Pupuk Langka, Petani Resah - Okenews.net | PT Bintang Mediaoke Pratama. All rights reserved

Breaking

Halaman

Minggu, 17 Januari 2021

Pupuk Langka, Petani Resah

OkeNews.net - Kelangkaan pupuk bersubsidi maupun non subaidi khususnya jenis urea membuat petani resah termasuk di Kecamatan Sakra Timur. Kondisi ini menimbulkan spekulasi dan dugaan ada permainan oknum dan kalangan tertentu.


Menanggapi hal itu, Ketua Tim Verifikasi dan Pengawas Pupuk di UPP Kecamatan Sakra Timur, Siti Sriwiharti, SP menegaskan tidak ada permainan itu. Kelangkaan pupuk bersubsidi itu disebabkan oleh beberapa faktor.


Disebutkan, faktor pertama adalah pemangkasan jatah pupuk dari pemerintah pusat yang semulanya 250kg/hektar menjadi 150kg/hektar. Tentu ini menjadi permasalahan yang cukup serius dikarenakan tingkat minat menanam komuditi padi pada tahun ini  masih tinggi.


Faktor lain, pendistribusian pupuk yang terlambat, penyelesaian elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK) yang cukup lambat, dan juga jumlah personel pendistribusian menjadi faktor keterlambatannya pendistribusian. 


Faktor lain kata dia, tidak masuknya semua data petani pada pengunggahan di E-RDKK. "Kami sudah bekerja optimal dalam pengunggahan data tersebut, namun memang tidak semua nama petani tercover saat itu, karena human error, ini juga menjadi pemicu kenaikan harga di lapangan," paparnya, Ahad (17/01/2021).


Bayangkan saja, jika seluruh kelompok tani yang ada di Lombok Timur meminta pendistribusian secara bersamaan, namun personel ataupun tenaga yang ada di gudang sangat minim sehingga membuat mereka kualahan," imbuhnya.


Faktor berikutnya, kata dia, karena kebutuhan pupuk secara bersamaan. Tingginya itensitas hujan pada akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021 membuat melimpahnya air sehingga para petani sangat berantusias menanam padi.


Hal itu berdampak pada kebutuhan pupuk yang serempak, para petani berbondong-bondong memborong pupuk sehingga sebagian petani tidak mendapatkan pupuk, ini juga menjadi pemicu kenaikan harga di lapangan.


Ia juga mengakui terjadinya kelangkaan pada pupuk non-subsidi. Hal itu karena belum ada pendistribusian dari pihak terkait. "Ada memang yang menjual, tapi harganya cukup tinggi," ungkapnya.  


Untuk itu, ke depan pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin supaya kelangkaan pupuk tidak akan terjadi lagi. "Kami akan mengevaluasi, mengkaji data, serta berkoordinasi dengan pemerintah untuk petani di Sakra Timur agar situasinya lebih baik," ungkapnya.


#Jurnalis: Raman Hakiki | Editor: Am. Aliya