Kisah Alumni Universitas Hamzanwadi yang Diundang Kick Andy - www.okenews.net | selalu oke di hati | All rights reserved

Breaking

Halaman

Senin, 10 Mei 2021

Kisah Alumni Universitas Hamzanwadi yang Diundang Kick Andy

Asri, seorang Alumni STKIP Hamzanwadi (sekarang Universitas Hamzanwadi) tiba-tiba mendapat undang untuk tampil dipanggung nasional (acara Kick Andy — Metro TV. Asri diwawancara Andi F Noya dan akan tayang 23 Mei 2021). Tayangan itu mengangkat kisahnya menjadi guru dan merintis beberapa sekolah di tempat terpencil dengan tema “Asa di Tapal Batas”. Bagaimana kisah perjuangannya? Berikut ulalasannya.



Menjadi guru bukanlah cita-cita Asri yang terlintas sejak kecil, bahkan hingga memasuki semester VI di STKIP Hamzanwadi Selong Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Namun Allah SWT memiliki rencana yang tidak terduga dalam bagi hidupnya sehingga saat ini mendapat suatu kehormatan untuk duduk dan bercerita di depan Andy F Noya dalam acara Kick Andy Talk Show di Metro TV.

“Saat bang Andy bertanya, ‘katanya tidak niat jadi guru, loch kok malah ngeritis sekolah dan berkiprah menjadi seorang guru ?‘, saya-pun menjawab bahwa memang saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru namun motivasi menjadi seorang guru itu muncul ketika saya mengikuti mata kuliah Micro Teaching,” ulasnya, Sabtu (08/05/2021).

Saat itu, ia harus gantian tampil menjadi seorang guru di depan dosen pengampu mata kuliah yakni Dr. Badaruddin, M.Pd dan teman-teman sekelasnya. Dengan kostum baju hem, celana jeans dan rambut yang agak urak-urakan ia tampil cukup memukau dengan materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. “Insyallah bapak dosen saya masih ingat peristiwa itu,” tuturnya.

Usai menyampaikan materi itu, ia pun harus mendapat sanjungan dan keritik pedas dari dosen pengampunya. “Sebenarnya kamu memiliki bakat untuk menjadi seorang guru, namun sayangnya penampilanmu itu lebih cocok jadi Cow Boy. Besok-besok kamu pakai saja topi cow boy dan jangan lupa letakkan pistol di pinggangmu,” kenangnya.

Ia pun merasa campur aduk mendengar komentar itu, ada bangganya namun lebih banyak kecewanya. Tapi itulah kalimat awal yang menjadi motivasi awal Asri untuk serius belajar menjadi seorang guru yang baik dan benar.

“Setelah itu saya agak rajin kuliah dan merubah penampilan menjadi agak rapi. Saya semakin termotivasi mengikuti perkuliahan saat bertemu dengan mata kuliah jurnalistik yang diampu Dr. Habibuddin dan mata kuliah penelitian kualitatif diampu Dr. Jujuk Ferdianto,” kenangnya.

Menurutnya  ketiga dosennya itukah yang menjadi motivator Asri rajin kuliah, yang meskipun pada perkembangannya ia lebih condong bercita-cita ingin menjadi peneliti handal seperti Dr. Habibuddin, M.Pd dan Dr. Jujuk Ferdianto, M.Pd.

“Sungguh saya berkeinginan sekali menjadi seorang peneliti arkiologi dan ahirnya saya ikut dalam Club Diskusi Sejarah (Cerdas) yang waktu itu digagas oleh saudara Marsoan, Zidni, Bamabang Sukoco, Andry Hadinata, Imam Mujahidin, dan Insan Karisma”.

Lewat Cerdas itu ia terus mengasah ilmu kesejarahan, terutama dalam hal penelitian sejarah dan budaya lokal. Dan sejak itulah kebanggaannya terhadap almamater Universitas Hamzanwadi mulai terpupuk dan ahirnya tumbuh subur hingga saat ini.

Kisah Awal Merintis Sekolah

Saat Asri mulai menyusun tugas akhir (skripsi), ia kerap diajak oleh teman sekelasnya di kelas A Program Studi Sejarah (almarhum Bambang Sukoco) untuk membantunya membuat administrasi guna merintis sebuah sekolah di wilayah tempatnya mengajar, yakni di Desa sambik Elen Kecamatan Bayan. Karena ia memang hobi menulis, maka ia pun membantunya dan kerap diajak main ke tempatnya.

“Selesai wisuda, Bambang Sukoco-pun membawa saya dan saudara Andry Hadinta, S. Pd (teman sebangku di Program Studi Pendidikan Sejarah) ke Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan guna melakukan penelitian sejarah dan budaya. Dan di sanalah kami bertiga memulai gerakan heroik sebaga perintis dan penggerak pendidikan di tapal batas (perbatasan Lombok Timur dan Lombok Utara)”.

Asri dan Andry Hadinata kemudian memulai karir sebagai guru di MTs. Maraqitta’limat Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan yang sama-sama dirintis bersama Hamdan beserta teman-teman lainnya dan masyarakat setempat.

Waktu terus berjalan, pada tahun 2010 Asri merintis pendirian Yayasan Pendidikan dan Penelitian Al-Assagaf dan mendirikan SMK di wilayah Dusun Kokok Putik Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun. Sekolah itu dirikan bersama tokoh-tokoh setempat yang memiliki keinginan kuat untuk memajukan dunia pendidikan di wilayah itu, diantaranya adalah Ye Muhammad, S. Pd (alumni Universitas Hamzanwadi Program Studi Pendidikan Sejarah), Amaq Sutrawadi, Suaib, Deri, S. Pd dan Muhammad Saleh (Kadus Kokok Putik).

“Atas kecintaan kami kepada almamater maka kamipun menamakan sekolah itu dengan nama SMK NW Kokok Putik Bilok Petung dengan membuka jurusan Agrobisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura,” tutur Asri yang saat ini aktif menelusuri jejak sejarah Lombok.

Tahun berikutnya, di bawah Yayasan Pendidikan dan Penelitian Al-Assagaf, Asri dan teman temannya mendirikan SMP Islam Assagaf Kokok Putik dan merintis SD Filial Bakong Desa Sambik Elen. Pada saat ia akan memulai mendirikan sekolah itu, Bambang Sukoco di panggil ilahi. Asri akhirnya melanjutkan rencana itu hingga selesai, sedangkan saudara Andry Hadinata, S. Pd tetap diam di SDN 1 Sambik Elen.

“Sepeninggal almarhum Bambang Sukoco, saya harus melanjutkan pendirian SMP Islam Al-Assagaf dan SD Filial Bakong. Alhamdulillah berkat dukungan sahabat-sahabat seperjuangan maka rintisan-rintisan itu bisa berjalan dan terselesaikan yang meskipun dengan perjuangan yang agak sulit,” tuturnya.

Pada tahun 2013 kami mulai merintis PAUD Adek di Dusun Batu Santek Desa Sambik Elen dan Alhamdulillah PAUD itu dapat berjalan hingga saat ini.

Asri: Karomah Maulana Syeikh

Asri mengaku tidak pernah berhayal untuk duduk dan bercerita tetang perjalanan tersebut di depan bang Andy F Noya, berbagi cerita kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Namun Allah SWT mengirim saya ke acara bergengsi Metro TV ini.

“Saya berpikir bahwa ini adalah anugerah atas kecintaan saya dan teman-teman seperjuangan, kepada almamater Universitas Hamzanwadi, dan ini adalah bagian dari karomah ilmu yang kami dapatkan dari lembaga pendidikan yang didirikan oleh sang Pahlawan Nasional TGKH. M. Zainudin Abdul Majdid,” ungkapnya.

Sebab, menurut Asri, atas dasar ilmu dan pengetahuan yang didapatkan dari Universitas Hamzanwadi serta motivasi dari dosen-dosennya, seperti pak Badarudin, Jujuk Ferdianto, Habibuddin dan Pak De Bambang Eka Saputra sehingga dapat mewakili teman-teman seperjuangan untuk bercerita di panggung Kick Andy.

“Secara peribadi, saya merasa bahwa ilmu sejarah yang saya dapatkan selama di Universitas Hamzanwadi-lah yang membentuk karakter arif dan memupuk jiwa juang saya untuk mendedikasikan diri saya menjadi seorang guru dan perintis pendidikan di tapal batas Lombok Timur-Lombok Utara bersama teman seperjuangannya,” urainya.

Asri juga menambahkan, bukan hanya dia saja yang kerap mendapatkan penghargaan atas pengabdiannya di sekolah yang dirintis, namun beberapa orang teman guru juga pernah mendapatkan penghargaan, di antaranya adalah;

  1. Badri, S. Pd (alumni Prodi Pendidikan Biologi) yang mendapatkan penghargaan Anugerah Istimewa Sekolah (AiSO) Dikbud Provinsi NTB pada tanggal 02 Mei 2021 sebagai Guru Inspiratif Bidang Teknologi Inovasi dari SMK NW Kokok Putik Bilok Petung, Juara III Pemuda Pelopor Nasional Tahun 2017 dan mendapatkan penghargaan dari Astra Internasional atas prestasinya sebagai peserta SATU Indonesia Award 2018,
  2. Masykur, S. Pd penerima Anugerah AiSO 2021 sebagai Guru Inspiratif Bidang Seni dan Sastra dari MTs. Maraqitta’limat Lenggorong
  3. Sahabul Aowalin, S. Pd (Alumni Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Hamzanwadi) mendapatkan Anugerah Duta Informasi 2016 sebagai Penulis artikel Terbaik Kampung Media 2016 (Guru SMK NW Kokok Putik).
  4. Hajrul Azmi, S.Pd yang mendapatkan Anugerah Duta Informasi NTB tahun 2007 atas persetasi sebagai Penulis Terbaik Bidang Keagamaan Tahun 2017 (Guru SMK NW Kokok Putik).

“Dengan demikian, jelaslah bahwa tidak sedikit alumni Universitas Hamzanwadi yang memiliki prestasi gemilang sehinga saya secara peribadi merasa bangga sebagai salah seorang alumni Universitas Hamzanwadi yang diliputi oleh karomah Almagfurullah TGKH. Zainuddin Abdul Majdid,” tutupnya.