www.okenews.net

Berita Utama

Politik

Sosial



 


Video

Jumat, 06 Februari 2026

Janda Baru Terus Bertambah: Mayoritas Gugatan Diajukan Istri

Pengadilan Agama Selong

Okenews.net- Gelombang perceraian di Kabupaten Lombok Timur belum juga surut. Dengan demikian jumlah janda terus bertambah. Sepanjang tahun 2025, Pengadilan Agama (PA) Selong mencatat 1.514 perkara perceraian yang telah diputus, dengan satu fakta mencolok, mayoritas gugatan diajukan oleh para istri.


Data resmi PA Selong menunjukkan, dari total 2.164 perkara yang ditangani sepanjang Januari hingga Desember 2025 gabungan perkara baru dan sisa tahun sebelumnya sebanyak 1.224 perkara merupakan cerai gugat yang diajukan pihak perempuan.


Sementara itu, cerai talak oleh suami hanya tercatat 290 perkara, menciptakan jurang yang cukup lebar dalam inisiatif perceraian. Panitera PA Selong, H. Nuzuluddin, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa persoalan rumah tangga di Lombok Timur masih berkutat pada masalah klasik yang tak kunjung usai.


“Penyebab paling dominan adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, lalu disusul masalah ekonomi,” ungkapnya saat ditemui di Selong, Jumat (6/2/2026).


Ia merinci, sepanjang 2025 terdapat 569 perkara perceraian yang dipicu konflik berkepanjangan. Akar masalahnya beragam, mulai dari cemburu, tekanan ekonomi, hingga ketidakcocokan yang berlarut-larut.


Selain itu, PA Selong juga mencatat sejumlah faktor lain yang memicu perpisahan, seperti meninggalkan pasangan sebanyak 68 perkara, poligami 66 perkara, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 3 perkara, serta hukuman penjara yang hanya tercatat 1 perkara.


Tak hanya perceraian, Lombok Timur juga menorehkan angka tinggi dalam perkara gugatan waris. Bahkan, tren ini disebut-sebut sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia.


“Untuk gugatan waris, Lombok Timur termasuk yang paling banyak. Bisa jadi dibandingkan pengadilan agama lain di seluruh Indonesia, kita masuk jajaran teratas,” kata H. Nuzuluddin.


Sepanjang 2025, tercatat 97 perkara waris, dengan 79 perkara berhasil diselesaikan, sementara 18 perkara masih berlanjut ke tahun berikutnya.


Memasuki Januari 2026, beban kerja PA Selong justru kian menumpuk. Dalam satu bulan pertama, sudah masuk 338 perkara baru. Jika digabungkan dengan sisa perkara lama, total perkara yang sedang diproses mencapai 398 perkara.


Polanya pun tak berubah. Dari ratusan perkara tersebut, 213 istri kembali mengajukan gugatan cerai, sedangkan cerai talak dari pihak suami hanya 49 perkara.


Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa fenomena “banjir janda baru” di Lombok Timur belum akan mereda. Tanpa penguatan ketahanan keluarga dan intervensi sosial yang serius, tren perceraian dikhawatirkan akan terus menjadi cerita tahunan di daerah ini.

Fauzan Khalid Soroti Penurunan Kualitas Demokrasi Pemilu

Fauzan Khalid
Okenews.net- Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid, menilai kualitas demokrasi dalam pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia menunjukkan tren penurunan dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan.

Hal itu disampaikan Fauzan saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama para ahli dan akademisi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Forum tersebut membahas masukan terkait model dan sistem pemilu yang akan diterapkan ke depan.

Fauzan mengungkapkan, meski sistem pemilu secara umum tidak banyak mengalami perubahan dalam beberapa periode terakhir, kualitas demokrasi justru cenderung menurun. Ia bahkan menilai Pemilu 2024 menjadi salah satu yang paling disorot karena kualitasnya dinilai lebih rendah dibanding pemilu sebelumnya.

“Persoalannya bisa bermacam-macam. Bisa jadi bukan hanya soal sistem, tapi juga penyelenggara maupun para stakeholder yang terlibat. Ini yang perlu kita cari bersama akar masalahnya,” ujarnya.

Mantan Ketua KPU NTB periode 2008–2013 itu menegaskan bahwa baik DPR, DPRD, maupun masyarakat tidak menginginkan praktik politik uang terus mencederai demokrasi. Karena itu, ia mendorong dilakukannya kajian dan penelitian mendalam sebelum memutuskan perubahan sistem pemilu.

Menurut Fauzan, perubahan model pemilu tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa. Ia mengingatkan, alih-alih mengurangi politik uang, perubahan sistem justru berpotensi memperbesar konflik jika tidak dipertimbangkan secara matang.

“Perlu diteliti secara detail. Jangan sampai niat memperbaiki malah menimbulkan masalah baru,” tegasnya.

Fauzan menilai, masukan dari para ahli, akademisi, dan masyarakat melalui forum RDPU sangat penting untuk memperkaya perspektif DPR dalam merumuskan sistem pemilu yang lebih ideal. Semakin banyak pandangan yang dihimpun, semakin besar peluang menghasilkan pemilu yang berkualitas.

Ia menambahkan, kualitas demokrasi pemilu tidak hanya diukur dari sistem yang digunakan, tetapi juga dari kepatuhan terhadap asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, integritas penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu, partisipasi masyarakat, serta minimnya manipulasi dan politik uang.

“Pemilu yang berkualitas akan melahirkan legitimasi pemerintahan yang kuat, memperkuat supremasi hukum, dan benar-benar mencerminkan kedaulatan rakyat,” pungkas Fauzan, legislator asal Dapil NTB II Pulau Lombok.

Diduga Lakukan Penganiayaan, Seorang Wali Santri Dipolisikan

Kerumanan masyarakat yang melerasi aksi pemukulan
Okenews.net – Seorang wali santri, Mama S  (36) diduga menghajar sesama wali santri, S (38), hingga menyebabkan korban mengalami gigi patah. Penganiayaan terjadi di halaman rumah korban di Dusun Bagik Nyaka Utara, Desa Bagik Nyaka Santri, Aikmel Kabupaten Lombok Timur, Rabu 4 Februari 2026 sekira pukul 17.00 WITA.

Perseteruan ini berawal dari insiden di pondok pesantren sehari sebelumnya, Selasa (3/2/2026). Anak Mama S terlibat konflik dengan anak S. Anak pelaku diduga memaki, menjambak, dan mengancam anak korban. Menanggapi hal itu, S pun mendatangi sekolah untuk mengingatkan anak Mama S agar menghentikan aksi perundungan tersebut.

Keesokan harinya, Mama S yang berasal dari Desa Kembang Kerang Daya itu mendatangi rumah S sambil berteriak kasar. Saat S membuka pintu gerbang, Mama S langsung memaki dan memukulinya dengan beringas.

"Saya berusaha melawan sambil teriak minta tolong. Dia memukul mulut saya sampai gigi saya di bagian bawah ini patah dan mulut saya berdarah," ujar S dengan suara serak seusai menjalani visum di Puskesmas Aikmel.

Pukulan itu menyebabkan S menderita dua gigi bawah depan patah dan luka di mulut. Warga sekitar yang berdatangan berusaha melerai, namun Mama S tetap melanjutkan pemukulan.

Korban S melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Aikmel pada pukul 19.30 WITA. Kapolsek Aikmel, AKP Muhammad, melalui Kanit Reskrim, Bripka L. Zulkarnain Arham, S.H menyatakan pihaknya telah menerima laporan.

"Kami telah menjerat Mama S dengan Pasal 466 KUHP tentang penganiayaan. Pasal ini mengancam pelaku dengan pidana penjara minimal 2 tahun 6 bulan," tegas Zulkarnain Arham dikonfirmasi wartawan.

Kamis, 05 Februari 2026

Gaji Guru Paruh Waktu Aman, Pemkab Lombok Timur Tinggal Tunggu Juknis Pusat

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi.

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan guru, baik paruh waktu maupun non paruh waktu. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran khusus untuk menjamin kepastian pembayaran gaji tenaga pendidik.


Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah guru paruh waktu di daerah tersebut mencapai 4.897 orang, sementara guru non paruh waktu tercatat sebanyak 917 orang. Besaran gaji yang diterima guru, kata dia, tidak bisa disamaratakan dengan daerah lain karena disesuaikan dengan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).


“Setiap daerah memiliki kemampuan fiskal yang berbeda. Karena itu, kesejahteraan guru paruh waktu juga menyesuaikan kondisi APBD masing-masing daerah,” ujar Lalu Bayan, Kamis (5/2/2026).


Untuk tahun anggaran berjalan, Pemkab Lombok Timur telah mengalokasikan dana sekitar Rp10 miliar. Dari total anggaran tersebut, Rp9 miliar diperuntukkan bagi pembayaran gaji guru paruh waktu, sementara Rp1 miliar dialokasikan bagi guru yang belum masuk dalam database guru paruh waktu.


“Anggaran itu sudah masuk dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kami. Jadi secara kesiapan anggaran, pemerintah daerah sudah siap,” tegasnya.


Meski demikian, realisasi pembayaran gaji masih menunggu regulasi dan petunjuk teknis dari pemerintah pusat. Menurut Lalu Bayan, langkah ini penting agar mekanisme penyaluran gaji tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku, termasuk kemungkinan pembayaran melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau skema lainnya.


“Kami masih menunggu juknisnya. Apakah melalui BOS atau mekanisme lain, yang jelas anggarannya sudah tersedia,” jelasnya.


Sementara itu, terkait guru yang masih berstatus non paruh waktu, pemerintah daerah terus berupaya agar seluruh guru dapat masuk dalam skema guru paruh waktu. Namun kebijakan tersebut masih memerlukan keputusan lebih lanjut dari pemerintah pusat.


Lalu Bayan pun mengimbau para guru non paruh waktu agar tetap menjalankan tugas secara profesional dan tidak berkecil hati. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah terus memikirkan solusi terbaik demi peningkatan kesejahteraan seluruh tenaga pendidik di Lombok Timur.


“Harapan kami, para guru tetap bekerja maksimal sesuai tupoksi. Pemerintah daerah tidak tinggal diam dan terus berupaya mencari jalan terbaik,” pungkasnya.

BAZNAS Lombok Timur Tegaskan Tak Ada Dana Zakat Mengalir ke Pejabat OPD

Wakil Pimpinan II BAZNAS Lombok Timur Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Dr. H. Hamidi, ST., M.Pd, 

Okenews.net- Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lombok Timur meluruskan isu yang beredar terkait dugaan penyaluran dana zakat kepada sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Isu tersebut dipastikan tidak benar.

Wakil Pimpinan II BAZNAS Lombok Timur Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Dr. H. Hamidi, menegaskan bahwa seluruh dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dikelola dan disalurkan sesuai aturan yang berlaku serta hanya diberikan kepada penerima yang berhak.

“Tidak ada dana BAZNAS yang disalurkan kepada pejabat OPD untuk kepentingan pribadi. Informasi itu keliru,” ujar Hamidi saat memberikan klarifikasi, Selasa (4/2/2026).

Ia menjelaskan, peran pejabat OPD yang kerap dikaitkan dalam isu tersebut justru sebagai muzakki atau pemberi zakat. Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur secara rutin menunaikan zakat profesi melalui BAZNAS sebagai bentuk kepedulian sosial.

Menurut Hamidi, pendistribusian dana zakat dilakukan secara ketat dan berpedoman pada ketentuan delapan asnaf sebagaimana diatur dalam syariat Islam. Setiap bantuan yang disalurkan juga melalui proses verifikasi lapangan serta kelengkapan administrasi.

“Pengelolaan keuangan BAZNAS diaudit secara berkala, baik internal maupun eksternal. Transparansi dan akuntabilitas menjadi prinsip utama kami,” tegasnya.

BAZNAS Lombok Timur, lanjut Hamidi, siap memberikan penjelasan terbuka kepada pihak mana pun demi menjaga kepercayaan masyarakat dan para muzakki. Ia menegaskan komitmen lembaga untuk terus menjaga amanah umat.

“Fokus kami satu, memastikan dana zakat benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” pungkasnya.

Bidik WBBM 2026, LPKA Lombok Tengah Teken Komitmen Zona Integritas

LPKA Kelas II Lombok Tengah

Okenews.net- Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Lombok Tengah menegaskan langkah serius menuju predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) Tahun 2026. Komitmen tersebut ditandai melalui penandatanganan Komitmen Bersama dan Pakta Integritas yang digelar usai Apel Pagi, Kamis (5/2/2026), di Batukliang.


Langkah ini merupakan kelanjutan dari capaian sebelumnya, setelah LPKA Lombok Tengah berhasil meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK). Tahun ini, seluruh jajaran bersepakat meningkatkan standar pelayanan publik sekaligus memperkuat reformasi birokrasi.


Kepala LPKA Lombok Tengah, Hidayat, menegaskan bahwa predikat WBK bukanlah titik akhir, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Menurutnya, tantangan ke depan adalah menghadirkan birokrasi yang tidak hanya bersih, tetapi juga responsif dan melayani.


“WBK adalah bukti integritas, namun WBBM menuntut lebih. Kita harus memastikan pelayanan publik berjalan transparan, akuntabel, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Hidayat.


Dalam kegiatan tersebut, seluruh pejabat struktural dan aparatur sipil negara (ASN) LPKA Lombok Tengah secara serentak menandatangani pakta integritas sebagai bentuk komitmen menolak praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.


Kegiatan berlangsung tertib dan penuh semangat kebersamaan, mencerminkan kesatuan tekad seluruh jajaran LPKA Lombok Tengah dalam mewujudkan pembangunan Zona Integritas menuju WBBM Tahun 2026.

Kementerian ATR/BPN Raih Penghargaan INDOPOSCO 2026

Kementrian Agraria dan Tata Ruang

Okenews.net- Upaya Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dalam membangun komunikasi publik yang aktif dan luas kembali menuai apresiasi. Lembaga ini meraih penghargaan kategori Kementerian dengan Strategi Komunikasi Paling Masif pada ajang Anugerah INDOPOSCO Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa (3/2/2026).


Penghargaan tersebut diterima oleh Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi Kementerian ATR/BPN, Dwi Budi Martono, yang hadir mewakili Menteri ATR/Kepala BPN. Ia menyebut capaian ini sebagai bentuk pengakuan eksternal atas kinerja komunikasi yang selama ini dijalankan kementerian.


Menurut Dwi, penghargaan dari INDOPOSCO yang memiliki jaringan media luas menjadi bukti bahwa strategi komunikasi ATR/BPN mampu menjangkau dan dirasakan manfaatnya oleh publik. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengelola komunikasi, khususnya Biro Humas dan Protokol.


Lebih lanjut, Dwi menegaskan bahwa penghargaan tersebut tidak sekadar simbol prestasi, melainkan juga dorongan untuk terus meningkatkan kualitas komunikasi publik. Seluruh pegawai diharapkan dapat berperan sebagai duta informasi yang aktif menyampaikan hasil kerja kementerian kepada masyarakat.


Selama ini, strategi komunikasi Kementerian ATR/BPN diarahkan pada penyajian informasi pertanahan dan tata ruang yang mudah dipahami. Mulai dari program sertipikasi tanah, penyelesaian persoalan pertanahan, hingga penguatan layanan digital, disebarluaskan melalui berbagai kanal guna meningkatkan literasi dan kepercayaan publik.


Pada Anugerah INDOPOSCO 2026, Kementerian ATR/BPN menerima penghargaan bersama 19 institusi lainnya yang dinilai berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Penghargaan diserahkan langsung oleh Komisaris Utama PT Indonesia Digital Pos, Syarif Hidayatullah.


Acara tersebut digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-5 INDOPOSCO dan mengusung tema “Kepak Membawa Dampak”. Hadir dalam kegiatan itu Kepala Kanwil BPN Provinsi Banten Harison Mocodompis serta Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Barat Shinta Purwitasari.


Rabu, 04 Februari 2026

Dugaan Perundungan di SD Pringgebaya Disorot Tajam, Kadisdikbud Lotim, Tak Ada Ruang untuk Kekerasan

Kepala Dinas Dikbud Lombok Timur

Okenews.net- Dugaan kasus perundungan yang melibatkan siswa sekolah dasar di Kecamatan Pringgebaya, Kabupaten Lombok Timur, menuai perhatian serius dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur. Isu sensitif yang menyangkut keselamatan dan kenyamanan peserta didik ini langsung mendapat sorotan Kepala Dinas Dikbud Lotim.


“Kasus Peerundungn adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan, Lebih – lebih di dunia pendidikan,”tegas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur M Nurul Wathoni pada media ini Rabu (04/02/2026).


Ia mengatakan, kasus perundungan ini merupakan kasus yang harus menjadi atensi serius pihak sekolah. Untuk itu, semua elemen mulai dari guru, pengawas, komite mali murid dan pihak – pihak lain bisa memiliki komitmen bersama agar kasus Peerundungn tidak terjadi.


Penegasan ini juga Lanjut Kepala Dinas, sudah disampaikan sebelum ada dugaan kasus terjadi. Dimana dikbud sendiri pada pertengahan januari yang lalu sudah ada edaran yang diberikan terkait dengan penegasan program termasuk meminta sekolah menjadikan sekolahnya yang nyaman dan aman.


“Termasuk didalamnya Bagaimana warga sekolah termasuk memaksimalkan tugas piket guru baik saat pagi maupun saat kegiatan ektrakurikuler agar lingkungan sekolah bisa tetap dalam pengawasan guru,”tegasnya.


“Ini salah satunya, untuk mencegah adanya Kasus Peerundungn, karena kasus seperti ini adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan,”tambahnya


Adapun terkait dengan kasus yang terjadi di Kecamatan Pringgebaya ini, berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, sebelum kejadian, pada hari rabu yang lalu, sekolah sedang ada kegiatan gotong royong membersihkan kelasnya, karena ada bau tikus yang mati bersama wali kelas.


Setelah selesai, wali kelas kemudian membikan es ke semua siswa. Sampai pulang sekolah tidak ada satupun laporan adanya pemukulan yang dilakukan oleh siswa. Kemudian pada hari sabtu, guru mendapatkan informasi kalau ada siswa yang sakit dengan mengaku ditendang oleh temanya.


Saat siswa dirawat di klinik, siswa yang sakit ini disebut sering menyebut temannya atas nama MK, saat itu juga gurunya berangkat jenguk dan bawa anak dan orang tua MK ke klinik dan MK mengaku tidak pernah memukul. Setelah itu guru ini kemudian ke dokter psikolog yang menanganinya dan Konsul dan sedang dilakukan screening.


Hasil screening awal bahwa kejadiannya setelah pulang atau di luar sekolah. namun ada juga saksi temen dikelasnya melihat bahwa korban ini naik bangku dan jatuh,


“.karena memang susah karena kelas 1, masih diskreening baik dari korban maupun MK, untuk kejadian sebenarnya belum kita tau, masih nunggu hasil screeningnya,”terangnya.

Selasa, 03 Februari 2026

Diduga Jadi Korban Bullying, Siswa SD di Peringgabaya Dirawat Intensif di RSUD Selong

Siswa korban Perundungan

Okenews.net- Dugaan kasus perundungan kembali mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Lombok Timur. Seorang siswa sekolah dasar berinisial HAZF kini harus menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. R. Soedjono Selong setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh teman sebayanya di salah satu SD Negeri di wilayah Kecamatan Peringgabaya.

Peristiwa tersebut terungkap setelah kondisi korban terus memburuk dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pihak keluarga yang awalnya mengira HAZF hanya mengalami cedera ringan akhirnya membawa korban ke dokter spesialis sebelum dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Ayah korban, Supriyadi, mengungkapkan bahwa insiden itu terjadi pada Rabu pekan lalu di lingkungan sekolah. Dari pengakuan korban, ia mengalami perlakuan fisik yang tidak wajar hingga menimbulkan rasa sakit berkepanjangan.

“Anak saya didorong lalu dinaiki oleh temannya. Awalnya kami kira biasa, tapi rasa sakitnya makin parah,” ujar Supriyadi saat ditemui di RSUD Selong, Selasa (03/02/2026).

HAZF mengeluhkan nyeri di beberapa bagian tubuh, terutama di sisi kiri mulai dari dada, tangan, hingga paha. Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma psikologis yang membuatnya cenderung diam dan ketakutan.

Saat ini, tim medis masih melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada cedera serius pada organ dalam akibat tekanan fisik yang dialami korban. Pihak keluarga pun menyatakan tidak akan tinggal diam dan meminta adanya pertanggungjawaban dari pihak terkait, termasuk pihak sekolah.

Sementara itu, aparat kepolisian melalui Bhabinkamtibmas setempat telah mulai melakukan penelusuran awal terhadap kasus tersebut.

“Kami sedang mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah, keluarga korban, serta saksi-saksi untuk mengetahui kronologi lengkap kejadian,” ujarnya.

Kasus ini menjadi sorotan serius sekaligus peringatan bagi seluruh pemangku kebijakan pendidikan di Lombok Timur. Lingkungan sekolah yang seharusnya aman bagi anak justru kembali diwarnai dugaan kekerasan, menandakan perlunya pengawasan dan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

Tradisi Nyelamet Dowong di Lotim, Ikhtiar Warga Jaga Padi dan Dukung Swasembada Pangan

Ritual Adat Nyelamet Dowong

Okenews.net- Masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar tradisi adat Nyelamet Dowong, sebuah ritual tahunan yang sarat makna sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar menjaga tanaman padi dari serangan hama menjelang masa panen.

Tradisi ini diawali dengan iring-iringan puluhan perempuan yang membawa Tembolaq, baki tradisional khas Sasak berisi hasil bumi, nasi, ketupat, serta aneka kue tradisional Lombok. Tembolaq tersebut dibawa dari area masjid menuju makam leluhur untuk pelaksanaan zikir, doa bersama, serta pengambilan air suci di mata air Merta Sari.

Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet, menjelaskan bahwa Nyelamet Dowong merupakan warisan leluhur yang wajib dilaksanakan setiap tahun saat padi berusia sekitar satu bulan.

“Upacara adat ini selalu dilakukan sebelum panen. Tujuannya untuk menyelamatkan padi dari hama dan memohon hasil panen yang baik,” ujarnya, Senin (02/02/2026).

Rangkaian ritual berlangsung selama dua hari. Pada hari Jumat, warga melakukan pembersihan makam para leluhur. Ritual dilanjutkan pada hari Minggu dengan prosesi pemotongan ayam di satu lokasi khusus.

“Pemotongan ayam ini memiliki filosofi agar penyakit tidak menyebar. Darah ayam dialirkan ke daun bambu, yang sejak dulu dimanfaatkan sebagai pestisida alami,” jelas Lalu Selamet.

Daun bambu yang telah terkena darah ayam tersebut kemudian diletakkan di tengah sawah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, aroma amis darah ayam akan menarik hama, sehingga hama tersebut mati secara alami tanpa bahan kimia.

Selain itu, air suci dari mata air Merta Sari dialirkan ke area persawahan. Air tersebut diyakini membantu membersihkan sisa hama yang telah mati sekaligus membawa berkah bagi tanaman padi.

“Intinya, tradisi ini adalah wujud rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar panen melimpah, sekaligus mendukung cita-cita swasembada pangan,” pungkasnya.

Antusiasme warga juga terlihat dari partisipasi aktif masyarakat. Salah seorang warga, Amaq Muslihin, mengaku dengan sukarela menyediakan berbagai hidangan untuk dinikmati bersama.

“Kami menyiapkan makanan secara swadaya untuk dinikmati bersama. Apalagi padi saya sudah mulai menguning, semoga setelah doa bersama ini hasil panen semakin baik,” katanya.

Tradisi Nyelamet Dowong tidak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga mencerminkan keharmonisan masyarakat Lombok Timur dalam menjaga alam, budaya, dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Senin, 02 Februari 2026

Aroma Merah Shang Dyah di Laut Sunyi (Episode 03)

Ilustrasi: Para nelayan pulang ditunggui istri. Terlihat Shang Dyah dari jauh 
Aroma mistis itu mengalir tanpa rupa; bukan wangi, bukan pula bau; melainkan jejak sunyi yang hanya bisa dikenali oleh ingatan jiwa, hadir pelan seperti doa yang lupa diucapkan namun tiba-tiba terasa menggenang di dada.

Oleh: Am. Pupu 
Guru Muhir_Founder Repok Literasi
Perahu kecil itu meluncur pelan di atas laut pagi. Pe Dirata dan Loq Jinep berdiri berdampingan, tubuh mereka dibalut baju merah; pemberian Shang Diyah; yang kontras namun hangat di bawah cahaya matahari. Warna itu seperti doa yang ikut berlayar, menempel di dada mereka, menguatkan langkah sebelum hari benar-benar terbangun.

Cuaca begitu bersahabat. Angin hanya berbisik lembut, nyaris tak terasa. Lautan terhampar tenang seperti kolam renang, permukaannya memantulkan langit biru pucat tanpa riak berarti. Tak ada gelombang yang tergesa, tak ada awan yang mengancam. Semesta seolah sengaja melambat agar dua nelayan itu bisa bekerja dengan hati yang ringan.

Saat perahu mencapai titik yang mereka kenal baik, jangkar dilepas. Bunyi besinya tenggelam pelan, lalu sunyi kembali merajai. Di atas air yang nyaris diam, jaring ditebar dengan gerak yang terlatih; tidak terburu-buru, tidak ragu. Setiap simpul jaring seakan mengikuti irama napas mereka, jatuh rapi, menyatu dengan ketenangan laut.

Di antara diam dan kerja, ada rasa damai yang mengalir. Seperti keyakinan sederhana bahwa hari ini laut akan ramah, rezeki akan menemukan jalannya, dan baju merah itu; pemberian yang tulus menjadi saksi bisu betapa tenangnya hidup ketika manusia, alam, dan niat baik berjalan searah.

Tanpa mereka sadari, jauh di kedalaman yang tak tersentuh cahaya, Adipati Segara Dalem tengah memandang. Pandangannya yang menembus air dan waktu, tertumbuk pada dua nelayan berbaju merah di atas perahu kecil. Dari kejauhan itu, tercium aroma warna yang amat dikenalnya: aroma lama yang  hangat dan sacral; symbol milik Shang Dyah. Hatinya bergetar pelan; ingatan dan penghormatan berbaur dalam satu tarikan napas samudra.

Dengan isyarat sunyi, Adipati Segara Dalem memerintahkan para punggawanya. Perintah itu mengalir seperti arus yang patuh: ombak ditenangkan, arus bawah laut dihentikan. Laut pun tunduk, menahan geraknya, menjaga perahu kecil itu tetap dalam pelukan damai.

Tak berhenti di situ, ia berkoordinasi dengan para adipati penjaga binatang laut. Pesan disampaikan dari palung ke palung, dari karang ke karang: bahawa hari ini adalah hari penyambutan. Ikan-ikan pun bergerak dalam keteraturan yang tak terlihat, mengikuti irama yang hanya samudra pahami.

Di permukaan, Pe Dirata dan Loq Jinep tetap bekerja. Mereka berdua, tak mengetahui apa-apa. Ketika jaring ditarik, keajaiban terhampar tanpa gaduh: berbagai jenis ikan; berkilau perak, keemasan, dan gelap kebiruan, terperangkap dengan tenang. Tak ada perlawanan yang liar, hanya kepatuhan lembut seolah mereka datang untuk memenuhi takdir hari itu.

Perahu kecil itu pun sarat berkah. Laut tetap tenang seperti semula, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Hanya samudra yang tahu: hari itu, dua nelayan berbaju merah telah berjalan dalam pengawalan yang tak terlihat, disambut oleh seluruh isi laut, karena satu aroma warna yang dikenali dan dihormati sejak lama.

Saat jaring itu benar-benar terangkat dan isi perahu nyaris penuh, Pe Dirata dan Loq Jinep saling berpandangan. Mata mereka berbinar, senyum pecah tanpa aba-aba. Mereka tertawa kecil; tawa orang laut yang biasanya lebih akrab dengan pasrah daripada berlimpah. Terlintas di benak mereka hari-hari sebelumnya, saat pulang dengan jaring ringan, kadang nyaris kosong, kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Tak jarang mereka menyebut laut pelit, sambil tetap menunduk menerima nasib.

Kali ini berbeda. “Hari ini… sungguh tak seperti biasanya,” gumam salah satu, suaranya bergetar.

Mereka pun tak henti-hentinya memuji nama Tuhan. Di sela mengikat hasil tangkapan, di antara tarikan napas dan degup jantung, syukur mengalir spontan; bukan dalam kata yang tinggi, melainkan pujian sederhana yang lahir dari hati nelayan: tentang rezeki, tentang keselamatan, tentang laut yang hari ini begitu murah hati.

Perahu lalu diarahkan ke tepian, mesin dinyalakan pelan, membelah air yang masih tenang. Di sepanjang perjalanan pulang, rasa gembira itu tetap melekat. bukan sekadar karena ikan yang banyak, tetapi karena keyakinan bahwa hari ini mereka benar-benar diperhatikan.

Di dekat pantai, mereka bertemu nelayan lain. Perahu-perahu kecil bersisian, wajah-wajah letih dengan jaring yang tak seberat milik mereka. Ada yang hanya tersenyum tipis, ada yang menghela napas panjang. Saling sapa pun terjadi; sapaan khas orang laut, singkat namun hangat. Tak ada kesombongan, hanya cerita singkat dan tawa ringan.

Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan rendah hati, tetap menyebut nama Tuhan dalam setiap penjelasan. Mereka tahu, laut tak selalu memberi sama rata. Hari ini mereka beruntung; esok bisa saja giliran yang lain.

Dan perahu itu pun terus melaju ke darat, membawa hasil tangkapan, membawa cerita, dan membawa syukur yang tak habis-habis; yakni sebuah kegembiraan sederhana yang akan mereka kenang lama, sebagai hari ketika laut, langit, dan doa bertemu dalam satu perjalanan pulang.

Di pesisir pantai, suasana mulai riuh oleh penantian. Anak-anak berlarian di pasir basah, para orang tua berdiri berderet memandang laut, dan suara ombak kecil bersahutan dengan panggilan nama yang dilemparkan ke cakrawala. Mata-mata menajam ke arah biru, mencari siluet perahu yang dikenali dari jauh. Angin membawa aroma garam dan harap yang tertahan.

Di antara keramaian itu, istri-istri mereka menunggu. Tubuh tegak, tangan saling menggenggam, wajah menyimpan harap yang bercampur cemas. Tak banyak kata terucap. Seribu harap tercurah tanpa suara; tentang keselamatan, tentang rezeki, tentang pulang.

Hanya mata yang berbicara, menengadah ke langit seolah menitipkan pesan yang tak perlu diucapkan.

Dalam diam itu, ingatan berlabuh pada Sang Maha Rahman lan Maha Rahim. Nama-Nya tak selalu dilafalkan, namun hadir penuh di dada. Setiap hembusan napas adalah doa, setiap kedipan mata adalah pengakuan: bahwa laut luas ini ada dalam genggaman-Nya, dan pulang adalah anugerah.

Ketika akhirnya perahu tampak yang mula-mula hanya titik, lalu bentuk; riuh pesisir menghangat. Senyum merekah, langkah dipercepat, dan hati yang semula menahan kini melonggar. Di tepi pantai itu, antara pasir dan air, harap menemukan jawabnya. Bukan lewat kata-kata besar, melainkan lewat tatapan yang bertemu, pelukan yang segera menyusul, dan syukur yang mengalir pelan, yak ubahnya seperti ombak kecil yang setia kembali ke pantai.

Begitu perahu merapat, istri Pe Dirata dan istri Loq Jinep segera bergegas menyambut. Langkah mereka cepat namun tertahan, seperti biasa, antara ingin segera tiba dan takut berharap terlalu tinggi. Di tangan kiri masing-masing tergenggam wadah kecil, wadah yang selama ini akrab dengan kesunyian. Wadah itu tak pernah penuh oleh tangkapan suami mereka; paling sering hanya berisi sedikit ikan yang sekadar cukup untuk membayar hutang solar, itu pun sering kali tak mampu mereka lunasi. Wadah kecil itu menjadi saksi hari-hari panjang menunggu, menawar, dan menahan malu.

Mereka mendekati perahu dengan mata yang menunduk, kebiasaan yang lahir dari seringnya pulang tanpa kabar baik. Namun langkah itu mendadak terhenti. Pandangan mereka terangkat, dan seketika napas tertahan.

Terkejut;
Bukan oleh satu atau dua ekor, melainkan hasil tangkapan yang begitu banyak. Ikan berkilau menumpuk rapi, memenuhi perahu hingga ke bibirnya. Mata mereka membesar, tangan yang memegang wadah kecil mengencang. Sejenak mereka tak berkata apa-apa, seolah takut pemandangan itu menguap jika disapa kata.

Wadah kecil itu kini tampak terlalu kecil untuk kenyataan di hadapan mereka.

Di wajah mereka, harap yang lama terlipat kini terbuka perlahan, bercampur takzim dan syukur yang mengalir tanpa suara. Mata kembali menengadah, kali ini bukan untuk meminta, melainkan untuk mengakui anugerah; bahwa hari ini, laut telah menjawab doa yang selama ini hanya berani disimpan di dada.

Melihat perahu sarat hasil tangkapan itu, masyarakat pesisir segera bergerak. Tanpa komando, tanpa hitungan, tangan-tangan terulur dan kaki-kaki menjejak pasir basah. Gotong royong mengalir begitu saja; seperti kebiasaan lama yang tak perlu diajarkan.

Beberapa orang mendorong dari buritan, yang lain menarik dari haluan, sebagian lagi sigap mengganjal dengan kayu agar perahu tak kembali terseret air. Suara aba-aba bercampur tawa dan seruan pendek, menyatu dengan desah napas dan decit kayu yang bergesekan dengan pasir. Pasir pantai ikut bergerak, berderak pelan, menyambut kerja bersama itu.

Anak-anak menepi sambil bersorak kecil, para perempuan berdiri dekat hasil tangkapan, mata mereka masih tak percaya. Perahu didorong perlahan, lalu mantap, hingga akhirnya naik ke atas, aman dari jangkauan ombak. Ketika kayu lunas berhenti bergerak, kelegaan pun menyebar—seperti napas panjang yang dilepas bersama.

Di tepi pantai itu, kebersamaan terasa nyata. Bukan hanya karena ikan yang banyak, tetapi karena hari itu rezeki dirayakan bersama. Tak ada yang berdiri sendiri; semua bahu bersentuhan, semua tangan berperan. Dan laut pun, dari kejauhan, tetap tenang; seolah ikut menyaksikan bagaimana syukur menjelma gotong royong, menguatkan satu sama lain di pasir yang sama.

Begitu perahu benar-benar aman di atas pasir, Pe Dirata menepuk lambung sampan sambil tertawa lega. Ia menoleh ke kerumunan yang masih riuh.

Eh, jangan ada yang pulang dulu!” serunya lantang.
“Ambil-ambil dulu ikannya… menciroq!”
Loq Jinep ikut menyahut, suaranya kalah oleh gelak tawa,
“Iya, iya… sesuai adat pantai kita. Tadi sudah bantu dorong, masa pulang tangan kosong?”
“Ah, Pe Dirata, ini banyak sekali! Kami malu ambilnya,” sahut seorang nelayan lain sambil tersenyum.
“Malu apa?” jawab Pe Dirata cepat.
Kalau tidak diambil, justru kami yang malu. Tradisi itu janji, bukan sekadar ikan.”
“Ambil secukupnya,” tambah Loq Jinep sambil menunjuk keranjang.
“Buat lauk rumah, buat anak-anak. Jangan pilih-pilih, semua rezeki sama.”

Suasana pun makin ramai.
“Aku ambil dua ekor saja ya!”
“Ambil tiga, biar sekalian!”
“Eh, ini yang besar boleh?”
“Boleh! Asal jangan bawa perahunya sekalian!”
Tawa pecah.

Tangan-tangan bergerak, ikan berpindah dari perahu ke wadah-wadah kecil, ke ember, ke kain yang dilipat. Anak-anak bersorak saat melihat sisik berkilau, para ibu saling bercanda sambil menghitung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tradisi menciroq hidup kembali—bukan sebagai kewajiban kaku, melainkan sebagai ikatan rasa. Ikan bukan sekadar imbalan, melainkan tanda terima kasih, pengakuan atas tenaga, dan cara berbagi bahagia.

Pe Dirata dan Loq Jinep saling pandang, senyum mereka tenang. Hari itu, rezeki tak berhenti di perahu. Ia mengalir ke banyak tangan, menjelma suara riuh, tawa, dan rasa cukup di pesisir pantai.

Sore mulai turun ketika Pe Dirata dan Loq Jinep melangkah pulang. Di kiri kanan mereka, istri-istri setia mendampingi, wajah yang sejak pagi menyimpan cemas kini berubah terang oleh senyum yang tak putus. Dua orang anak berjalan di depan, kadang berlari kecil, kadang menoleh ke belakang memastikan ayah mereka benar-benar ada di sana.

Langkah-langkah itu ringan, seolah beban hari-hari sebelumnya tertinggal di pasir pantai. Ember kecil berisi ikan bergoyang pelan, berkilau setiap kali terkena cahaya senja. Anak-anak tertawa riang, saling menunjuk ikan sambil bertanya dengan mata berbinar—pertanyaan yang biasanya hanya berujung diam, kini dijawab dengan canda dan janji.

Di sepanjang jalan, sapaan bersahut-sahutan.
“Pulang awal hari ini!”
“Rezekinya laut hari ini ramah!”
Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan anggukan dan senyum, menyelipkan pujian pada Tuhan di sela percakapan, sederhana dan jujur.

Sesampainya di rumah, halaman kecil terasa lebih luas dari biasanya. Kegembiraan mengisi ruang—bukan karena kemewahan, melainkan karena cukup. Anak-anak duduk dekat pintu, istri menata ikan dengan hati-hati, dan kedua nelayan itu menarik napas panjang, saling bertukar pandang penuh makna.

Hari itu mereka pulang bersama, bukan hanya membawa hasil laut, tetapi membawa harapan yang hidup, tawa yang menghangatkan, dan keyakinan baru bahwa esok—apa pun yang datang—akan mereka hadapi sebagai keluarga, dengan hati yang lebih tenang.

Mereka tak sepenuhnya memahami bagaimana hari itu berubah menjadi begitu murah hati. Tak ada tanda yang berbeda, tak ada jaring baru, tak ada hitungan yang diubah. Yang ada hanya laut yang tenang dan doa yang biasa—namun hasilnya jauh dari kebiasaan. Mereka pun memilih diam, menyimpan keheranan itu dalam rasa syukur yang sederhana.

Di sisi lain, istri-istri mereka mulai sibuk membersihkan ikan. Sisik berkilau diterpa cahaya sore, pisau bergerak cepat, ember demi ember terisi. Namun jumlahnya terlalu banyak untuk dua pasang tangan. Tawa kecil bercampur helaan napas terdengar—kewalahan, namun bahagia.

Akhirnya, salah satu dari mereka memanggil seorang wanita paruh baya yang tinggal tak jauh dari pesisir. Perempuan itu datang dengan langkah tenang dan senyum paham, seolah mengerti bahwa hari ini bukan hari biasa. Mereka bekerja bersama, tanpa banyak tanya, membiarkan tangan yang berbagi menyelesaikan apa yang tak sanggup dikerjakan sendiri.

Dan sore itu pun menutup kisahnya dengan lembut. Di tepi pantai, di antara ikan yang bersih dan hati yang lapang, semua kembali pada satu pengakuan sunyi: ada hal-hal yang tak perlu dipahami sepenuhnya—cukup diterima dengan syukur. Bersambung pekan depan (episode 04).

Minggu, 01 Februari 2026

IAIH Pancor Dampingi Guru PAUD Perkuat Pemahaman Gizi dan PMT Anak Usia Dini

IAIH Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan guru PAUD yang difokuskan pada penguatan kompetensi gizi dan praktik penyajian Pemberian Makan Tambahan (PMT).


Kegiatan bertajuk “Pendampingan Guru PIAUD: Meningkatkan Kompetensi Konseptual dan Praktik Penyajian Makan Tambahan (PMT) untuk Anak Usia Dini” tersebut digelar di Aula IAIH Pancor dan diikuti oleh guru dari berbagai satuan PAUD, TK, RA, dan SPS yang tersebar di Pulau Lombok hingga Sumbawa.


Sejumlah lembaga pendidikan turut terlibat dalam kegiatan ini, di antaranya TK Bumi Gora Lombok Timur, TK Negeri 2 Masbagik, PAUD IT Qurrota A’yun Mataram, TK Mulajati Lombok Utara, RA Batu Rakit Bayan, TK Insan Qur’ani Sembalun, hingga TK Doremi Kecamatan Buer, Sumbawa Besar.


Kaprodi PIAUD IAIH Pancor, Baiq Halimatuzzuhrotulaini, M.Pd., mengatakan bahwa pendampingan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman guru PAUD terhadap pentingnya pemenuhan gizi sebagai bagian dari layanan pendidikan anak usia dini.


Menurutnya, PMT tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelengkap kegiatan belajar, melainkan memiliki peran strategis dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.


“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan guru PAUD memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun serta menyajikan makanan tambahan yang sehat, aman, dan bergizi,” ujarnya, Jumat (31/1/2026).


Ia menambahkan, guru PAUD merupakan pihak yang paling dekat dengan anak di lingkungan pendidikan, sehingga memiliki peran penting dalam memastikan kualitas asupan makanan tambahan yang diberikan.

Program pendampingan ini menargetkan peningkatan kapasitas guru dalam memahami gizi anak usia dini, merancang menu PMT yang sehat, serta mengelola program PMT secara terencana dan berkelanjutan di satuan PAUD.


Dalam pelaksanaannya, kegiatan dikemas dengan metode terpadu yang mengombinasikan pemaparan materi, diskusi interaktif, simulasi, hingga praktik langsung penyusunan dan penyajian PMT. Pendekatan ini dilakukan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung di lembaga masing-masing.

Ke depan, Prodi PIAUD IAIH Pancor menargetkan kegiatan serupa menjadi agenda rutin pengabdian kepada masyarakat.


“Kami berharap pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi ruang kolaborasi antara kampus dan lembaga PAUD dalam meningkatkan kualitas guru serta layanan pendidikan anak usia dini, khususnya di wilayah NTB,” pungkasnya.


Mahasiswa PIAUD IAIH Pancor Tampilkan Kreativitas Lewat Pentas Seni Akhir Semester

Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)

Okenews.net- Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor menggelar Pentas Seni Mahasiswa bertema “Berkarya, Berbudaya, dan Berkreasi” di Aula IAIH Pancor, Kamis (30/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari evaluasi akhir semester sekaligus wadah pengembangan bakat seni mahasiswa.


Beragam penampilan seni musik dan tari disuguhkan mahasiswa PIAUD, dengan memadukan unsur budaya nusantara dan sentuhan modern. Pentas seni tersebut tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga mencerminkan hasil pembelajaran yang telah ditempuh mahasiswa selama satu semester.


Kaprodi PIAUD IAIH Pancor, Baiq Halimatuzzuhrotulaini, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran terintegrasi, bukan sekadar hiburan semata.

Menurutnya, mahasiswa dilibatkan secara langsung mulai dari perencanaan konsep pertunjukan, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi, sehingga mampu melatih kreativitas, kepercayaan diri, dan kemampuan manajerial.


“Pentas seni ini menjadi sarana mahasiswa untuk mengaktualisasikan kemampuan akademik dan non-akademik yang telah diperoleh selama perkuliahan,” ujarnya di sela kegiatan.


Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sejalan dengan capaian pembelajaran Prodi PIAUD, khususnya dalam membekali mahasiswa agar mampu merancang dan mengimplementasikan pembelajaran anak usia dini yang kreatif dan inovatif.


Selain aspek keterampilan seni, pentas seni ini juga menekankan penguatan pendidikan karakter dan kecintaan terhadap budaya lokal. Nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, serta apresiasi terhadap budaya nusantara ditanamkan melalui setiap penampilan.


“Mahasiswa tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi juga memahami makna budaya dari karya yang dibawakan,” tambahnya.


Ia menegaskan, kemampuan seni dan kreativitas menjadi bekal penting bagi calon guru PAUD dalam menciptakan proses pembelajaran yang menarik, komunikatif, dan menyenangkan bagi anak.


Ke depan, Prodi PIAUD IAIH Pancor menargetkan pentas seni mahasiswa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi agenda tahunan kampus sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas lulusan.


Jumat, 30 Januari 2026

Wabup Lombok Timur Lantik Puluhan Pejabat, Tekankan Pelayanan Publik dan Penguatan Sektor Kesehatan

Pelantikan Pejabat Lingkup Pemda Lombok Timur

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali melakukan penyegaran birokrasi. Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, melantik dan mengambil sumpah puluhan pejabat administrator, pejabat pengawas, serta kepala UPTD Puskesmas di Aula Pendopo Bupati Lombok Timur, Jumat (30/01/2026).


Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya penataan organisasi pemerintahan guna meningkatkan kinerja aparatur sipil negara (ASN). Dalam sambutannya, Wabup menegaskan bahwa mutasi dan rotasi jabatan merupakan hal yang wajar dalam sistem birokrasi sebagai langkah strategis memperkuat kapasitas organisasi.


Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), penataan birokrasi yang profesional, serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Menurutnya, tuntutan masyarakat terhadap layanan pemerintah semakin tinggi sehingga ASN harus bekerja lebih adaptif dan responsif.


Wabup juga mengingatkan seluruh pejabat yang dilantik agar mengimplementasikan nilai-nilai ASN BerAKHLAK dalam setiap pelaksanaan tugas. Pesan Bupati Lombok Timur turut disampaikan, yakni agar seluruh pejabat mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, khususnya di sektor kesehatan.


“Pejabat yang baru dilantik diharapkan segera menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja masing-masing, sehingga pelayanan dapat berjalan cepat, efektif, dan optimal,” ujarnya.


Selain mengucapkan selamat, Wabup menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi ASN sebagai bekal menghadapi tantangan pelayanan publik ke depan. Pada kesempatan tersebut, dilantik tiga pejabat administrator, 48 pejabat pengawas, serta 18 kepala UPTD Puskesmas.


Pelantikan ini diharapkan dapat memperkuat kinerja pemerintah daerah, terutama dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat Lombok Timur.

Kamis, 29 Januari 2026

Revitalisasi Puluhan Sekolah di Lotim Diresmikan, Bupati Tegaskan Pendidikan Tak Bisa Jalan Sendiri

Peresmian Revitalisasi Sekolah Oleh Bupati Lombok Timur

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pendidikan melalui peresmian program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Peresmian tersebut berlangsung di SDN 1 Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kamis (29/01/2026),

Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin menekankan bahwa keterbatasan anggaran pemerintah, baik dari APBD maupun APBN, menuntut adanya kolaborasi lintas sektor. Ia menilai keterlibatan pihak ketiga, seperti lembaga sosial dan swasta, menjadi faktor penting dalam percepatan pembangunan sarana pendidikan.

Menurutnya, pembangunan dunia pendidikan tidak mungkin hanya bergantung pada anggaran negara. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta pihak swasta harus terus diperkuat agar kualitas pendidikan dapat meningkat secara merata.

Bupati juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dari aspek moral, akhlak, dan ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan pendidikan, Pemkab Lombok Timur juga tengah menyiapkan pengembangan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Lenek Duren, program tersebut direncanakan akan dilanjutkan di Kecamatan Jerowaru. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep Sekolah Unggul Garuda sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan.

Tak hanya sektor pendidikan, Bupati turut menyinggung peningkatan kualitas layanan publik lainnya. Ia mengingatkan kepala sekolah, tenaga pendidik, serta tenaga kesehatan untuk bekerja sesuai tugas dan fungsi. Bupati menegaskan agar tidak ada lagi keluhan pelayanan kesehatan yang lambat, termasuk yang berkaitan dengan administrasi BPJS.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, mengungkapkan bahwa lahan pembangunan sekolah di Lenek Duren merupakan hasil hibah dari kepala sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik harus sejalan dengan peningkatan prestasi siswa.

Ia juga memberikan penekanan kepada kepala sekolah agar mampu menjadi motor penggerak kemajuan pendidikan. Menurutnya, sarana yang telah memadai harus dibarengi dengan kepemimpinan sekolah yang kuat dan inovatif. Jika fasilitas lengkap namun prestasi tidak meningkat, evaluasi akan menjadi langkah yang tidak terhindarkan.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Dikbud turut mengapresiasi pola pengerjaan bantuan dari Kementerian Pendidikan yang dilakukan secara swakelola. Skema ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena melibatkan tenaga lokal dalam proses pembangunan.

Ketua Panitia, Nur Hidayati, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan para donatur, khususnya melalui program Classroom Hope. Ia menyebut revitalisasi sekolah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga investasi bagi kenyamanan dan kesehatan mental guru serta peserta didik.

Program revitalisasi pendidikan tahun ini menyasar sebanyak 36 Sekolah Dasar (SD) dan 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di tujuh kecamatan, dengan Kecamatan Lenek menjadi salah satu wilayah prioritas.

Acara peresmian ditutup dengan prosesi pengguntingan pita oleh Bupati Lombok Timur bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai tanda resmi digunakannya gedung sekolah yang telah direvitalisasi.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi