Aroma Merah Shang Dyah di Laut Sunyi (Episode 03) - www.okenews.net

Senin, 02 Februari 2026

Aroma Merah Shang Dyah di Laut Sunyi (Episode 03)

Ilustrasi: Para nelayan pulang ditunggui istri. Terlihat Shang Dyah dari jauh 
Aroma mistis itu mengalir tanpa rupa; bukan wangi, bukan pula bau; melainkan jejak sunyi yang hanya bisa dikenali oleh ingatan jiwa, hadir pelan seperti doa yang lupa diucapkan namun tiba-tiba terasa menggenang di dada.

Oleh: Am. Pupu 
Guru Muhir_Founder Repok Literasi
Perahu kecil itu meluncur pelan di atas laut pagi. Pe Dirata dan Loq Jinep berdiri berdampingan, tubuh mereka dibalut baju merah; pemberian Shang Diyah; yang kontras namun hangat di bawah cahaya matahari. Warna itu seperti doa yang ikut berlayar, menempel di dada mereka, menguatkan langkah sebelum hari benar-benar terbangun.

Cuaca begitu bersahabat. Angin hanya berbisik lembut, nyaris tak terasa. Lautan terhampar tenang seperti kolam renang, permukaannya memantulkan langit biru pucat tanpa riak berarti. Tak ada gelombang yang tergesa, tak ada awan yang mengancam. Semesta seolah sengaja melambat agar dua nelayan itu bisa bekerja dengan hati yang ringan.

Saat perahu mencapai titik yang mereka kenal baik, jangkar dilepas. Bunyi besinya tenggelam pelan, lalu sunyi kembali merajai. Di atas air yang nyaris diam, jaring ditebar dengan gerak yang terlatih; tidak terburu-buru, tidak ragu. Setiap simpul jaring seakan mengikuti irama napas mereka, jatuh rapi, menyatu dengan ketenangan laut.

Di antara diam dan kerja, ada rasa damai yang mengalir. Seperti keyakinan sederhana bahwa hari ini laut akan ramah, rezeki akan menemukan jalannya, dan baju merah itu; pemberian yang tulus menjadi saksi bisu betapa tenangnya hidup ketika manusia, alam, dan niat baik berjalan searah.

Tanpa mereka sadari, jauh di kedalaman yang tak tersentuh cahaya, Adipati Segara Dalem tengah memandang. Pandangannya yang menembus air dan waktu, tertumbuk pada dua nelayan berbaju merah di atas perahu kecil. Dari kejauhan itu, tercium aroma warna yang amat dikenalnya: aroma lama yang  hangat dan sacral; symbol milik Shang Dyah. Hatinya bergetar pelan; ingatan dan penghormatan berbaur dalam satu tarikan napas samudra.

Dengan isyarat sunyi, Adipati Segara Dalem memerintahkan para punggawanya. Perintah itu mengalir seperti arus yang patuh: ombak ditenangkan, arus bawah laut dihentikan. Laut pun tunduk, menahan geraknya, menjaga perahu kecil itu tetap dalam pelukan damai.

Tak berhenti di situ, ia berkoordinasi dengan para adipati penjaga binatang laut. Pesan disampaikan dari palung ke palung, dari karang ke karang: bahawa hari ini adalah hari penyambutan. Ikan-ikan pun bergerak dalam keteraturan yang tak terlihat, mengikuti irama yang hanya samudra pahami.

Di permukaan, Pe Dirata dan Loq Jinep tetap bekerja. Mereka berdua, tak mengetahui apa-apa. Ketika jaring ditarik, keajaiban terhampar tanpa gaduh: berbagai jenis ikan; berkilau perak, keemasan, dan gelap kebiruan, terperangkap dengan tenang. Tak ada perlawanan yang liar, hanya kepatuhan lembut seolah mereka datang untuk memenuhi takdir hari itu.

Perahu kecil itu pun sarat berkah. Laut tetap tenang seperti semula, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Hanya samudra yang tahu: hari itu, dua nelayan berbaju merah telah berjalan dalam pengawalan yang tak terlihat, disambut oleh seluruh isi laut, karena satu aroma warna yang dikenali dan dihormati sejak lama.

Saat jaring itu benar-benar terangkat dan isi perahu nyaris penuh, Pe Dirata dan Loq Jinep saling berpandangan. Mata mereka berbinar, senyum pecah tanpa aba-aba. Mereka tertawa kecil; tawa orang laut yang biasanya lebih akrab dengan pasrah daripada berlimpah. Terlintas di benak mereka hari-hari sebelumnya, saat pulang dengan jaring ringan, kadang nyaris kosong, kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Tak jarang mereka menyebut laut pelit, sambil tetap menunduk menerima nasib.

Kali ini berbeda. “Hari ini… sungguh tak seperti biasanya,” gumam salah satu, suaranya bergetar.

Mereka pun tak henti-hentinya memuji nama Tuhan. Di sela mengikat hasil tangkapan, di antara tarikan napas dan degup jantung, syukur mengalir spontan; bukan dalam kata yang tinggi, melainkan pujian sederhana yang lahir dari hati nelayan: tentang rezeki, tentang keselamatan, tentang laut yang hari ini begitu murah hati.

Perahu lalu diarahkan ke tepian, mesin dinyalakan pelan, membelah air yang masih tenang. Di sepanjang perjalanan pulang, rasa gembira itu tetap melekat. bukan sekadar karena ikan yang banyak, tetapi karena keyakinan bahwa hari ini mereka benar-benar diperhatikan.

Di dekat pantai, mereka bertemu nelayan lain. Perahu-perahu kecil bersisian, wajah-wajah letih dengan jaring yang tak seberat milik mereka. Ada yang hanya tersenyum tipis, ada yang menghela napas panjang. Saling sapa pun terjadi; sapaan khas orang laut, singkat namun hangat. Tak ada kesombongan, hanya cerita singkat dan tawa ringan.

Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan rendah hati, tetap menyebut nama Tuhan dalam setiap penjelasan. Mereka tahu, laut tak selalu memberi sama rata. Hari ini mereka beruntung; esok bisa saja giliran yang lain.

Dan perahu itu pun terus melaju ke darat, membawa hasil tangkapan, membawa cerita, dan membawa syukur yang tak habis-habis; yakni sebuah kegembiraan sederhana yang akan mereka kenang lama, sebagai hari ketika laut, langit, dan doa bertemu dalam satu perjalanan pulang.

Di pesisir pantai, suasana mulai riuh oleh penantian. Anak-anak berlarian di pasir basah, para orang tua berdiri berderet memandang laut, dan suara ombak kecil bersahutan dengan panggilan nama yang dilemparkan ke cakrawala. Mata-mata menajam ke arah biru, mencari siluet perahu yang dikenali dari jauh. Angin membawa aroma garam dan harap yang tertahan.

Di antara keramaian itu, istri-istri mereka menunggu. Tubuh tegak, tangan saling menggenggam, wajah menyimpan harap yang bercampur cemas. Tak banyak kata terucap. Seribu harap tercurah tanpa suara; tentang keselamatan, tentang rezeki, tentang pulang.

Hanya mata yang berbicara, menengadah ke langit seolah menitipkan pesan yang tak perlu diucapkan.

Dalam diam itu, ingatan berlabuh pada Sang Maha Rahman lan Maha Rahim. Nama-Nya tak selalu dilafalkan, namun hadir penuh di dada. Setiap hembusan napas adalah doa, setiap kedipan mata adalah pengakuan: bahwa laut luas ini ada dalam genggaman-Nya, dan pulang adalah anugerah.

Ketika akhirnya perahu tampak yang mula-mula hanya titik, lalu bentuk; riuh pesisir menghangat. Senyum merekah, langkah dipercepat, dan hati yang semula menahan kini melonggar. Di tepi pantai itu, antara pasir dan air, harap menemukan jawabnya. Bukan lewat kata-kata besar, melainkan lewat tatapan yang bertemu, pelukan yang segera menyusul, dan syukur yang mengalir pelan, yak ubahnya seperti ombak kecil yang setia kembali ke pantai.

Begitu perahu merapat, istri Pe Dirata dan istri Loq Jinep segera bergegas menyambut. Langkah mereka cepat namun tertahan, seperti biasa, antara ingin segera tiba dan takut berharap terlalu tinggi. Di tangan kiri masing-masing tergenggam wadah kecil, wadah yang selama ini akrab dengan kesunyian. Wadah itu tak pernah penuh oleh tangkapan suami mereka; paling sering hanya berisi sedikit ikan yang sekadar cukup untuk membayar hutang solar, itu pun sering kali tak mampu mereka lunasi. Wadah kecil itu menjadi saksi hari-hari panjang menunggu, menawar, dan menahan malu.

Mereka mendekati perahu dengan mata yang menunduk, kebiasaan yang lahir dari seringnya pulang tanpa kabar baik. Namun langkah itu mendadak terhenti. Pandangan mereka terangkat, dan seketika napas tertahan.

Terkejut;
Bukan oleh satu atau dua ekor, melainkan hasil tangkapan yang begitu banyak. Ikan berkilau menumpuk rapi, memenuhi perahu hingga ke bibirnya. Mata mereka membesar, tangan yang memegang wadah kecil mengencang. Sejenak mereka tak berkata apa-apa, seolah takut pemandangan itu menguap jika disapa kata.

Wadah kecil itu kini tampak terlalu kecil untuk kenyataan di hadapan mereka.

Di wajah mereka, harap yang lama terlipat kini terbuka perlahan, bercampur takzim dan syukur yang mengalir tanpa suara. Mata kembali menengadah, kali ini bukan untuk meminta, melainkan untuk mengakui anugerah; bahwa hari ini, laut telah menjawab doa yang selama ini hanya berani disimpan di dada.

Melihat perahu sarat hasil tangkapan itu, masyarakat pesisir segera bergerak. Tanpa komando, tanpa hitungan, tangan-tangan terulur dan kaki-kaki menjejak pasir basah. Gotong royong mengalir begitu saja; seperti kebiasaan lama yang tak perlu diajarkan.

Beberapa orang mendorong dari buritan, yang lain menarik dari haluan, sebagian lagi sigap mengganjal dengan kayu agar perahu tak kembali terseret air. Suara aba-aba bercampur tawa dan seruan pendek, menyatu dengan desah napas dan decit kayu yang bergesekan dengan pasir. Pasir pantai ikut bergerak, berderak pelan, menyambut kerja bersama itu.

Anak-anak menepi sambil bersorak kecil, para perempuan berdiri dekat hasil tangkapan, mata mereka masih tak percaya. Perahu didorong perlahan, lalu mantap, hingga akhirnya naik ke atas, aman dari jangkauan ombak. Ketika kayu lunas berhenti bergerak, kelegaan pun menyebar—seperti napas panjang yang dilepas bersama.

Di tepi pantai itu, kebersamaan terasa nyata. Bukan hanya karena ikan yang banyak, tetapi karena hari itu rezeki dirayakan bersama. Tak ada yang berdiri sendiri; semua bahu bersentuhan, semua tangan berperan. Dan laut pun, dari kejauhan, tetap tenang; seolah ikut menyaksikan bagaimana syukur menjelma gotong royong, menguatkan satu sama lain di pasir yang sama.

Begitu perahu benar-benar aman di atas pasir, Pe Dirata menepuk lambung sampan sambil tertawa lega. Ia menoleh ke kerumunan yang masih riuh.

Eh, jangan ada yang pulang dulu!” serunya lantang.
“Ambil-ambil dulu ikannya… menciroq!”
Loq Jinep ikut menyahut, suaranya kalah oleh gelak tawa,
“Iya, iya… sesuai adat pantai kita. Tadi sudah bantu dorong, masa pulang tangan kosong?”
“Ah, Pe Dirata, ini banyak sekali! Kami malu ambilnya,” sahut seorang nelayan lain sambil tersenyum.
“Malu apa?” jawab Pe Dirata cepat.
Kalau tidak diambil, justru kami yang malu. Tradisi itu janji, bukan sekadar ikan.”
“Ambil secukupnya,” tambah Loq Jinep sambil menunjuk keranjang.
“Buat lauk rumah, buat anak-anak. Jangan pilih-pilih, semua rezeki sama.”

Suasana pun makin ramai.
“Aku ambil dua ekor saja ya!”
“Ambil tiga, biar sekalian!”
“Eh, ini yang besar boleh?”
“Boleh! Asal jangan bawa perahunya sekalian!”
Tawa pecah.

Tangan-tangan bergerak, ikan berpindah dari perahu ke wadah-wadah kecil, ke ember, ke kain yang dilipat. Anak-anak bersorak saat melihat sisik berkilau, para ibu saling bercanda sambil menghitung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tradisi menciroq hidup kembali—bukan sebagai kewajiban kaku, melainkan sebagai ikatan rasa. Ikan bukan sekadar imbalan, melainkan tanda terima kasih, pengakuan atas tenaga, dan cara berbagi bahagia.

Pe Dirata dan Loq Jinep saling pandang, senyum mereka tenang. Hari itu, rezeki tak berhenti di perahu. Ia mengalir ke banyak tangan, menjelma suara riuh, tawa, dan rasa cukup di pesisir pantai.

Sore mulai turun ketika Pe Dirata dan Loq Jinep melangkah pulang. Di kiri kanan mereka, istri-istri setia mendampingi, wajah yang sejak pagi menyimpan cemas kini berubah terang oleh senyum yang tak putus. Dua orang anak berjalan di depan, kadang berlari kecil, kadang menoleh ke belakang memastikan ayah mereka benar-benar ada di sana.

Langkah-langkah itu ringan, seolah beban hari-hari sebelumnya tertinggal di pasir pantai. Ember kecil berisi ikan bergoyang pelan, berkilau setiap kali terkena cahaya senja. Anak-anak tertawa riang, saling menunjuk ikan sambil bertanya dengan mata berbinar—pertanyaan yang biasanya hanya berujung diam, kini dijawab dengan canda dan janji.

Di sepanjang jalan, sapaan bersahut-sahutan.
“Pulang awal hari ini!”
“Rezekinya laut hari ini ramah!”
Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan anggukan dan senyum, menyelipkan pujian pada Tuhan di sela percakapan, sederhana dan jujur.

Sesampainya di rumah, halaman kecil terasa lebih luas dari biasanya. Kegembiraan mengisi ruang—bukan karena kemewahan, melainkan karena cukup. Anak-anak duduk dekat pintu, istri menata ikan dengan hati-hati, dan kedua nelayan itu menarik napas panjang, saling bertukar pandang penuh makna.

Hari itu mereka pulang bersama, bukan hanya membawa hasil laut, tetapi membawa harapan yang hidup, tawa yang menghangatkan, dan keyakinan baru bahwa esok—apa pun yang datang—akan mereka hadapi sebagai keluarga, dengan hati yang lebih tenang.

Mereka tak sepenuhnya memahami bagaimana hari itu berubah menjadi begitu murah hati. Tak ada tanda yang berbeda, tak ada jaring baru, tak ada hitungan yang diubah. Yang ada hanya laut yang tenang dan doa yang biasa—namun hasilnya jauh dari kebiasaan. Mereka pun memilih diam, menyimpan keheranan itu dalam rasa syukur yang sederhana.

Di sisi lain, istri-istri mereka mulai sibuk membersihkan ikan. Sisik berkilau diterpa cahaya sore, pisau bergerak cepat, ember demi ember terisi. Namun jumlahnya terlalu banyak untuk dua pasang tangan. Tawa kecil bercampur helaan napas terdengar—kewalahan, namun bahagia.

Akhirnya, salah satu dari mereka memanggil seorang wanita paruh baya yang tinggal tak jauh dari pesisir. Perempuan itu datang dengan langkah tenang dan senyum paham, seolah mengerti bahwa hari ini bukan hari biasa. Mereka bekerja bersama, tanpa banyak tanya, membiarkan tangan yang berbagi menyelesaikan apa yang tak sanggup dikerjakan sendiri.

Dan sore itu pun menutup kisahnya dengan lembut. Di tepi pantai, di antara ikan yang bersih dan hati yang lapang, semua kembali pada satu pengakuan sunyi: ada hal-hal yang tak perlu dipahami sepenuhnya—cukup diterima dengan syukur. Bersambung pekan depan (episode 04).

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments