Makna al-Fithrah dalam Teologi Ma'rifat (Menyelami Kesadaran Bathin) - www.okenews.net | selalu oke di hati | All rights reserved

Breaking

Halaman

Sabtu, 15 Mei 2021

Makna al-Fithrah dalam Teologi Ma'rifat (Menyelami Kesadaran Bathin)

OLEH: AHYAR ROSYIDI (Pengajar di STIT NU Almahsuni Lombok Timur)




Lā haula wa lā quwwata  illā billāhil 'aliyyil azhīmi


Menyelami akan kesadaran diri adalah perjalanan dalam melintasi alam bathin dan pikiran yang merupakan suatu proses pengembalian manusia pada titik fungsinya, kesadaran juga pada intinya adalah untuk mengembalikan manusia kedalam kesucian primordial (al-Fithrah). Saat dimana sang Maha Esa menghadirkan diri-Nya secara lansung di dalam hati manusia dan melantunkan simponi abadi dalam keselarasan prasaan, akal pikiran dan keindahan dari keselarasan tingkahlaku manusia yang agung.


Oleh sebab itu, dalam teologi ma'rifat untuk menempuh suatu Kesadaran yang hakiki, haruslah seseorang itu  meniadakan wujud perilaku dirinya, bahwa tiada daya dan upaya kita melainkan atas kuasa Tuhan, bahwa segala gerak dalam diri kita tak lepas dari Kehendak-Nya. Pada kenyataan ini, manusia itu benar-benar dalam keadaan fakir miskin dalam segala perbuatan, fakir dalam segala yang ia miliki. Maka dengan demikian, manusia itu berhak mendapatkan belas kasihan dari Sang Maha Pencipta.


Namun dilain sisi, seseorang yang telah diambang ke-Tuhanan itu akan sulit menemukan titik kesadaran, karena pemahaman yang sudah mendarah daging dan mengental. Artinya tiada siapapun yang berkehendak atas dirinya melainkan dirinya, tiada kuasa atas dirinya melainkan ia jua. Maka, timbul jadinya seseorang semaumaunya dan lepas semua sifat haram pada dirinya. Manusia yang ditempatkan dihatinya dengan penuh rasa kaya, dan segala yang terjadi lantaran ia maka inilah gerbangnya keserakahan, kesombongan, iri dengki, dan lainnya.


Meletakkan manusia dalam kepatuhan, kerendahan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan akan hilangkan keangkuhan, hilang kesombongan, hilang pula sifat iri, dengki dan mencerminkan manusia yang menjadi sisi lain dari keindahan al-Qur'an yang suci.


Keberadaan al-Qur'an juga dalam mengembalikan kesadaran manusia itu sendiri (al-Fithrah), melewati segala bentuk perintah dan larangan Tuhan di dalamnya. Selain itu bahwa alam semesta juga adalah Kalam Illahi dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Kesadaran ini diperkuat dengan tata cara perilaku yang secara naluriyah mengembalikan pada keadaan primordialnya yang tergambar dari untaian bahasa Al-Quran.


Dengan demikian, rahasia dari kesadaran itu tak lain adalah menyadari adanya segala bentuk kehidupan itu karena adanya Zat yang maha berkuasa atas segala sesuatu, demikian pula ragam aneka warna dalam rupa, keinginan dan perilaku hidupnya kita juga tak lepas dari kuasaNya. Dengan demikian, Dia yang berdiri sendiri dalam ramainya kehidupan dan mengajarkan manuisia dalam melestarikan kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.


Demikian juga halnya, kesadaran itu merupakan keadaan ruh yang dimanifestasikan dalam rasa di hati sanubari manusia dan memancarkan cahaya ke dalam alam pikiran dan perilaku manusia, hingga segala bentuk tingkahlaku bermula dari alam pikiran, kemudian pikiran pun bermula dari keadaan hati sanubari, dan segala yang muncul dari keadaan hati itu dari pada keadaan rasa atau ruh yang menjadi jasad daripadanya rahasia dan rahasia menjadi tempat mahligai Tuhan Yang Agung yang menjadi sumber af'al (perbuatan) manusia. Wallahu'alam.