www.okenews.net: Adat
Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2026

Bupati Lotim Puji Sambelia, Alam Terjaga di Tengah Ancaman Kekeringan

Okenews.net – Di tengah ancaman kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Lombok Timur, Desa Sambelia masih dianugerahi aliran sungai yang mengalir sepanjang musim. Kondisi ini mendapat perhatian Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, saat menghadiri tradisi Gawe Adat Selametan Otak Reban, Senin (19/10/2026).

Bupati menilai, keberadaan sumber air yang tetap terjaga menjadi berkah bagi masyarakat Sambelia. Menurutnya, kondisi tersebut patut disyukuri sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam.

Ia membandingkan kondisi Sambelia dengan hampir 11 kecamatan lain di Lombok Timur yang tengah menghadapi kekeringan. Bagi Bupati, terjaganya lingkungan di Sambelia menjadi salah satu hal penting yang perlu dipertahankan, termasuk melalui kepedulian masyarakat dalam menjaga pepohonan dan tidak melakukan perusakan alam secara liar.

“Ini merupakan keberkahan yang harus kita syukuri bersama. Alam yang terjaga akan memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar tradisi adat, Selametan Otak Reban juga menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus menyampaikan harapan masyarakat kepada pemerintah daerah.

Bupati menegaskan, pemerintah harus terbuka terhadap aspirasi dan keluhan warga. Ia berharap masyarakat maupun para kepala desa tidak ragu menyampaikan persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah.

“Pemerintah hadir bukan untuk dilayani masyarakat, melainkan untuk melayani. Karena itu, pemerintah harus menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengadu dan menyampaikan aspirasinya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sambelia yang juga Ketua Adat, H. Moh. Kahar, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Bupati dalam tradisi tersebut. Ia mengatakan, Selametan Otak Reban memiliki arti penting bagi para petani karena menjadi penanda dimulainya pengelolaan lahan dan penebaran benih, khususnya untuk musim tanam padi.

Dalam kesempatan itu, Moh. Kahar turut menyampaikan sejumlah aspirasi masyarakat, terutama terkait kebutuhan peningkatan jalan usaha tani guna menunjang aktivitas pertanian warga.

Ia juga menyoroti potensi kawasan sungai di Sambelia yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengairan sawah, tetapi mulai berkembang menjadi destinasi wisata. Kawasan tersebut bahkan menarik kunjungan wisatawan dari dalam maupun luar wilayah Sambelia.

Potensi ini dinilai dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat apabila dikelola dan dikembangkan dengan baik, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Tradisi Selametan Otak Reban pun menjadi pengingat bahwa keberkahan alam, pelestarian lingkungan, pertanian, dan pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan masyarakat Sambelia.

Kamis, 15 Oktober 2026

Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi Luncurkan Program Belajar Aksara Sasak

Okenews.net- Guru Lauq Indonesia berkolaborasi dengan Repoq Literasi meluncurkan Program Belajar Aksara Sasak Hanacaraka untuk memperkuat literasi budaya dan menjaga keberlanjutan warisan leluhur masyarakat Sasak. Peluncuran program berlangsung pada Kamis (15/10/2026).

Direktur Program Belajar Aksara Sasak, Muhir, mengatakan program tersebut dirancang untuk memperluas pengenalan dan pembelajaran aksara Sasak di kalangan masyarakat. Program ini diharapkan menjadi ruang belajar yang mempertemukan literasi dengan pelestarian budaya lokal.

Menurut Muhir, pembelajaran aksara perlu dikembangkan melalui kegiatan yang terarah dan berkelanjutan agar masyarakat memiliki kesempatan mengenal, memahami, dan mempraktikkan pengetahuan tentang aksara Sasak.

Ia menegaskan, keberhasilan program bergantung pada kesinambungan kegiatan setelah peluncuran. Kelas rutin, pendampingan, dan penyediaan bahan ajar menjadi bagian penting untuk menumbuhkan minat belajar sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam pelestarian aksara Sasak.

Founder Guru Lauq Indonesia Dr. Hanapi, M.Si mengatakan program tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap semakin terbatasnya pengenalan aksara tradisional Sasak. Perubahan zaman dan pola komunikasi turut memengaruhi ruang pewarisan pengetahuan aksara ini.

“program ini berangkat dari kegelisahan kami melihat aksara tradisional Sasak yang mulai jarang dikenal dan dipelajari. Kami ingin menghadirkan ruang belajar agar dapat mengenal aksara ini,” ujar Hanapi.

Ia menjelaskan, pembelajaran aksara Sasak Hanacaraka perlu ditempatkan dalam kerangka penguatan kesadaran budaya. Bahasa dan aksara menyimpan identitas, pengetahuan lokal, serta ingatan kolektif yang membentuk kehidupan masyarakat Sasak.

Hanapi berharap program ini berkembang menjadi kegiatan pembelajaran yang berkesinambungan, didukung keluarga, komunitas literasi, lembaga pendidikan, budayawan, tokoh adat, dan pemerintah.

“Kita berharap aksara Sasak kembali hadir di ruang belajar dan kehidupan masyarakat. Generasi muda perlu mengenal dan mempelajarinya, karena kita adalah pewaris masa kini sekaligus penjaga warisan bagi generasi mendatang,” katanya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikbu Lombok Timur Abd Hayyi, M.Pd mengapresiasi gagasan Guru Lauq Indonesia dalam mengembangkan pembelajaran aksara Sasak Hanacaraka. Ia berharap program tersebut dapat diperluas melalui integrasi pembelajaran bahasa dan aksara Sasak ke dalam kurikulum pendidikan.

Menurut Hayyi, integrasi tersebut perlu dipersiapkan secara sistematis agar dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Penguatan pembelajaran bahasa dan aksara Sasak juga perlu diperjuangkan melalui Kongres Internasional Bahasa Sasak agar memperoleh perhatian dan menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti.

Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini pihaknya telah menyusun capaian pembelajaran (CP), modul, dan perangkat pendukung lainnya tengah dirancang untuk memperkuat pembelajaran bahasa Sasak.

Dukungan kurikulum, bahan ajar, dan tenaga pendidik dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pewarisan bahasa dan aksara Sasak. Melalui dukungan tersebut, pengenalan warisan budaya dapat berlangsung secara terencana di lingkungan pendidikan.

Sementara itu, Pengerakse Majlis Adat Sasak (MAS) Dr. Lalu Sajim Satrawan, menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Sasak melalui penguatan kesadaran terhadap identitas dan kebudayaan sendiri. 

Ia mengingatkan bahwa masyarakat Sasak perlu mengambil peran lebih besar dalam merawat warisan budaya di tengah perubahan sosial. Menurutnya, masyarakat Sasak terbentuk melalui perjumpaan berbagai unsur etnis yang membangun kehidupan bersama di bumi Sasak. 

Ia juga menyoroti semakin banyaknya diksi atau kosakata Sasak yang jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena bahasa menyimpan pengetahuan, nilai, dan cara pandang yang diwariskan antargenerasi.

Bagi Mamiq Sajim, inisiatif pembelajaran aksara Sasak Hanacaraka menjadi bagian dari upaya membangun kembali kesadaran masyarakat terhadap bahasa dan budayanya. Pelestarian membutuhkan keterlibatan lintas generasi serta dukungan keluarga, komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan tokoh adat.

Ia menegaskan, keberhasilan program perlu dilihat dari tumbuhnya minat belajar, bertambahnya masyarakat yang mengenal aksara Sasak, serta berkembangnya kesadaran untuk meneruskan pengetahuan tersebut kepada orang lain.

Kolaborasi Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan gerakan literasi budaya yang lebih luas. Melalui pembelajaran, dokumentasi, dan pewarisan secara berkelanjutan, aksara Sasak diharapkan memperoleh ruang yang lebih kuat dalam kehidupan masyarakat dan lembaga pendidikan.

Kamis, 11 Juni 2026

Bupati Lotim Dorong Peresean Digelar Empat Kali Setahun

Okenews.net – Festival Peresean yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Desa Wisata Kembang Kuning resmi ditutup pada Kamis (11/6/2026). Penutupan yang berlangsung di Lapangan Umum Desa Kembang Kuning tersebut dihadiri langsung Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin dan disambut antusias masyarakat serta wisatawan yang hadir.

Dalam kesempatan itu, Bupati Haerul Warisin menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal, khususnya tradisi Peresean yang telah menjadi identitas masyarakat Sasak.

Menurutnya, Peresean tidak sekadar pertunjukan rakyat, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan karakter yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Tradisi Peresean harus terus dilestarikan. Saya berharap kegiatan seperti ini tidak hanya digelar pada momen perayaan tertentu, tetapi bisa dilaksanakan hingga empat kali dalam setahun,” ujar Bupati.

Ia menilai keberlangsungan kegiatan budaya dapat menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda sekaligus memperkuat daya tarik wisata daerah.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Bupati juga menyerahkan bantuan kepada panitia penyelenggara festival. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan berbagai kegiatan budaya yang menjadi kekayaan Lombok Timur.

Festival Peresean yang berlangsung sejak 29 Mei 2026 itu sukses menarik perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara. Sepanjang pelaksanaan acara, arena Peresean dipadati penonton yang ingin menyaksikan aksi para pepadu mempertahankan tradisi bela diri khas Sasak tersebut.

Semangat para pepadu dan tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa Peresean masih memiliki tempat istimewa di tengah perkembangan zaman. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap promosi Desa Wisata Kembang Kuning sebagai salah satu destinasi unggulan di Lombok Timur.

Melalui festival tersebut, pemerintah daerah berharap Peresean dapat terus hidup, berkembang, dan menjadi magnet wisata budaya yang mampu mendukung pertumbuhan sektor pariwisata serta perekonomian masyarakat setempat.

Selasa, 03 Februari 2026

Tradisi Nyelamet Dowong di Lotim, Ikhtiar Warga Jaga Padi dan Dukung Swasembada Pangan

Ritual Adat Nyelamet Dowong

Okenews.net- Masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar tradisi adat Nyelamet Dowong, sebuah ritual tahunan yang sarat makna sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar menjaga tanaman padi dari serangan hama menjelang masa panen.

Tradisi ini diawali dengan iring-iringan puluhan perempuan yang membawa Tembolaq, baki tradisional khas Sasak berisi hasil bumi, nasi, ketupat, serta aneka kue tradisional Lombok. Tembolaq tersebut dibawa dari area masjid menuju makam leluhur untuk pelaksanaan zikir, doa bersama, serta pengambilan air suci di mata air Merta Sari.

Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet, menjelaskan bahwa Nyelamet Dowong merupakan warisan leluhur yang wajib dilaksanakan setiap tahun saat padi berusia sekitar satu bulan.

“Upacara adat ini selalu dilakukan sebelum panen. Tujuannya untuk menyelamatkan padi dari hama dan memohon hasil panen yang baik,” ujarnya, Senin (02/02/2026).

Rangkaian ritual berlangsung selama dua hari. Pada hari Jumat, warga melakukan pembersihan makam para leluhur. Ritual dilanjutkan pada hari Minggu dengan prosesi pemotongan ayam di satu lokasi khusus.

“Pemotongan ayam ini memiliki filosofi agar penyakit tidak menyebar. Darah ayam dialirkan ke daun bambu, yang sejak dulu dimanfaatkan sebagai pestisida alami,” jelas Lalu Selamet.

Daun bambu yang telah terkena darah ayam tersebut kemudian diletakkan di tengah sawah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, aroma amis darah ayam akan menarik hama, sehingga hama tersebut mati secara alami tanpa bahan kimia.

Selain itu, air suci dari mata air Merta Sari dialirkan ke area persawahan. Air tersebut diyakini membantu membersihkan sisa hama yang telah mati sekaligus membawa berkah bagi tanaman padi.

“Intinya, tradisi ini adalah wujud rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar panen melimpah, sekaligus mendukung cita-cita swasembada pangan,” pungkasnya.

Antusiasme warga juga terlihat dari partisipasi aktif masyarakat. Salah seorang warga, Amaq Muslihin, mengaku dengan sukarela menyediakan berbagai hidangan untuk dinikmati bersama.

“Kami menyiapkan makanan secara swadaya untuk dinikmati bersama. Apalagi padi saya sudah mulai menguning, semoga setelah doa bersama ini hasil panen semakin baik,” katanya.

Tradisi Nyelamet Dowong tidak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga mencerminkan keharmonisan masyarakat Lombok Timur dalam menjaga alam, budaya, dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Senin, 05 Januari 2026

Ketua DPRD Lotim Dorong Perda Pariwisata Adat, Tata Kelola Selama Ini Dinilai Masih “Liar”

Ketua DPRD Lombok Timur

Okenews.net –Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Timur terus mengebut penyelesaian sejumlah agenda kebijakan strategis yang sempat tertunda hingga akhir tahun 2025. Salah satu fokus utama adalah penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pariwisata Adat serta pengakuan dan perlindungan hukum masyarakat dan desa adat.


Ketua DPRD Lombok Timur, Muhammad Yusri, menegaskan bahwa langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen DPRD dalam memperkuat landasan hukum pembangunan daerah, khususnya sektor pariwisata.


“Di akhir tahun 2025 kemarin, kami fokus menyelesaikan agenda-agenda kebijakan yang sempat tertunda, baik kebijakan pusat maupun daerah, termasuk efisiensi dan pemangkasan anggaran,” ujar Muhammad Yusri saat diwawancarai, Senin (05/01/2026).


Yusri menyoroti kondisi tata kelola pariwisata di Lombok Timur yang selama ini dinilai belum maksimal dan cenderung berjalan tanpa arah yang jelas.


“Harus kita akui, tata kelola pariwisata kita selama ini masih terkesan liar dan belum terkelola dengan baik. Karena itu, Perda ini sangat penting sebagai landasan hukum dan pedoman bersama,” tegasnya.


Menurutnya, keberadaan Perda Pariwisata Adat diharapkan mampu mengarahkan pengelolaan sektor pariwisata agar lebih profesional, terukur, serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).


“Kita ingin pariwisata Lombok Timur dikelola secara strategis. Daerah lain seperti Bali bisa menjadi contoh bagaimana pariwisata mampu meningkatkan PAD secara signifikan,” jelas Yusri.


Saat ini, pembahasan Raperda tersebut telah memasuki tahap pertengahan dan ditargetkan segera rampung dalam waktu dekat. Yusri menyebutkan bahwa proses penyusunannya juga berangkat dari aspirasi masyarakat yang menginginkan pengelolaan pariwisata yang lebih maksimal dan berkeadilan.


“Perda ini lahir dari aspirasi masyarakat. Bukan hanya soal PAD, tapi juga bagaimana kesejahteraan para pengelola pariwisata di lapangan bisa meningkat,” katanya.


Dalam pembahasannya, DPRD Lombok Timur memastikan seluruh substansi Raperda disinkronkan dengan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) agar tidak bertentangan dengan regulasi yang lebih tinggi.


“Kami sangat berhati-hati. Semua dibahas dengan mengacu pada Ripparda supaya tidak melanggar aturan di atasnya,” tutup Yusri.


Kamis, 23 Oktober 2025

Warga Bilok Petung Tuntut Pengembalian Tanah Adat, Kesbangpol Janji Tindaklanjuti Aduan

Masyarakat Adat Bilok Petung

Okenews.net- Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) bersama sejumlah dinas terkait menerima audiensi perwakilan masyarakat Sembalun Bilok Petung yang didampingi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Lombok Timur, Kamis (23/10/2025).

Dalam hearing tersebut, masyarakat menuntut pengembalian lahan seluas 5 hektare Lebih yang mereka klaim sebagai tanah adat di kawasan Bilok Petung. Tanah itu disebut telah dibuatkan sporadik, namun menurut koalisi masyarakat adat, dokumen tersebut tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.


Ketua AMAN Lombok Timur, Sayadi, menjelaskan bahwa masyarakat adat telah menempuh berbagai langkah penyelesaian, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga ke aparat kepolisian. Mereka menilai lahan tersebut merupakan tanah warisan leluhur yang harus dijaga dan tidak boleh dialihfungsikan.


“Kami datang ke sini untuk mencari perlindungan dan kejelasan hukum agar tanah adat kami dikembalikan sebagaimana mestinya. Kami tidak ingin terjadi konflik horizontal di masyarakat kami juga meminta agar bupati segera ambil langkah tegas,” ujar Sayadi.


Ia menambahkan, kawasan tersebut dikenal sebagai Hutan Adat Pawang Batu Asak, yang telah ada sejak berdirinya Desa Bilok Petung. Namun, belakangan muncul klaim dari pihak tertentu yang menyebut hutan tersebut tidak memiliki legalitas, bahkan melakukan pembabatan di area tersebut.


“Kami percaya pada amanah leluhur bahwa hutan adat ini tidak boleh disalahgunakan. Kami khawatir situs budaya dan peninggalan adat yang selama ini dirawat akan hilang,” tegasnya.


Perwakilan masyarakat juga menyesalkan bahwa proses reklamasi dan penebangan tetap berjalan, meski laporan pengaduan telah dilayangkan ke berbagai pihak.


“Jika tidak ada kejelasan dari pemerintah, kami akan menghentikan aktivitas itu dengan cara kami sendiri,” tambahnya.


Menanggapi hal itu, Kepala Badan kesbangpoldagri Mustafa Lombok Timur menyatakan akan segera turun langsung ke lokasi untuk menindaklanjuti aduan masyarakat dan memastikan seluruh aktivitas pembabatan dihentikan sementara.


Sementara itu, Mustapa dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) mengapresiasi langkah warga mempertahankan tanah adatnya.


“Kami sepakat, hutan adat harus dilindungi. Ini juga sejalan dengan program nasional perlindungan lingkungan atau Proklim,” ujarnya.


“Dari hasil penelusuran awal, tanah tersebut bukan aset desa. Kami akan memastikan status kepemilikannya secara resmi,” tambahnya.


Pihak Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Dyah Pujiyuwana juga menyebut bahwa lahan seluas 5 hektare lebih itu tidak tercatat memiliki SPPT, dan belum ada instansi yang mengetahui dasar penguasaan atas tanah tersebut.


Audiensi berakhir dengan komitmen bersama antara masyarakat adat dan pemerintah daerah untuk menelusuri legalitas tanah dan menghentikan sementara seluruh aktivitas di lokasi hingga persoalan memiliki kejelasan hukum.

Rabu, 08 Oktober 2025

Wabup Edwin Ajak Warga Jaga Sumber Air Lewat Gawe Adat Otak Reban

Wabup Lotim Hadiri Gawe Adat Selametan Otak Reban Kecamatan Sambalia

Okenews.net– Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya menghadiri Gawe Adat Selametan Otak Reban yang digelar pada Rabu (08/10/2025) di Balai Sangkep Otak Reban, Kecamatan Sambelia.


Kegiatan adat yang telah berlangsung turun-temurun selama tiga generasi itu turut dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, antara lain unsur OPD, Stafsus Bidang Pemerintahan Desa dan Kesehatan, Kapolres, Danramil, para kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat dan pekasih dari lima desa: Labuan Pandan, Sambelia, Bagik Manis, Sugian, dan Dadap.


Dalam sambutannya, Wabup Edwin menyampaikan apresiasi atas keberlangsungan tradisi yang telah digelar hingga ke-180 kalinya.


“Ini adalah pencapaian luar biasa yang hanya mungkin terwujud berkat kekompakan dan persatuan masyarakat di lima desa,” ujarnya.


Ia menekankan pentingnya menjaga dua hal utama yang menjadi inti dari tradisi tersebut, yakni kelestarian sumber daya air dan penanganan sampah.


“Sumber daya air adalah tanggung jawab bersama. Tugas kita menjaga kelestariannya,” tegas Edwin.


Terkait persoalan sampah, Wabup berharap optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dapat segera dilakukan, khususnya untuk menangani volume sampah dari kawasan Sembalun yang mulai berdampak pada sektor pertanian dan dibuang ke TPA Ijo Balit.


Selain sebagai wujud syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi lintas generasi. Wabup Edwin mengajak masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan meminta Karang Taruna Desa agar aktif melestarikan tradisi dan budaya lokal.


Sementara itu, Kepala Desa Sambelia sekaligus Ketua Adat H. Muhammad Kahar menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang berpartisipasi, termasuk PLN. Ia menjelaskan bahwa rangkaian Gawe Adat Otak Reban menggabungkan nilai adat dan keagamaan serta diisi dengan kegiatan pelestarian lingkungan.


Tradisi Selametan Otak Reban telah dijalankan selama ratusan tahun sebagai simbol syukur dan komitmen masyarakat dalam menjaga sumber air yang menjadi tumpuan hidup warga Sambelia dan sekitarnya.

Jumat, 06 Agustus 2021

Satgas Pamtas Bantu Warga Perbatasan Bangun Rumah Adat

Okenews - Jajaran Pos Satgas Pengamanan Perbatasan RI - RDTL di wilayah Sektor Timur setiap hari Jumat melaksanakan program gotong royong bersama masyarakat binaan masing-masing pos seperti yang dilakukan dua pos Kipur III hari ini, Jumat (06/08/2021)





Telihat personel pos Fohululik dengan masyarakat Dusun Haulata Desa Lutharato dan personel Pos Nananoe kompak bahu membahu bersama masyarakat Dusun Makokon Desa Nananoe bergotong mendirikan rumah adat desa setempat. 

Komandan Kipur III Kapten Inf Lutfi Sulthoni mengatakan hari ini seluruh pos melaksanakan karya bakti dengan mengajak masyarakat sesuai dengan program Satgas dalam rangka membangkitkan kembali budaya gotong royong ditengah-tengah masyarakat.


Khusus untuk dua pos itu, kata Lutfi, fokus membantu masyarakat mendirikan rumah adat yang merupakan salah satu ciri dari masyarakat adat yang masih dijaga kelestariannya di NTT khususnya Belu.


Terpisah, Komandan Yonif 742/SWY Letnan Kolonel Inf Bayu Sigit Dwi Untoro selaku Komandan Satgas Pamtas Sektor Timur di Mako Satgas Pamtas Kelurahan Umanen Kecamatan Atambua Barat mengapresiasi atas kelompok dan kebersamaan masyarakat dengan para Prajuritnya bergandengan tangan setiap hari Jumat menggelar gotong royong untuk kepentingan umum.


Dijelaskannya, gotong royong salah satu peninggalan nenek moyang bangsa untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan umum terutama terkait dengan pembangunan, kebersihan lingkungan dan lainnya.


Namun demikian, sambung Bayu Sigit, pihaknya juga siap memberikan bantuan kepada masyarakat yang sedang membutuhkan seperti yang dilakukan beberapa pos yang membantu warganya sedang membangun rumah.


Sedangkan Kepala Dusun Makokon Rubertha Rafu mengatakan proses pembangunan rumah adat tersebut sejak awal melibatkan personel pos Nananoe mulai pembuatan dasar hingga sekarang menaikan tiga tiang utama rumah adat.


"Setelah ini akan dilanjutkan dengan pemasangan atap yang diawali dengan acara adat," ujarnya.


Kadus Makokon juga mengucapkan terimakasih atas kerjasama dan partisipasi personel Satgas yang kerap membantu setiap kegiatan masyarakat di dusunnya.

Rabu, 07 Juli 2021

Satgas Pamtas Bantu Pembangunan Rumah Adat Nananoe

Okenews – Rumah adat merupakan tempat untuk melakukan berbagai kegiatan ritual baik upacara adat, musyawarah maupun kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. 



Berkaitan dengan itu, personel Pos Nananoe Kipur III membantu masyarakat Dusun Nanaenoe Desa Nananoe Kecamatan Nanaet Duabesi Kabupaten Belu untuk membangun rumah adat masyarakat setempat.


Demikian dikatakan Komandan Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI – RDTL Letnan Kolonel Inf Bayu Sigit Dwi Untoro selaku Komandan Satgas Pamtas Sektor Timur disela-sela kegiatannya di Mako Satgas Pamtas Kelurahan Umanen Kecamatan Atambua Barat, Sabtu (10/7/2021).


Dalam proses pembangunannnya, sambung Bayu Sigit, pihaknya selalu mendukung tahap demi tahap pelaksanaan pembangunan mulai dari menggali dan pembuatan pondasi dan tahap sekarang yakni penyiapan tiang rumah adat.


“Ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian adat istiadat dan budaya di NTT khususnya di Kabupaten Belu sekaligus untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong ditengah-tengah masyarakat yang dirasakan kian memudar,” ujarnya.


Melalui kegiatan tersebut, personel Pos Nananoe juga dapat menjalin silaturahmi dan komunikasi sosial dengan masyarakat dengan harapan terjalinnya kedekatan dan hubungan yang harmonis antara pos dengan masyarakat.


Bayu Sigit juga menginstruksikan Danpos Nananoe Sertu Rezha Arli bersama anggotanya untuk tetap membantu masyarakat dalam pembuatan rumah adat hingga selesai secara fisik yakni pemasangan atap, sedangkan acara adatnya diserahkan kepada masyarakat adat setempat.

Sabtu, 19 Juni 2021

Wabup Lotim Didaulat Sebagai Pengerakse Adat

Okenews – Wakil Bupati (Wabup) Lombok Timur (Lotim) H. Rumaksi yang menghadiri acara pasang penyawe’ (pemasangan tanda) awal dimulainya pembangunan sekolah kebudayaan di Desa Sembalun Bumbung Kecamatam Sembalun.

Wabup Lotim H Rumaksi (tengah)

Wabup Rumaksi yang juga didaulat sebagai Pengeraksa Adat Sembalun dalam kesempatan itu menyatakan, budaya sebagai identitas yang mencerminkan karakter saat ini terancam tergerus arus modernisasi yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Kalau kita berbicara budaya, itu artinya kita berbicara adab. Dari itu pemahaman kita terhadap agama dan budaya harus komprehensif, karena keduanya tidaklah bertentangan,” papar Ketua DPD NasDem Lotim itu, Jumat (18/06/2021).

Sebagai pimpinan daerah, Rumaksi sangat berterimakasih atas kepedulian masyarakat dan pihak terkait atas konsentrasinya dalam menjaga kelestarian kebudayaan lokal etnis Sasak yang menjadi warisan leluhur.

“Sembalun sebagai pusat pariwisata tidak boleh kehilangan jati diri. Dari itu kami sangat berterimakasih, kami pun siap untuk berpartisipasi dalam ikhtiar ini,” tegas Rumaksi.

“Pak Camat harus mendorong semua kepala desa untuk mengajak warganya bergotong royong. Dan masyarakat Sembalun harus mengambil andil, berpartisipasi dalam hal ini,” harapnya.

Camat Sembalun Maryadi dalam sambutannya mengakui, generasi muda saat ini mulai kehilangan identitas budayanya, termasuk Sembalun sebagai destinasi pariwisata nasional.

Oleh karena itu ia berharap, keberadaan sekolah kebudayaan yang akan dibangun, akan menjadi benteng dan pusat aktivitas untuk mempertahankan nilai-nilai dan norma kearifan lokal.

“Banyak kitab-kitab peninggalan pendahulu kami, tapi kami tidak bisa mempelajarinya. Sekolah kebudayaan ini tentu akan menjadi solusi,” harapnya.

Camat menilai, saat ini pembangunan pariwisata Sembalun, cenderung menjurus pada degradasi budaya. Hal ini tentu merupakan suatu bentuk kemunduran di tengah masyarakat.

Fenomena itu merupakan tantangan dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal ditengah pesatnya pembangun pariwisata. Di satu sisi, sektor pariwisata merupakan ujung tombak perekonomian masyarakat.

Ia sangat berharap, pesatnya pembangunan pariwisata, tidak boleh meninggalkan nilai kebudayaan Sembalun. Nilai dan norma budaya harus bertahan dari pengaruh budaya luar yang masuk di Sembalun.

Ia juga mengakui, saat ini generasi muda mengalami kegagapan kebudayaan, termasuk pada masyarakat Sembalun umumnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan leluhur Sembalun tidak bisa dipelajari.

“Terdapat banyak peninggalan sejarah di Sembalun yang sampai saat ini tidak bisa dipelajari oleh masyarakat Sembalun. Sekolah Kebudayaan ini harus mampu menjawab itu,” tutupnya.

Pantauan wartawan, masyarakat Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyambut baik pembangunan sekolah budaya yang berlokasi di Desa Sembalun Bumbung.

Diharapkan Sekolah Kebudayaan yang akan dibangun 29 Juli 2021 mendatang mampu menjadi wadah yang menjaga nilai-nilai kearifan lokal Sasak di tengah arus modernisasi pembangunan pariwisata Sembalun yang mulai dikenal dunia.

Hadir dalam acara penyawe’an pembangunan sekolah kebudayaan itu, para tokoh budayawan, tokoh agama, masyarakat berserta semua unsur pemerintah se-Kecamatan Sembalun.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi