Di Balik Fantasi Angka 494 Prestasi MAN 1 Lotim: Ada Kepemimpinan Guru SenenG - www.okenews.net

Jumat, 02 Januari 2026

Di Balik Fantasi Angka 494 Prestasi MAN 1 Lotim: Ada Kepemimpinan Guru SenenG

M. Nurul Wathoni (dok/ist)
Ditulis oleh: Hanapi (Penggagas Guru Lauq Indonesia) 

Angka 494 prestasi yang ditorehkan MAN 1 Lombok Timur (Lotim) sepanjang 2025 sekilas tampak seperti statistik keberhasilan yang menakjubkan bahkan fantastis. Namun, jika prestasi hanya dibaca sebagai angka, maka kita sedang menyederhanakan sebuah kerja intelektual, kultural, dan kepemimpinan panjang menjadi sekadar deret numerik. Dalam dunia pendidikan, angka tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan jejak dari proses berpikir, keberanian mengambil keputusan, dan konsistensi dalam memimpin.

Tulisan ini berangkat dari pembacaan penulis terhadap pemberitaan media online yang mengangkat capaian prestasi MAN 1 Lombok Timur sepanjang tahun 2025 sebagai sebuah fenomena yang luar biasa. Media menarasikan capaian ini dengan diksi fantastis dan melampaui ekspektasi, seraya menyebutkan madrasah sebelumnya menetapkan target 360 prestasi, sebuah target yang disusun melalui kalkulasi simbolik satu hari satu prestasi sebagai representasi komitmen institusional terhadap budaya unggul dan produktivitas akademik. Target tersebut pada mulanya diposisikan sebagai standar ambisius namun realistis, yang mencerminkan keseriusan lembaga dalam merancang orientasi prestasi secara terukur.

Namun demikian, fakta empirik yang kemudian terpublikasi menunjukkan bahwa realisasi prestasi MAN 1 Lombok Timur jauh melampaui proyeksi perencanaan awal. Hingga akhir tahun 2025, jumlah prestasi yang berhasil dikoleksi mencapai 494 capaian, sebuah angka yang tidak sekadar menembus batas target, tetapi mengindikasikan adanya daya dorong sistemik yang bekerja melampaui kalkulasi teknokratis. Pada titik ini, angka prestasi tidak lagi dapat dipahami semata sebagai hasil penjumlahan keberhasilan individual, melainkan sebagai refleksi dari dinamika kelembagaan yang lebih dalam—meliputi kepemimpinan, tata kelola, budaya akademik, serta internalisasi nilai kompetitif yang berkelanjutan.

Kondisi inilah yang mendorong penulis untuk menempatkan capaian prestasi tersebut bukan hanya sebagai objek kekaguman publik, sebagaimana direpresentasikan dalam narasi media massa, tetapi sebagai fenomena pendidikan yang layak dibaca secara analitis dan kritis. Media online merekam dan menyebarluaskan hasil akhirnya, tulisan ini berupaya menganalisis lapisan permukaan tersebut dengan menginterpretasi angka 494 sebagai teks sosial dan institusional, penanda bekerja dan matangnya sebuah sistem pendidikan yang telah berhasil mentransformasikan prestasi dari sekadar target kuantitatif menjadi bagian dari peradaban akademik yang terlembagakan.

Prestasi memang lahir dari kerja keras siswa. Bakat, disiplin latihan, dan daya juang peserta didik adalah fondasi utama. Namun, sejarah pendidikan menunjukkan bahwa prestasi kolektif yang berulang dan berkelanjutan hampir selalu berakar pada kepemimpinan yang kuat. Di titik inilah sosok Kepala Madrasah MAN 1 Lotim M. Nurul Wathoni (Guru SenenG, sembeq/julukan) menjadi variabel kunci yang tidak dapat diabaikan.

Konteks ini, prestasi sebagai produk pemikiran, bukan kebetulan. Dalam literatur kepemimpinan pendidikan, sekolah atau madrasah berprestasi jarang lahir dari kebetulan. Hallinger (2011) menegaskan kepala sekolah adalah instructional leader yang menentukan arah mutu pembelajaran dan budaya prestasi. Artinya, prestasi bukan sekadar hasil kompetisi, melainkan produk dari cara berpikir dan cara memimpin.

Guru SenenG dapat diposisikan sebagai sosok pemikir pendidikan, bukan sekadar pelaksana administrasi. Ia membaca prestasi bukan sebagai tujuan sesaat, melainkan sebagai indikator sehatnya proses pendidikan. Cara pandang ini penting, sebab seperti ditegaskan Michael Fullan (2014), Perbaikan berkelanjutan bergantung pada kepemimpinan yang bijaksana, konsisten, dan berlandaskan moral. Keberlanjutan prestasi MAN 1 Lotim dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya kepemimpinan yang tidak reaktif, tetapi reflektif dan terencana.

Sekali lagi, angka 494 menjadi masuk akal ketika dilihat sebagai hasil dari kepemimpinan yang menggerakkan sistem, bukan individu. Guru SenenG membangun madrasah sebagai ekosistem, guru diberi ruang berinovasi, siswa difasilitasi untuk menemukan dan mengasah bakat, serta prestasi dijadikan budaya, bukan proyek sesaat.

Bass dan Riggio (2006) menyebut tipe kepemimpinan semacam ini sebagai transformational leadership, yakni kepemimpinan yang mampu mengubah potensi laten menjadi energi kolektif. Dalam konteks MAN 1 Lotim, energi itu menjelma dalam prestasi yang lahir terus-menerus, lintas bidang dan lintas level kompetisi.

Lebih dari itu, Guru SenenG memperlihatkan apa disebut oleh Sergiovanni (2007) sebagai moral leadership. Ia memimpin dengan nilai, bukan semata instruksi. Ketika nilai keunggulan, disiplin, dan konsistensi hidup dalam diri pemimpin, nilai itu menjalar menjadi etos bersama. Prestasi pun tidak dipaksakan, tetapi tumbuh sebagai kesadaran institusional.

Angka 494 Sebagai Penanda “Peradaban” Akademik

Angka 494 juga tidak dapat direduksi sebagai sekadar agregasi numerik prestasi, melainkan harus dipahami sebagai penanda kematangan peradaban akademik MAN 1 Lombok Timur. Pada level ini, prestasi tidak lagi bersifat kontingen atau incidental, bergantung pada talenta individual atau momentum kompetisi, melainkan telah bertransformasi menjadi hasil sistemik dari ekosistem pendidikan yang terinstitusionalisasi secara kokoh. Dengan demikian, MAN 1 Lotim telah melampaui paradigma achievement-oriented institution menuju culture-driven academic institution, di mana prestasi merupakan konsekuensi inheren dari tata kelola, nilai, dan habitus kelembagaan yang mapan.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan Pierre Bourdieu, capaian tersebut merepresentasikan akumulasi institutionalized cultural capital yang berfungsi sebagai modal simbolik kolektif (Bourdieu, 1986). Modal ini tidak hanya memberikan legitimasi akademik dan sosial terhadap posisi madrasah dalam medan pendidikan, tetapi memiliki daya reproduksi struktural. Ketika modal simbolik telah terlembagakan, maka prestasi tidak lagi bergantung pada aktor individual tertentu. Siswa dapat berganti, arena kompetisi dapat berubah, namun sistem simbolik dan kultural yang telah terbentuk akan terus memproduksi keberhasilan secara berkelanjutan.

Lebih jauh, angka 494 mengindikasikan terbentuknya habitus akademik yang stabil dan produktif, sebuah disposisi kolektif yang menormalisasi kerja keras intelektual, disiplin belajar, etos kompetitif yang sehat, serta orientasi pada keunggulan (excellence orientation). Habitus ini bukanlah produk kebijakan jangka pendek, melainkan hasil dari proses panjang internalisasi nilai, pembiasaan praksis, dan konsistensi kepemimpinan. Ketika habitus telah mengakar, prestasi tidak lagi dipersepsikan sebagai capaian luar biasa, tetapi sebagai konsekuensi logis dari praktik pendidikan sehari-hari.

Di sinilah psosi signifikansi kepemimpinan reflektif dan transformatif, kepemimpinan yang tidak berhenti pada fungsi administratif atau teknokratis, tetapi bekerja pada level epistemik dan kultural. Kepemimpinan semacam ini berorientasi pada pembangunan sistem, bukan sekadar pengelolaan program, pembentukan makna, dan bukan sekadar pencapaian target. Pemimpin tidak harus hadir dalam setiap detail operasional, karena sistem telah bekerja secara otonom melalui mekanisme kelembagaan yang tertata, adaptif, dan berkelanjutan.

Pada sisi yang lain, membaca 494 prestasi semata-mata sebagai manifestasi keunggulan individual siswa merupakan pendekatan yang bersifat reduksionistik dan mengabaikan dimensi struktural pendidikan. Prestasi tersebut adalah hasil dari kepemimpinan intelektual Guru SenenG yang secara sadar dan sistematis menjadikan prestasi sebagai tradisi institusional, bukan sebagai anomali statistik. Dalam kerangka ini, prestasi diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai indikator proses pendidikan dijalankan secara konsisten, reflektif, dan berorientasi pada keberlanjutan mutu.

Sejalan dengan pemikiran John Dewey, pendidikan tidak dapat direduksi menjadi mekanisme persiapan menuju masa depan, melainkan merupakan praktik kehidupan sosial itu sendiri, ruang nilai, pengalaman, dan makna dibentuk secara dialektis dan berkesinambungan (Dewey, 1938). Prestasi MAN 1 Lotim merupakan ekspresi dari kehidupan pendidikan yang dinamis, sebuah proses yang dirancang secara sadar, dipandu oleh visi intelektual, dan dijaga kesinambungannya melalui kebijakan kelembagaan yang konsisten.

Kepemimpinan Sasak sebagai Fondasi Kultural Prestasi

Ditelisik lebih dalam, capaian 494 prestasi MAN 1 Lombok Timur tidak hanya dapat dijelaskan melalui kerangka manajemen modern atau teori kepemimpinan pendidikan kontemporer. Namun penulis juga menilai hal ini berakar kuat pada etos kepemimpinan Sasak yang hidup dan dipraktikkan secara kontekstual. Nilai-nilai seperti wanen (keberanian), terpi (disiplin), teguq (tanggung jawab), beriuk tinjal (gotong royong), dan kupuq (kesetaraan) membentuk fondasi kultural yang memberi makna dan arah bagi praktik kepemimpinan di MAN 1 Lotim. 

Nilai wanen tercermin dalam keberanian kepemimpinan Guru SenenG menetapkan target yang tidak lazim, 360 prestasi dalam satu tahun di tengah realitas madrasah yang sering kali dibebani keterbatasan sumber daya. Keberanian ini bukan bentuk spekulasi, melainkan moral courage dalam istilah kepemimpinan pendidikan yakni keberanian mengambil keputusan strategis berbasis keyakinan bahwa potensi siswa dan guru dapat ditumbuhkan jika difasilitasi secara tepat. Dalam konteks Sasak, wanen tidak identik dengan nekat, tetapi dengan keberanian yang disertai perhitungan dan tanggung jawab sosial. Fakta bahwa capaian akhirnya justru mencapai 494 prestasi menunjukkan bahwa keberanian tersebut bekerja sebagai pemicu energi kolektif, bukan tekanan struktural.

Nilai terpi berperan sebagai penopang keberlanjutan prestasi. Disiplin dalam budaya Sasak bukan semata soal ke-patoh-an (taat), tetapi tentang keteraturan hidup dan konsistensi sikap. Dalam konteks madrasah, terpi menjelma menjadi tata kelola yang rapi, ritme pembinaan yang terjaga, serta standar mutu yang ditegakkan secara konsisten. Tanpa disiplin kolektif semacam ini, prestasi mudah menjadi peristiwa sesaat, bukan tradisi yang berulang.

Lebih dari itu, kepemimpinan Guru SenenG menunjukkan nilai teguq (tanggung jawab) moral dan institusional dalam memaknai prestasi. Prestasi tidak dibiarkan tumbuh tanpa arah, melainkan dikelola sebagai amanah pendidikan. Teguq tercermin dalam kesediaan pemimpin untuk memastikan setiap capaian berakar pada proses yang sehat, pembinaan yang adil, kompetisi yang bermartabat, serta keseimbangan antara prestasi dan pembentukan karakter. Tanggung jawab ini pula yang menjaga agar prestasi tidak menjadi tekanan psikologis bagi siswa, tetapi ruang aktualisasi diri yang manusiawi.

Nilai beriuk tinjal menghidupkan dimensi kolektif prestasi. beriuk tinjal tidak hanya hadir dalam bentuk kerja bersama, tetapi dalam pembagian peran yang saling melengkapi antara kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa, temasuk pembina dan pelatih. Prestasi MAN 1 Lotim bukan milik individu tertentu, melainkan milik komunitas madrasah secara keseluruhan. Dalam kerangka kepemimpinan modern, nilai ini sejalan dengan konsep distribute leadership, yakni kepemimpinan dipraktikkan sebagai kerja kolaboratif. 

Sementara itu, nilai kupuq (kesetaraan) menjadi prinsip etis yang memastikan bahwa ekosistem prestasi bersifat inklusif. Kesempatan berprestasi tidak dimonopoli oleh segelintir siswa unggulan, tetapi dibuka seluas-luasnya bagi seluruh peserta didik sesuai potensi masing-masing. Kupuq juga tercermin dalam relasi yang egaliter antara pemimpin dan warga madrasah, di mana ide, inisiatif, dan kontribusi dihargai tanpa sekat hierarkis yang kaku. Kesetaraan inilah yang memperluas basis prestasi dan memperkuat rasa memiliki terhadap madrasah.

Dengan demikian, kepemimpinan Guru SenenG dapat dibaca sebagai artikulasinya kearifan lokal Sasak dalam praktik kepemimpinan pendidikan modern. Wanen memberi arah visi, terpi menjaga konsistensi, teguq menegaskan tanggung jawab moral, beriuk tinjal menguatkan solidaritas, dan kupuq memastikan keadilan serta inklusivitas. Perpaduan nilai-nilai inilah yang menjelaskan mengapa prestasi MAN 1 Lombok Timur tidak berhenti sebagai lonjakan sesaat, melainkan tumbuh menjadi tradisi akademik yang berkelanjutan. 

Dalam konteks ini, angka 494 tidak sekadar merepresentasikan keberhasilan kuantitatif, tetapi menjadi penanda hidupnya kepemimpinan berbasis kearifan lokal dalam institusi pendidikan formal, sebuah bukti bahwa nilai-nilai budaya Sasak tetap relevan, bahkan strategis, dalam membangun peradaban akademik yang unggul dan berkeadilan.

#Penulis saat ini sedang menyelesaikan Program Doktoral di Universitas Pendidikan Ganesha-Singaraja

 

 


Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments