Membaca capaian ekonomi daerah melalui data, teori pertumbuhan inklusif, transformasi struktural, dan ketahanan ekonomi wilayah.
Dr. Muhamad Ali, SE., M.Si _ Universitas Hamzanwadi
1. Membaca Angka Tanpa Terjebak Polarisasi
2. Dinamika Pertumbuhan, Kemiskinan, Pengangguran, dan Inflasi
Gambar 1 memperlihatkan bahwa pertumbuhan
ekonomi NTB sepanjang 2025 tidak bergerak secara linear. Dua triwulan awal
berada pada fase kontraksi, kemudian mulai pulih pada Triwulan III, dan
melonjak tajam pada Triwulan IV. Pola ini penting karena angka pertumbuhan
tinggi pada akhir 2025 dan awal 2026 perlu dibaca sebagai bagian dari proses
pemulihan setelah basis pertumbuhan sebelumnya melemah.3. Dari Pertumbuhan Menuju Kualitas Pembangunan
4. Ada Perbaikan, Tetapi Kualitasnya Perlu Dijaga
Demikian pula dengan pengangguran terbuka.
TPT NTB turun dari 3,30 persen pada Februari 2024 menjadi 3,22 persen pada
Februari 2025. Secara statistik, ini menunjukkan perbaikan. Namun dalam
perspektif pertumbuhan inklusif, TPT belum cukup untuk membaca kualitas pasar
kerja. Perlu dilihat pula berapa banyak pekerja yang masuk sektor informal,
bekerja paruh waktu, setengah menganggur, atau bekerja dengan produktivitas
rendah. Dengan kata lain, pasar kerja tidak cukup dinilai dari jumlah orang
yang bekerja, tetapi juga dari kualitas pekerjaan yang tersedia.
Inflasi juga perlu ditempatkan sebagai
indikator penting. Ketika ekonomi tumbuh tinggi tetapi inflasi meningkat, daya
beli masyarakat dapat tertekan. Inflasi y-on-y NTB sebesar 4,09 persen pada
Maret 2026 menandakan bahwa stabilitas harga tetap menjadi agenda penting.
Dalam perspektif kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi akan lebih bermakna jika
kenaikan pendapatan masyarakat tidak terkikis oleh kenaikan harga kebutuhan
pokok.5. Prestasi Makro, Ujian Struktur,
dan Agenda Pemerataan
Secara akademik, capaian pertumbuhan 13,64
persen dapat dibaca sebagai sinyal pemulihan dan akselerasi ekonomi daerah.
Pertumbuhan tinggi menunjukkan bahwa kebijakan, investasi, aktivitas industri,
dan perdagangan eksternal mulai memberikan dorongan yang kuat terhadap PDRB.
Dalam konteks ini, pemerintah daerah memiliki dasar yang kuat untuk menyebut
adanya kemajuan ekonomi makro.
Akan tetapi, ukuran keberhasilan pembangunan
tidak berhenti pada pertumbuhan PDRB. Jika pertumbuhan terutama digerakkan oleh
sektor padat modal dan berbasis ekspor, maka dampaknya terhadap rumah tangga
dapat berbeda dengan pertumbuhan yang digerakkan oleh pertanian rakyat, UMKM,
pariwisata berbasis masyarakat, atau industri kecil-menengah. Karena itu,
istilah rapuh tidak perlu dimaknai sebagai penolakan terhadap capaian
pemerintah, tetapi sebagai peringatan akademik agar struktur pertumbuhan tidak
terlalu bergantung pada sektor tertentu.
Kerentanan struktural dapat muncul karena tiga hal. Pertama, ketergantungan pada sektor komoditas dan ekspor membuat pertumbuhan sangat sensitif terhadap harga internasional, izin ekspor, produksi tambang, dan kinerja smelter. Kedua, sektor padat modal belum tentu menyerap tenaga kerja sebanyak sektor padat karya. Ketiga, jika keterkaitan antara industri besar dan ekonomi lokal masih lemah, maka pertumbuhan dapat besar secara statistik tetapi tidak cukup luas dirasakan oleh masyarakat.
Namun demikian, pembacaan ini tidak boleh berubah menjadi narasi pesimistis. Data kemiskinan dan pengangguran menunjukkan adanya perbaikan, walaupun masih membutuhkan penguatan. Karena itu, posisi yang lebih proporsional adalah menyebut NTB sedang memiliki momentum pertumbuhan yang kuat, tetapi momentum itu perlu diarahkan agar menjadi pertumbuhan berkualitas. Fokusnya bukan menggugat capaian, melainkan mengawal transformasi.
Catatan pembelajaran statistik: Pertumbuhan y-on-y membandingkan kondisi suatu triwulan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan q-to-q membandingkan suatu triwulan dengan triwulan sebelumnya. Sementara c-to-c membaca pertumbuhan kumulatif tahun berjalan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Perbedaan indikator ini penting agar publik tidak membaca angka ekonomi secara tunggal dan tergesa-gesa.
6. Mengubah Pertumbuhan Tinggi
Menjadi Kesejahteraan Luas
Pertama,
memperkuat keterkaitan industri besar dengan ekonomi lokal. Smelter, pertambangan, dan industri pengolahan perlu didorong agar
memiliki rantai pasok lokal. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi peta
kebutuhan industri dan menghubungkannya dengan UMKM, koperasi, jasa logistik
lokal, lembaga pelatihan, serta perguruan tinggi.
Kedua,
menyiapkan tenaga kerja lokal yang sesuai dengan kebutuhan transformasi
industri. Pertumbuhan berbasis hilirisasi
membutuhkan tenaga kerja terampil. Karena itu, pendidikan vokasi, kurikulum
kampus, pelatihan teknis, sertifikasi kompetensi, dan kemitraan dunia usaha
perlu diarahkan secara lebih terukur.
Ketiga,
menjaga agar pertumbuhan nontambang tetap bergerak. Pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan, UMKM, dan
ekonomi desa tidak boleh menjadi sektor pinggiran. Justru sektor-sektor ini
penting untuk memperluas distribusi manfaat pertumbuhan dan menjaga ekonomi
daerah ketika sektor tambang mengalami siklus penurunan.
Keempat,
mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli. Pertumbuhan
tinggi akan kehilangan makna sosial apabila harga kebutuhan pokok meningkat
lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat. Stabilisasi pangan, distribusi
logistik, dan penguatan produksi lokal perlu menjadi bagian dari strategi
pertumbuhan inklusif.
Kelima,
membangun dashboard kualitas pertumbuhan. Pemerintah
daerah dapat mengembangkan indikator yang tidak hanya memantau PDRB, tetapi
juga kualitas pekerjaan, kemiskinan ekstrem, inflasi pangan, rasio pekerja
formal-informal, kontribusi UMKM, dan pemerataan antarwilayah. Dengan data
seperti ini, perdebatan publik dapat bergerak dari opini politik menuju diskusi
kebijakan berbasis bukti.
7. Apresiasi Capaian, Kawal
Transformasi
Pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 13,64 persen
adalah kabar baik. Angka tersebut menunjukkan adanya akselerasi ekonomi dan
memberi ruang optimisme bagi pembangunan daerah. Namun, angka tinggi juga
membawa tanggung jawab kebijakan yang besar. Pemerintah perlu memastikan bahwa
pertumbuhan tidak hanya tampak dalam statistik, tetapi juga semakin terasa
dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, narasi yang paling sehat bukanlah
memuji secara berlebihan atau mengkritik secara apriori. Narasi yang lebih
mendidik adalah membaca pertumbuhan sebagai momentum transformasi. Pemerintah
diapresiasi atas capaian makro, sementara akademisi, media, dan masyarakat
sipil membantu mengawal agar capaian tersebut menjadi lebih inklusif,
berkelanjutan, dan tahan terhadap guncangan.
Dengan demikian, pertumbuhan 13,64 persen
bukan titik akhir perdebatan, melainkan titik awal pembelajaran publik:
bagaimana NTB membangun ekonomi yang tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga
tumbuh kuat, merata, dan bermakna bagi masyarakat luas.
Daftar Sumber Data dan Rujukan
BPS Provinsi NTB. Pertumbuhan Ekonomi
Provinsi Nusa Tenggara Barat Triwulan I-2025. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2025/05/05/1051/pertumbuhan-ekonomi-provinsi-nusa-tenggara-barat-triwulan-i-2025.html
BPS Provinsi NTB. Pertumbuhan Ekonomi
Provinsi Nusa Tenggara Barat Triwulan II-2025. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2025/08/05/1070/pertumbuhan-ekonomi-provinsi-nusa-tenggara-barat-triwulan-ii-2025.html
BPS Provinsi NTB. Perekonomian Nusa Tenggara
Barat Triwulan III-2025. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2025/11/05/1089/perekonomian-nusa-tenggara-barat-berdasarkan-besaran-produk-domestik-regional-bruto--pdrb--atas-dasar-harga-berlaku-triwulan-iii-2025-mencapai-rp-49-49-triliun-dan-atas-dasar-harga-konstan-2010-mencapai-rp-28-92-triliun-.html
BPS Provinsi NTB. Pertumbuhan Ekonomi
Provinsi Nusa Tenggara Barat Triwulan IV-2025. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/1118/pertumbuhan-ekonomi-provinsi-nusa-tenggara-barat-triwulan-iv-2025.html
BPS Provinsi NTB. Profil Kemiskinan di
Provinsi Nusa Tenggara Barat September 2024. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2025/01/15/1028/profil-kemiskinan-di-provinsi-nusa-tenggara-barat-september-2024.html
BPS Provinsi NTB. Profil Kemiskinan di Nusa
Tenggara Barat September 2025. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/1109/poverty-profile-in-nusa-tenggara-barat-september-2025.html
BPS Provinsi NTB. NTB, Februari 2024: Keadaan
Ketenagakerjaan. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2024/05/06/1010/ntb--februari-2024--keadaan-ketenagakerjaan.html
BPS Provinsi NTB. Keadaan Ketenagakerjaan
Provinsi Nusa Tenggara Barat Februari 2025. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2025/05/05/1052/keadaan-ketenagakerjaan-provinsi-nusa-tenggara-barat-februari-2025-.html
BPS Provinsi NTB. Inflasi y-on-y Provinsi
Nusa Tenggara Barat Maret 2026. https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2026/04/01/1126/development-of-nusa-tenggara-barat-province-consumer-price-index-march-2026.html
Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Provinsi
Nusa Tenggara Barat Februari 2026. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/lpp/Pages/Laporan-Perekonomian-Provinsi-Nusa-Tenggara-Barat-Februari-2026.aspx
Artikel pemantik diskusi: Ahsanul Khalik,
Tribun Lombok, Tumbuh 13,64 Persen Tapi Dibilang Rapuh: Salah Baca atau Salah
Narasi? https://lombok.tribunnews.com/wiki/105033/tumbuh-1364-persen-tapi-dibilang-rapuh-salah-baca-atau-salah-narasi
.png)

