Demi Cita-cita, Siswi SMA ini Tak Gengsi Jual Pentol Bakso - OKENEWS.NET | PT Bintang Mediaoke Pratama. All rights reserved

Breaking

Halaman

Jumat, 04 Desember 2020

Demi Cita-cita, Siswi SMA ini Tak Gengsi Jual Pentol Bakso

Oleh: ABDURRAHMAN


HIDUP memang butuh perjuangan ekstra untuk bisa bertahan. Apalagi kondisi perekonomian bangsa saat ini yang sedang dilanda pandemi covid-19 dibutuhkan upaya kerja maksimal dan lebih produktif guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.



Kamis (malam Jumat 03/12/2020), jurnalis OkeNews.net tak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA tengah beraktivitas membantu orang tuanya berjualan di seputaran taman Rinjani Kota Selong, NTB. Siswi itu bernama Anisa Dwi Julianti, salah seorang siswi sekolah menengah atas (SMA) di Selong. 


Menariknya, ia sedikit berbeda dari gadis seusianya. Ia rela meninggalkan momen-momen masa remaja atau waktu bermain dengan teman sebaya guna membantu orang tuanya. Ia tidak gengsi menjual pentol bakso atau cilok, meski menyandang status pelajar SMA. 


Ia mengaku, selain membantu orang tua, ia menjual pentol untuk menabung karena Nisa ingin meraih  cita-citanya sebagai dokter. Meski ia menyadari pekerjaanya ini memiliki penghasilan yang tidak seberapa namun semangat dan rasa optimis tidak menyurutkan niatnya sebagai dokter agar bisa membantu masyarakat, kelak ketika ia sudah menjadi dokter.


Siswi dengan panggilan akrab Nisa itu, kepada OkeNews menyampaikan, menjual pentol ini sudah biasa dilakukan sejak kecil membantu orang tua. Ia mulai berdagang setelah magrib hingga pukul 10 malam. "Hasil jual pentol ini untuk biaya hidup keluarga dan biaya sekolah semata," ujarnya.


Nisa siswi kelahiran tahun 2003 dan bersaudara tiga orang tersebut mengakui dirinya sudah terbiasa mengikuti orang tuanya berjualan di sekitaran Taman Rinjani Selong dari sejak kecil, hingga merasa terbiasa dan tidak gengsi kepada siapapun.


"Kalo jualan seperti ini sih, sudah terbiasa pak. Dari sejak kecil dibimbing oleh bapak untuk berjualan seperti ini," ujarnya sembari membuka tutup pengukus pentol jualannya.


Lebih jauh siswi yang tidak gengsi itu mengungkapkan terkait dirinya sebagai anak perempuan yang ke dua dari tiga bersaudara yang lahir dari orang tuanya bernama Akhirudin dan ibu Sulhiatun, tidak berputus harapan untuk selalu berusaha meskipun dengan modal kecil yakni hanya tigaratus ribu rupiah.


"Kita tidak boleh berputus harapan untuk berusaha berjualan mencari rizki, apa lagi masih sehat seperti ini. Dengan modal 300 ribu biasa berjualan tiga sampai empat hari walo dengan keuntungan juga tidak banyak," tukasnya.


Dengan semangat dan cita cita yang digantungkan, ia berharap semoga dirinya selalu diberikan kesehatan oleh Allah Swt. "Walau pendapatan dari jualan pentolan setiap malam sangat minim, namun jika dikumpulkan maka akan banyak kedepannya. Dengan pendapatan seratus sampai seratus tiga puluh ribu permalam insya Allah berkah," tutupnya.