www.okenews.net: hiburan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2026

Festival Muharram Lotim Capai Puncak 21 Juni, GIGI hingga Bams Siap Hibur Masyarakat

Okenews.net Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memastikan puncak perayaan Festival Muharram 1448 Hijriah akan digelar pada Ahad, 21 Juni 2026 mendatang. Sejumlah musisi dan band nasional dijadwalkan tampil untuk memeriahkan perayaan tahun baru Islam tersebut.

Ketua Panitia Pelaksana Festival Muharram 1448 H, H. Muhammad Juaini Taofik, mengatakan rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak pekan lalu akan ditutup dengan konser hiburan yang menghadirkan sederet musisi ternama tanah air.

"Konser puncak acara akan diisi oleh band-band nasional sebagaimana yang telah diumumkan melalui pamflet resmi," ujar Juaini Taofik saat ditemui awak media, Kamis (18/6) malam.

Menurutnya, sejumlah nama besar yang akan tampil antara lain grup band GIGI, Bams eks vokalis Samsons, serta John Paul Ivan yang dikenal sebagai mantan gitaris Boomerang. Selain menghadirkan musisi nasional, panitia juga memberi ruang bagi talenta lokal, termasuk Bapackguru yang belakangan dikenal luas melalui lagu-lagunya yang viral di media sosial.

Untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung, lokasi konser dipindahkan ke Lapangan GOR Lalu Muslihin Selong. Langkah tersebut diambil berdasarkan evaluasi pelaksanaan konser tahun sebelumnya yang dipadati masyarakat.

"Lapangan GOR memiliki kapasitas lebih luas dibandingkan Lapangan Nasional sehingga diharapkan mampu menampung antusiasme masyarakat dengan lebih baik," jelasnya.

Dari sisi keamanan, panitia bersama aparat gabungan dari Polres Lombok Timur, TNI, dan Satpol PP akan melakukan pengamanan ketat di seluruh area kegiatan. Setiap pintu masuk juga akan dilengkapi alat pemindai logam untuk mencegah masuknya barang-barang berbahaya.

Sekda Lombok Timur itu mengimbau masyarakat yang hadir untuk menjaga ketertiban dan menjadikan momentum tersebut sebagai ajang mempererat kebersamaan dalam menyambut Tahun Baru Islam.

Ia juga mengingatkan pengunjung agar tidak membawa senjata tajam maupun benda berbahaya lainnya karena akan diperiksa oleh petugas keamanan di lokasi acara.

Sementara itu, guna mengurangi kemacetan dan penumpukan kendaraan, panitia telah menyiapkan sejumlah kantong parkir di berbagai titik, di antaranya area SKB, MI NW Selong, SMA Negeri 3 Selong, Gedung Juang, Masjid Agung Al-Mujahidin, Lapangan Tugu Selong, Lapangan Nasional, Masjid Mbungpapak, kawasan Pasar Soma, hingga MAN 1 Selong.

Pemerintah daerah berharap seluruh rangkaian Festival Muharram 1448 H dapat berlangsung aman, tertib, dan menjadi momentum memperkuat syiar Islam serta kebersamaan masyarakat Lombok Timur.

Rabu, 29 Oktober 2025

Gak Perlu Diet, Makan Saja” Tafsir atas Kesederhanaan dan Makna Hidup

Agus K Saputra

Ada momen ketika keheningan berbicara lebih nyaring daripada kata-kata. Itulah yang saya rasakan ketika seorang kawan lama, Didu—aktivis semasa kuliah—menulis sebuah catatan sederhana di selembar kertas:

Gak perlu diet, makan saja.

Kalimat itu disertai sebait puisi pendek, yang sekilas tampak jenaka, ringan, bahkan absurd. Tapi semakin saya renungkan, semakin dalam maknanya menggali. Ada semacam ironi lembut di dalamnya, sekaligus kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup yang panjang. 

Didu bukan sekadar bercanda. Ia sedang mengingatkan sesuatu tentang kehidupan, tentang keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, tentang menerima diri sendiri di tengah dunia yang penuh tekanan dan pencitraan.

Kita hidup di zaman yang penuh tuntutan. Dunia hari ini terlalu sering menyuruh orang untuk “diet”—bukan hanya diet makanan, tapi juga diet dari banyak hal: diet emosi, diet ekspresi, diet kebebasan berpikir. 

Kita diminta menyesuaikan diri dengan standar sosial yang sempit: harus kurus, harus produktif, harus tampak bahagia, harus tampak sukses.

Di tengah situasi itulah pesan Didu terasa seperti angin segar: “Gak perlu diet, makan saja.” Kalimat ini seolah menolak segala bentuk tekanan yang datang dari luar diri. 

Ia mengajak kita untuk hidup dengan apa adanya, tanpa takut dianggap berlebihan. Seperti dalam puisi yang ia tulis:

dengan senyum simpul

kau menghadap angin

memberi makna tentang hidup

Ada gestur sederhana namun kuat di sana: menghadapi angin. Angin bisa diartikan sebagai kehidupan itu sendiri, dengan segala arah dan tekanannya. Tapi “kau” di dalam puisi itu tidak melawan, tidak juga menyerah. Ia hanya menghadap—sebuah sikap pasrah yang aktif, menerima sekaligus sadar. Dan dalam senyum simpul itu, hidup menemukan maknanya yang paling tenang.

Kesederhanaan Lahir Kedalaman

Puisi Didu mungkin tampak seperti permainan kata sederhana. Tapi jika kita perhatikan bait berikut:

tak perlu diet

makan saja

seolah jadi patron

Di sini terselip paradoks yang menohok. Dalam dunia yang gemar membatasi, ajakan untuk “makan saja” bisa terbaca sebagai perlawanan terhadap sistem yang menekan spontanitas manusia. Didu mengubah tindakan sehari-hari—makan—menjadi simbol kebebasan eksistensial.

“Makan saja” bukan berarti serakah atau abai pada kesehatan. Ia lebih menyerupai seruan untuk menyerap kehidupan tanpa rasa takut. Dalam konteks aktivisme yang pernah kami jalani bersama, kalimat itu bahkan bisa dibaca sebagai metafora politik: jangan terlalu banyak “diet” idealisme, jangan membatasi keberanian, jangan menahan empati. Hidup bukan tentang menolak, tapi tentang menerima dan menyalurkan energi kehidupan ke arah yang lebih manusiawi.

Menarik pula bahwa Didu menulis:

dari konspirasi pelik

bertabur tanda tanya

di tengah kesederhanaan

Ada pengakuan bahwa dunia memang rumit—penuh konspirasi, penuh tanda tanya. Namun, di tengah semua itu, Didu memilih kesederhanaan sebagai jalan. Mungkin inilah bentuk kedewasaan sejati: memahami bahwa hidup tak perlu selalu dijelaskan, tak perlu selalu benar, cukup dijalani dengan jujur dan sederhana.

Saya masih ingat, dulu Didu adalah orang yang paling keras kepala di antara kami. Dalam setiap diskusi di kampus, suaranya lantang, ide-idenya tajam, dan semangatnya seperti tak pernah padam. Tapi kini, lewat catatan pendek itu, saya melihat Didu yang lain: lebih tenang, lebih dalam, lebih memahami diam.

Ketika saya membaca pesannya, saya justru terdiam. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Mungkin karena saya sadar bahwa dalam perjalanan hidup, banyak dari kita telah “berdiet” terlalu lama—menahan rasa, membatasi impian, menekan keinginan untuk sekadar menikmati hidup apa adanya. Kita terlalu sibuk mempercantik diri di luar, sampai lupa memberi makan batin sendiri.

Pesan Didu seperti menampar dengan lembut: berhentilah menahan diri berlebihan. Nikmatilah kehidupan, sebagaimana adanya. “Makan saja”—bukan sekadar untuk tubuh, tapi juga untuk jiwa.

Dalam konteks spiritualitas yang lebih luas, kalimat itu bahkan bisa dibaca sebagai ajakan untuk merasakan sepenuhnya keberadaan. Bahwa setiap detik kehidupan—dengan rasa pahit, manis, getir, asin—adalah santapan yang membentuk manusia seutuhnya. Menolak rasa adalah menolak hidup itu sendiri.

Menemukan Makna dalam Keluguan

Kini, setiap kali saya ingat Didu dan catatan kecilnya, saya belajar untuk tidak terlalu rumit memahami dunia. Kadang, kebijaksanaan tidak datang dari buku tebal atau pidato panjang, melainkan dari selembar tulisan sederhana yang keluar dari hati yang tulus.

“Gak perlu diet, makan saja,” adalah seruan untuk kembali menjadi manusia yang utuh. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus sempurna, tidak harus ramping, tidak harus terkendali sepenuhnya. Hidup adalah tentang rasa—dan rasa itu hanya bisa hadir jika kita berani mencicipinya tanpa takut.

Didu, dengan senyum simpulnya, telah memberi pelajaran mendalam tentang makna hidup. Ia mengajarkan bahwa kesederhanaan bukanlah kebodohan, melainkan bentuk paling jernih dari kebijaksanaan.

Dan mungkin, dalam keheningan saya yang panjang setelah membaca puisinya, saya mulai benar-benar mengerti:

kadang yang paling manusiawi yang bisa kita lakukan hanyalah makan saja—

menelan hidup bulat-bulat, tanpa perlu “diet” dari rasa, dari luka, dari cinta, dari dunia.

Akuair-Ampenan, 28-10-2025

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi