![]() |
| M. Nurul Wathoni (dok/ist) |
Angka
494 prestasi yang ditorehkan MAN 1 Lombok Timur (Lotim) sepanjang 2025 sekilas tampak
seperti statistik keberhasilan yang menakjubkan bahkan fantastis. Namun, jika
prestasi hanya dibaca sebagai angka, maka kita sedang menyederhanakan sebuah
kerja intelektual, kultural, dan kepemimpinan panjang menjadi sekadar deret
numerik. Dalam dunia pendidikan, angka tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu
merupakan jejak dari proses berpikir, keberanian mengambil keputusan, dan
konsistensi dalam memimpin.
Tulisan ini berangkat dari pembacaan penulis terhadap
pemberitaan media online yang mengangkat capaian prestasi MAN 1 Lombok Timur
sepanjang tahun 2025 sebagai sebuah fenomena yang luar biasa. Media menarasikan
capaian ini dengan diksi fantastis dan melampaui ekspektasi, seraya menyebutkan
madrasah sebelumnya menetapkan target 360 prestasi, sebuah target yang disusun
melalui kalkulasi simbolik satu hari satu prestasi sebagai representasi
komitmen institusional terhadap budaya unggul dan produktivitas akademik.
Target tersebut pada mulanya diposisikan sebagai standar ambisius namun
realistis, yang mencerminkan keseriusan lembaga dalam merancang orientasi
prestasi secara terukur.
Namun demikian, fakta empirik yang kemudian
terpublikasi menunjukkan bahwa realisasi prestasi MAN 1 Lombok Timur jauh
melampaui proyeksi perencanaan awal. Hingga akhir tahun 2025, jumlah prestasi
yang berhasil dikoleksi mencapai 494 capaian, sebuah angka yang tidak sekadar
menembus batas target, tetapi mengindikasikan adanya daya dorong sistemik yang
bekerja melampaui kalkulasi teknokratis. Pada titik ini, angka prestasi tidak
lagi dapat dipahami semata sebagai hasil penjumlahan keberhasilan individual,
melainkan sebagai refleksi dari dinamika kelembagaan yang lebih dalam—meliputi
kepemimpinan, tata kelola, budaya akademik, serta internalisasi nilai
kompetitif yang berkelanjutan.
Kondisi inilah yang mendorong penulis untuk
menempatkan capaian prestasi tersebut bukan hanya sebagai objek kekaguman
publik, sebagaimana direpresentasikan dalam narasi media massa, tetapi sebagai
fenomena pendidikan yang layak dibaca secara analitis dan kritis. Media online
merekam dan menyebarluaskan hasil akhirnya, tulisan ini berupaya menganalisis lapisan
permukaan tersebut dengan menginterpretasi angka 494 sebagai teks sosial dan
institusional, penanda bekerja dan matangnya sebuah sistem pendidikan yang
telah berhasil mentransformasikan prestasi dari sekadar target kuantitatif
menjadi bagian dari peradaban akademik yang terlembagakan.
Prestasi
memang lahir dari kerja keras siswa. Bakat, disiplin latihan, dan daya juang
peserta didik adalah fondasi utama. Namun, sejarah pendidikan menunjukkan bahwa
prestasi kolektif yang berulang dan berkelanjutan hampir selalu berakar pada
kepemimpinan yang kuat. Di titik inilah sosok Kepala Madrasah MAN 1 Lotim M.
Nurul Wathoni (Guru SenenG, sembeq/julukan) menjadi variabel kunci yang
tidak dapat diabaikan.
Konteks
ini, prestasi sebagai produk pemikiran, bukan kebetulan. Dalam literatur
kepemimpinan pendidikan, sekolah atau madrasah berprestasi jarang lahir dari
kebetulan. Hallinger (2011) menegaskan kepala sekolah adalah instructional
leader yang menentukan arah mutu pembelajaran dan budaya prestasi. Artinya,
prestasi bukan sekadar hasil kompetisi, melainkan produk dari cara berpikir dan
cara memimpin.
Guru
SenenG dapat diposisikan sebagai sosok pemikir pendidikan, bukan sekadar
pelaksana administrasi. Ia membaca prestasi bukan sebagai tujuan sesaat,
melainkan sebagai indikator sehatnya proses pendidikan. Cara pandang ini
penting, sebab seperti ditegaskan Michael Fullan (2014), Perbaikan berkelanjutan bergantung pada
kepemimpinan yang bijaksana, konsisten, dan berlandaskan moral. Keberlanjutan prestasi
MAN 1 Lotim dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya kepemimpinan yang
tidak reaktif, tetapi reflektif dan terencana.
Sekali lagi, angka
494 menjadi masuk akal ketika dilihat sebagai hasil dari kepemimpinan yang
menggerakkan sistem, bukan individu. Guru SenenG membangun madrasah sebagai
ekosistem, guru diberi ruang berinovasi, siswa difasilitasi untuk menemukan dan
mengasah bakat, serta prestasi dijadikan budaya, bukan proyek sesaat.
Bass
dan Riggio (2006) menyebut tipe kepemimpinan semacam ini sebagai
transformational leadership, yakni kepemimpinan yang mampu mengubah potensi
laten menjadi energi kolektif. Dalam konteks MAN 1 Lotim, energi itu menjelma
dalam prestasi yang lahir terus-menerus, lintas bidang dan lintas level
kompetisi.
Lebih
dari itu, Guru SenenG memperlihatkan apa disebut oleh Sergiovanni (2007) sebagai moral leadership. Ia memimpin dengan nilai, bukan semata instruksi.
Ketika nilai keunggulan, disiplin, dan konsistensi hidup dalam diri pemimpin,
nilai itu menjalar menjadi etos bersama. Prestasi pun tidak dipaksakan, tetapi
tumbuh sebagai kesadaran institusional.
Angka 494 Sebagai Penanda “Peradaban” Akademik
Angka 494 juga tidak dapat direduksi sebagai sekadar agregasi numerik prestasi,
melainkan harus dipahami sebagai penanda kematangan peradaban akademik MAN 1
Lombok Timur. Pada level ini, prestasi tidak lagi bersifat kontingen atau incidental,
bergantung pada
talenta individual atau momentum kompetisi, melainkan telah bertransformasi menjadi hasil sistemik dari ekosistem
pendidikan yang terinstitusionalisasi secara kokoh. Dengan demikian, MAN 1
Lotim telah melampaui paradigma achievement-oriented institution menuju culture-driven
academic institution, di mana prestasi merupakan konsekuensi inheren dari
tata kelola, nilai, dan habitus kelembagaan yang mapan.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan Pierre Bourdieu, capaian tersebut
merepresentasikan akumulasi institutionalized cultural capital yang
berfungsi sebagai modal simbolik kolektif (Bourdieu, 1986). Modal ini tidak
hanya memberikan legitimasi akademik dan sosial terhadap posisi madrasah dalam
medan pendidikan, tetapi memiliki daya reproduksi struktural. Ketika modal
simbolik telah terlembagakan, maka prestasi tidak lagi bergantung pada aktor
individual tertentu. Siswa dapat berganti, arena kompetisi dapat berubah, namun
sistem simbolik dan kultural yang telah terbentuk akan terus memproduksi
keberhasilan secara berkelanjutan.
Lebih jauh, angka 494 mengindikasikan terbentuknya habitus akademik yang
stabil dan produktif, sebuah disposisi kolektif yang menormalisasi kerja keras intelektual,
disiplin belajar, etos kompetitif yang sehat, serta orientasi pada keunggulan (excellence
orientation). Habitus ini bukanlah produk kebijakan jangka pendek,
melainkan hasil dari proses panjang internalisasi nilai, pembiasaan praksis,
dan konsistensi kepemimpinan. Ketika habitus telah mengakar, prestasi tidak
lagi dipersepsikan sebagai capaian luar biasa, tetapi sebagai konsekuensi logis
dari praktik pendidikan sehari-hari.
Di sinilah psosi signifikansi kepemimpinan reflektif dan
transformatif, kepemimpinan yang tidak berhenti pada fungsi administratif atau
teknokratis, tetapi bekerja pada level epistemik dan kultural. Kepemimpinan
semacam ini berorientasi pada pembangunan sistem, bukan sekadar pengelolaan
program, pembentukan makna, dan bukan sekadar pencapaian target. Pemimpin
tidak harus hadir dalam setiap detail operasional, karena sistem telah bekerja
secara otonom melalui mekanisme kelembagaan yang tertata, adaptif, dan berkelanjutan.
Pada sisi yang lain, membaca 494 prestasi semata-mata sebagai
manifestasi keunggulan individual siswa merupakan pendekatan yang bersifat
reduksionistik dan mengabaikan dimensi struktural pendidikan. Prestasi tersebut
adalah hasil dari kepemimpinan intelektual Guru SenenG yang secara sadar dan
sistematis menjadikan prestasi sebagai tradisi institusional, bukan sebagai
anomali statistik. Dalam kerangka ini, prestasi diposisikan bukan sebagai
tujuan akhir, melainkan sebagai indikator proses pendidikan dijalankan secara
konsisten, reflektif, dan berorientasi pada keberlanjutan mutu.
Sejalan dengan pemikiran John Dewey, pendidikan tidak dapat direduksi
menjadi mekanisme persiapan menuju masa depan, melainkan merupakan praktik
kehidupan sosial itu sendiri, ruang nilai, pengalaman, dan makna dibentuk secara dialektis dan
berkesinambungan (Dewey, 1938). Prestasi MAN 1 Lotim merupakan ekspresi dari
kehidupan pendidikan yang dinamis, sebuah proses yang dirancang secara sadar, dipandu oleh visi
intelektual, dan dijaga kesinambungannya melalui kebijakan kelembagaan yang
konsisten.
Kepemimpinan Sasak sebagai
Fondasi Kultural Prestasi
Ditelisik lebih dalam, capaian 494 prestasi MAN 1 Lombok Timur
tidak hanya dapat dijelaskan melalui kerangka manajemen modern atau teori
kepemimpinan pendidikan kontemporer. Namun penulis juga menilai hal ini berakar
kuat pada etos kepemimpinan Sasak yang hidup dan dipraktikkan secara
kontekstual. Nilai-nilai seperti wanen (keberanian), terpi
(disiplin), teguq (tanggung jawab), beriuk tinjal (gotong
royong), dan kupuq (kesetaraan) membentuk fondasi kultural yang memberi
makna dan arah bagi praktik kepemimpinan di MAN 1 Lotim.
Nilai wanen
tercermin dalam keberanian kepemimpinan Guru SenenG menetapkan target yang
tidak lazim, 360 prestasi dalam satu tahun di tengah realitas madrasah yang
sering kali dibebani keterbatasan sumber daya. Keberanian ini bukan bentuk
spekulasi, melainkan moral courage dalam istilah kepemimpinan pendidikan
yakni keberanian mengambil keputusan strategis berbasis keyakinan bahwa potensi
siswa dan guru dapat ditumbuhkan jika difasilitasi secara tepat. Dalam konteks
Sasak, wanen tidak identik dengan nekat, tetapi dengan keberanian yang
disertai perhitungan dan tanggung jawab sosial. Fakta bahwa capaian akhirnya
justru mencapai 494 prestasi menunjukkan bahwa keberanian tersebut bekerja
sebagai pemicu energi kolektif, bukan tekanan struktural.
Nilai terpi berperan sebagai penopang keberlanjutan prestasi.
Disiplin dalam budaya Sasak bukan semata soal ke-patoh-an (taat), tetapi
tentang keteraturan hidup dan konsistensi sikap. Dalam konteks madrasah, terpi menjelma menjadi tata kelola yang rapi, ritme pembinaan yang terjaga, serta
standar mutu yang ditegakkan secara konsisten. Tanpa disiplin kolektif semacam
ini, prestasi mudah menjadi peristiwa sesaat, bukan tradisi yang berulang.
Lebih dari itu, kepemimpinan Guru SenenG menunjukkan nilai teguq (tanggung jawab) moral dan institusional dalam memaknai prestasi. Prestasi tidak
dibiarkan tumbuh tanpa arah, melainkan dikelola sebagai amanah pendidikan.
Teguq tercermin dalam kesediaan pemimpin untuk memastikan setiap capaian
berakar pada proses yang sehat, pembinaan yang adil, kompetisi yang
bermartabat, serta keseimbangan antara prestasi dan pembentukan karakter.
Tanggung jawab ini pula yang menjaga agar prestasi tidak menjadi tekanan
psikologis bagi siswa, tetapi ruang aktualisasi diri yang manusiawi.
Nilai beriuk tinjal menghidupkan dimensi kolektif prestasi. beriuk tinjal tidak hanya hadir dalam bentuk kerja bersama, tetapi dalam
pembagian peran yang saling melengkapi antara kepala madrasah, guru, tenaga
kependidikan, dan siswa, temasuk pembina dan pelatih. Prestasi MAN 1 Lotim
bukan milik individu tertentu, melainkan milik komunitas madrasah secara
keseluruhan. Dalam kerangka kepemimpinan modern, nilai ini sejalan dengan
konsep distribute leadership, yakni kepemimpinan dipraktikkan sebagai
kerja kolaboratif.
Sementara itu, nilai kupuq (kesetaraan) menjadi prinsip etis yang
memastikan bahwa ekosistem prestasi bersifat inklusif. Kesempatan berprestasi
tidak dimonopoli oleh segelintir siswa unggulan, tetapi dibuka seluas-luasnya
bagi seluruh peserta didik sesuai potensi masing-masing. Kupuq juga
tercermin dalam relasi yang egaliter antara pemimpin dan warga madrasah, di
mana ide, inisiatif, dan kontribusi dihargai tanpa sekat hierarkis yang kaku.
Kesetaraan inilah yang memperluas basis prestasi dan memperkuat rasa memiliki
terhadap madrasah.
Dengan demikian, kepemimpinan Guru SenenG dapat dibaca sebagai
artikulasinya kearifan lokal Sasak dalam praktik kepemimpinan pendidikan
modern. Wanen memberi arah visi, terpi menjaga konsistensi, teguq menegaskan tanggung jawab moral, beriuk tinjal menguatkan solidaritas,
dan kupuq memastikan keadilan serta inklusivitas. Perpaduan nilai-nilai
inilah yang menjelaskan mengapa prestasi MAN 1 Lombok Timur tidak berhenti
sebagai lonjakan sesaat, melainkan tumbuh menjadi tradisi akademik yang
berkelanjutan.
Dalam konteks ini, angka 494 tidak sekadar merepresentasikan
keberhasilan kuantitatif, tetapi menjadi penanda hidupnya kepemimpinan berbasis
kearifan lokal dalam institusi pendidikan formal, sebuah bukti bahwa
nilai-nilai budaya Sasak tetap relevan, bahkan strategis, dalam membangun
peradaban akademik yang unggul dan berkeadilan.
#Penulis saat ini sedang menyelesaikan Program Doktoral di Universitas
Pendidikan Ganesha-Singaraja
.png)
