Tradisi Nyelamet Dowong di Lotim, Ikhtiar Warga Jaga Padi dan Dukung Swasembada Pangan - www.okenews.net

Selasa, 03 Februari 2026

Tradisi Nyelamet Dowong di Lotim, Ikhtiar Warga Jaga Padi dan Dukung Swasembada Pangan

Ritual Adat Nyelamet Dowong

Okenews.net- Masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar tradisi adat Nyelamet Dowong, sebuah ritual tahunan yang sarat makna sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar menjaga tanaman padi dari serangan hama menjelang masa panen.

Tradisi ini diawali dengan iring-iringan puluhan perempuan yang membawa Tembolaq, baki tradisional khas Sasak berisi hasil bumi, nasi, ketupat, serta aneka kue tradisional Lombok. Tembolaq tersebut dibawa dari area masjid menuju makam leluhur untuk pelaksanaan zikir, doa bersama, serta pengambilan air suci di mata air Merta Sari.

Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet, menjelaskan bahwa Nyelamet Dowong merupakan warisan leluhur yang wajib dilaksanakan setiap tahun saat padi berusia sekitar satu bulan.

“Upacara adat ini selalu dilakukan sebelum panen. Tujuannya untuk menyelamatkan padi dari hama dan memohon hasil panen yang baik,” ujarnya, Senin (02/02/2026).

Rangkaian ritual berlangsung selama dua hari. Pada hari Jumat, warga melakukan pembersihan makam para leluhur. Ritual dilanjutkan pada hari Minggu dengan prosesi pemotongan ayam di satu lokasi khusus.

“Pemotongan ayam ini memiliki filosofi agar penyakit tidak menyebar. Darah ayam dialirkan ke daun bambu, yang sejak dulu dimanfaatkan sebagai pestisida alami,” jelas Lalu Selamet.

Daun bambu yang telah terkena darah ayam tersebut kemudian diletakkan di tengah sawah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, aroma amis darah ayam akan menarik hama, sehingga hama tersebut mati secara alami tanpa bahan kimia.

Selain itu, air suci dari mata air Merta Sari dialirkan ke area persawahan. Air tersebut diyakini membantu membersihkan sisa hama yang telah mati sekaligus membawa berkah bagi tanaman padi.

“Intinya, tradisi ini adalah wujud rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar panen melimpah, sekaligus mendukung cita-cita swasembada pangan,” pungkasnya.

Antusiasme warga juga terlihat dari partisipasi aktif masyarakat. Salah seorang warga, Amaq Muslihin, mengaku dengan sukarela menyediakan berbagai hidangan untuk dinikmati bersama.

“Kami menyiapkan makanan secara swadaya untuk dinikmati bersama. Apalagi padi saya sudah mulai menguning, semoga setelah doa bersama ini hasil panen semakin baik,” katanya.

Tradisi Nyelamet Dowong tidak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga mencerminkan keharmonisan masyarakat Lombok Timur dalam menjaga alam, budaya, dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments