www.okenews.net: Pendidikan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2026

Institut Elkatarie Tegaskan Komitmen Riset Rumput Laut Internasional di Lombok Timur

Institut Elkatarie

Okenews.net -Institut Elkatarie menegaskan komitmennya untuk terlibat aktif dalam kebangkitan riset rumput laut dunia yang mulai dikembangkan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama Universitas Mataram.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama Riset Rumput Laut Internasional dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan yang melibatkan seluruh perguruan tinggi se-Lombok Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Ekas Buana Kamis, 12/2/2026

Dalam sambutannya, Stella Christie menegaskan pentingnya riset dan inovasi sebagai kunci daya saing Indonesia di pasar global.

“Riset dan inovasi adalah fondasi utama agar Indonesia mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing di tingkat global, termasuk dalam pengembangan bioteknologi rumput laut,” tegas Stella Christie.

Ia berharap Lombok Timur dapat mengambil peran strategis dalam kebangkitan industri berbasis bioteknologi yang berorientasi ekspor dan bernilai tambah tinggi.

Sementara itu, Bupati Haerul Warisin mengingatkan seluruh pihak untuk menjaga kawasan Ekas Buana sebagai lokasi strategis pengembangan riset.

“Semua aset daerah dan aset nasional yang ada di Ekas ini harus kita jaga bersama, baik keamanan maupun kebersihannya,” tegas Bupati.

Menurutnya, keberhasilan program riset internasional tidak hanya bergantung pada akademisi dan pemerintah, tetapi juga dukungan serta partisipasi masyarakat setempat.

Rektor Institut Elkatarie, Dr. Asbullah Muslim, menegaskan kesiapan institusinya untuk terlibat aktif dalam pengembangan riset hingga hilirisasi industri rumput laut.

“Kami siap bersinergi dan berkolaborasi dalam pengembangan industri lokal berbasis riset menuju pasar global. Riset rumput laut ini harus menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi masyarakat pesisir Lombok Timur,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas perguruan tinggi yang didukung pemerintah pusat dan daerah menjadi peluang strategis untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, inovasi bioteknologi, serta daya saing industri rumput laut daerah.

Melalui kerja sama riset internasional ini, Lombok Timur diharapkan mampu tampil sebagai episentrum kebangkitan riset rumput laut dunia, yang tidak hanya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Senin, 09 Februari 2026

Sekretaris SMSI Lombok Timur Apresiasi Keberhasilan Hanapi Raih Gelar Doktor

Ketua SMSI Lombok Timur

Okenews.net-  Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Cabang Lombok Timur Dr. Karomi menyampaikan selamat dan apresiasi atas keberhasilan Ketua SMSI Lombok Timur Dr. Hanapi, S.Pd., M.Si yang telah menyelesaikan doktor di Undiksha Singaraja, Bali. 


Karomi menegaskan, capaian akademik tersebut merupakan buah dari konsistensi dan dedikasi panjang dalam dunia jurnalistik dan akdemisi, dan organisasi. Menurutnya, promosi doktor hari ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi membawa nama baik organisasi. 


“Kami dari segenap pengurus SMSI ucapkan selamat atas promosi doktor ini. Saya rasa, pencapaian tersebut tidaklah gampang, penuh perjuangan untuk sampai pada titik ini,” papar Dr. Karomi, Senin (9/2/2026) di Selong.


Menurutnya, Hanapi telah menekuni dunia jurnalistik sejak tahun 2004 dan dikenal sebagai jurnalis yang tumbuh dari proses panjang di lapangan. Sepanjang perjalanannya, ia pernah aktif di berbagai media cetak lokal hingga nasional, kemudian mengelola media sendiri. 


“Selain aktif sebagai jurnalis, beliau juga dikenal sebagai akademisi di Universitas Hamzanwadi. Gelar doktor yang diraih hari ini semakin memperkuat posisi beliau sebagai akademisi dan praktisi,” ujar Dosen Universitas Gunung Rinjani tersebut.


Karomi berharap, capaian akademik tersebut dapat menjadi energi baru bagi SMSI Lombok Timur untuk terus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem media yang sehat, kredibel, dan beretika, khusunya di Lombok Timur. 


Ia juga berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi jurnalis dan generasi muda agar terus mengembangkan kapasitas diri melalui pendidikan, tanpa meninggalkan integritas dan idealisme pers yang saat ini menghadapi tantangan dunia global.


“Keberhasilan ini membuktikan bahwa jurnalis juga bisa unggul di dunia akademik dan organisasi. Semoga capaian ini membawa manfaat yang lebih luas bagi dunia pers dan pembangunan daerah,” tutup Karomi.

Kamis, 05 Februari 2026

Gaji Guru Paruh Waktu Aman, Pemkab Lombok Timur Tinggal Tunggu Juknis Pusat

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi.

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan guru, baik paruh waktu maupun non paruh waktu. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran khusus untuk menjamin kepastian pembayaran gaji tenaga pendidik.


Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah guru paruh waktu di daerah tersebut mencapai 4.897 orang, sementara guru non paruh waktu tercatat sebanyak 917 orang. Besaran gaji yang diterima guru, kata dia, tidak bisa disamaratakan dengan daerah lain karena disesuaikan dengan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).


“Setiap daerah memiliki kemampuan fiskal yang berbeda. Karena itu, kesejahteraan guru paruh waktu juga menyesuaikan kondisi APBD masing-masing daerah,” ujar Lalu Bayan, Kamis (5/2/2026).


Untuk tahun anggaran berjalan, Pemkab Lombok Timur telah mengalokasikan dana sekitar Rp10 miliar. Dari total anggaran tersebut, Rp9 miliar diperuntukkan bagi pembayaran gaji guru paruh waktu, sementara Rp1 miliar dialokasikan bagi guru yang belum masuk dalam database guru paruh waktu.


“Anggaran itu sudah masuk dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kami. Jadi secara kesiapan anggaran, pemerintah daerah sudah siap,” tegasnya.


Meski demikian, realisasi pembayaran gaji masih menunggu regulasi dan petunjuk teknis dari pemerintah pusat. Menurut Lalu Bayan, langkah ini penting agar mekanisme penyaluran gaji tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku, termasuk kemungkinan pembayaran melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau skema lainnya.


“Kami masih menunggu juknisnya. Apakah melalui BOS atau mekanisme lain, yang jelas anggarannya sudah tersedia,” jelasnya.


Sementara itu, terkait guru yang masih berstatus non paruh waktu, pemerintah daerah terus berupaya agar seluruh guru dapat masuk dalam skema guru paruh waktu. Namun kebijakan tersebut masih memerlukan keputusan lebih lanjut dari pemerintah pusat.


Lalu Bayan pun mengimbau para guru non paruh waktu agar tetap menjalankan tugas secara profesional dan tidak berkecil hati. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah terus memikirkan solusi terbaik demi peningkatan kesejahteraan seluruh tenaga pendidik di Lombok Timur.


“Harapan kami, para guru tetap bekerja maksimal sesuai tupoksi. Pemerintah daerah tidak tinggal diam dan terus berupaya mencari jalan terbaik,” pungkasnya.

Rabu, 04 Februari 2026

Dugaan Perundungan di SD Pringgebaya Disorot Tajam, Kadisdikbud Lotim, Tak Ada Ruang untuk Kekerasan

Kepala Dinas Dikbud Lombok Timur

Okenews.net- Dugaan kasus perundungan yang melibatkan siswa sekolah dasar di Kecamatan Pringgebaya, Kabupaten Lombok Timur, menuai perhatian serius dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur. Isu sensitif yang menyangkut keselamatan dan kenyamanan peserta didik ini langsung mendapat sorotan Kepala Dinas Dikbud Lotim.


“Kasus Peerundungn adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan, Lebih – lebih di dunia pendidikan,”tegas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur M Nurul Wathoni pada media ini Rabu (04/02/2026).


Ia mengatakan, kasus perundungan ini merupakan kasus yang harus menjadi atensi serius pihak sekolah. Untuk itu, semua elemen mulai dari guru, pengawas, komite mali murid dan pihak – pihak lain bisa memiliki komitmen bersama agar kasus Peerundungn tidak terjadi.


Penegasan ini juga Lanjut Kepala Dinas, sudah disampaikan sebelum ada dugaan kasus terjadi. Dimana dikbud sendiri pada pertengahan januari yang lalu sudah ada edaran yang diberikan terkait dengan penegasan program termasuk meminta sekolah menjadikan sekolahnya yang nyaman dan aman.


“Termasuk didalamnya Bagaimana warga sekolah termasuk memaksimalkan tugas piket guru baik saat pagi maupun saat kegiatan ektrakurikuler agar lingkungan sekolah bisa tetap dalam pengawasan guru,”tegasnya.


“Ini salah satunya, untuk mencegah adanya Kasus Peerundungn, karena kasus seperti ini adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan,”tambahnya


Adapun terkait dengan kasus yang terjadi di Kecamatan Pringgebaya ini, berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, sebelum kejadian, pada hari rabu yang lalu, sekolah sedang ada kegiatan gotong royong membersihkan kelasnya, karena ada bau tikus yang mati bersama wali kelas.


Setelah selesai, wali kelas kemudian membikan es ke semua siswa. Sampai pulang sekolah tidak ada satupun laporan adanya pemukulan yang dilakukan oleh siswa. Kemudian pada hari sabtu, guru mendapatkan informasi kalau ada siswa yang sakit dengan mengaku ditendang oleh temanya.


Saat siswa dirawat di klinik, siswa yang sakit ini disebut sering menyebut temannya atas nama MK, saat itu juga gurunya berangkat jenguk dan bawa anak dan orang tua MK ke klinik dan MK mengaku tidak pernah memukul. Setelah itu guru ini kemudian ke dokter psikolog yang menanganinya dan Konsul dan sedang dilakukan screening.


Hasil screening awal bahwa kejadiannya setelah pulang atau di luar sekolah. namun ada juga saksi temen dikelasnya melihat bahwa korban ini naik bangku dan jatuh,


“.karena memang susah karena kelas 1, masih diskreening baik dari korban maupun MK, untuk kejadian sebenarnya belum kita tau, masih nunggu hasil screeningnya,”terangnya.

Selasa, 03 Februari 2026

Diduga Jadi Korban Bullying, Siswa SD di Peringgabaya Dirawat Intensif di RSUD Selong

Siswa korban Perundungan

Okenews.net- Dugaan kasus perundungan kembali mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Lombok Timur. Seorang siswa sekolah dasar berinisial HAZF kini harus menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. R. Soedjono Selong setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh teman sebayanya di salah satu SD Negeri di wilayah Kecamatan Peringgabaya.

Peristiwa tersebut terungkap setelah kondisi korban terus memburuk dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pihak keluarga yang awalnya mengira HAZF hanya mengalami cedera ringan akhirnya membawa korban ke dokter spesialis sebelum dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Ayah korban, Supriyadi, mengungkapkan bahwa insiden itu terjadi pada Rabu pekan lalu di lingkungan sekolah. Dari pengakuan korban, ia mengalami perlakuan fisik yang tidak wajar hingga menimbulkan rasa sakit berkepanjangan.

“Anak saya didorong lalu dinaiki oleh temannya. Awalnya kami kira biasa, tapi rasa sakitnya makin parah,” ujar Supriyadi saat ditemui di RSUD Selong, Selasa (03/02/2026).

HAZF mengeluhkan nyeri di beberapa bagian tubuh, terutama di sisi kiri mulai dari dada, tangan, hingga paha. Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma psikologis yang membuatnya cenderung diam dan ketakutan.

Saat ini, tim medis masih melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada cedera serius pada organ dalam akibat tekanan fisik yang dialami korban. Pihak keluarga pun menyatakan tidak akan tinggal diam dan meminta adanya pertanggungjawaban dari pihak terkait, termasuk pihak sekolah.

Sementara itu, aparat kepolisian melalui Bhabinkamtibmas setempat telah mulai melakukan penelusuran awal terhadap kasus tersebut.

“Kami sedang mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah, keluarga korban, serta saksi-saksi untuk mengetahui kronologi lengkap kejadian,” ujarnya.

Kasus ini menjadi sorotan serius sekaligus peringatan bagi seluruh pemangku kebijakan pendidikan di Lombok Timur. Lingkungan sekolah yang seharusnya aman bagi anak justru kembali diwarnai dugaan kekerasan, menandakan perlunya pengawasan dan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

Senin, 02 Februari 2026

Aroma Merah Shang Dyah di Laut Sunyi (Episode 03)

Ilustrasi: Para nelayan pulang ditunggui istri. Terlihat Shang Dyah dari jauh 
Aroma mistis itu mengalir tanpa rupa; bukan wangi, bukan pula bau; melainkan jejak sunyi yang hanya bisa dikenali oleh ingatan jiwa, hadir pelan seperti doa yang lupa diucapkan namun tiba-tiba terasa menggenang di dada.

Oleh: Am. Pupu 
Guru Muhir_Founder Repok Literasi
Perahu kecil itu meluncur pelan di atas laut pagi. Pe Dirata dan Loq Jinep berdiri berdampingan, tubuh mereka dibalut baju merah; pemberian Shang Diyah; yang kontras namun hangat di bawah cahaya matahari. Warna itu seperti doa yang ikut berlayar, menempel di dada mereka, menguatkan langkah sebelum hari benar-benar terbangun.

Cuaca begitu bersahabat. Angin hanya berbisik lembut, nyaris tak terasa. Lautan terhampar tenang seperti kolam renang, permukaannya memantulkan langit biru pucat tanpa riak berarti. Tak ada gelombang yang tergesa, tak ada awan yang mengancam. Semesta seolah sengaja melambat agar dua nelayan itu bisa bekerja dengan hati yang ringan.

Saat perahu mencapai titik yang mereka kenal baik, jangkar dilepas. Bunyi besinya tenggelam pelan, lalu sunyi kembali merajai. Di atas air yang nyaris diam, jaring ditebar dengan gerak yang terlatih; tidak terburu-buru, tidak ragu. Setiap simpul jaring seakan mengikuti irama napas mereka, jatuh rapi, menyatu dengan ketenangan laut.

Di antara diam dan kerja, ada rasa damai yang mengalir. Seperti keyakinan sederhana bahwa hari ini laut akan ramah, rezeki akan menemukan jalannya, dan baju merah itu; pemberian yang tulus menjadi saksi bisu betapa tenangnya hidup ketika manusia, alam, dan niat baik berjalan searah.

Tanpa mereka sadari, jauh di kedalaman yang tak tersentuh cahaya, Adipati Segara Dalem tengah memandang. Pandangannya yang menembus air dan waktu, tertumbuk pada dua nelayan berbaju merah di atas perahu kecil. Dari kejauhan itu, tercium aroma warna yang amat dikenalnya: aroma lama yang  hangat dan sacral; symbol milik Shang Dyah. Hatinya bergetar pelan; ingatan dan penghormatan berbaur dalam satu tarikan napas samudra.

Dengan isyarat sunyi, Adipati Segara Dalem memerintahkan para punggawanya. Perintah itu mengalir seperti arus yang patuh: ombak ditenangkan, arus bawah laut dihentikan. Laut pun tunduk, menahan geraknya, menjaga perahu kecil itu tetap dalam pelukan damai.

Tak berhenti di situ, ia berkoordinasi dengan para adipati penjaga binatang laut. Pesan disampaikan dari palung ke palung, dari karang ke karang: bahawa hari ini adalah hari penyambutan. Ikan-ikan pun bergerak dalam keteraturan yang tak terlihat, mengikuti irama yang hanya samudra pahami.

Di permukaan, Pe Dirata dan Loq Jinep tetap bekerja. Mereka berdua, tak mengetahui apa-apa. Ketika jaring ditarik, keajaiban terhampar tanpa gaduh: berbagai jenis ikan; berkilau perak, keemasan, dan gelap kebiruan, terperangkap dengan tenang. Tak ada perlawanan yang liar, hanya kepatuhan lembut seolah mereka datang untuk memenuhi takdir hari itu.

Perahu kecil itu pun sarat berkah. Laut tetap tenang seperti semula, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Hanya samudra yang tahu: hari itu, dua nelayan berbaju merah telah berjalan dalam pengawalan yang tak terlihat, disambut oleh seluruh isi laut, karena satu aroma warna yang dikenali dan dihormati sejak lama.

Saat jaring itu benar-benar terangkat dan isi perahu nyaris penuh, Pe Dirata dan Loq Jinep saling berpandangan. Mata mereka berbinar, senyum pecah tanpa aba-aba. Mereka tertawa kecil; tawa orang laut yang biasanya lebih akrab dengan pasrah daripada berlimpah. Terlintas di benak mereka hari-hari sebelumnya, saat pulang dengan jaring ringan, kadang nyaris kosong, kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Tak jarang mereka menyebut laut pelit, sambil tetap menunduk menerima nasib.

Kali ini berbeda. “Hari ini… sungguh tak seperti biasanya,” gumam salah satu, suaranya bergetar.

Mereka pun tak henti-hentinya memuji nama Tuhan. Di sela mengikat hasil tangkapan, di antara tarikan napas dan degup jantung, syukur mengalir spontan; bukan dalam kata yang tinggi, melainkan pujian sederhana yang lahir dari hati nelayan: tentang rezeki, tentang keselamatan, tentang laut yang hari ini begitu murah hati.

Perahu lalu diarahkan ke tepian, mesin dinyalakan pelan, membelah air yang masih tenang. Di sepanjang perjalanan pulang, rasa gembira itu tetap melekat. bukan sekadar karena ikan yang banyak, tetapi karena keyakinan bahwa hari ini mereka benar-benar diperhatikan.

Di dekat pantai, mereka bertemu nelayan lain. Perahu-perahu kecil bersisian, wajah-wajah letih dengan jaring yang tak seberat milik mereka. Ada yang hanya tersenyum tipis, ada yang menghela napas panjang. Saling sapa pun terjadi; sapaan khas orang laut, singkat namun hangat. Tak ada kesombongan, hanya cerita singkat dan tawa ringan.

Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan rendah hati, tetap menyebut nama Tuhan dalam setiap penjelasan. Mereka tahu, laut tak selalu memberi sama rata. Hari ini mereka beruntung; esok bisa saja giliran yang lain.

Dan perahu itu pun terus melaju ke darat, membawa hasil tangkapan, membawa cerita, dan membawa syukur yang tak habis-habis; yakni sebuah kegembiraan sederhana yang akan mereka kenang lama, sebagai hari ketika laut, langit, dan doa bertemu dalam satu perjalanan pulang.

Di pesisir pantai, suasana mulai riuh oleh penantian. Anak-anak berlarian di pasir basah, para orang tua berdiri berderet memandang laut, dan suara ombak kecil bersahutan dengan panggilan nama yang dilemparkan ke cakrawala. Mata-mata menajam ke arah biru, mencari siluet perahu yang dikenali dari jauh. Angin membawa aroma garam dan harap yang tertahan.

Di antara keramaian itu, istri-istri mereka menunggu. Tubuh tegak, tangan saling menggenggam, wajah menyimpan harap yang bercampur cemas. Tak banyak kata terucap. Seribu harap tercurah tanpa suara; tentang keselamatan, tentang rezeki, tentang pulang.

Hanya mata yang berbicara, menengadah ke langit seolah menitipkan pesan yang tak perlu diucapkan.

Dalam diam itu, ingatan berlabuh pada Sang Maha Rahman lan Maha Rahim. Nama-Nya tak selalu dilafalkan, namun hadir penuh di dada. Setiap hembusan napas adalah doa, setiap kedipan mata adalah pengakuan: bahwa laut luas ini ada dalam genggaman-Nya, dan pulang adalah anugerah.

Ketika akhirnya perahu tampak yang mula-mula hanya titik, lalu bentuk; riuh pesisir menghangat. Senyum merekah, langkah dipercepat, dan hati yang semula menahan kini melonggar. Di tepi pantai itu, antara pasir dan air, harap menemukan jawabnya. Bukan lewat kata-kata besar, melainkan lewat tatapan yang bertemu, pelukan yang segera menyusul, dan syukur yang mengalir pelan, yak ubahnya seperti ombak kecil yang setia kembali ke pantai.

Begitu perahu merapat, istri Pe Dirata dan istri Loq Jinep segera bergegas menyambut. Langkah mereka cepat namun tertahan, seperti biasa, antara ingin segera tiba dan takut berharap terlalu tinggi. Di tangan kiri masing-masing tergenggam wadah kecil, wadah yang selama ini akrab dengan kesunyian. Wadah itu tak pernah penuh oleh tangkapan suami mereka; paling sering hanya berisi sedikit ikan yang sekadar cukup untuk membayar hutang solar, itu pun sering kali tak mampu mereka lunasi. Wadah kecil itu menjadi saksi hari-hari panjang menunggu, menawar, dan menahan malu.

Mereka mendekati perahu dengan mata yang menunduk, kebiasaan yang lahir dari seringnya pulang tanpa kabar baik. Namun langkah itu mendadak terhenti. Pandangan mereka terangkat, dan seketika napas tertahan.

Terkejut;
Bukan oleh satu atau dua ekor, melainkan hasil tangkapan yang begitu banyak. Ikan berkilau menumpuk rapi, memenuhi perahu hingga ke bibirnya. Mata mereka membesar, tangan yang memegang wadah kecil mengencang. Sejenak mereka tak berkata apa-apa, seolah takut pemandangan itu menguap jika disapa kata.

Wadah kecil itu kini tampak terlalu kecil untuk kenyataan di hadapan mereka.

Di wajah mereka, harap yang lama terlipat kini terbuka perlahan, bercampur takzim dan syukur yang mengalir tanpa suara. Mata kembali menengadah, kali ini bukan untuk meminta, melainkan untuk mengakui anugerah; bahwa hari ini, laut telah menjawab doa yang selama ini hanya berani disimpan di dada.

Melihat perahu sarat hasil tangkapan itu, masyarakat pesisir segera bergerak. Tanpa komando, tanpa hitungan, tangan-tangan terulur dan kaki-kaki menjejak pasir basah. Gotong royong mengalir begitu saja; seperti kebiasaan lama yang tak perlu diajarkan.

Beberapa orang mendorong dari buritan, yang lain menarik dari haluan, sebagian lagi sigap mengganjal dengan kayu agar perahu tak kembali terseret air. Suara aba-aba bercampur tawa dan seruan pendek, menyatu dengan desah napas dan decit kayu yang bergesekan dengan pasir. Pasir pantai ikut bergerak, berderak pelan, menyambut kerja bersama itu.

Anak-anak menepi sambil bersorak kecil, para perempuan berdiri dekat hasil tangkapan, mata mereka masih tak percaya. Perahu didorong perlahan, lalu mantap, hingga akhirnya naik ke atas, aman dari jangkauan ombak. Ketika kayu lunas berhenti bergerak, kelegaan pun menyebar—seperti napas panjang yang dilepas bersama.

Di tepi pantai itu, kebersamaan terasa nyata. Bukan hanya karena ikan yang banyak, tetapi karena hari itu rezeki dirayakan bersama. Tak ada yang berdiri sendiri; semua bahu bersentuhan, semua tangan berperan. Dan laut pun, dari kejauhan, tetap tenang; seolah ikut menyaksikan bagaimana syukur menjelma gotong royong, menguatkan satu sama lain di pasir yang sama.

Begitu perahu benar-benar aman di atas pasir, Pe Dirata menepuk lambung sampan sambil tertawa lega. Ia menoleh ke kerumunan yang masih riuh.

Eh, jangan ada yang pulang dulu!” serunya lantang.
“Ambil-ambil dulu ikannya… menciroq!”
Loq Jinep ikut menyahut, suaranya kalah oleh gelak tawa,
“Iya, iya… sesuai adat pantai kita. Tadi sudah bantu dorong, masa pulang tangan kosong?”
“Ah, Pe Dirata, ini banyak sekali! Kami malu ambilnya,” sahut seorang nelayan lain sambil tersenyum.
“Malu apa?” jawab Pe Dirata cepat.
Kalau tidak diambil, justru kami yang malu. Tradisi itu janji, bukan sekadar ikan.”
“Ambil secukupnya,” tambah Loq Jinep sambil menunjuk keranjang.
“Buat lauk rumah, buat anak-anak. Jangan pilih-pilih, semua rezeki sama.”

Suasana pun makin ramai.
“Aku ambil dua ekor saja ya!”
“Ambil tiga, biar sekalian!”
“Eh, ini yang besar boleh?”
“Boleh! Asal jangan bawa perahunya sekalian!”
Tawa pecah.

Tangan-tangan bergerak, ikan berpindah dari perahu ke wadah-wadah kecil, ke ember, ke kain yang dilipat. Anak-anak bersorak saat melihat sisik berkilau, para ibu saling bercanda sambil menghitung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tradisi menciroq hidup kembali—bukan sebagai kewajiban kaku, melainkan sebagai ikatan rasa. Ikan bukan sekadar imbalan, melainkan tanda terima kasih, pengakuan atas tenaga, dan cara berbagi bahagia.

Pe Dirata dan Loq Jinep saling pandang, senyum mereka tenang. Hari itu, rezeki tak berhenti di perahu. Ia mengalir ke banyak tangan, menjelma suara riuh, tawa, dan rasa cukup di pesisir pantai.

Sore mulai turun ketika Pe Dirata dan Loq Jinep melangkah pulang. Di kiri kanan mereka, istri-istri setia mendampingi, wajah yang sejak pagi menyimpan cemas kini berubah terang oleh senyum yang tak putus. Dua orang anak berjalan di depan, kadang berlari kecil, kadang menoleh ke belakang memastikan ayah mereka benar-benar ada di sana.

Langkah-langkah itu ringan, seolah beban hari-hari sebelumnya tertinggal di pasir pantai. Ember kecil berisi ikan bergoyang pelan, berkilau setiap kali terkena cahaya senja. Anak-anak tertawa riang, saling menunjuk ikan sambil bertanya dengan mata berbinar—pertanyaan yang biasanya hanya berujung diam, kini dijawab dengan canda dan janji.

Di sepanjang jalan, sapaan bersahut-sahutan.
“Pulang awal hari ini!”
“Rezekinya laut hari ini ramah!”
Pe Dirata dan Loq Jinep menjawab dengan anggukan dan senyum, menyelipkan pujian pada Tuhan di sela percakapan, sederhana dan jujur.

Sesampainya di rumah, halaman kecil terasa lebih luas dari biasanya. Kegembiraan mengisi ruang—bukan karena kemewahan, melainkan karena cukup. Anak-anak duduk dekat pintu, istri menata ikan dengan hati-hati, dan kedua nelayan itu menarik napas panjang, saling bertukar pandang penuh makna.

Hari itu mereka pulang bersama, bukan hanya membawa hasil laut, tetapi membawa harapan yang hidup, tawa yang menghangatkan, dan keyakinan baru bahwa esok—apa pun yang datang—akan mereka hadapi sebagai keluarga, dengan hati yang lebih tenang.

Mereka tak sepenuhnya memahami bagaimana hari itu berubah menjadi begitu murah hati. Tak ada tanda yang berbeda, tak ada jaring baru, tak ada hitungan yang diubah. Yang ada hanya laut yang tenang dan doa yang biasa—namun hasilnya jauh dari kebiasaan. Mereka pun memilih diam, menyimpan keheranan itu dalam rasa syukur yang sederhana.

Di sisi lain, istri-istri mereka mulai sibuk membersihkan ikan. Sisik berkilau diterpa cahaya sore, pisau bergerak cepat, ember demi ember terisi. Namun jumlahnya terlalu banyak untuk dua pasang tangan. Tawa kecil bercampur helaan napas terdengar—kewalahan, namun bahagia.

Akhirnya, salah satu dari mereka memanggil seorang wanita paruh baya yang tinggal tak jauh dari pesisir. Perempuan itu datang dengan langkah tenang dan senyum paham, seolah mengerti bahwa hari ini bukan hari biasa. Mereka bekerja bersama, tanpa banyak tanya, membiarkan tangan yang berbagi menyelesaikan apa yang tak sanggup dikerjakan sendiri.

Dan sore itu pun menutup kisahnya dengan lembut. Di tepi pantai, di antara ikan yang bersih dan hati yang lapang, semua kembali pada satu pengakuan sunyi: ada hal-hal yang tak perlu dipahami sepenuhnya—cukup diterima dengan syukur. Bersambung pekan depan (episode 04).

Minggu, 01 Februari 2026

IAIH Pancor Dampingi Guru PAUD Perkuat Pemahaman Gizi dan PMT Anak Usia Dini

IAIH Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan guru PAUD yang difokuskan pada penguatan kompetensi gizi dan praktik penyajian Pemberian Makan Tambahan (PMT).


Kegiatan bertajuk “Pendampingan Guru PIAUD: Meningkatkan Kompetensi Konseptual dan Praktik Penyajian Makan Tambahan (PMT) untuk Anak Usia Dini” tersebut digelar di Aula IAIH Pancor dan diikuti oleh guru dari berbagai satuan PAUD, TK, RA, dan SPS yang tersebar di Pulau Lombok hingga Sumbawa.


Sejumlah lembaga pendidikan turut terlibat dalam kegiatan ini, di antaranya TK Bumi Gora Lombok Timur, TK Negeri 2 Masbagik, PAUD IT Qurrota A’yun Mataram, TK Mulajati Lombok Utara, RA Batu Rakit Bayan, TK Insan Qur’ani Sembalun, hingga TK Doremi Kecamatan Buer, Sumbawa Besar.


Kaprodi PIAUD IAIH Pancor, Baiq Halimatuzzuhrotulaini, M.Pd., mengatakan bahwa pendampingan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman guru PAUD terhadap pentingnya pemenuhan gizi sebagai bagian dari layanan pendidikan anak usia dini.


Menurutnya, PMT tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelengkap kegiatan belajar, melainkan memiliki peran strategis dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.


“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan guru PAUD memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun serta menyajikan makanan tambahan yang sehat, aman, dan bergizi,” ujarnya, Jumat (31/1/2026).


Ia menambahkan, guru PAUD merupakan pihak yang paling dekat dengan anak di lingkungan pendidikan, sehingga memiliki peran penting dalam memastikan kualitas asupan makanan tambahan yang diberikan.

Program pendampingan ini menargetkan peningkatan kapasitas guru dalam memahami gizi anak usia dini, merancang menu PMT yang sehat, serta mengelola program PMT secara terencana dan berkelanjutan di satuan PAUD.


Dalam pelaksanaannya, kegiatan dikemas dengan metode terpadu yang mengombinasikan pemaparan materi, diskusi interaktif, simulasi, hingga praktik langsung penyusunan dan penyajian PMT. Pendekatan ini dilakukan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung di lembaga masing-masing.

Ke depan, Prodi PIAUD IAIH Pancor menargetkan kegiatan serupa menjadi agenda rutin pengabdian kepada masyarakat.


“Kami berharap pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi ruang kolaborasi antara kampus dan lembaga PAUD dalam meningkatkan kualitas guru serta layanan pendidikan anak usia dini, khususnya di wilayah NTB,” pungkasnya.


Kamis, 29 Januari 2026

Revitalisasi Puluhan Sekolah di Lotim Diresmikan, Bupati Tegaskan Pendidikan Tak Bisa Jalan Sendiri

Peresmian Revitalisasi Sekolah Oleh Bupati Lombok Timur

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pendidikan melalui peresmian program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Peresmian tersebut berlangsung di SDN 1 Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kamis (29/01/2026),

Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin menekankan bahwa keterbatasan anggaran pemerintah, baik dari APBD maupun APBN, menuntut adanya kolaborasi lintas sektor. Ia menilai keterlibatan pihak ketiga, seperti lembaga sosial dan swasta, menjadi faktor penting dalam percepatan pembangunan sarana pendidikan.

Menurutnya, pembangunan dunia pendidikan tidak mungkin hanya bergantung pada anggaran negara. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta pihak swasta harus terus diperkuat agar kualitas pendidikan dapat meningkat secara merata.

Bupati juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dari aspek moral, akhlak, dan ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan pendidikan, Pemkab Lombok Timur juga tengah menyiapkan pengembangan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Lenek Duren, program tersebut direncanakan akan dilanjutkan di Kecamatan Jerowaru. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep Sekolah Unggul Garuda sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan.

Tak hanya sektor pendidikan, Bupati turut menyinggung peningkatan kualitas layanan publik lainnya. Ia mengingatkan kepala sekolah, tenaga pendidik, serta tenaga kesehatan untuk bekerja sesuai tugas dan fungsi. Bupati menegaskan agar tidak ada lagi keluhan pelayanan kesehatan yang lambat, termasuk yang berkaitan dengan administrasi BPJS.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, mengungkapkan bahwa lahan pembangunan sekolah di Lenek Duren merupakan hasil hibah dari kepala sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik harus sejalan dengan peningkatan prestasi siswa.

Ia juga memberikan penekanan kepada kepala sekolah agar mampu menjadi motor penggerak kemajuan pendidikan. Menurutnya, sarana yang telah memadai harus dibarengi dengan kepemimpinan sekolah yang kuat dan inovatif. Jika fasilitas lengkap namun prestasi tidak meningkat, evaluasi akan menjadi langkah yang tidak terhindarkan.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Dikbud turut mengapresiasi pola pengerjaan bantuan dari Kementerian Pendidikan yang dilakukan secara swakelola. Skema ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena melibatkan tenaga lokal dalam proses pembangunan.

Ketua Panitia, Nur Hidayati, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan para donatur, khususnya melalui program Classroom Hope. Ia menyebut revitalisasi sekolah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga investasi bagi kenyamanan dan kesehatan mental guru serta peserta didik.

Program revitalisasi pendidikan tahun ini menyasar sebanyak 36 Sekolah Dasar (SD) dan 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di tujuh kecamatan, dengan Kecamatan Lenek menjadi salah satu wilayah prioritas.

Acara peresmian ditutup dengan prosesi pengguntingan pita oleh Bupati Lombok Timur bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai tanda resmi digunakannya gedung sekolah yang telah direvitalisasi.

Rabu, 28 Januari 2026

Ratusan Mahasiswa IAIH Pancor Siap Mengabdi ke Penjuru Negeri, KKN 2026 Digelar Berskala Nasional

IAIH Hamzanwadi Pancor 

Okenews.net- Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun Akademik 2026. Ratusan mahasiswa resmi dilepas untuk terjun langsung ke tengah masyarakat dalam program pengabdian yang akan berlangsung selama dua bulan.


Kegiatan pembekalan sekaligus pelepasan KKN tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa sebelum diterjunkan ke berbagai daerah, baik di dalam maupun luar Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Tahun ini, jangkauan lokasi KKN IAIH Pancor diperluas hingga skala nasional, mencakup wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, hingga Bali.


Wakil Rektor I IAIH Pancor, Dr. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan tinggi. Menurutnya, KKN bukan sekadar formalitas akademik, melainkan sarana pembelajaran sosial yang memiliki nilai historis dan edukatif yang kuat.


“Kuliah Kerja Nyata adalah kewajiban akademik yang tidak bisa digantikan dengan aktivitas lain. Ini bukan soal administrasi kelulusan, tetapi proses pembelajaran nyata yang telah menjadi tradisi pendidikan tinggi sejak 1951,” ujarnya, Selasa (28/01/2026).


Ia menekankan bahwa capaian akademik setinggi apa pun, termasuk IPK, tidak dapat menghapus kewajiban mahasiswa untuk mengikuti KKN. Bahkan, ia menyebut KKN sebagai pengalaman unik yang hanya bisa dirasakan sekali selama masa studi.


“KKN hanya sekali seumur hidup bagi mahasiswa. Ini adalah pengalaman belajar yang sangat berharga dan tidak tergantikan,” tegasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Hayyi juga berpesan agar mahasiswa membawa dua semangat utama selama menjalankan pengabdian, yakni semangat belajar dan semangat mengajar. Mahasiswa diharapkan mampu membaca realitas sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat, sekaligus hadir sebagai agen perubahan yang memberi manfaat nyata.


“Mahasiswa tidak cukup hanya hadir dan menjalankan program. Mereka harus mau belajar dari masyarakat dan, di saat yang sama, mengabdi dengan penuh tanggung jawab agar kehadirannya memberikan dampak positif dan berkelanjutan,” jelasnya.


Tak kalah penting, ia mengingatkan seluruh peserta KKN untuk menjaga sikap, etika, serta nama baik diri, keluarga, dan almamater selama berada di lokasi pengabdian.


“Di mana pun kalian berada, kalian adalah duta kampus. Jaga nama baik institusi dan jadikan KKN sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkasnya.


Minggu, 25 Januari 2026

JEJAK SHANG DYAH (Episode 02)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI)
Jejak adalah bahasa sunyi yang ditinggalkan langkah; ia mungkin terhapus oleh waktu, namun maknanya tetap tinggal, meresap ke bumi, menjadi saksi bahwa seseorang pernah hadir, pernah peduli, dan pernah berjanji pada semesta.

Oleh : AM PUPU
Guru Muhir_Pendiri Repoq Literasi, Lombok Timur
Di suatu senja yang lembut, ketika garis cakrawala mengabur antara langit dan laut, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berjalan menyusuri bibir pantai. Pasir dingin menyentuh telapak kakinya, ombak berbisik pelan seolah menyimpan rahasia yang tak pernah diucapkan. Tak seorang pun mengenalinya. Ia hadir dalam tubuh manusia biasa, tanpa sinar keagungan, tanpa tanda-tanda asalnya yang luhur.

Mereka yang berpapasan hanya menangkap siluet seorang wanita cantik yang hampir sempurna, langkahnya tenang, tatapannya jauh menembus samudra. Tak ada yang menyangka bahwa di balik wajah yang sederhana itu berdiam kekuatan purba dan kebijaksanaan yang telah melintasi zaman. Di pantai yang sunyi itu, Dewi Anjani membiarkan dirinya larut dalam kefanaan, menikmati dunia sebagaimana manusia memandangnya, tanpa puja, tanpa takut, hanya angin, ombak, dan rahasia yang setia menemaninya.

Langkahnya melambat. Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani menunduk, memandangi serpihan-serpihan asing yang terseret ombak ke pasir: plastik kusam, potongan jaring yang koyak, sisa-sisa dunia yang kehilangan kepedulian. Dadanya terasa sesak, bukan oleh lelah, melainkan oleh keprihatinan yang mengendap lama.

"Beginikah rupa titipan yang dulu dijaga dengan doa dan rasa hormat?" Suara itu tak terucap, namun bergema jelas di ruang batinnya.

Ia mengangkat wajah, menatap laut yang dulu jernih seperti cermin langit."Wahai manusia’, bisiknya dalam hati, “tanganmu mampu membangun peradaban, tetapi mengapa ia juga begitu ringan melukai ibu yang menghidupimu?"

Angin pantai menyibakkan rambutnya, seolah menjawab dengan keluhan panjang. “Hutan kau tebang tanpa jeda, gunung kau koyak demi keserakahan sesaat. Sungai kau jadikan tempat membuang lupa, lalu kau heran ketika air tak lagi memberi kehidupan.”

Setiap langkah terasa seperti menapaki luka. “Apakah kau tak lagi mendengar napas alam? Ataukah hatimu telah terlampau bising oleh keinginanmu sendiri?”

Namun di balik keprihatinan itu, Shang Dyah masih menyimpan seberkas harap. ”Jika tangan manusia mampu merusak, ia pun mampu menyembuhkan,” gumamnya lirih dalam batin. “Asal mereka mau kembali mengingat: bahwa mereka bukan penguasa, melainkan bagian dari semesta”.

Ombak kembali menyentuh kakinya, dan ia melangkah maju, membawa duka, doa, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti sejenak. Pandangannya kosong, menembus garis ombak yang pecah lalu hilang, seperti kesadaran manusia yang datang sebentar lalu lenyap tanpa jejak.

“Kasihan… sungguh kasihan kalian,” ucapnya dalam batin, tanpa nada marah, hanya kelelahan yang dalam.

“Kalian menangis pada banjir, mengutuk panas, menyalahkan takdir dan langit, namun tak pernah sungguh berani bercermin.”

Ia menarik napas perlahan. “Betapa mudahnya jari-jari itu menunjuk ke luar, tetapi betapa beratnya mengarah ke dada sendiri.”

Di hadapan matanya terbayang wajah-wajah manusia: cemas, marah, putus asa. “Kalian bertanya mengapa bumi tak lagi ramah, tanpa menyadari bahwa kaki kalianlah yang menginjaknya tanpa rasa. Kalian mengeluh alam tak setia, padahal kalian lebih dahulu mengkhianatinya.”

Ada iba yang menghangatkan sekaligus melukai.“Andai kalian tahu, bisiknya dalam hati, bahwa alam tak pernah berniat menghukum. Ia hanya merespons. Ia hanya memantulkan apa yang kalian lakukan kepadanya.”

Langkahnya kembali bergerak, lebih pelan dari sebelumnya.“Kalian adalah anak-anak semesta yang lupa asal-usulnya, lanjut suara batin itu. Lupa bahwa setiap pohon yang tumbang, setiap laut yang tercemar, sesungguhnya adalah bagian dari diri kalian sendiri yang ikut runtuh.”

Ia menunduk, seolah memberi hormat pada pasir dan ombak. “Namun bagaimana mungkin kesadaran tumbuh, jika kesalahan selalu dilemparkan pada nasib?” Gumamnya dalam hati

Di antara rasa kasihan itu, Shang Dyah menyimpan kesunyian yang pahit; “Manusia bukan tak mampu memahami. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa kerusakan ini… adalah karya tangan mereka sendiri.”  

Ketika gumam batin itu masih bergetar pelan di dalam dadanya, suara lain menyusup dari kejauhan. Suara manusia, nyata, serak oleh usia dan asin laut. Tak jauh darinya, dua orang nelayan setengah baya duduk di atas perahu kayu yang catnya mulai terkelupas. Tangan mereka cekatan merapikan jaring, meski gerakannya tak lagi sekuat dulu.

“Sedikit sekali hari ini,” ujar yang satu, menghela napas panjang sambil menggulung tali.
“Iya,” sahut temannya lirih, “bahkan tak cukup buat beli solar besok.”

Mereka terdiam sejenak, hanya bunyi jaring yang bergesek dan ombak yang memukul lambung perahu. “Ingat waktu kita masih kecil?” lanjut nelayan pertama. “Bapak kita pulang sebelum matahari tinggi, perahu penuh ikan. Kita sampai kewalahan bantu nurunin.”

Yang lain tersenyum pahit. “Sekarang? Setengah hari di laut, hasilnya segini.” Ia mengangkat jaring yang nyaris kosong. “Lautnya sudah bukan laut yang dulu.”

Percakapan itu membuat langkah Shang Dyah melambat. Ia merapat, berpura-pura hanya seorang pejalan yang menikmati senja, namun telinganya menangkap setiap kata.

“Sejak pantai dipagari tambak udang itu,” gerutu nelayan pertama, suaranya menurun, “air jadi lain. Mangrove habis, ikan entah ke mana.”

“Iya,” jawab temannya, nada suaranya getir. “Katanya demi kemajuan. Tapi kita yang di laut ini malah mundur.”

Ada jeda panjang. Angin membawa bau lumpur tambak yang asing bagi laut. Shang Dyah berdiri tak jauh dari mereka, hatinya bergetar. Gerutu kecil itu, sederhana dan jujur, terdengar lebih tajam daripada ratapan panjang. Ia menyimak dalam diam, menyadari bahwa tanpa mereka sadari, kedua nelayan itu sedang mengucapkan kebenaran yang selama ini dihindari banyak manusia.

Ombak kembali memecah di pasir. Dan Shang Dyah, kian mendekat, mendengarkan namun bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh keprihatinan yang bersemayam di dalam dirinya. Kedua nelayan itu kembali terdiam, seolah pikiran mereka sama-sama terseret ke arah pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban utuh. Di wajah mereka tergambar kebingungan yang lama dipendam.

“Entah kenapa ya,” gumam salah satu dari mereka sambil menatap laut, “sejak tambak itu jalan beberapa tahun lalu, ikan makin jarang. Padahal lautnya masih di sini, ombaknya masih sama.”

“Iya,” sahut yang lain pelan. “Rasanya ada yang berubah, tapi kita nggak paham betul apa. Kita ini cuma nelayan, taunya melaut, bukan hitung-hitungan tambak.”

Mereka menggeleng, pasrah pada ketidaktahuan yang terasa menyesakkan. Ada jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka pahami; jarak yang membuat keluhan hanya berhenti sebagai gerutu.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani, yang sejak tadi menyimak, melangkah lebih dekat. Ia menyamarkan kegundahan batinnya, membiarkan wajahnya tampil sebagai perempuan biasa yang singgah di pantai menjelang senja. “Permisi,” sapanya lembut, disertai senyum tipis. “Sepertinya laut hari ini kurang ramah, ya?”

Kedua nelayan itu menoleh.“Ah, iya, Naken,” jawab salah satu dari mereka, ramah meski letih. “Akhir-akhir ini memang begitu. Ikan susah dicari.”

Shang Dyah mengangguk pelan, seolah hanya ikut merasakan. “Dari dulu juga begini?” tanyanya basa-basi, nada suaranya ringan, namun matanya menyimpan perhatian yang dalam. “Tidak,” jawab nelayan yang lain. “Dulu laut ini murah hati. Sekarang… entahlah.”

Shang Dyah berdiri di antara mereka dan laut, membiarkan percakapan itu mengalir. Dalam diam, ia tahu, inilah celah kecil tempat kesadaran bisa mulai bersemi; dari obrolan sederhana, dari tanya yang jujur, dari manusia-manusia yang sesungguhnya hanya ingin hidup berdamai dengan alam.

Shang Dyah tersenyum kecil, lalu menatap laut sejenak sebelum kembali memandang kedua nelayan itu. Suaranya tetap lembut, namun kini berisi, seolah setiap kata telah lama disusun dengan pengetahuan yang matang.

“Sebenarnya,” ujarnya perlahan, “tambak udang tidak hanya mengambil ruang di pesisir. Dalam prosesnya, tambak menghasilkan limbah cair yang kembali mengalir ke laut.” Ia berhenti sejenak, memastikan mereka mendengarkan.

“Air buangan itu biasanya mengandung sisa pakan, kotoran udang, serta zat kimia seperti amonia, nitrat, dan fosfat. Jika jumlahnya kecil, laut masih bisa menyesuaikan diri. Tetapi jika dibuang terus-menerus dan tanpa pengolahan, zat-zat itu akan mengubah kualitas air.”

Kedua nelayan itu saling pandang, lalu kembali menatapnya. “Perubahan ini,” lanjut Shang Dyah, “menyebabkan eutrofikasi. Fitoplankton tumbuh berlebihan, oksigen terlarut di air menurun, dan biota laut yang membutuhkan oksigen tinggi, termasuk ikan-ikan tangkapan Bapak, perlahan menjauh atau mati.”

Ia menunjuk ke arah garis pantai yang kini tertutup pagar tambak. “Belum lagi hilangnya mangrove. Padahal mangrove adalah tempat pemijahan dan pembesaran banyak jenis ikan dan udang liar. Ketika mangrove rusak, siklus hidup biota laut ikut terputus.”

Nada suaranya tetap tenang, nyaris seperti dosen yang menjelaskan di ruang kuliah terbuka, dengan laut sebagai papan tulisnya. “Jadi bukan laut yang pelit,” simpulnya pelan. “Lingkungannya saja yang berubah, sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan seperti dulu.”

Kedua nelayan itu terdiam lama. Di wajah mereka tampak keterkejutan yang bercampur pemahaman baru. Shang Dyah menunduk ringan, seolah tak ingin terlihat menggurui. “Ini bukan kesalahan satu dua orang,” tambahnya lembut. “Ini soal bagaimana manusia sering lupa bahwa laut adalah sistem hidup yang saling terhubung. Jika satu bagian dilukai, bagian lain akan ikut merasakan.”

Ombak kembali datang dan surut, seakan mengamini penjelasan itu. Dan di senja yang semakin meredup, benih kesadaran mulai tumbuh, pelan namun nyata, di antara kata-kata yang akhirnya menemukan maknanya.

Senja perlahan menanggalkan warna keemasannya. Langit yang tadi berpendar hangat kini berangsur gelap, memasuki gerbang petang yang pekat dan sunyi. Garis laut dan langit menyatu dalam bayang kebiruan, sementara lampu-lampu kecil di perahu mulai dinyalakan satu per satu, berkelip seperti kunang-kunang yang kelelahan.

Shang Dyah menatap perubahan itu dengan diam. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergerak lebih jauh. Bagaimana kehidupan mereka di darat? batinnya bertanya. Bagaimana keluarga yang menunggu di rumah, menggantungkan harap pada laut yang kian menua?

Ia memandang kembali dua nelayan itu. Kerut di wajah mereka bukan hanya milik angin dan matahari, melainkan juga beban yang dipikul bertahun-tahun. Ada dorongan halus dalam dirinya untuk melihat lebih dekat, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai saksi kehidupan.

Shang Dyah pun sedikit memajukan langkah, berusaha menarik perhatian mereka tanpa kesan memaksa. “Petangnya cepat sekali gelap,” ujarnya sambil menatap langit. “Biasanya kalau sudah begini, rumah pasti sudah menunggu.”

Salah satu nelayan tersenyum tipis. “Iya, Naken. Istri sudah pasti resah kalau kami pulang kemalaman.” “Apa rumahnya jauh dari sini?” tanya Shang Dyah, nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa yang lahir dari keakraban mendadak.

“Tidak terlalu,” jawab yang lain. “Masih di kampung pesisir, tak jauh dari tambak itu.
Shang Dyah mengangguk pelan, lalu tersenyum hangat.

“Kebetulan saya belum tahu jalan di sekitar sini,” katanya, sedikit merendahkan suara. “Kalau tidak keberatan, boleh saya ikut sampai ke kampung? Sekalian ingin mengenal kehidupan nelayan lebih dekat.”

Kedua nelayan itu saling berpandangan, lalu mengangguk. “Boleh saja,” kata salah satu dari mereka. “Anggap saja jalan pulang bertiga.”

Di bawah langit yang kian gelap, Shang Dyah melangkah bersama mereka. Dalam hati, ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah rumah sederhana, melainkan menuju kisah manusia yang ingin ia pahami sepenuhnya; dari laut hingga ke ruang paling sunyi dalam kehidupan mereka.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah panggung kecil yang berdiri rapuh di tepi kampung pesisir. Kayunya kusam, beberapa bagian tampak lapuk dimakan usia dan udara asin. Begitu kedua nelayan itu mendekat, pintu rumah terbuka. Tiga orang anak berlarian keluar, wajah mereka cerah meski pakaian sederhana melekat di tubuh mungil itu. Di belakang mereka, seorang wanita menyusul, menyeka tangan di kain sarung, matanya memancarkan lega.

“Bapak pulang,” ujar wanita itu lirih namun hangat.

Shang Dyah berhenti sejenak, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang terasa menghangat sekaligus perih. Anak-anak itu menatapnya penuh rasa ingin tahu, sementara sang ibu tersenyum sopan. 

“Maaf, Bu,” kata Shang Dyah dengan suara halus, sedikit menundukkan kepala. “Bolehkah saya menumpang sholat Magrib?”

Wanita itu tampak terkejut sejenak, lalu mengangguk cepat. “Tentu, silakan. Rumah kami sederhana, tapi semoga cukup.”

Shang Dyah mengucapkan terima kasih. Saat diarahkan ke bagian belakang rumah untuk mengambil air wudhu, langkahnya melambat. Ia menyusuri lantai kayu yang berderit pelan, melewati dinding-dinding tipis yang tak sepenuhnya menahan angin malam. Di halaman belakang, sebuah sumur tua berdiri miring, dikelilingi ember plastik yang retak dan tanah becek bercampur pasir.

Pandangan Shang Dyah menyapu sekitar. Rumah itu jauh dari kata layak huni. Atapnya rendah, beberapa genting tampak bergeser. Tak ada sekat yang jelas antara ruang tidur dan dapur. Namun di tengah keterbatasan itu, terasa ketekunan dan ketabahan yang diam-diam tumbuh.

Sambil membasuh wajah dan tangannya dengan air dingin, Shang Dyah menunduk. Bukan karena air, melainkan karena rasa yang menekan di dalam dadanya. Beginikah harga dari laut yang terluka? batinnya bergumam. Manusia-manusia yang setia menjaganya justru hidup dalam kekurangan.

Air wudhu menetes dari jemarinya ke tanah. Dan di balik tubuh manusianya yang sederhana, Shang Dyah menyimpan tekad yang kian menguat, lahir dari apa yang baru saja ia saksikan di rumah kecil itu.

Usai sholat Magrib, rumah kecil itu dipenuhi suasana yang hangat dan sederhana. Lampu minyak menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding kayu yang kusam. Shang Dyah duduk bersila bersama keluarga nelayan itu. Anak-anak berkumpul di dekat ibunya, saling berdesakan, sesekali mencuri pandang ke arah tamu yang mereka anggap istimewa meski tak tahu alasannya.

Sang istri menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus di atas piring enamel yang pinggirnya terkelupas. “Maaf seadanya,” ucapnya lirih.

“Terima kasih,” jawab Shang Dyah tulus, senyumnya hangat, tangannya menerima suguhan itu dengan penuh hormat.

Percakapan mengalir perlahan. Tentang laut, tentang cuaca, tentang hari-hari yang kian berat. Salah satu nelayan mulai bercerita, suaranya datar namun sarat kelelahan.

“Sekarang melaut bukan soal berani lagi,” katanya. “Kadang kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap tak cukup.”

Istrinya menunduk, jemarinya meremas ujung kain. “Anak-anak tetap harus sekolah,” katanya pelan. “Kadang kami harus memilih, beli beras atau bayar buku.”

Anak-anak itu terdiam, seolah sudah terlalu akrab dengan kata-kata semacam itu. Salah satu dari mereka mendekat ke ayahnya, bersandar tanpa suara.

Shang Dyah mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tetap tenang, matanya lembut, namun di dalam batinnya sesuatu runtuh perlahan. Inilah akibat dari kerusakan yang tak pernah mereka lakukan, jerit hatinya lirih. Mereka membayar harga dari keserakahan yang bukan milik mereka.

Ia menahan napas, menelan getir yang naik ke dadanya. Betapa kejam dunia ketika yang paling setia justru yang paling menderita. Tangis itu tak pernah sampai ke wajahnya, namun di dalam, batinnya menangis pedih, tersedu tanpa suara.

Di tengah kisah-kisah sederhana itu, tawa kecil anak-anak sesekali pecah, menyingkap keteguhan yang tak tergoyahkan oleh kemiskinan. Dan di sanalah Shang Dyah duduk, menyaksikan cinta, ketabahan, dan luka yang hidup berdampingan dalam satu ruang sempit.

Malam kian pekat di luar, namun di dalam rumah kecil itu, api kehidupan tetap menyala. Shang Dyah menunduk pelan, menyimpan semua kisah itu dalam hatinya, bersumpah dalam diam bahwa penderitaan ini tak akan dibiarkan berlalu tanpa makna.

Malam semakin larut ketika Shang Dyah perlahan berdiri. Ia merogoh saku, menatap layar ponselnya, lalu berpura-pura menekan beberapa angka. Suaranya dibuat pelan namun cukup terdengar.

“Iya… aku sudah selesai,” katanya seolah berbicara dengan seseorang di seberang sana. “Tolong jemput aku di pantai tempat tadi kamu menurunkanku.”

Ia menutup panggilan itu dengan senyum kecil, lalu menoleh kepada keluarga nelayan tersebut. “Sepertinya saya harus pamit,” ucapnya lembut. “Teman saya akan menjemput di pantai.”

Sang istri bangkit tergesa. “Sudah malam, Naken. Terima kasih sudah singgah.”

Shang Dyah mengangguk hormat. Namun sebelum melangkah pergi, ia membuka ransel hitam pekat yang sejak tadi setia di punggungnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan dua helai kaos berwarna merah menyala, masih terlipat rapi. Warna itu tampak kontras di bawah cahaya lampu minyak yang redup.

“Ini… sedikit oleh-oleh,” katanya sambil menyerahkan kaos itu kepada sang nelayan. “Semoga bisa dipakai.”

Nelayan itu tampak kikuk, tangannya ragu menerima. “Wah, ini terlalu—”

“Tidak apa-apa,” potong Shang Dyah lembut, senyumnya menenangkan. Lalu ia mendekat kepada sang istri, menyelipkan sejumlah uang ke dalam genggaman tangannya. Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. “Untuk keperluan anak-anak,” bisiknya pelan.

Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia hendak berkata sesuatu, namun Shang Dyah hanya menggeleng perlahan, memohon agar tak ada penolakan.

Anak-anak memandang dengan mata bulat, tak sepenuhnya mengerti, namun merasakan hangatnya perpisahan itu.

Mereka mengantar Shang Dyah hingga ke gerbang kecil dari bambu yang berdiri miring di depan rumah. Angin malam menyapa lembut, membawa aroma laut yang pekat.

“Hati-hati di jalan, Naken,” ujar sang nelayan.

Shang Dyah menunduk hormat, lalu melangkah pergi. Dari balik bayang malam, ia sempat menoleh sekali lagi. Rumah kecil itu berdiri sunyi, namun di dalamnya tersimpan harapan yang rapuh dan doa-doa yang tak pernah berhenti.

Ia melanjutkan langkah menuju pantai stelah menorehkan ujung pemajanya pada lambung sampan sang nelayan;  tubuhnya menjauh, namun hatinya tertinggal; bersama keluarga nelayan yang baru saja ia temui, dan janji sunyi yang kini kian menguat di dalam dirinya. Berambung pekan depan

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi