www.okenews.net: Budaya
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2026

Kongres Internasional Bahasa Sasak Mulai Dimatangkan

Okenews.net- Persiapan Sangkep (Kongres) Internasional I Bahasa Sasak terus dimatangkan oleh panitia. Sangkep yang diinisiasi Majelis Adat Sasak (MAS) ini dipersiapkan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dari berbagai paer.

Panitia menggelar koordinasi dan konsolidasi di Rembiga, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (19/8/2026). Pertemuan membahas kesiapan kepanitiaan, agenda kegiatan, keterlibatan tokoh, akademisi, serta substansi kongres

Pelibatan berbagai paer menjadi bagian penting dalam persiapan sangkep. Budayawan, akademisi, pakar, pemerhati bahasa dan budaya, tokoh adat, komunitas, serta elemen masyarakat dilibatkan untuk memperkaya gagasan.

Sangkep Internasional I Bahasa Sasak dijadwalkan berlangsung 28–30 Oktober 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk menyatukan pandangan dan merumuskan langkah strategis bagi masa depan bahasa Sasak.

Ketua Panitia Kongres Internasional I Bahasa Sasak, Dr. Khairil Anwar, M.Pd., mengatakan konsolidasi dilakukan untuk memastikan sangkep memiliki arah jelas dan menghasilkan agenda yang dapat ditindaklanjuti setelah kongres.

“Kita ingin sangkep ini menghasilkan sesuatu yang nyata. Bukan hanya berdiskusi, tetapi melahirkan kesepakatan, rekomendasi, program prioritas, dan peta jalan bersama untuk bahasa dan sastra Sasak,” ujar akademi yang kerap disapa Chae itu.

Menurutnya, pelibatan berbagai kalangan penting karena agenda kongres menyangkut masa depan bahasa dan sastra Sasak. Perspektif akademisi, budayawan, lembaga adat, komunitas, pemerintah, sekolah, dan masyarakat diperlukan.

Bahasa Sasak memiliki posisi strategis sebagai identitas budaya sekaligus bagian penting dalam memperkuat solidaritas dan kohesi sosial masyarakat Sasak. Penguatannya perlu menjawab dinamika global serta perubahan pola penggunaan bahasa.

Karena itu, bahasa Sasak tidak cukup hanya dipertahankan keberadaannya. Bahasa tersebut perlu dipastikan tetap hidup, digunakan, diwariskan, dikembangkan, dan relevan dengan kebutuhan generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Sejalan dengan tujuan tersebut, substansi kongres yang sedang dimatangkan mencakup empat fokus utama, yakni digitalisasi; pembinaan dan pengajaran; pelestarian dan pelindungan; serta pengembangan tata bahasa, aksara, sastra, dan tata istilah.

Pada aspek digitalisasi, pembahasan mencakup upaya mendokumentasikan sekaligus memperluas penggunaan bahasa dan sastra Sasak di ruang digital. Agenda tersebut meliputi digitalisasi manuskrip, naskah, kamus, cerita rakyat, dan karya sastra.

Selain itu, pengembangan korpus digital, kamus dan platform pembelajaran, dokumentasi audio-visual, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial atau AI menjadi bagian dari agenda digitalisasi bahasa dan sastra Sasak.

Pada aspek pembinaan dan pengajaran, perhatian diberikan pada penguatan pembelajaran di sekolah, penyusunan bahan ajar, peningkatan kompetensi guru, penggunaan bahasa Sasak dalam keluarga, serta pembinaan komunitas.

Gagasan “Gerakan Sasak di Sekolah” dan “Kelas Bahasa Sasak untuk Generasi Muda” menjadi contoh program yang dapat dikembangkan untuk memperkuat pewarisan bahasa melalui pendidikan formal maupun kegiatan pembelajaran di masyarakat.

“Pembinaan tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru, keluarga, komunitas, budayawan, tokoh masyarakat, dan masyarakat secara luas,” ujar Khairil, yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Adat Sasak.

Sementara itu, pelestarian dan pelindungan berangkat dari sejumlah tantangan, antara lain perubahan pola komunikasi, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta berkurangnya penggunaan bahasa Sasak kalangan generasi muda.

Tantangan lainnya adalah semakin terbatasnya penutur dan pewaris sejumlah ragam bahasa serta tradisi sastra Sasak. Karena itu, pelestarian mencakup pemetaan kondisi bahasa, pendataan penutur, dokumentasi, dan revitalisasi berbasis komunitas.

Penguatan peran keluarga dan lembaga adat serta pengembangan kebijakan pelindungan juga menjadi bagian penting. Upaya tersebut diharapkan membangun sistem pelestarian yang tidak bergantung pada satu pihak saja.

Fokus lainnya adalah pengembangan tata bahasa, aksara, sastra, dan tata istilah. Agenda tersebut ditujukan memperkuat fondasi ilmiah bahasa Sasak agar memiliki rujukan kuat dan mampu mengikuti perkembangan zaman.

Keempat fokus tersebut dirancang sebagai satu kesatuan. Pengembangan memperkuat fondasi bahasa, pelindungan menjaga penutur dan warisan, pembinaan memastikan pewarisan antargenerasi, sedangkan digitalisasi membuka ruang baru bagi bahasa Sasak.

Karena itu, sangkep ditargetkan tidak berhenti sebagai forum diskusi. Kongres diharapkan menghasilkan keluaran konkret berupa peta jalan digitalisasi, model pembinaan dan pengajaran, peta jalan pelestarian, serta rekomendasi pengembangan bahasa.

Konsolidasi panitia bersama berbagai unsur masyarakat dari berbagai paer menjadi langkah penting untuk menyatukan visi. Muaranya adalah memastikan bahasa Sasak tetap hidup, digunakan, diwariskan, dan berkembang sebagai identitas budaya masyarakat Sasak.

Selasa, 11 Agustus 2026

Jeruk Manis Festival IV Digelar, Sekda Puji Kemandirian Warga

Okenews.net– Semangat masyarakat Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, dalam menggelar kegiatan secara mandiri mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Apresiasi tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur H. Muhammad Juaini Taofik saat membuka Jeruk Manis Festival IV, Senin (11/8), mewakili Bupati Lombok Timur. Festival yang dipusatkan di Lapangan Desa Jeruk Manis itu berlangsung hingga 17 Agustus 2026.

Juaini menilai penyelenggaraan festival secara mandiri menjadi bukti kuatnya partisipasi dan kemandirian masyarakat. Terlebih, pelaksanaan kegiatan tersebut berlangsung di tengah efisiensi anggaran pemerintah.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat alokasi dana desa juga banyak diarahkan untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangat Pemerintah Desa dan masyarakat Jeruk Manis untuk tetap menghadirkan kegiatan bagi masyarakat.

“Tidak banyak desa yang secara mandiri mau menyelenggarakan acara ini. Desa Jeruk Manis tidak menyurutkan semangatnya terus membangun masyarakatnya dan menggelar acara-acara seperti ini. Artinya, kemandirian masyarakatnya sudah sangat bagus,” ujar Juaini.

Selain kemandirian, Sekda juga mengapresiasi konsistensi masyarakat Jeruk Manis dalam menjaga adat dan budaya warisan leluhur, salah satunya Adat Kayu Jejeneng.

Menurut Juaini, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari identitas masyarakat, tetapi juga mengandung nilai kebijaksanaan serta mencerminkan hubungan yang harmonis antara adat dan ajaran agama.

“Kayu Jejeneng ini banyak sekali nilai yang terkandung di dalamnya. Tidak ada persoalan di Lombok antara agama dan adat, semuanya sudah menjadi satu kesatuan,” katanya.

Nilai adat tersebut, lanjutnya, juga tercermin dalam cara masyarakat menjaga lingkungan. Berada di kawasan selatan Rinjani, Desa Jeruk Manis dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hutan dan alam yang manfaatnya tidak hanya dirasakan warga setempat, tetapi juga masyarakat Lombok Timur secara luas.

Dalam kesempatan itu, Juaini turut menyampaikan rencana pemerintah memasang lampu jalan di sekitar 8.000 titik. Desa wisata menjadi salah satu prioritas pemasangan penerangan tersebut.

Program itu diharapkan dapat direalisasikan pada 2027 sehingga mendukung pengembangan pariwisata sekaligus meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Jeruk Manis Nasipudin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut mendukung pelaksanaan festival tahunan tersebut.

Ia mengatakan, Jeruk Manis Festival menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi desa sekaligus mempertahankan adat yang diwariskan leluhur.

“Bersatu dalam adat, bersama dalam kemerdekaan” menjadi tema yang diusung pada Jeruk Manis Festival IV tahun ini.

Beragam kegiatan turut memeriahkan festival, mulai dari pameran hasil alam, produk UMKM masyarakat, hingga berbagai perlombaan.

Festival yang digelar setiap Agustus tersebut juga menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga keberlanjutan tradisi lokal, termasuk Adat Kayu Jejeneng yang biasanya dilaksanakan sebelum begawe.

Jumat, 31 Juli 2026

BPBD Lotim Siap Dukung Festival Gawe Beleq Sakra Barat dengan Air Bersih dan Tenda

Okenews.net-  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur menyatakan komitmennya mendukung pelaksanaan Festival Gawe Beleq Sakra Barat yang akan digelar selama sepekan, mulai 17 hingga 23 Agustus 2026. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan pasokan air bersih dan tenda guna menunjang kenyamanan masyarakat serta kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.


Komitmen itu disampaikan dalam pertemuan silaturahmi antara Ketua Panitia Festival Gawe Beleq Sakra Barat, Fikry Putra Revolusi, dengan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lombok Timur, Lalu Mulyadi, Pertemuan tersebut membahas berbagai kebutuhan teknis yang diperlukan agar festival dapat berlangsung aman, nyaman, dan sukses Jumat, 31/7/2026


Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, menegaskan pihaknya siap memberikan dukungan sesuai tugas dan kewenangan BPBD, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar selama kegiatan berlangsung.


"BPBD siap mendukung pelaksanaan Festival Gawe Beleq Sakra Barat melalui penyediaan air bersih dan tenda sesuai kebutuhan. Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.


Ketua Panitia Festival, Fikry Putra Revolusi, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan BPBD Lombok Timur. Menurutnya, sinergi antara panitia dan pemerintah daerah menjadi salah satu kunci sukses penyelenggaraan festival yang diperkirakan akan dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah.


"Kami mengucapkan terima kasih kepada BPBD Lombok Timur atas dukungan dan respons positif yang diberikan. Koordinasi ini menjadi langkah penting agar seluruh kebutuhan pendukung dapat dipersiapkan secara maksimal sehingga masyarakat dapat menikmati festival dengan nyaman," katanya.


Festival Gawe Beleq Sakra Barat akan menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pertunjukan seni dan budaya, pentas musik, hiburan rakyat, pameran UMKM, hingga berbagai atraksi yang melibatkan masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.


Melalui kolaborasi antara panitia, pemerintah daerah, dan berbagai pihak, Festival Gawe Beleq Sakra Barat diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor UMKM, memperkuat kebersamaan, serta meningkatkan daya tarik wisata budaya di Kabupaten Lombok Timur.

Rabu, 22 Juli 2026

Bupati Lotim Janji Perbaiki Jalan Wisata Tetebatu dalam Dua Bulan

Okenews.net – Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin memastikan ruas jalan menuju kawasan wisata Tetebatu akan diperbaiki dalam waktu dua bulan ke depan. Komitmen tersebut disampaikan langsung saat membuka Festival Seni Olahraga Presean di Lapangan Desa Tetebatu, Rabu (22/7), yang dihadiri masyarakat serta wisatawan mancanegara.

Janji itu disampaikan sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dalam meningkatkan kualitas infrastruktur penunjang sektor pariwisata. Tetebatu yang dikenal sebagai desa wisata tertua di Lombok Timur dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi destinasi unggulan.

Menurut Haerul Warisin, perbaikan jalan tidak hanya bertujuan memberikan kenyamanan bagi masyarakat setempat, tetapi juga meningkatkan pengalaman wisatawan yang datang berkunjung.

"Insyaallah dalam dua bulan ke depan jalan wisata di Tetebatu akan kita perbaiki. Pemerintah akan terus mendukung kegiatan yang menunjang pariwisata agar setiap tamu yang datang merasa nyaman dan mendapatkan pelayanan terbaik," tegas Haerul Warisin.

Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen terus mendukung berbagai kegiatan masyarakat yang mampu memperkuat daya tarik wisata. Menurutnya, keramahan masyarakat dan kenyamanan wisatawan menjadi kunci agar sektor pariwisata mampu berkembang secara berkelanjutan.

"Tidak boleh ada tamu yang merasa kecewa atau tidak nyaman. Jika wisatawan merasa puas, maka dampaknya akan kembali kepada kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tetebatu, Sabli, mengungkapkan bahwa kunjungan wisatawan ke Tetebatu terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 23.168 orang dari berbagai negara. Sedangkan hingga pertengahan Juli 2026, jumlah kunjungan telah menembus lebih dari 19 ribu wisatawan.

Sabli berharap rencana perbaikan infrastruktur yang disampaikan Bupati dapat segera terealisasi sehingga semakin memperkuat posisi Tetebatu sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Nusa Tenggara Barat.

Selain menyampaikan perkembangan sektor pariwisata, Sabli juga mengakui realisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di desanya masih belum optimal. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah desa siap meningkatkan kepatuhan masyarakat melalui sistem digitalisasi yang tengah dikembangkan.

"Kami berkomitmen meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap pembayaran PBB maupun pajak lainnya sesuai ketentuan yang berlaku, seiring penguatan sistem pelayanan berbasis digital," pungkasnya.

Senin, 20 Juli 2026

Wabup Lotim Lepas Jalan Sehat Alunan Budaya Pringgasela, Dukung Pelestarian Tradisi

Okenews.net– Perhelatan Alunan Budaya Desa Pringgasela 2026 resmi memasuki satu dekade penyelenggaraannya dengan diawali kegiatan Car Free Day dan jalan sehat yang dipusatkan di kawasan Tugu Juang Pringgasela Raya (Tugu Mopra), Minggu (19/7).

Ribuan warga tampak antusias mengikuti jalan sehat yang secara resmi dilepas oleh Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya. Kegiatan tersebut menjadi pembuka rangkaian Alunan Budaya yang tahun ini mengusung tema "Srimananti", sekaligus menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Dalam sambutannya, Wabup Edwin mengapresiasi semangat masyarakat Pringgasela yang dinilainya berhasil menjaga tradisi, budaya, dan kebersamaan di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, Pringgasela tidak hanya dikenal sebagai sentra tenun khas Lombok, tetapi juga memiliki kekuatan dalam merawat nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

"Pemerintah daerah akan selalu mendukung kegiatan-kegiatan positif berbasis kemasyarakatan seperti ini. Pembangunan Lombok Timur tidak akan berjalan optimal tanpa masyarakat yang sehat, rukun, dan penuh optimisme seperti warga Pringgasela," ujar Edwin.

Ia menilai jalan sehat bukan sekadar aktivitas olahraga, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat persaudaraan, dan membangun kebersamaan antarwarga. Selain menyehatkan tubuh, kegiatan tersebut juga menghadirkan suasana gembira melalui berbagai hadiah doorprize yang disiapkan panitia.

Wabup juga mengingatkan seluruh peserta agar menjaga ketertiban selama mengikuti kegiatan, sekaligus tetap memperhatikan kebersihan lingkungan sepanjang rute yang dilalui.

"Yang terpenting, nikmati kebersamaan ini dengan penuh kegembiraan sambil tetap menjaga kebersihan dan ketertiban," pesannya.

Sementara itu, tema "Srimananti" yang diangkat pada Alunan Budaya tahun ini merepresentasikan harapan, peran perempuan, serta identitas tenun khas Pringgasela yang telah menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat setempat.

Melalui penyelenggaraan Alunan Budaya yang telah memasuki usia ke-10, diharapkan tradisi dan potensi budaya Pringgasela semakin dikenal luas, sekaligus mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Lombok Timur.

Kamis, 11 Juni 2026

Bupati Lotim Dorong Peresean Digelar Empat Kali Setahun

Okenews.net Festival Peresean yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Desa Wisata Kembang Kuning resmi ditutup pada Kamis (11/6/2026). Penutupan yang berlangsung di Lapangan Umum Desa Kembang Kuning tersebut dihadiri langsung Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin dan disambut antusias masyarakat serta wisatawan yang hadir.

Dalam kesempatan itu, Bupati Haerul Warisin menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal, khususnya tradisi Peresean yang telah menjadi identitas masyarakat Sasak.

Menurutnya, Peresean tidak sekadar pertunjukan rakyat, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan karakter yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Tradisi Peresean harus terus dilestarikan. Saya berharap kegiatan seperti ini tidak hanya digelar pada momen perayaan tertentu, tetapi bisa dilaksanakan hingga empat kali dalam setahun,” ujar Bupati.

Ia menilai keberlangsungan kegiatan budaya dapat menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda sekaligus memperkuat daya tarik wisata daerah.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Bupati juga menyerahkan bantuan kepada panitia penyelenggara festival. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan berbagai kegiatan budaya yang menjadi kekayaan Lombok Timur.

Festival Peresean yang berlangsung sejak 29 Mei 2026 itu sukses menarik perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara. Sepanjang pelaksanaan acara, arena Peresean dipadati penonton yang ingin menyaksikan aksi para pepadu mempertahankan tradisi bela diri khas Sasak tersebut.

Semangat para pepadu dan tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa Peresean masih memiliki tempat istimewa di tengah perkembangan zaman. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap promosi Desa Wisata Kembang Kuning sebagai salah satu destinasi unggulan di Lombok Timur.

Melalui festival tersebut, pemerintah daerah berharap Peresean dapat terus hidup, berkembang, dan menjadi magnet wisata budaya yang mampu mendukung pertumbuhan sektor pariwisata serta perekonomian masyarakat setempat.

Selasa, 03 Februari 2026

Tradisi Nyelamet Dowong di Lotim, Ikhtiar Warga Jaga Padi dan Dukung Swasembada Pangan

Ritual Adat Nyelamet Dowong

Okenews.net- Masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar tradisi adat Nyelamet Dowong, sebuah ritual tahunan yang sarat makna sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar menjaga tanaman padi dari serangan hama menjelang masa panen.

Tradisi ini diawali dengan iring-iringan puluhan perempuan yang membawa Tembolaq, baki tradisional khas Sasak berisi hasil bumi, nasi, ketupat, serta aneka kue tradisional Lombok. Tembolaq tersebut dibawa dari area masjid menuju makam leluhur untuk pelaksanaan zikir, doa bersama, serta pengambilan air suci di mata air Merta Sari.

Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet, menjelaskan bahwa Nyelamet Dowong merupakan warisan leluhur yang wajib dilaksanakan setiap tahun saat padi berusia sekitar satu bulan.

“Upacara adat ini selalu dilakukan sebelum panen. Tujuannya untuk menyelamatkan padi dari hama dan memohon hasil panen yang baik,” ujarnya, Senin (02/02/2026).

Rangkaian ritual berlangsung selama dua hari. Pada hari Jumat, warga melakukan pembersihan makam para leluhur. Ritual dilanjutkan pada hari Minggu dengan prosesi pemotongan ayam di satu lokasi khusus.

“Pemotongan ayam ini memiliki filosofi agar penyakit tidak menyebar. Darah ayam dialirkan ke daun bambu, yang sejak dulu dimanfaatkan sebagai pestisida alami,” jelas Lalu Selamet.

Daun bambu yang telah terkena darah ayam tersebut kemudian diletakkan di tengah sawah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, aroma amis darah ayam akan menarik hama, sehingga hama tersebut mati secara alami tanpa bahan kimia.

Selain itu, air suci dari mata air Merta Sari dialirkan ke area persawahan. Air tersebut diyakini membantu membersihkan sisa hama yang telah mati sekaligus membawa berkah bagi tanaman padi.

“Intinya, tradisi ini adalah wujud rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar panen melimpah, sekaligus mendukung cita-cita swasembada pangan,” pungkasnya.

Antusiasme warga juga terlihat dari partisipasi aktif masyarakat. Salah seorang warga, Amaq Muslihin, mengaku dengan sukarela menyediakan berbagai hidangan untuk dinikmati bersama.

“Kami menyiapkan makanan secara swadaya untuk dinikmati bersama. Apalagi padi saya sudah mulai menguning, semoga setelah doa bersama ini hasil panen semakin baik,” katanya.

Tradisi Nyelamet Dowong tidak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga mencerminkan keharmonisan masyarakat Lombok Timur dalam menjaga alam, budaya, dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Senin, 08 Desember 2025

Teater Lho Indonesia Hadir di Festival Teater Indonesia 2025

Okenews.net - Memasuki usia ke-35, Teater Lho Indonesia menandai tonggak penting dalam perjalanan kreatifnya. Usia matang ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi panjang mengenai konsistensi, ketekunan, dan keberanian bereksperimen yang selama tiga setengah dekade telah menjadi karakter kelompok teater ini. 

Pada peringatan usia emas tersebut, Teater Lho Indonesia mendapat kehormatan tampil dalam Festival Teater Indonesia (FTI) 2025 di Taman Budaya Provinsi NTB. Festival ini akan berlangsung pada 10–12 Desember 2025, di mana Teater Lho tampil di hari pertama.

Pada kesempatan penting ini, Teater Lho Indonesia menghadirkan lakon “Borka”, sebuah adaptasi dari cerpen Belfegor karya Kiki Sulistyo. Meskipun bukan karya baru, Borka justru menggambarkan bagaimana sebuah karya dapat terus bertumbuh melalui pembacaan ulang, eksplorasi ulang, dan pemaknaan ulang. 

Sutradara sekaligus penulis naskah, R. Eko Wahono, menyebut momentum ini sebagai ruang bertumbuh, bagi naskah, aktor, dan seluruh elemen estetis yang membentuk dunia Teater Lho Indonesia.

"Membedah Trauma, Kekuasaan, dan Keserakahan

Cerpen Belfegor karya Kiki Sulistyo menjadi sumber utama dari lakon ini. Teks tersebut penuh metafora tentang kekuasaan, keserakahan, dan trauma perempuan dalam masyarakat patriarkal," kata R Eko Wahono di Taman Budaya Mataram, Senin 8 desember 2025. 

Dalam proses adaptasinya, Eko dan tim menggali lebih dalam makna simbolis “ruang bawah tanah”, apakah ia ruang fisik, ruang batin, atau ruang bawah sadar.

Bagi sebagian tim kreatif, ruang bawah tanah adalah metafora trauma dan kenangan kelam; bagi lainnya, ia adalah ruang batin manusia yang menyimpan hasrat dan ketakutan terdalam. Perdebatan konseptual tersebut justru melahirkan napas baru bagi Borka.

Lakon ini menempatkan dua tokoh perempuan, Sirin dan Nenek, pada posisi berlapis: korban dan sekaligus pewaris kekerasan. Adaptasi Eko memunculkan “bola cahaya” sebagai simbol baru Belfegor, iblis kekayaan yang menggoda manusia dan menciptakan lingkaran keserakahan tanpa ujung.

Melalui pementasan ini, Borka bekerja pada dua lapis: mitologis dan sosiologis. Ia berbicara tentang iblis, tetapi juga tentang kapitalisme, materialisme, dan manusia yang semakin kehilangan empati.

Pementasan Borka versi 2025 melibatkan para pemain dari latar sosial yang beragam:

Sopiyan Sauri sebagai Paman, seorang guru pesantren

Yulianerny sebagai Nenek, seorang pengajar sekolah

Bagus Maulana sebagai Borka, mahasiswa

Witari Ardini sebagai Sirin, pelajar

Keberagaman ini membawa warna baru dalam memahami kekerasan, keserakahan, dan spiritualitas dalam lakon ini.

Di sektor artistik, Gde Agus Mega, akademisi etnomusikolog, menghadirkan bunyi perkusi ambience sebagai “suara bawah sadar” tokoh, dengan penembang oleh Sanggaita. Sementara itu, Akmal Sasak, penata artistik sekaligus penata cahaya, merancang ruang bawah tanah berbentuk tabung silinder limas segi enam, sekaligus menciptakan permainan cahaya yang menghidupkan simbol Belfegor.

Elemen paling menonjol dalam Borka adalah bola cahaya, simbol hasrat, pengetahuan, dan kehancuran. Cahaya putih yang membias pada tubuh Borka menciptakan efek visual metaforis tentang godaan kekuasaan.

Videografi yang disajikan oleh penata visual Kharisma Priasa menghadirkan “arus pikiran” Borka melalui gambar-gambar abstrak dan simbol yang berkelebat cepat. Teater pun menjelma menjadi sinema panggung pengalaman imersif yang melampaui batas konvensional.

Secara sosial, Borka adalah cermin masyarakat modern yang dikuasai materialisme. Bola cahaya melambangkan kekayaan, teknologi, dan kemajuan yang justru menjerat manusia dalam keserakahan. 

Tokoh-tokoh dalam lakon adalah representasi generasi yang terjebak antara tradisi dan modernitas.

Eko menegaskan bahwa “ruang bawah tanah” adalah metafora sekaligus kenyataan sosial: tempat di mana trauma, keserakahan, dan rahasia disembunyikan.

Dengan demikian, Teater Lho Indonesia menghadirkan teater sebagai ruang renungan moral sekaligus penyembuhan sosial.

Minggu, 26 Oktober 2025

Dende Tamari, Seruan Teater untuk Kebenaran dan Keberanian Perempuan

Bengkel Aktor Mataram

Okenews.net- Bengkel Aktor Mataram (BAM) kembali menegaskan eksistensinya sebagai salah satu komunitas teater paling konsisten di Nusa Tenggara Barat (NTB). Semalam, Sabtu 25 Oktober 2025, mereka menuntaskan pementasan lakon Dende Tamari di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB, disaksikan oleh ratusan penonton yang memadati ruang pertunjukan hingga larut malam. 

Pertunjukan ini sekaligus menjadi pementasan BAM ke-63, sebuah capaian yang menandai perjalanan panjang dan teguh kelompok teater yang berdiri di Mataram ini dalam menjaga napas seni pertunjukan di daerah.

Dalam sambutannya, Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Surya Mulawarman, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap konsistensi BAM dan relevansi pementasan kali ini. Menurutnya, Dende Tamari bukan hanya pertunjukan teater biasa, tetapi juga etalase seni pertunjukan yang mempertemukan lintas disiplin—teater, musik, seni rupa dan tradisi lokal.

“Pertunjukan ini adalah katalisator pembuka ruang dialog dan dialektika. Ia menjauhkan kita dari arogansi diri, bahkan dari arogansi personalisasi kekuasaan,” ujar Miq Surya. “Kegiatan seperti ini penting, karena seni mesti hadir sebagai ruang pertemuan gagasan dan kemanusiaan.”

Dalam konteks itu, BAM melalui sang sutradara, Kongso Sukoco, menegaskan bahwa teater bukan sekadar hiburan, melainkan alat untuk berpikir dan mempertanyakan. “Teater yang masih memedulikan unsur sastra akan selalu menekankan dialog dan pertanyaan. Dari situ lahir kesimpulan-kesimpulan baru dalam memahami relasi manusia,” ujarnya. 

“Namun sekarang, tren teater mulai mengabaikan bahasa dan menggantinya dengan efek media. Kami ingin mengembalikan kekuatan kata dan rasa.”

Dende Tamari adalah adaptasi dari tragedi klasik Yunani Antigone karya Sophocles, yang kali ini dilahirkan kembali dalam konteks lokal Lombok. Pertanyaan mendasar yang melatari naskah ini tetap sama: apakah hukum buatan penguasa lebih tinggi daripada hukum moral dan kemanusiaan?

Perempuan Sasak Menentang Kekuasaan

Dalam versi BAM, sosok Antigone menjelma sebagai Dende Tamari seorang perempuan Sasak yang berani menentang kekuasaan demi kemanusiaan. Ia menolak tunduk pada hukum yang menafikan nilai moral dan kasih sayang. Keberaniannya menimbulkan konflik besar yang berakhir tragis: Dende Tamari dihukum mati karena menentang hukum penguasa.

Sutradara Kongso Sukoco menjelaskan: “Tragedi disebut tragedi ketika peristiwa tragis menimpa orang baik. Dende Tamari adalah sosok yang melawan kekuasaan yang semena-mena. Ia akhirnya mati, tapi justru dari kematian itu lahir makna tentang kebenaran.”

Ada keberanian BAM menafsir ulang karya besar dunia ke dalam lanskap lokal, yaitu ‘menaklukkan Antigone’ ke dalam sosok Dende Tamari, perempuan Lombok yang membawa suara lokal untuk isu universal.

Kongso menimpali, “Itu menunjukkan bagaimana kita masih tertinggal dalam memahami paradigma kesetaraan gender. Padahal, ketika Antigone ditulis Sophocles ribuan tahun lalu, gagasan demokrasi dan kesetaraan sudah hidup.”

Kekuatan Dende Tamari bukan hanya pada narasi, tetapi juga pada perwujudan estetika yang berpijak pada bumi Lombok. Tembang tradisional, kostum daerah, dan alat musik lokal menjadi bagian dari tubuh pertunjukan. 

Penonton diajak merasakan kegetiran tragedi Yunani dalam irama suling Sasak, dalam nyanyian yang lahir dari tanah sendiri.

Musik dan tata artistik menjadi jembatan antara dunia klasik dan realitas lokal. Para Musisi (tradisi)  Lalu Prima Wira Putra, Nurul Maulida, Ayutara Adelya, dan Nunuk Husnul menghadirkan harmoni antara bunyi-bunyian tradisi dan atmosfer dramatik yang membangun emosi pertunjukan.

Penataan cahaya karya Fathul Ajis dan arahan artistik Zaeni Mohammad menghadirkan ruang simbolik: sumur batu tempat Dende Tamari dihukum menjadi metafor atas kekuasaan yang membungkam, namun sekaligus tempat lahirnya cahaya perlawanan.

Pementasan ini melibatkan sejumlah aktor muda BAM yang tampil dengan intensitas emosional tinggi: Winsa, Dende Dila, Wulan Eryana Sain, Bagus Maulana, Hawa Metha, dan Febri Febrian. Manajemen panggung dipercayakan kepada Reza Ashari, dengan Mantra Ardhana sebagai penata suara, serta dukungan kru: Susan Damayanti, Lalu Farid, Syahrul Rozi, dan Akbar.

Para pemain menghidupkan tokoh-tokoh klasik dengan tubuh dan aksen lokal, menghadirkan keotentikan baru yang membedakan versi BAM dari adaptasi teater konvensional. Sorak dan tepuk tangan penonton di akhir pementasan menjadi bukti bahwa karya ini menyentuh sisi terdalam dari rasa kemanusiaan.

Seruan Kemanusiaan

Lebih dari sekadar pertunjukan, Dende Tamari adalah seruan kemanusiaan. Ia berbicara tentang keberanian untuk menentang ketidakadilan, tentang suara perempuan yang menolak tunduk pada kekuasaan yang buta. Ia mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang makin pragmatis, nurani tetap harus menjadi panglima.

“Seni bukan hiburan,” tutup Kongso Sukoco. “Seni adalah suara perlawanan, cermin kehidupan, dan panggilan hati nurani.”

Melalui Dende Tamari, BAM mengajak masyarakat untuk kembali percaya pada kekuatan perempuan, keberpihakan sosial, dan cinta pada kemanusiaan. Dari Lombok, pesan itu bergema: bahwa keberanian untuk berpihak pada kebenaran tak akan pernah lekang oleh zaman.

Didirikan lebih dari dua dekade lalu, BAM adalah kelompok teater independen di Mataram, NTB, yang konsisten mengeksplorasi teater berbasis naskah, riset sosial, dan pendekatan lokalitas. Dengan 63 pementasan hingga kini, BAM menjadi laboratorium kreatif bagi generasi muda dalam memahami seni sebagai jalan kesadaran sosial dan kebudayaan.

Kamis, 23 Oktober 2025

Bengkel Aktor Mataram Hadirkan Tragedi Kemanusiaan dalam Nafas Lokal

BAM, Bengkel Aktor Mataram

Okenews.net-  Mataram, Oktober 2025 Bengkel Aktor Mataram (BAM) kembali meneguhkan eksistensinya di dunia teater Indonesia melalui pementasan ke-63 yang akan digelar pada 25 Oktober 2025 pukul 20.00 Wita di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB. 

Di bawah arahan sutradara Kongso Sukoco, BAM menghadirkan lakon terbaru berjudul Dende Tamari, sebuah adaptasi dan tafsir lokal atas tragedi Yunani klasik Antigone karya Sophocles.

Bagi Kongso, teater selalu lebih dari sekadar tontonan; ia adalah ruang perenungan dan perlawanan. “Teater adalah tempat manusia bercermin kepada dirinya sendiri, mendengar suara zaman, dan meneguhkan keberpihakan pada kemanusiaan,” ujarnya. Dari keyakinan itulah, Dende Tamari lahir  bukan sebagai salinan, tetapi sebagai penanaman ulang kisah klasik di tanah Lombok, agar tumbuh dengan akar dan bunga lokal yang kuat.

Dalam versi Sophocles, Antigone dikenal sebagai perempuan muda yang menentang kekuasaan Raja Kreon demi memberi pemakaman layak bagi saudaranya. Bagi Kongso, semangat keberanian itu masih hidup hingga kini.

 “Saya memilih kisah ini bukan karena keagungan masa lalunya semata, tetapi karena denyut nadinya masih terasa hingga hari ini,” tutur Kongso Sukoco, Rabu 22 Oktober 2025 di Mataram. 

Dalam tafsir BAM, Antigone menjelma menjadi Dende Tamari, seorang perempuan Lombok yang menolak tunduk pada penguasa lalim. Ia menjadi lambang perempuan Nusantara yang berani berkata “tidak” pada kekuasaan yang menindas, demi menegakkan hukum moral dan nilai kemanusiaan.

Mengapa perempuan? “Karena dari perempuanlah kita belajar kesetiaan, keberanian, dan kemanusiaan,” kata Kongso. Dalam masyarakat yang masih sering menyingkirkan suara perempuan, Dende Tamari tampil sebagai simbol keberanian mereka untuk menjaga martabat dan nilai-nilai hidup.

Estetika pertunjukan ini dirancang untuk mengakar kuat pada tradisi Lombok:

Tembang dan nyanyian tradisi menjadi jantung pertunjukan, bukan sekadar latar bunyi, tetapi doa dan jeritan yang mengikat penonton pada akar leluhur.

Kostum lokal menampilkan kain-kain tradisional sebagai bahasa visual yang merekam kisah, warna, dan makna  sebuah simbol keanggunan sekaligus perlawanan.

Bahasa tubuh dan gestur aktor berpijak pada keseharian masyarakat Lombok, membentuk gaya pergerakan yang jujur, liris, dan berakar.

Dengan demikian, Dende Tamari tidak hanya menerjemahkan Antigone ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga mentransformasikannya menjadi tragedi Nusantara, di mana setiap elemen panggung menjadi cermin dari kebudayaan lokal.

Namun, di balik keindahan artistiknya, Dende Tamari juga membawa pesan sosial yang tajam. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan yang menabrak hukum moral akan selalu berujung pada kehancuran. Seperti Kreon dalam kisah Sophocles yang kehilangan keluarganya, penguasa masa kini pun bisa kehilangan kepercayaan rakyat bila berpaling dari kemanusiaan.

“Teater tidak boleh netral,” tegas Kongso. “Dalam situasi hari ini, ketika kekuasaan masih bisa menentukan siapa yang dihormati dan siapa yang diabaikan, teater harus berpihak pada kemanusiaan, pada perempuan, dan pada rakyat kecil.”

Lebih dari enam puluh kali menyutradarai lakon, Kongso meyakini bahwa seni sejati tidak berhenti pada estetika. “Seni harus membuka kesadaran,” ujarnya. Bagi BAM, Dende Tamari bukan hanya adaptasi, melainkan kesaksian: kesaksian bahwa seni bisa menyeberangi ruang dan waktu; bahwa perempuan lokal mampu menyuarakan nilai universal; dan bahwa teater tetap menjadi perlawanan yang indah terhadap ketidakadilan.

“Saya persembahkan karya ini untuk semua yang masih percaya bahwa panggung adalah tempat kita merawat kemanusiaan,” tutup Kongso Sukoco.

Bengkel Aktor Mataram (BAM) didirikan sebagai ruang eksplorasi seni peran dan pencarian bentuk teater Nusantara, Bengkel Aktor Mataram telah berdiri sejak tahun 1984. Dengan 62 produksi sebelumnya, BAM terus melahirkan aktor dan karya yang berpijak pada realitas sosial, berpihak pada kemanusiaan, dan berakar pada budaya lokal. Pementasan ke-63, Dende Tamari, menjadi tonggak perjalanan BAM dalam menjembatani klasik dunia dengan spirit lokal Lombok

Rabu, 08 Oktober 2025

Wabup Edwin Ajak Warga Jaga Sumber Air Lewat Gawe Adat Otak Reban

Wabup Lotim Hadiri Gawe Adat Selametan Otak Reban Kecamatan Sambalia

Okenews.net– Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya menghadiri Gawe Adat Selametan Otak Reban yang digelar pada Rabu (08/10/2025) di Balai Sangkep Otak Reban, Kecamatan Sambelia.


Kegiatan adat yang telah berlangsung turun-temurun selama tiga generasi itu turut dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, antara lain unsur OPD, Stafsus Bidang Pemerintahan Desa dan Kesehatan, Kapolres, Danramil, para kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat dan pekasih dari lima desa: Labuan Pandan, Sambelia, Bagik Manis, Sugian, dan Dadap.


Dalam sambutannya, Wabup Edwin menyampaikan apresiasi atas keberlangsungan tradisi yang telah digelar hingga ke-180 kalinya.


“Ini adalah pencapaian luar biasa yang hanya mungkin terwujud berkat kekompakan dan persatuan masyarakat di lima desa,” ujarnya.


Ia menekankan pentingnya menjaga dua hal utama yang menjadi inti dari tradisi tersebut, yakni kelestarian sumber daya air dan penanganan sampah.


“Sumber daya air adalah tanggung jawab bersama. Tugas kita menjaga kelestariannya,” tegas Edwin.


Terkait persoalan sampah, Wabup berharap optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dapat segera dilakukan, khususnya untuk menangani volume sampah dari kawasan Sembalun yang mulai berdampak pada sektor pertanian dan dibuang ke TPA Ijo Balit.


Selain sebagai wujud syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi lintas generasi. Wabup Edwin mengajak masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan meminta Karang Taruna Desa agar aktif melestarikan tradisi dan budaya lokal.


Sementara itu, Kepala Desa Sambelia sekaligus Ketua Adat H. Muhammad Kahar menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang berpartisipasi, termasuk PLN. Ia menjelaskan bahwa rangkaian Gawe Adat Otak Reban menggabungkan nilai adat dan keagamaan serta diisi dengan kegiatan pelestarian lingkungan.


Tradisi Selametan Otak Reban telah dijalankan selama ratusan tahun sebagai simbol syukur dan komitmen masyarakat dalam menjaga sumber air yang menjadi tumpuan hidup warga Sambelia dan sekitarnya.

Minggu, 06 Juli 2025

Semangat Panitia Festival Teluk Kayangan Tuai Apresiasi Bupati Lombok Timur

Penyelenggaraan Festival di Teluk Ekas Buana

Okenews.net- Penyelenggaraan Festival Teluk Kayangan yang keempat berhasil menarik perhatian dan apresiasi dari Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, berkat semangat dan kemandirian panitianya dalam menghadapi berbagai keterbatasan. Ungkap Bupati dalam sambutannya saat melepas peserta balap sampan di Teluk Kayangan pada Ahad (06/07/2025)


“Apresiasi dan penghargaan serta kebanggaan kepada panitia. Tidak gampang melaksanakan festival tanpa semangat,” ungkap Bupati.


Balap sampan menjadi salah satu agenda utama dalam Festival Teluk Kayangan tahun ini. Bupati menyebut, kegiatan serupa juga telah digelar di beberapa wilayah nelayan lain di Lombok Timur, namun hingga kini hanya satu yang berhasil masuk dalam kalender pariwisata resmi daerah, yakni di kawasan Ekas.


Melihat potensi wisata maritim di Teluk Kayangan, Pemda Lombok Timur berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan mengembangkan peluang kepariwisataan di wilayah tersebut.


Selain menyoroti kegiatan festival, Bupati juga menyinggung pemanfaatan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) yang berada di kawasan Teluk Kayangan. Ia memastikan bangunan tersebut akan diperuntukkan bagi masyarakat nelayan sekitar dengan skema sewa ringan.


“Pemda tidak akan memungut biaya mahal, yang penting terisi semua,” jelasnya.


Lebih lanjut, Bupati juga mengumumkan rencana pembangunan permukiman baru di beberapa kawasan padat penduduk seperti Masbagik, Sikur, dan Labuhan Lombok. Proyek tersebut akan dilakukan melalui kerja sama antara Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.


Menutup sambutannya, Bupati Haerul Warisin menyampaikan pesan kepada panitia dan masyarakat agar terus menjaga semangat dan konsistensi dalam menyelenggarakan Festival Teluk Kayangan setiap tahunnya.


“Terima kasih yang sudah hadir hari ini, terus berkoordinasi dan bekerja sama,” pesannya.


Festival Teluk Kayangan 2025 dijadwalkan berlangsung hingga 13 Juli mendatang. Selain menonjolkan potensi maritim, festival ini juga menjadi ajang pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui pelibatan UMKM setempat.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi