Tekan Inflasi dan Perkuat Ketahanan Pangan, Lotim Jalin Kerja Sama Antar-Daerah
Okenews.net — Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memperkuat sinergi lintas daerah untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satu langkah yang ditempuh yakni menjalin Kerja Sama Antar-Daerah (KAD) bersama Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Sumbawa Barat.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan KAD dalam Rapat Koordinasi dan Seremoni Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) NTB, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Lombok Tengah itu dihadiri Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya yang mewakili Bupati. Mengusung tema “SIGAP PANGAN: Sinergi Penguatan dan Akselerasi Produksi-Hilirisasi Pangan NTB”, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat koordinasi antardaerah dalam menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan.
Dalam arahan Gubernur NTB H. Lalu Muhammad Iqbal yang disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTB, H. Lalu Moh. Faozal, ditegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis bagi perekonomian daerah. Terlebih, NTB kini menjadi salah satu penyangga pangan nasional yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan langkah konkret dalam mengantisipasi tekanan inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan NTB pada September 2026 mencapai 4,18 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28 persen.
Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk lebih sigap mengantisipasi kenaikan harga sejumlah komoditas strategis, seperti cabai rawit, daging ayam, telur, dan bawang merah.
Pemerintah Provinsi NTB pun mendorong seluruh anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar melakukan pemetaan wilayah surplus dan defisit komoditas sejak dini. Pemantauan harga secara berkala serta penguatan koordinasi dengan Bulog dan pelaku usaha juga menjadi bagian penting untuk menjaga kelancaran pasokan.
Dalam arahannya, Gubernur NTB mengingatkan bahwa keberhasilan pengendalian inflasi tidak cukup diukur dari penghargaan yang diraih, tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat melalui harga kebutuhan pokok yang terjangkau.
Untuk itu, Pemprov NTB menetapkan empat agenda prioritas, yakni memperkuat produksi dan potensi pangan lokal, mengembangkan pertanian yang adaptif terhadap perubahan cuaca, mempercepat kerja sama antardaerah dan hilirisasi pangan, serta mengintegrasikan tata kelola pengendalian inflasi di seluruh kabupaten/kota.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB, Hario Kartiko Pamungkas, menyampaikan bahwa GPIPS merupakan langkah konkret di tingkat daerah untuk mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Menurutnya, pengendalian inflasi pangan perlu dilakukan melalui empat pilar utama, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif atau dikenal dengan prinsip 4K.
Ia menegaskan, angka inflasi NTB sebesar 4,18 persen harus menjadi perhatian bersama agar koordinasi dan sinergi lintas sektor semakin diperkuat. Penanganan inflasi, lanjutnya, tidak cukup hanya melalui intervensi harga dalam jangka pendek, tetapi juga membutuhkan peningkatan produktivitas dari sektor hulu serta percepatan hilirisasi pangan secara berkelanjutan.
Penandatanganan kerja sama antara Lombok Timur, Lombok Barat, dan Sumbawa Barat diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat distribusi komoditas pangan, menjaga keseimbangan pasokan antarwilayah, serta menekan tekanan inflasi di NTB.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah daerah diharapkan mampu membangun sistem pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan sehingga stabilitas harga tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
.png)




