Dyah Ayu Anjani: Di Antara Awan dan Sunyi (Episode 01) - www.okenews.net

Minggu, 18 Januari 2026

Dyah Ayu Anjani: Di Antara Awan dan Sunyi (Episode 01)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI
ALAM sebagai kanvas sunyi tempat imajinasi belajar bernapas, setiap desir angin menjadi bisikan cerita, setiap riak air menjelma menjadi gagasan, dan setiap bayangan pepohonan mengajak pikiran melampaui batas nyata menuju dunia yang hanya dapat disentuh oleh rasa.

Penulis: Am. Pupu

Am. Pupu alias Guru Muhir
Istana Raja Taun tidak berdiri di atas tanah sebagaimana bangunan manusia, melainkan menggantung di antara langit dan keheningan. Awan-awan tebal melingkupinya siang dan malam, berlapis-lapis seperti tirai yang sengaja diturunkan oleh alam untuk menyembunyikan rahasia yang terlalu agung bagi mata biasa. Dari kejauhan, puncak Rinjani tampak sunyi dan kosong, seolah tak pernah disentuh kehidupan. Namun bagi mereka yang peka, batinnya terbuka oleh doa atau luka panjang perjalanan jiwa, istana itu dapat dirasakan lalu hadir tanpa rupa serta nyata tanpa wujud.

Udara di sekeliling istana terasa dingin dan berat, seakan menyimpan bisikan zaman purba. Pada setiap hembusan angin hadir gema langkah-langkah yang tak kasatmata, suara kain sutra yang terseret pelan, serta denting logam halus yang tak pernah benar-benar terdengar. Waktu berjalan berbeda di sana. Detik-detik meregang terasa panjang, sementara kenangan berjatuhan seperti abu dupa. Manusia yang mendekat tanpa izin akan merasakan dada mengencang dan langkah yang goyah, seolah ada kekuatan tak terlihat yang memintanya berpaling.

Dinding-dinding istana memantulkan cahaya samar yang bukan berasal dari matahari maupun bulan. Cahaya itu hidup. Sesekali berubah warna mengikuti getar niat siapa pun yang berada di dalamnya. Aula-aula luas terbentang sunyi, dijaga bayang-bayang para Rekyan Patih yang setia pada sumpah lama. Mereka hadir tanpa suara, tanpa usia, menatap dengan mata yang seolah menembus masa lalu dan masa depan sekaligus.

Keangkeran istana bukanlah ancaman, melainkan peringatan. Ia menguji siapa pun yang datang. Apakah langkahnya digerakkan keserakahan atau kesadaran jiwa. Hanya mereka yang terpilih seperti para pertapa, penjaga warisan leluhur, atau jiwa-jiwa yang dipanggil takdir yang dapat melihat gerbangnya terbuka perlahan dari lipatan awan. Bagi yang lainnya, istana itu akan tetap menjadi mitos, cerita bisik-bisik di bawah api unggun, atau rasa ganjil yang tertinggal di dada saat memandang puncak Rinjani terlalu lama. Di sanalah, dalam sunyi yang menggetarkan, istana Raja Taun terus berdiri. Angker, misterius, dan setia menjaga rahasia dunia yang belum siap diketahui manusia.

Di balik tirai awan yang menggantung rendah, halaman belakang istana berdenyut oleh kesibukan yang tertahan. Beberapa sosok bergerak dalam diam, menjalankan tugas masing-masing tanpa perlu aba-aba. Ada yang menyapu permukaan batu hitam yang selalu basah oleh embun abadi, gerakannya perlahan namun pasti, seolah setiap sapuan adalah bagian dari doa. Ada pula yang merawat pusaka-pusaka tua di bawah naungan pohon berdaun perak, membersihkan bilah dan gagang dengan ramuan yang hanya dikenal para penjaga istana. Di sudut lain, asap tipis mengepul dari tungku batu, pertanda ritual kecil sedang dilakukan, menjaga keseimbangan agar istana tetap terikat pada kehendak Raja Taun.

Tak satu pun dari mereka berbicara. Kesunyian menjadi bahasa bersama, karena di tempat itu suara dapat membangunkan hal-hal yang tak seharusnya terjaga. Namun di balik ketenangan gerak, tersimpan kewaspadaan yang rapat. Mata mereka sesekali menoleh ke arah gerbang depan, seakan merasakan getaran yang belum menjelma peristiwa.

Sementara itu, di hadapan gerbang utama istana, suasana jauh berbeda. Para prajurit penjaga berdiri berderet, tubuh tegak bagai patung batu, namun urat-urat tangan mereka menegang. Senjata telah siap pakai. Tombak bermata cahaya suram, keris pendek terselip di pinggang, dan perisai berukir tanda-tanda kuno yang berdenyut pelan mengikuti napas pemiliknya. Awan di sekitar gerbang tampak lebih tebal, berputar perlahan seperti pusaran yang menunggu perintah.

Tak ada teriakan komando, tak pula tanda bahaya yang kasatmata. Namun semua tahu, istana berada dalam keadaan siaga satu. Setiap langkah asing akan terasa bahkan sebelum menjejak tanah. Setiap niat buruk akan tercium lebih dahulu oleh angin. Para prajurit menatap lurus ke depan, ke arah kehampaan yang bagi mata manusia biasa tampak kosong. Padahal di sanalah batas antara dunia yang diizinkan dan dunia yang harus ditolak.Di antara detak jantung istana dan bisikan awan, satu keyakinan mengikat mereka semua, apa pun yang akan datang, istana Raja Taun tidak akan jatuh tanpa perlawanan.

Aula utama istana terbentang luas dalam keheningan yang nyaris sakral. Langit-langitnya menjulang tinggi, lenyap dalam bayang-bayang, seolah tak pernah benar-benar berakhir. Cahaya redup menyusup dari celah-celah dinding, memantul lembut pada aneka lukisan tua yang berjajar rapi, ada kisah-kisah zaman lampau terbingkai dalam warna yang telah memudar, namun auranya tetap hidup. Pada setiap kanvas tergambar perjalanan Raja Taun, perjanjian dengan alam, serta wajah-wajah leluhur yang menatap keluar dari waktu, menunggu untuk dikenang kembali.

Meja-meja panjang dari kayu hitam berurat perak tersusun di sisi aula, permukaannya halus oleh usia dan sentuhan tangan-tangan setia. Kursi-kursi berukir duduk membisu, kaki-kakinya kokoh menjejak lantai batu yang dingin. Aneka perabot antik seperti peti pusaka, lemari tinggi berlapis ukiran halus, serta lampu-lampu gantung dari logam tua, mengisi ruang tanpa kesan berlebih, seolah setiap benda tahu batas keberadaannya. Di bawah semuanya, karpet-karpet tebal terbentang, motifnya rumit dan sarat simbol, meredam setiap langkah hingga gema pun enggan terdengar.

Di ujung aula, singgasana Raja Taun berdiri megah namun ditinggalkan. Tahta itu terbuat dari batu dan logam yang tak dikenal manusia, memancarkan wibawa yang tak luntur oleh waktu. Di pojok kanan singgasana, tersusun aneka bunga segar dan hiasan alam, kelopak-kelopak putih, merah, dan ungu yang menguarkan aroma lembut, dedaunan hijau gelap yang masih basah oleh embun, serta rangkaian anyaman kecil sebagai penanda penghormatan. Tak satu pun bunga layu yang seakan-akan waktu memilih berhenti di sudut itu, menunggu sang pemilik takhta kembali.

Namun aula itu kosong. Sepi. Tak ada langkah kaki, tak ada suara napas, hanya detak halus yang entah berasal dari jantung istana atau dari ingatan masa lalu. Keheningan menggantung tebal, menekan namun tidak mengancam, seperti doa yang belum selesai diucapkan. Aula istana menunggu. Menunggu Raja Taun, menunggu Shang Dyah, atau menunggu sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Di bawah payung langit Kerajaan Taun, ketika kabut pagi masih menggantung di antara puncak dan lembah, berdirilah para pembantu agung Raja Taun. Mereka yang disebut Rekhyan Patih, penjaga keseimbangan semesta kerajaan. Mereka bukan sekadar pejabat istana, melainkan titisan kehendak alam yang hidup, berdenyut, dan bernapas bersama tanah Taun itu sendiri.

Rekhyan Patih Tirta adalah yang pertama disebut dalam doa-doa rakyat. Ia menguasai air, sumber kehidupan sekaligus murka alam. Sungai, danau, hujan, hingga embun pagi tunduk pada isyarat tangannya. Di bawah komandonya berdiri pasukan rahasia dengan sandi kuno: Belabur Bukit dan Belabur Gunung; yakni pasukan yang muncul dan lenyap secepat aliran air yang menyusup celah batu. Mereka menjaga jalur air, bendungan alami, dan mata air suci agar tak jatuh ke tangan yang serakah. Konon, bila Tirta murka, sungai akan meluap tanpa hujan, dan bila ia berbelas kasih, tanah kering pun akan kembali basah oleh kehidupan.

Di jantung bumi, bekerja tanpa sorak puja, berdirilah Rekhyan Patih Mangku Gumi. Ia adalah penjaga keseimbangan unsur hara, penentu kesuburan ladang dan kekuatan tanah. Dengan laku tapa yang sunyi, ia mendengar bisikan bumi. Retakan kecil, getar halus, dan keluh kesah tanah yang kelelahan. Bila keseimbangan terganggu, Mangku Gumi akan mengembalikannya, menenun ulang harmoni antara manusia dan bumi agar panen tetap datang tepat waktu dan tanah tidak menuntut balas.

Lebih dalam lagi, di wilayah yang tak tersentuh mata manusia, Rekhyan Patih Getih Gatah memikul amanah yang jarang dipahami. Ia bertanggung jawab atas seluruh makhluk yang hidup di dalam tanah seperti cacing, akar, serangga, dan roh-roh kecil penjaga bumi. Getih Gatah percaya bahwa denyut kehidupan sejati bermula dari bawah pijakan kaki manusia. Jika makhluk tanah terluka, maka permukaan pun akan runtuh. Maka ia menjaga agar kehidupan yang tersembunyi tetap lestari, agar darah bumi, getih gatah tetap mengalir hangat.

Sementara itu, di atas segalanya, melintasi lembah dan puncak, bersemayamlah Rekhyan Patih Bayu Urip, pengendali angin. Nafasnya adalah hembusan semilir, amarahnya adalah badai. Bayu Urip membawa pesan kerajaan ke empat penjuru mata angun, menggerakkan awan, dan menjaga agar udara tetap hidup. Ia tahu kapan angin harus menenangkan perahu nelayan, dan kapan harus menghalau wabah dari perbatasan kerajaan.

Di batas hijau yang menjadi benteng alami kerajaan, berdiri tegak Rekhyan Patih Mangku Alas, penjaga hutan. Ia melindungi rimba tua yang menyimpan rahasia leluhur dan makhluk-makhluk gaib. Di bawah pengawasannya, hutan hadir bukan sekadar kayu dan daun, melainkan perisai hidup kerajaan. Setiap pohon yang tumbang tanpa izin menghadirkan pertanda, dan setiap langkah serakah berujung pada sunyi yang menyesatkan.

Sementara itu, untuk mengikat seluruh penjagaan agar tetap selaras, berkeliling tanpa henti Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani. Ia ditugaskan memantau setiap sudut wilayah kerajaan sebagai mata dan telinga Raja Taun. Dengan kecantikan yang tenang dan kewaspadaan seorang ksatria, Dewi Anjani menjelajah darat, air, hutan, hingga langit. Melalui pengawasannya, sumpah para Rekhyan Patih tetap terjaga, dan bila muncul celah pengkhianatan atau ancaman asing, dialah yang pertama kali merasakannya.

Demikianlah Kerajaan Taun berdiri, bukan hanya oleh kekuasaan Raja, tetapi oleh kesetiaan para penjaga alam. Selama mereka tetap selaras, Taun akan abadi. Namun para tetua berbisik, bila satu saja dari mereka goyah, maka alam sendiri yang akan menulis babak terakhir kerajaan itu. Tanda itu tidak pernah diumumkan dengan genderang atau panji kerajaan. Ia datang senyap, nyaris seperti kesalahan alam. Orang-orang menyebutnya Ketumbuk yakni hari ketika matahari berdiri tepat di puncaknya, dan bayangan kehilangan keberadaannya. Bumi seakan dilucuti dari penanda waktu yakni tiang, manusia, bahkan menara istana berdiri tanpa jejak gelap di kaki mereka.

Hanya sedikit yang memahami maknanya. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Ketumbuk bukan sekadar peristiwa langit, melainkan isyarat Sang Prabu Raja Taun telah menjadwalkan kedatangannya untuk inspeksi rutin atas negeri-negeri taklukannya. Rahasia itu pernah dibisikkan Rekhayan Patih Ander Geni pada suatu senja yang asin oleh uap samudra. Saat itu mereka berada di atas geladak kapal badai, ketika langit dan laut nyaris tak memiliki bStas. Shang Dyah berdiri di samping sang patih, jubahnya berkibar liar, sementara di kejauhan pasukan badai baru saja mereka kawal menembus arus ganas atas undangan kehormatan dari Senopati Tirta Segara, penguasa laut dalam.

Ketumbuk itu… kapan datangnya?” suara Shang Dyah nyaris tenggelam oleh deru angin. Ander Geni tidak langsung menjawab. Ia menatap cakrawala, tempat matahari seakan menggantung tanpa arah. Lalu, dengan nada yang hanya cukup untuk satu jiwa, ia membalas. “Ketika matahari tak lagi memberi bayangan." Saat itu, Sang Prabu sudah menyiapkan langkahnya. “Itu berarti…. ” Shang Dyah menahan kata-katanya. “Ia akan hadir,” potong Ander Geni pelan. “Bukan untuk disambut, tapi untuk menilai.”

Percakapan itu seharusnya berakhir di antara desir ombak dan rahasia. Namun Patih Bayu, yang baru saja kembali dari buritan setelah memastikan pasukan badai tertib, tanpa sengaja melambatkan langkahnya. Angin membawa sisa kalimat itu kepadanya; terpotong, samar, tapi cukup jelas untuk membuat dadanya mengeras. “Hari tanpa bayangan…” gumam Bayu dalam hati.

Ia tidak berani menoleh, tidak pula menyela. Tetapi sejak saat itu, setiap kali matahari meninggi dan bayangannya memendek, Patih Bayu tahu: negeri ini sedang dihitung waktunya. Dan Ketumbuk, yang selama ini dianggap keanehan langit, kini menjelma menjadi penanda takdir; datangnya Sang Prabu Raja Taun, tepat ketika bayangan pun memilih menghilang.

Menjelang senja, ketika angin mulai berjalan lebih pelan seolah menimbang rahasianya sendiri, Rekhyan Patih Bayu Urip diam sejenak di punggung bukit, lalu mencatat sesuatu dengan goresan halus pada ujung ikat pinggangnya—sebuah pertanda yang hanya ia pahami, lahir dari getar udara yang tak lazim dan bisikan arah angin yang berbelok dari kodratnya. 

Ia tidak mengucap apa pun, sebab angin mengajarkannya bahwa ada firasat yang lebih aman disimpan daripada diumumkan. Jauh di sisi lain Kerajaan Taun, tanpa tanda dan tanpa suara, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti melangkah, dadanya bergetar oleh rasa asing yang tak terlihat, seakan alam sendiri menyentuh batinnya dan memanggilnya seorang diri, membuka jalan sunyi menuju kisah berikutnya, yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar mendengar denyut dunia.

#Bersambung Episode 02 pekan depan. 

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments