membutuhkan anggaran yang tidak kecil, dengan estimasi mencapai Rp300 juta, tergantung pada fasilitas yang dibangun. Meski demikian, investasi tersebut dinilai sepadan dengan manfaat jangka panjangnya.


“Ini investasi untuk membangun kepercayaan publik. Dengan sistem yang terbuka dan transparan, kami optimistis minat masyarakat untuk berzakat akan terus meningkat,” pungkasnya.


Melalui penguatan sistem digital ini, Baznas Lombok Timur menargetkan layanan zakat yang terintegrasi dan merata di 21 kecamatan, sekaligus membawa pengelolaan ZIS ke arah yang lebih modern, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara publik.

SMART JKN Antar Lombok Timur Jadi Role Model Nasional Layanan Kesehatan Digital

Sekertaris Daerah Lombok Timur
Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui terobosan layanan kesehatan berbasis digital bertajuk SMART JKN, Lombok Timur sukses mengukuhkan diri sebagai pelopor transformasi layanan kesehatan yang inklusif dan bebas diskriminasi.

Inovasi tersebut mengantarkan Pemkab Lombok Timur meraih penghargaan Inovasi Terbaik Nasional dalam ajang Universal Health Coverage (UHC) Award 2026. Penghargaan prestisius ini diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Lombok Timur, Dr. HM. Juaini Taofik, di Hotel Jakarta Expo, Selasa (27/01/2026).

Dalam ajang nasional tersebut, Lombok Timur dinobatkan sebagai terbaik pertama kategori Inovasi Terbaik Co-Creation BPJS Kesehatan Bidang Kepesertaan, mengungguli berbagai daerah lain di Indonesia.

Juaini Taofik menjelaskan, SMART JKN hadir sebagai solusi atas keluhan masyarakat terkait rumitnya birokrasi dan perbedaan perlakuan dalam layanan kesehatan. Inovasi ini dirancang sederhana namun berdampak besar, dengan prinsip pelayanan yang mudah diakses dan berkeadilan.

“SMART JKN kami rancang agar layanan BPJS Kesehatan bisa diakses secara setara dan tanpa diskriminasi. Cukup dengan e-KTP, masyarakat sudah bisa mendapatkan pelayanan kesehatan,” ujar Juaini.

Lebih dari sekadar nama, SMART JKN mengusung filosofi pelayanan yang mencakup Setara, Mudah, Akuntabel, Responsif, dan Terintegrasi, dengan sistem yang menghubungkan berbagai OPD terkait guna mempercepat dan mempermudah pelayanan masyarakat.

Meski telah meraih pengakuan nasional, Pemkab Lombok Timur menegaskan tidak ingin berpuas diri. Tantangan ke depan, menurut Juaini, adalah memastikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di seluruh fasilitas kesehatan selaras dengan semangat inovasi tersebut.

“Kami tidak ingin ada lagi perbedaan perlakuan antara pasien umum dan peserta JKN. Baik BPJS maupun non-BPJS, pelayanannya harus sama, senyumnya juga harus sama,” tegasnya.

Ia juga berharap SMART JKN menjadi instrumen quality control bagi seluruh tenaga kesehatan agar pelayanan diberikan secara tulus, bukan sekadar formalitas.

“Kita sudah terbaik nasional. Jangan sampai prestasi ini tercoreng oleh hal-hal sepele seperti sikap pelayanan. Ini komitmen yang harus dijaga bersama,” tambahnya.

Tak hanya itu, Lombok Timur juga berhasil meraih nominasi UHC Award kategori Pratama, berkat capaian kepesertaan JKN yang telah melampaui 98 persen dengan tingkat keaktifan peserta di atas 80 persen.

Dengan capaian tersebut, Lombok Timur semakin mantap melangkah menuju layanan kesehatan menyeluruh dan inklusif, sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain dalam mewujudkan transformasi layanan kesehatan berbasis digital dan berkeadilan.

Selasa, 27 Januari 2026

Perkuat Hak Kesehatan Anak Binaan, LPKA Lombok Tengah Gandeng Puskesmas Aik Darek

LPKA Lombok Tengah Teken MOU Dengan Puskesmas Aik Darek

Okenews.net- Upaya memastikan pemenuhan hak dasar anak binaan terus diperkuat Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Lombok Tengah. Terbaru, LPKA Lombok Tengah resmi menjalin kerja sama strategis dengan Puskesmas Aik Darek dalam rangka peningkatan layanan kesehatan bagi anak binaan.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang pelayanan kesehatan yang berlangsung di lingkungan LPKA Kelas II Lombok Tengah, baru-baru ini. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terstruktur, profesional, dan berkelanjutan.

Melalui kerja sama ini, Puskesmas Aik Darek akan memberikan berbagai layanan kesehatan, mulai dari pelayanan kesehatan dasar, pemeriksaan rutin, penanganan kondisi darurat, hingga program promotif dan preventif guna mencegah munculnya penyakit, khususnya penyakit menular di lingkungan LPKA.

Kepala LPKA Lombok Tengah, Hidayat, menegaskan bahwa aspek kesehatan memegang peranan penting dalam proses pembinaan anak binaan. Menurutnya, pembinaan yang optimal tidak akan tercapai tanpa dukungan kondisi fisik dan mental yang sehat.

“Kesehatan adalah fondasi utama dalam proses pembinaan. Sinergi dengan Puskesmas Aik Darek ini kami harapkan mampu memastikan anak binaan mendapatkan layanan kesehatan yang layak, berkelanjutan, dan sesuai standar,” ujar Hidayat, Selasa, (27/01/2026)

Sementara itu, pihak Puskesmas Aik Darek menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan di LPKA Lombok Tengah. Kolaborasi ini juga dinilai sebagai langkah preventif dalam menjaga kesehatan lingkungan serta meningkatkan kualitas hidup anak binaan selama menjalani masa pembinaan.

Melalui kerja sama ini, LPKA Kelas II Lombok Tengah menegaskan komitmennya menjalankan pembinaan secara holistik. Tidak hanya fokus pada pembentukan karakter dan kemandirian, tetapi juga memastikan terpenuhinya hak kesehatan anak sebagai bagian dari perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Ke depan, kerja sama ini diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan dan memberi dampak positif dalam menciptakan lingkungan LPKA yang sehat, aman, serta mendukung proses pembinaan anak binaan secara menyeluruh.

Dari Bumi ke Meja Makan: Lombok Timur Dorong Pangan Lokal untuk Tekan Stunting

Peringatan Hari Gizi Nasional Ke-66

Okenews.net-Komitmen memperbaiki kualitas gizi masyarakat kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui gelaran talkshow bertema “Pangan Lokal, Gizi Optimal, Sehat dari Bumi”. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Kantor Bupati Lombok Timur, Selasa (27/01/2026), ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 Tahun 2026.

Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya yang membuka acara tersebut menekankan bahwa isu gizi bukan hanya persoalan kesehatan, melainkan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Ia mengapresiasi kolaborasi lintas daerah dan lembaga yang terlibat, sekaligus menegaskan keterbukaan Pemda Lombok Timur terhadap kerja sama dengan berbagai NGO dalam menangani persoalan sosial, termasuk gizi dan stunting.

Menurut Wabup, perhatian pemerintah saat ini sejalan dengan agenda nasional, yakni pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta percepatan penurunan stunting. Dalam konteks tersebut, peran Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dinilai strategis untuk memastikan penyajian gizi seimbang yang tepat sasaran, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Ia memaparkan, hingga saat ini Lombok Timur telah memiliki 213 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan 171 di antaranya telah beroperasi. Keberadaan SPPG tersebut diharapkan menjadi penguat implementasi MBG sekaligus mendukung penurunan angka stunting. Berdasarkan data terakhir, prevalensi stunting Lombok Timur pada Desember 2025 tercatat sebesar 22,39 persen, sementara pada Januari 2026 muncul kasus baru sebesar 0,8 persen atau 545 kasus.

Sementara itu, Manager Wahana Visi Indonesia, Sidik Lando, dalam laporannya menekankan pentingnya komitmen bersama untuk menciptakan generasi anak yang sehat dan berkualitas. Ia menilai sinergi antara Lombok Timur, Lombok Utara, dan Persagi sebagai contoh nyata kolaborasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Sidik juga menggarisbawahi besarnya potensi sumber daya alam Lombok yang dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan pangan lokal. Tema kegiatan ini, menurutnya, bukan sekadar kampanye gizi, tetapi juga ajakan untuk memperkuat ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan nasional. “Sehat dimulai dari diri kita, sehat dari bumi kita,” ujarnya.

Talkshow ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya dokter sekaligus ahli gizi Tan Shot Yen, Ketua Persagi Provinsi NTB, perwakilan Dinas Kesehatan Lombok Timur dan Lombok Utara, hingga tim ahli dari Wahana Visi Indonesia. Diskusi yang berlangsung diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kolektif serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui pemanfaatan pangan lokal.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi