www.okenews.net: Pendidikan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2026

Honor PPPK PW Tuntas Dibayar, Dikbud Lotim Kini Perjuangkan 917 Non-Database

Kepala Dinas Dikbud Lotim M. Nurul Wathoni, M.Pd

Okenews.net - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur M. Nurul Wathoni menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperjuangkan kepastian status dan kesejahteraan tenaga honorer di lingkungan pendidikan. 

Hal itu disampaikan menyusul tuntasnya proses pembayaran gaji bagi 4.876 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di lingkup Dikbud Lombok Timur, Jumat 27 Maret 2026.

Wathoni mengatakan, setelah pembayaran gaji PPPK Paruh Waktu tersebut tuntas, perhatian pemerintah daerah kini diarahkan pada 917 tenaga honorer non-database yang belum terakomodasi dalam seleksi PPPK Paruh Waktu sebelumnya. 

Menurutnya, keberadaan tenaga honorer tersebut tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena mereka telah lama berkontribusi dalam proses pendidikan di Lombok Timur.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan membiarkan para tenaga honorer tersebut kehilangan kepastian kerja. Hal ini sejalan dengan arahan Bupati Lombok Timur yang menekankan agar tenaga honorer, khususnya di sektor pendidikan, tidak dirumahkan.

“Kami akan terus berikhtiar mencari solusi terbaik agar 917 tenaga honorer non-database ini tetap mendapatkan kepastian legalitas formal dan penghasilan. Arahan Bupati Lombok Timur sangat jelas, mereka tidak boleh dirumahkan,” tegas Wathoni.

Menurutnya, Dikbud Lombok Timur saat ini tengah melakukan berbagai langkah koordinasi dan kajian untuk memastikan keberlanjutan status para tenaga honorer tersebut. Upaya ini dilakukan agar mereka tetap dapat mengabdi sambil menunggu mekanisme kebijakan dalam memberikan kepastian status ke depan.

Pria yang kerap disapa Guru Seneng itu menekankan tenaga guru merupakan garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga keberadaan mereka harus dijaga dan diperhatikan secara serius.

“Para guru dan tenaga pendidikan adalah ujung tombak dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Karena itu, kami memiliki keyakinan bahwa setiap perjuangan untuk memperjuangkan nasib tenaga pendidik akan menemukan jalan keluar,” ujarnya.

Ia berharap semua pihak dapat memberikan dukungan terhadap upaya pemerintah daerah dalam mencari solusi terbaik bagi para tenaga honorer tersebut, sehingga proses pendidikan di Lombok Timur dapat terus berjalan dengan baik dan stabil.

“Insyaallah, dengan kerja bersama dan ikhtiar maksimal, kita berharap ada kemudahan dalam memperjuangkan masa depan tenaga pendidik di Lombok Timur,” pungkas pria yang telah membawa MAN 1 Lombok Timur moncer ke level Internasional itu.

Jumat, 06 Maret 2026

UPTD Dikbud Sakra Barat Klarifikasi Soal Pungutan Guru Paruh Waktu

Sumber Foto: Humas UPTD Dikbud Sakra Barat

Okenews.net- Kepala UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kecamatan Sakra Barat, Muhamad Taufik Ismail, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai dugaan pungutan kepada sejumlah guru paruh waktu (PW) saat proses penandatanganan Surat Perjanjian Kerja (SPK).

Taufik menjelaskan, uang yang dikeluarkan oleh para guru tersebut bukanlah pungutan resmi dari pihak UPTD maupun dinas, melainkan hasil kesepakatan para guru paruh waktu sendiri.

“Bahkan yang membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) itu teman-teman dari guru paruh waktu sendiri,” ujarnya kepada media ini, Kamis (5/3/2026).

Ia menerangkan, dalam proses penandatanganan SPK terdapat sejumlah dokumen yang harus dilengkapi dengan materai. Total dokumen yang harus ditandatangani mencapai 14 lembar, sehingga para guru berinisiatif membeli materai secara mandiri.

“Karena jumlah dokumen cukup banyak, guru-guru di Sakra Barat sepakat mengeluarkan uang sebesar Rp30 ribu per orang. Jumlah ini juga berbeda di setiap kecamatan, tergantung kesepakatan masing-masing,” jelasnya.

Menurutnya, dana tersebut digunakan untuk kebutuhan administrasi, seperti pembelian materai, kertas, tinta printer, serta alat tulis lainnya. Hal itu dilakukan karena tidak ada anggaran operasional yang tersedia di UPTD untuk keperluan tersebut.

“Saya tegaskan, tidak ada perintah dari dinas terkait hal ini. Ini murni kesepakatan teman-teman guru di bawah yang melihat kondisi keuangan yang tidak ada,” tegas Taufik.

Terkait kesejahteraan guru paruh waktu, Taufik menyebutkan bahwa saat ini kondisi mereka dinilai lebih baik dibanding sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa guru PW kini menerima honor sebesar Rp550 ribu per bulan, ditambah dengan tunjangan sertifikasi bagi yang memenuhi syarat.

“Kalau berbicara kesejahteraan, sekarang jauh lebih baik. Ada gaji yang bersumber dari Dana BOS dan ada juga dari APBD,” pungkasnya.

Senin, 02 Maret 2026

Bupati Lotim Ingatkan 143 Kepsek Baru. Kelola Anggaran dengan Bersih dan Amanah

Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Kepala Sekolah

Okenews.net-Haerul Warisin menegaskan peran strategis kepala sekolah sebagai manajer di tingkat satuan pendidikan. Penegasan itu disampaikannya saat melantik 143 Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam Jabatan Kepala Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Senin (2/3/2026), di Pendopo Bupati.

Dalam arahannya, Bupati mengingatkan para kepala sekolah agar berhati-hati dalam mengelola keuangan sekolah dan tidak tergiur melakukan penyalahgunaan anggaran. Ia menekankan pentingnya belajar dan berkonsultasi dengan pihak yang berpengalaman jika belum memahami tata kelola keuangan secara menyeluruh.

“Pesan saya hati-hati, kalau belum mampu mengelola dan me-manage keuangan dengan baik, bertanyalah kepada yang sudah berpengalaman,” tegasnya.

Menurutnya, kepala sekolah yang “clear” bukan sekadar bersih dari persoalan hukum, tetapi juga mampu mengelola seluruh aspek sekolah secara profesional dan transparan. Ia menyadari bahwa menjadi pemimpin di satuan pendidikan bukanlah tugas mudah, namun dengan keikhlasan dan rasa amanah, tanggung jawab tersebut dapat dijalankan dengan baik.

“Pemimpin itu tidak gampang. Tapi kalau ada rasa keikhlasan dan kita bekerja untuk pendidikan, untuk mengayomi guru-guru, insyaallah kita akan menjadi kepala sekolah yang baik,” ujarnya.

Bupati bahkan membuka peluang karier yang lebih luas bagi kepala sekolah yang berprestasi. Ia menyebut jabatan Kepala Dinas bukan hal mustahil diraih, selama mampu membuktikan kepiawaian dalam manajemen, pembinaan guru, serta mencetak siswa berprestasi.

Tak hanya soal kurikulum, orang nomor satu di Lombok Timur itu juga mendorong inovasi berbasis potensi sumber daya alam. Ia mencontohkan gerakan menanam cabai di polybag secara kolektif oleh ribuan guru sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya mendukung program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) demi peningkatan kualitas gizi peserta didik.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengingatkan kepala sekolah untuk menjaga aset sekolah, termasuk rumah dinas dan tanah yang belum termanfaatkan. Ia menegaskan bahwa seluruh aset tersebut menjadi objek pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, sehingga harus dikelola dan dilaporkan secara tertib.

Tak kalah penting, ia mengimbau para guru untuk disiplin membayar zakat dan meminta agar tidak ada pihak, termasuk UPTD, yang berani menyalahgunakan dana zakat.

“Jika ada yang menyalahgunakan zakat, tidak perlu pakai hati, langsung gunakan hukum,” tegasnya.

Mengakhiri sambutannya, Bupati mengucapkan selamat kepada 143 kepala sekolah yang resmi dilantik. Ia berharap momentum tersebut menjadi langkah awal peningkatan mutu pendidikan di Lombok Timur, sehingga sekolah-sekolah di daerah ini semakin dipercaya dan menjadi pilihan utama masyarakat.

Jumat, 13 Februari 2026

Institut Elkatarie Tegaskan Komitmen Riset Rumput Laut Internasional di Lombok Timur

Institut Elkatarie

Okenews.net -Institut Elkatarie menegaskan komitmennya untuk terlibat aktif dalam kebangkitan riset rumput laut dunia yang mulai dikembangkan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama Universitas Mataram.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama Riset Rumput Laut Internasional dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan yang melibatkan seluruh perguruan tinggi se-Lombok Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Ekas Buana Kamis, 12/2/2026

Dalam sambutannya, Stella Christie menegaskan pentingnya riset dan inovasi sebagai kunci daya saing Indonesia di pasar global.

“Riset dan inovasi adalah fondasi utama agar Indonesia mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing di tingkat global, termasuk dalam pengembangan bioteknologi rumput laut,” tegas Stella Christie.

Ia berharap Lombok Timur dapat mengambil peran strategis dalam kebangkitan industri berbasis bioteknologi yang berorientasi ekspor dan bernilai tambah tinggi.

Sementara itu, Bupati Haerul Warisin mengingatkan seluruh pihak untuk menjaga kawasan Ekas Buana sebagai lokasi strategis pengembangan riset.

“Semua aset daerah dan aset nasional yang ada di Ekas ini harus kita jaga bersama, baik keamanan maupun kebersihannya,” tegas Bupati.

Menurutnya, keberhasilan program riset internasional tidak hanya bergantung pada akademisi dan pemerintah, tetapi juga dukungan serta partisipasi masyarakat setempat.

Rektor Institut Elkatarie, Dr. Asbullah Muslim, menegaskan kesiapan institusinya untuk terlibat aktif dalam pengembangan riset hingga hilirisasi industri rumput laut.

“Kami siap bersinergi dan berkolaborasi dalam pengembangan industri lokal berbasis riset menuju pasar global. Riset rumput laut ini harus menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi masyarakat pesisir Lombok Timur,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas perguruan tinggi yang didukung pemerintah pusat dan daerah menjadi peluang strategis untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, inovasi bioteknologi, serta daya saing industri rumput laut daerah.

Melalui kerja sama riset internasional ini, Lombok Timur diharapkan mampu tampil sebagai episentrum kebangkitan riset rumput laut dunia, yang tidak hanya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Rabu, 11 Februari 2026

Wabup Lotim Resmikan 5 Ruang Kelas Baru di SDN 2 Gunung Malang

Peresmian Gedung Kelas

Okenews.net- Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, meresmikan lima unit ruang kelas baru (RKB) di SDN 2 Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Rabu (11/2/2026). Pembangunan ruang kelas tersebut merupakan bantuan donasi dari Happy Hearts Indonesia-Australia.

Peresmian ditandai dengan acara tasyakuran yang dihadiri pihak sekolah, masyarakat, serta sejumlah mitra lembaga non-pemerintah yang turut berkontribusi dalam pembangunan fasilitas pendidikan tersebut.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Edwin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu menghadirkan sarana belajar yang lebih layak bagi para siswa. Ia berharap keberadaan ruang kelas baru tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik sekaligus dijaga bersama oleh pihak sekolah dan masyarakat.

Menurutnya, peningkatan fasilitas pendidikan juga harus diiringi dengan kesadaran menjaga lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah. Ia menegaskan bahwa gerakan nasional kebersihan yang dicanangkan pemerintah pusat perlu diterapkan hingga ke tingkat desa.

“Pembangunan ruang kelas ini memanfaatkan plastik daur ulang. Karena itu, kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan mengelola sampah plastik harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

Edwin juga berharap kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga non-pemerintah seperti Happy Hearts Indonesia dapat terus diperluas. Ia menegaskan bahwa Pemkab Lombok Timur membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung pembangunan, khususnya di sektor pendidikan.

Sementara itu, Kepala SDN 2 Gunung Malang, Fathussabir, menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diterima sekolahnya. Ia menjelaskan bahwa lima ruang kelas baru tersebut berhasil dibangun dalam waktu sekitar 45 hari.

Menurutnya, sebagian besar fasilitas di sekolah tersebut merupakan hasil dukungan berbagai pihak. Karena itu, ia berharap keterlibatan masyarakat dalam mendukung kemajuan pendidikan di sekolah terus berlanjut.

Perwakilan Happy Hearts Indonesia, Tamrin, mengungkapkan bahwa SDN 2 Gunung Malang merupakan sekolah ke-12 yang dibangun organisasinya di Lombok Timur. Secara keseluruhan, pihaknya telah membangun 73 ruang kelas dan 48 toilet di sejumlah daerah.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sekolah tersebut juga menjadi bagian dari upaya pengelolaan sampah plastik. Hingga kini, program tersebut telah mendaur ulang sekitar 99 ton sampah plastik dan berkontribusi mengurangi emisi karbon hingga 14 ton.

“Bangunan ini dirancang ramah anak dan ramah lingkungan, dengan kualitas konstruksi yang kuat sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang,” jelasnya.

Manager Classroom of Hope (CoH), Rachel, menambahkan bahwa lembaganya merupakan mitra Happy Hearts Indonesia dalam program pembangunan sekolah berbasis blok yang memanfaatkan plastik daur ulang. Program ini mulai dijalankan pascagempa Lombok untuk membantu memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak.

Dana pembangunan berasal dari para donatur di Australia yang ingin mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Lombok Timur.

Dengan diresmikannya lima ruang kelas baru tersebut, diharapkan kegiatan belajar mengajar di SDN 2 Gunung Malang dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan bagi para siswa.

Senin, 09 Februari 2026

Sekretaris SMSI Lombok Timur Apresiasi Keberhasilan Hanapi Raih Gelar Doktor

Ketua SMSI Lombok Timur

Okenews.net-  Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Cabang Lombok Timur Dr. Karomi menyampaikan selamat dan apresiasi atas keberhasilan Ketua SMSI Lombok Timur Dr. Hanapi, S.Pd., M.Si yang telah menyelesaikan doktor di Undiksha Singaraja, Bali. 


Karomi menegaskan, capaian akademik tersebut merupakan buah dari konsistensi dan dedikasi panjang dalam dunia jurnalistik dan akdemisi, dan organisasi. Menurutnya, promosi doktor hari ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi membawa nama baik organisasi. 


“Kami dari segenap pengurus SMSI ucapkan selamat atas promosi doktor ini. Saya rasa, pencapaian tersebut tidaklah gampang, penuh perjuangan untuk sampai pada titik ini,” papar Dr. Karomi, Senin (9/2/2026) di Selong.


Menurutnya, Hanapi telah menekuni dunia jurnalistik sejak tahun 2004 dan dikenal sebagai jurnalis yang tumbuh dari proses panjang di lapangan. Sepanjang perjalanannya, ia pernah aktif di berbagai media cetak lokal hingga nasional, kemudian mengelola media sendiri. 


“Selain aktif sebagai jurnalis, beliau juga dikenal sebagai akademisi di Universitas Hamzanwadi. Gelar doktor yang diraih hari ini semakin memperkuat posisi beliau sebagai akademisi dan praktisi,” ujar Dosen Universitas Gunung Rinjani tersebut.


Karomi berharap, capaian akademik tersebut dapat menjadi energi baru bagi SMSI Lombok Timur untuk terus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem media yang sehat, kredibel, dan beretika, khusunya di Lombok Timur. 


Ia juga berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi jurnalis dan generasi muda agar terus mengembangkan kapasitas diri melalui pendidikan, tanpa meninggalkan integritas dan idealisme pers yang saat ini menghadapi tantangan dunia global.


“Keberhasilan ini membuktikan bahwa jurnalis juga bisa unggul di dunia akademik dan organisasi. Semoga capaian ini membawa manfaat yang lebih luas bagi dunia pers dan pembangunan daerah,” tutup Karomi.

Kamis, 05 Februari 2026

Gaji Guru Paruh Waktu Aman, Pemkab Lombok Timur Tinggal Tunggu Juknis Pusat

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi.

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan guru, baik paruh waktu maupun non paruh waktu. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran khusus untuk menjamin kepastian pembayaran gaji tenaga pendidik.


Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah guru paruh waktu di daerah tersebut mencapai 4.897 orang, sementara guru non paruh waktu tercatat sebanyak 917 orang. Besaran gaji yang diterima guru, kata dia, tidak bisa disamaratakan dengan daerah lain karena disesuaikan dengan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).


“Setiap daerah memiliki kemampuan fiskal yang berbeda. Karena itu, kesejahteraan guru paruh waktu juga menyesuaikan kondisi APBD masing-masing daerah,” ujar Lalu Bayan, Kamis (5/2/2026).


Untuk tahun anggaran berjalan, Pemkab Lombok Timur telah mengalokasikan dana sekitar Rp10 miliar. Dari total anggaran tersebut, Rp9 miliar diperuntukkan bagi pembayaran gaji guru paruh waktu, sementara Rp1 miliar dialokasikan bagi guru yang belum masuk dalam database guru paruh waktu.


“Anggaran itu sudah masuk dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kami. Jadi secara kesiapan anggaran, pemerintah daerah sudah siap,” tegasnya.


Meski demikian, realisasi pembayaran gaji masih menunggu regulasi dan petunjuk teknis dari pemerintah pusat. Menurut Lalu Bayan, langkah ini penting agar mekanisme penyaluran gaji tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku, termasuk kemungkinan pembayaran melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau skema lainnya.


“Kami masih menunggu juknisnya. Apakah melalui BOS atau mekanisme lain, yang jelas anggarannya sudah tersedia,” jelasnya.


Sementara itu, terkait guru yang masih berstatus non paruh waktu, pemerintah daerah terus berupaya agar seluruh guru dapat masuk dalam skema guru paruh waktu. Namun kebijakan tersebut masih memerlukan keputusan lebih lanjut dari pemerintah pusat.


Lalu Bayan pun mengimbau para guru non paruh waktu agar tetap menjalankan tugas secara profesional dan tidak berkecil hati. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah terus memikirkan solusi terbaik demi peningkatan kesejahteraan seluruh tenaga pendidik di Lombok Timur.


“Harapan kami, para guru tetap bekerja maksimal sesuai tupoksi. Pemerintah daerah tidak tinggal diam dan terus berupaya mencari jalan terbaik,” pungkasnya.

Rabu, 04 Februari 2026

Dugaan Perundungan di SD Pringgebaya Disorot Tajam, Kadisdikbud Lotim, Tak Ada Ruang untuk Kekerasan

Kepala Dinas Dikbud Lombok Timur

Okenews.net- Dugaan kasus perundungan yang melibatkan siswa sekolah dasar di Kecamatan Pringgebaya, Kabupaten Lombok Timur, menuai perhatian serius dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur. Isu sensitif yang menyangkut keselamatan dan kenyamanan peserta didik ini langsung mendapat sorotan Kepala Dinas Dikbud Lotim.


“Kasus Peerundungn adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan, Lebih – lebih di dunia pendidikan,”tegas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur M Nurul Wathoni pada media ini Rabu (04/02/2026).


Ia mengatakan, kasus perundungan ini merupakan kasus yang harus menjadi atensi serius pihak sekolah. Untuk itu, semua elemen mulai dari guru, pengawas, komite mali murid dan pihak – pihak lain bisa memiliki komitmen bersama agar kasus Peerundungn tidak terjadi.


Penegasan ini juga Lanjut Kepala Dinas, sudah disampaikan sebelum ada dugaan kasus terjadi. Dimana dikbud sendiri pada pertengahan januari yang lalu sudah ada edaran yang diberikan terkait dengan penegasan program termasuk meminta sekolah menjadikan sekolahnya yang nyaman dan aman.


“Termasuk didalamnya Bagaimana warga sekolah termasuk memaksimalkan tugas piket guru baik saat pagi maupun saat kegiatan ektrakurikuler agar lingkungan sekolah bisa tetap dalam pengawasan guru,”tegasnya.


“Ini salah satunya, untuk mencegah adanya Kasus Peerundungn, karena kasus seperti ini adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan,”tambahnya


Adapun terkait dengan kasus yang terjadi di Kecamatan Pringgebaya ini, berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, sebelum kejadian, pada hari rabu yang lalu, sekolah sedang ada kegiatan gotong royong membersihkan kelasnya, karena ada bau tikus yang mati bersama wali kelas.


Setelah selesai, wali kelas kemudian membikan es ke semua siswa. Sampai pulang sekolah tidak ada satupun laporan adanya pemukulan yang dilakukan oleh siswa. Kemudian pada hari sabtu, guru mendapatkan informasi kalau ada siswa yang sakit dengan mengaku ditendang oleh temanya.


Saat siswa dirawat di klinik, siswa yang sakit ini disebut sering menyebut temannya atas nama MK, saat itu juga gurunya berangkat jenguk dan bawa anak dan orang tua MK ke klinik dan MK mengaku tidak pernah memukul. Setelah itu guru ini kemudian ke dokter psikolog yang menanganinya dan Konsul dan sedang dilakukan screening.


Hasil screening awal bahwa kejadiannya setelah pulang atau di luar sekolah. namun ada juga saksi temen dikelasnya melihat bahwa korban ini naik bangku dan jatuh,


“.karena memang susah karena kelas 1, masih diskreening baik dari korban maupun MK, untuk kejadian sebenarnya belum kita tau, masih nunggu hasil screeningnya,”terangnya.

Selasa, 03 Februari 2026

Diduga Jadi Korban Bullying, Siswa SD di Peringgabaya Dirawat Intensif di RSUD Selong

Siswa korban Perundungan

Okenews.net- Dugaan kasus perundungan kembali mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Lombok Timur. Seorang siswa sekolah dasar berinisial HAZF kini harus menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. R. Soedjono Selong setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh teman sebayanya di salah satu SD Negeri di wilayah Kecamatan Peringgabaya.

Peristiwa tersebut terungkap setelah kondisi korban terus memburuk dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pihak keluarga yang awalnya mengira HAZF hanya mengalami cedera ringan akhirnya membawa korban ke dokter spesialis sebelum dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Ayah korban, Supriyadi, mengungkapkan bahwa insiden itu terjadi pada Rabu pekan lalu di lingkungan sekolah. Dari pengakuan korban, ia mengalami perlakuan fisik yang tidak wajar hingga menimbulkan rasa sakit berkepanjangan.

“Anak saya didorong lalu dinaiki oleh temannya. Awalnya kami kira biasa, tapi rasa sakitnya makin parah,” ujar Supriyadi saat ditemui di RSUD Selong, Selasa (03/02/2026).

HAZF mengeluhkan nyeri di beberapa bagian tubuh, terutama di sisi kiri mulai dari dada, tangan, hingga paha. Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma psikologis yang membuatnya cenderung diam dan ketakutan.

Saat ini, tim medis masih melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada cedera serius pada organ dalam akibat tekanan fisik yang dialami korban. Pihak keluarga pun menyatakan tidak akan tinggal diam dan meminta adanya pertanggungjawaban dari pihak terkait, termasuk pihak sekolah.

Sementara itu, aparat kepolisian melalui Bhabinkamtibmas setempat telah mulai melakukan penelusuran awal terhadap kasus tersebut.

“Kami sedang mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah, keluarga korban, serta saksi-saksi untuk mengetahui kronologi lengkap kejadian,” ujarnya.

Kasus ini menjadi sorotan serius sekaligus peringatan bagi seluruh pemangku kebijakan pendidikan di Lombok Timur. Lingkungan sekolah yang seharusnya aman bagi anak justru kembali diwarnai dugaan kekerasan, menandakan perlunya pengawasan dan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

Senin, 02 Februari 2026

Aroma Merah Shang Dyah di Laut Sunyi (Episode 03)

Ilustrasi: Para nelayan pulang ditunggui istri. Terlihat Shang Dyah dari jauh 
Aroma mistis itu mengalir tanpa rupa; bukan wangi, bukan pula bau; melainkan jejak sunyi yang hanya bisa dikenali oleh ingatan jiwa, hadir pelan seperti doa yang lupa diucapkan namun tiba-tiba terasa menggenang di dada.

Oleh: Am. Pupu 
Guru Muhir_Founder Repok Literasi
Perahu kecil itu meluncur pelan di atas laut pagi. Pe Dirata dan Loq Jinep berdiri berdampingan, tubuh mereka dibalut baju merah; pemberian Shang Diyah; yang kontras namun hangat di bawah cahaya matahari. Warna itu seperti doa yang ikut berlayar, menempel di dada mereka, menguatkan langkah sebelum hari benar-benar terbangun.

Cuaca begitu bersahabat. Angin hanya berbisik lembut, nyaris tak terasa. Lautan terhampar tenang seperti kolam renang, permukaannya memantulkan langit biru pucat tanpa riak berarti. Tak ada gelombang yang tergesa, tak ada awan yang mengancam. Semesta seolah sengaja melambat agar dua nelayan itu bisa bekerja dengan hati yang ringan.

Saat perahu mencapai titik yang mereka kenal baik, jangkar dilepas. Bunyi besinya tenggelam pelan, lalu sunyi kembali merajai. Di atas air yang nyaris diam, jaring ditebar dengan gerak yang terlatih; tidak terburu-buru, tidak ragu. Setiap simpul jaring seakan mengikuti irama napas mereka, jatuh rapi, menyatu dengan ketenangan laut.

Di antara diam dan kerja, ada rasa damai yang mengalir. Seperti keyakinan sederhana bahwa hari ini laut akan ramah, rezeki akan menemukan jalannya, dan baju merah itu; pemberian yang tulus menjadi saksi bisu betapa tenangnya hidup ketika manusia, alam, dan niat baik berjalan searah.

Tanpa mereka sadari, jauh di kedalaman yang tak tersentuh cahaya, Adipati Segara Dalem tengah memandang. Pandangannya yang menembus air dan waktu, tertumbuk pada dua nelayan berbaju merah di atas perahu kecil. Dari kejauhan itu, tercium aroma warna yang amat dikenalnya: aroma lama yang  hangat dan sacral; symbol milik Shang Dyah. Hatinya bergetar pelan; ingatan dan penghormatan berbaur dalam satu tarikan napas samudra.

Dengan isyarat sunyi, Adipati Segara Dalem memerintahkan para punggawanya. Perintah itu mengalir seperti arus yang patuh: ombak ditenangkan, arus bawah laut dihentikan. Laut pun tunduk, menahan geraknya, menjaga perahu kecil itu tetap dalam pelukan damai.

Tak berhenti di situ, ia berkoordinasi dengan para adipati penjaga binatang laut. Pesan disampaikan dari palung ke palung, dari karang ke karang: bahawa hari ini adalah hari penyambutan. Ikan-ikan pun bergerak dalam keteraturan yang tak terlihat, mengikuti irama yang hanya samudra pahami.

Di permukaan, Pe Dirata dan Loq Jinep tetap bekerja. Mereka berdua, tak mengetahui apa-apa. Ketika jaring ditarik, keajaiban terhampar tanpa gaduh: berbagai jenis ikan; berkilau perak, keemasan, dan gelap kebiruan, terperangkap dengan tenang. Tak ada perlawanan yang liar, hanya kepatuhan lembut seolah mereka datang untuk memenuhi takdir hari itu.

Perahu kecil itu pun sarat berkah. Laut tetap tenang seperti semula, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Hanya samudra yang tahu: hari itu, dua nelayan berbaju merah telah berjalan dalam pengawalan yang tak terlihat, disambut oleh seluruh isi laut, karena satu aroma warna yang dikenali dan dihormati sejak lama.

Saat jaring itu benar-benar terangkat dan isi perahu nyaris penuh, Pe Dirata dan Loq Jinep saling berpandangan. Mata mereka berbinar, senyum pecah tanpa aba-aba. Mereka tertawa kecil; tawa orang laut yang biasanya lebih akrab dengan pasrah daripada berlimpah. Terlintas di benak mereka hari-hari sebelumnya, saat pulang dengan jaring ringan, kadang nyaris kosong, kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Tak jarang mereka menyebut laut pelit, sambil tetap menunduk menerima nasib.

Kali ini berbeda. “Hari ini… sungguh tak seperti biasanya,” gumam salah satu, suaranya bergetar.

Mereka pun tak henti-hentinya memuji nama Tuhan. Di sela mengikat hasil tangkapan, di antara tarikan napas dan degup jantung, syukur mengalir spontan; bukan dalam kata yang tinggi, melainkan pujian sederhana yang lahir dari hati nelayan: tentang rezeki, tentang keselamatan, tentang laut yang hari ini begitu murah hati.

Perahu lalu diarahkan ke tepian, mesin dinyalakan pelan, membelah air yang masih tenang. Di sepanjang perjalanan pulang, rasa gembira itu tetap melekat. bukan sekadar karena ikan yang banyak, tetapi karena keyakinan bahwa hari ini mereka benar-benar diperhatikan.

Di dekat pantai, mereka bertemu nelayan lain. Perahu-perahu kecil bersisian, wajah-wajah letih dengan jaring yang tak seberat milik mereka. Ada yang hanya tersenyum tipis, ada yang menghela napas panjang. Saling sapa pun terjadi; sapaan khas orang laut, singkat namun hangat. Tak ada kesombongan, hanya cerita singkat dan tawa ringan.

Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan rendah hati, tetap menyebut nama Tuhan dalam setiap penjelasan. Mereka tahu, laut tak selalu memberi sama rata. Hari ini mereka beruntung; esok bisa saja giliran yang lain.

Dan perahu itu pun terus melaju ke darat, membawa hasil tangkapan, membawa cerita, dan membawa syukur yang tak habis-habis; yakni sebuah kegembiraan sederhana yang akan mereka kenang lama, sebagai hari ketika laut, langit, dan doa bertemu dalam satu perjalanan pulang.

Di pesisir pantai, suasana mulai riuh oleh penantian. Anak-anak berlarian di pasir basah, para orang tua berdiri berderet memandang laut, dan suara ombak kecil bersahutan dengan panggilan nama yang dilemparkan ke cakrawala. Mata-mata menajam ke arah biru, mencari siluet perahu yang dikenali dari jauh. Angin membawa aroma garam dan harap yang tertahan.

Di antara keramaian itu, istri-istri mereka menunggu. Tubuh tegak, tangan saling menggenggam, wajah menyimpan harap yang bercampur cemas. Tak banyak kata terucap. Seribu harap tercurah tanpa suara; tentang keselamatan, tentang rezeki, tentang pulang.

Hanya mata yang berbicara, menengadah ke langit seolah menitipkan pesan yang tak perlu diucapkan.

Dalam diam itu, ingatan berlabuh pada Sang Maha Rahman lan Maha Rahim. Nama-Nya tak selalu dilafalkan, namun hadir penuh di dada. Setiap hembusan napas adalah doa, setiap kedipan mata adalah pengakuan: bahwa laut luas ini ada dalam genggaman-Nya, dan pulang adalah anugerah.

Ketika akhirnya perahu tampak yang mula-mula hanya titik, lalu bentuk; riuh pesisir menghangat. Senyum merekah, langkah dipercepat, dan hati yang semula menahan kini melonggar. Di tepi pantai itu, antara pasir dan air, harap menemukan jawabnya. Bukan lewat kata-kata besar, melainkan lewat tatapan yang bertemu, pelukan yang segera menyusul, dan syukur yang mengalir pelan, yak ubahnya seperti ombak kecil yang setia kembali ke pantai.

Begitu perahu merapat, istri Pe Dirata dan istri Loq Jinep segera bergegas menyambut. Langkah mereka cepat namun tertahan, seperti biasa, antara ingin segera tiba dan takut berharap terlalu tinggi. Di tangan kiri masing-masing tergenggam wadah kecil, wadah yang selama ini akrab dengan kesunyian. Wadah itu tak pernah penuh oleh tangkapan suami mereka; paling sering hanya berisi sedikit ikan yang sekadar cukup untuk membayar hutang solar, itu pun sering kali tak mampu mereka lunasi. Wadah kecil itu menjadi saksi hari-hari panjang menunggu, menawar, dan menahan malu.

Mereka mendekati perahu dengan mata yang menunduk, kebiasaan yang lahir dari seringnya pulang tanpa kabar baik. Namun langkah itu mendadak terhenti. Pandangan mereka terangkat, dan seketika napas tertahan.

Terkejut;
Bukan oleh satu atau dua ekor, melainkan hasil tangkapan yang begitu banyak. Ikan berkilau menumpuk rapi, memenuhi perahu hingga ke bibirnya. Mata mereka membesar, tangan yang memegang wadah kecil mengencang. Sejenak mereka tak berkata apa-apa, seolah takut pemandangan itu menguap jika disapa kata.

Wadah kecil itu kini tampak terlalu kecil untuk kenyataan di hadapan mereka.

Di wajah mereka, harap yang lama terlipat kini terbuka perlahan, bercampur takzim dan syukur yang mengalir tanpa suara. Mata kembali menengadah, kali ini bukan untuk meminta, melainkan untuk mengakui anugerah; bahwa hari ini, laut telah menjawab doa yang selama ini hanya berani disimpan di dada.

Melihat perahu sarat hasil tangkapan itu, masyarakat pesisir segera bergerak. Tanpa komando, tanpa hitungan, tangan-tangan terulur dan kaki-kaki menjejak pasir basah. Gotong royong mengalir begitu saja; seperti kebiasaan lama yang tak perlu diajarkan.

Beberapa orang mendorong dari buritan, yang lain menarik dari haluan, sebagian lagi sigap mengganjal dengan kayu agar perahu tak kembali terseret air. Suara aba-aba bercampur tawa dan seruan pendek, menyatu dengan desah napas dan decit kayu yang bergesekan dengan pasir. Pasir pantai ikut bergerak, berderak pelan, menyambut kerja bersama itu.

Anak-anak menepi sambil bersorak kecil, para perempuan berdiri dekat hasil tangkapan, mata mereka masih tak percaya. Perahu didorong perlahan, lalu mantap, hingga akhirnya naik ke atas, aman dari jangkauan ombak. Ketika kayu lunas berhenti bergerak, kelegaan pun menyebar—seperti napas panjang yang dilepas bersama.

Di tepi pantai itu, kebersamaan terasa nyata. Bukan hanya karena ikan yang banyak, tetapi karena hari itu rezeki dirayakan bersama. Tak ada yang berdiri sendiri; semua bahu bersentuhan, semua tangan berperan. Dan laut pun, dari kejauhan, tetap tenang; seolah ikut menyaksikan bagaimana syukur menjelma gotong royong, menguatkan satu sama lain di pasir yang sama.

Begitu perahu benar-benar aman di atas pasir, Pe Dirata menepuk lambung sampan sambil tertawa lega. Ia menoleh ke kerumunan yang masih riuh.

Eh, jangan ada yang pulang dulu!” serunya lantang.
“Ambil-ambil dulu ikannya… menciroq!”
Loq Jinep ikut menyahut, suaranya kalah oleh gelak tawa,
“Iya, iya… sesuai adat pantai kita. Tadi sudah bantu dorong, masa pulang tangan kosong?”
“Ah, Pe Dirata, ini banyak sekali! Kami malu ambilnya,” sahut seorang nelayan lain sambil tersenyum.
“Malu apa?” jawab Pe Dirata cepat.
Kalau tidak diambil, justru kami yang malu. Tradisi itu janji, bukan sekadar ikan.”
“Ambil secukupnya,” tambah Loq Jinep sambil menunjuk keranjang.
“Buat lauk rumah, buat anak-anak. Jangan pilih-pilih, semua rezeki sama.”

Suasana pun makin ramai.
“Aku ambil dua ekor saja ya!”
“Ambil tiga, biar sekalian!”
“Eh, ini yang besar boleh?”
“Boleh! Asal jangan bawa perahunya sekalian!”
Tawa pecah.

Tangan-tangan bergerak, ikan berpindah dari perahu ke wadah-wadah kecil, ke ember, ke kain yang dilipat. Anak-anak bersorak saat melihat sisik berkilau, para ibu saling bercanda sambil menghitung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tradisi menciroq hidup kembali—bukan sebagai kewajiban kaku, melainkan sebagai ikatan rasa. Ikan bukan sekadar imbalan, melainkan tanda terima kasih, pengakuan atas tenaga, dan cara berbagi bahagia.

Pe Dirata dan Loq Jinep saling pandang, senyum mereka tenang. Hari itu, rezeki tak berhenti di perahu. Ia mengalir ke banyak tangan, menjelma suara riuh, tawa, dan rasa cukup di pesisir pantai.

Sore mulai turun ketika Pe Dirata dan Loq Jinep melangkah pulang. Di kiri kanan mereka, istri-istri setia mendampingi, wajah yang sejak pagi menyimpan cemas kini berubah terang oleh senyum yang tak putus. Dua orang anak berjalan di depan, kadang berlari kecil, kadang menoleh ke belakang memastikan ayah mereka benar-benar ada di sana.

Langkah-langkah itu ringan, seolah beban hari-hari sebelumnya tertinggal di pasir pantai. Ember kecil berisi ikan bergoyang pelan, berkilau setiap kali terkena cahaya senja. Anak-anak tertawa riang, saling menunjuk ikan sambil bertanya dengan mata berbinar—pertanyaan yang biasanya hanya berujung diam, kini dijawab dengan canda dan janji.

Di sepanjang jalan, sapaan bersahut-sahutan.
“Pulang awal hari ini!”
“Rezekinya laut hari ini ramah!”
Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan anggukan dan senyum, menyelipkan pujian pada Tuhan di sela percakapan, sederhana dan jujur.

Sesampainya di rumah, halaman kecil terasa lebih luas dari biasanya. Kegembiraan mengisi ruang—bukan karena kemewahan, melainkan karena cukup. Anak-anak duduk dekat pintu, istri menata ikan dengan hati-hati, dan kedua nelayan itu menarik napas panjang, saling bertukar pandang penuh makna.

Hari itu mereka pulang bersama, bukan hanya membawa hasil laut, tetapi membawa harapan yang hidup, tawa yang menghangatkan, dan keyakinan baru bahwa esok—apa pun yang datang—akan mereka hadapi sebagai keluarga, dengan hati yang lebih tenang.

Mereka tak sepenuhnya memahami bagaimana hari itu berubah menjadi begitu murah hati. Tak ada tanda yang berbeda, tak ada jaring baru, tak ada hitungan yang diubah. Yang ada hanya laut yang tenang dan doa yang biasa—namun hasilnya jauh dari kebiasaan. Mereka pun memilih diam, menyimpan keheranan itu dalam rasa syukur yang sederhana.

Di sisi lain, istri-istri mereka mulai sibuk membersihkan ikan. Sisik berkilau diterpa cahaya sore, pisau bergerak cepat, ember demi ember terisi. Namun jumlahnya terlalu banyak untuk dua pasang tangan. Tawa kecil bercampur helaan napas terdengar—kewalahan, namun bahagia.

Akhirnya, salah satu dari mereka memanggil seorang wanita paruh baya yang tinggal tak jauh dari pesisir. Perempuan itu datang dengan langkah tenang dan senyum paham, seolah mengerti bahwa hari ini bukan hari biasa. Mereka bekerja bersama, tanpa banyak tanya, membiarkan tangan yang berbagi menyelesaikan apa yang tak sanggup dikerjakan sendiri.

Dan sore itu pun menutup kisahnya dengan lembut. Di tepi pantai, di antara ikan yang bersih dan hati yang lapang, semua kembali pada satu pengakuan sunyi: ada hal-hal yang tak perlu dipahami sepenuhnya—cukup diterima dengan syukur. Bersambung pekan depan (episode 04).

Minggu, 01 Februari 2026

IAIH Pancor Dampingi Guru PAUD Perkuat Pemahaman Gizi dan PMT Anak Usia Dini

IAIH Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan guru PAUD yang difokuskan pada penguatan kompetensi gizi dan praktik penyajian Pemberian Makan Tambahan (PMT).


Kegiatan bertajuk “Pendampingan Guru PIAUD: Meningkatkan Kompetensi Konseptual dan Praktik Penyajian Makan Tambahan (PMT) untuk Anak Usia Dini” tersebut digelar di Aula IAIH Pancor dan diikuti oleh guru dari berbagai satuan PAUD, TK, RA, dan SPS yang tersebar di Pulau Lombok hingga Sumbawa.


Sejumlah lembaga pendidikan turut terlibat dalam kegiatan ini, di antaranya TK Bumi Gora Lombok Timur, TK Negeri 2 Masbagik, PAUD IT Qurrota A’yun Mataram, TK Mulajati Lombok Utara, RA Batu Rakit Bayan, TK Insan Qur’ani Sembalun, hingga TK Doremi Kecamatan Buer, Sumbawa Besar.


Kaprodi PIAUD IAIH Pancor, Baiq Halimatuzzuhrotulaini, M.Pd., mengatakan bahwa pendampingan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman guru PAUD terhadap pentingnya pemenuhan gizi sebagai bagian dari layanan pendidikan anak usia dini.


Menurutnya, PMT tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelengkap kegiatan belajar, melainkan memiliki peran strategis dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.


“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan guru PAUD memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun serta menyajikan makanan tambahan yang sehat, aman, dan bergizi,” ujarnya, Jumat (31/1/2026).


Ia menambahkan, guru PAUD merupakan pihak yang paling dekat dengan anak di lingkungan pendidikan, sehingga memiliki peran penting dalam memastikan kualitas asupan makanan tambahan yang diberikan.

Program pendampingan ini menargetkan peningkatan kapasitas guru dalam memahami gizi anak usia dini, merancang menu PMT yang sehat, serta mengelola program PMT secara terencana dan berkelanjutan di satuan PAUD.


Dalam pelaksanaannya, kegiatan dikemas dengan metode terpadu yang mengombinasikan pemaparan materi, diskusi interaktif, simulasi, hingga praktik langsung penyusunan dan penyajian PMT. Pendekatan ini dilakukan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung di lembaga masing-masing.

Ke depan, Prodi PIAUD IAIH Pancor menargetkan kegiatan serupa menjadi agenda rutin pengabdian kepada masyarakat.


“Kami berharap pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi ruang kolaborasi antara kampus dan lembaga PAUD dalam meningkatkan kualitas guru serta layanan pendidikan anak usia dini, khususnya di wilayah NTB,” pungkasnya.


Kamis, 29 Januari 2026

Revitalisasi Puluhan Sekolah di Lotim Diresmikan, Bupati Tegaskan Pendidikan Tak Bisa Jalan Sendiri

Peresmian Revitalisasi Sekolah Oleh Bupati Lombok Timur

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pendidikan melalui peresmian program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Peresmian tersebut berlangsung di SDN 1 Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kamis (29/01/2026),

Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin menekankan bahwa keterbatasan anggaran pemerintah, baik dari APBD maupun APBN, menuntut adanya kolaborasi lintas sektor. Ia menilai keterlibatan pihak ketiga, seperti lembaga sosial dan swasta, menjadi faktor penting dalam percepatan pembangunan sarana pendidikan.

Menurutnya, pembangunan dunia pendidikan tidak mungkin hanya bergantung pada anggaran negara. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta pihak swasta harus terus diperkuat agar kualitas pendidikan dapat meningkat secara merata.

Bupati juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dari aspek moral, akhlak, dan ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan pendidikan, Pemkab Lombok Timur juga tengah menyiapkan pengembangan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Lenek Duren, program tersebut direncanakan akan dilanjutkan di Kecamatan Jerowaru. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep Sekolah Unggul Garuda sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan.

Tak hanya sektor pendidikan, Bupati turut menyinggung peningkatan kualitas layanan publik lainnya. Ia mengingatkan kepala sekolah, tenaga pendidik, serta tenaga kesehatan untuk bekerja sesuai tugas dan fungsi. Bupati menegaskan agar tidak ada lagi keluhan pelayanan kesehatan yang lambat, termasuk yang berkaitan dengan administrasi BPJS.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, mengungkapkan bahwa lahan pembangunan sekolah di Lenek Duren merupakan hasil hibah dari kepala sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik harus sejalan dengan peningkatan prestasi siswa.

Ia juga memberikan penekanan kepada kepala sekolah agar mampu menjadi motor penggerak kemajuan pendidikan. Menurutnya, sarana yang telah memadai harus dibarengi dengan kepemimpinan sekolah yang kuat dan inovatif. Jika fasilitas lengkap namun prestasi tidak meningkat, evaluasi akan menjadi langkah yang tidak terhindarkan.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Dikbud turut mengapresiasi pola pengerjaan bantuan dari Kementerian Pendidikan yang dilakukan secara swakelola. Skema ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena melibatkan tenaga lokal dalam proses pembangunan.

Ketua Panitia, Nur Hidayati, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan para donatur, khususnya melalui program Classroom Hope. Ia menyebut revitalisasi sekolah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga investasi bagi kenyamanan dan kesehatan mental guru serta peserta didik.

Program revitalisasi pendidikan tahun ini menyasar sebanyak 36 Sekolah Dasar (SD) dan 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di tujuh kecamatan, dengan Kecamatan Lenek menjadi salah satu wilayah prioritas.

Acara peresmian ditutup dengan prosesi pengguntingan pita oleh Bupati Lombok Timur bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai tanda resmi digunakannya gedung sekolah yang telah direvitalisasi.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi