Polemik Nama Bandara, Ali BD Sebut Hanya Buang-buang Waktu - Okenews.net | PT Bintang Mediaoke Pratama. All rights reserved

Breaking

Halaman

Kamis, 07 Januari 2021

Polemik Nama Bandara, Ali BD Sebut Hanya Buang-buang Waktu

OkeNews.net - Mantan Bupati Lombok Timur Dr H Moch Ali bin Dachlan berharap masyarakat Sasak tidak lagi ribut dan berpolemik soal nama bandara yang berada di Lombok Tengah.

Dr. H Moch Ali Bin Dachlan

"Suku bangsa Sasak sendiri menjunjung tinggi perbedaan. Dalam pepatah Sasak yang cukup populer, lain setuk lain jajak, lain gubuk lain adat" diungkapkan Ali BD saat mengisi materi launching empat buku yang diterbitkan LPPM Universitas Gunung Rinjani (UGR) di Hotel Jayakarta beberapa waktu lalu.


Pada launching yang dihadiri Rektor UNU NTB, Baiq Mulyanah itu, Ali BD mensitir silang pendapat berkenaan dengan dipahlawankannya TGH Zainuddin Abdul Madjid dan dimonumenkan dalam nama bandara. Ia menegaskan bahwa Zainuddin Abdul Majid benar sudah melalui proses sebagai pahlawan.


Dijadikannya seseorang sebagai pahlawan, lanjut Ali, tidak harus mati bertempur di medan peperangan. Ada bidang-bidang tertentu yang intens digeluti yang bisa memahlawankan seseorang. 


Ia menyebut Soekarno merupakan pahlawan di bidang pemikiran, pun terdapat sederet pahlawan dibidang lain yang berperan dalam meletakkan dasar-dasar pembangunan bangsa.


“TGH Zainuddin Abdul Madjid itu pahlawan dengan ribuan sekolah. Dia berjasa. Jangan katakan tak berjasa hanya karena tidak NW. Kalau begini kita tidak siap bernegara,” jelasnya seraya menegaskan kembali agar orang Sasak jangan bertengkar lagi soal nama bandara karena hanya buang-buang waktu.


“Kalau orang Sasak terus seperti ini, orang luar akan tertawa,” lanjut Rektor UGR ini.


Ali BD menilai selama ini orang Lombok sering ribut jika ada tokoh-tokoh di sekitarnya (yang kurang disukai) menonjol dan diajukan dalam jabatan tertentu. Seharusnya yang dikedepankan, kalau orang Sasak ada yang jadi menteri, adalah kebanggaan sebagai suku bangsa Sasak.


“Kapan mulai mendangkalkan kefanatikan pada kelompok?” cetus penulis kumpulan cerpen “Ibuku Sayang” ini. “Jangan memuja kelompok karena kalau itu terjadi, kita ini belum maju,” imbuhnya.


Menurutnya, kalau umat Islam selalu bertengkar maka akan selalu diadu. “Jangan salahkan orang luar kalau kita alami kemunduran,” paparnya.