www.okenews.net: Pendidikan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2026

JEJAK SHANG DYAH (Episode 02)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI)
Jejak adalah bahasa sunyi yang ditinggalkan langkah; ia mungkin terhapus oleh waktu, namun maknanya tetap tinggal, meresap ke bumi, menjadi saksi bahwa seseorang pernah hadir, pernah peduli, dan pernah berjanji pada semesta.

Oleh : AM PUPU
Guru Muhir_Pendiri Repoq Literasi, Lombok Timur
Di suatu senja yang lembut, ketika garis cakrawala mengabur antara langit dan laut, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berjalan menyusuri bibir pantai. Pasir dingin menyentuh telapak kakinya, ombak berbisik pelan seolah menyimpan rahasia yang tak pernah diucapkan. Tak seorang pun mengenalinya. Ia hadir dalam tubuh manusia biasa, tanpa sinar keagungan, tanpa tanda-tanda asalnya yang luhur.

Mereka yang berpapasan hanya menangkap siluet seorang wanita cantik yang hampir sempurna, langkahnya tenang, tatapannya jauh menembus samudra. Tak ada yang menyangka bahwa di balik wajah yang sederhana itu berdiam kekuatan purba dan kebijaksanaan yang telah melintasi zaman. Di pantai yang sunyi itu, Dewi Anjani membiarkan dirinya larut dalam kefanaan, menikmati dunia sebagaimana manusia memandangnya, tanpa puja, tanpa takut, hanya angin, ombak, dan rahasia yang setia menemaninya.

Langkahnya melambat. Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani menunduk, memandangi serpihan-serpihan asing yang terseret ombak ke pasir: plastik kusam, potongan jaring yang koyak, sisa-sisa dunia yang kehilangan kepedulian. Dadanya terasa sesak, bukan oleh lelah, melainkan oleh keprihatinan yang mengendap lama.

"Beginikah rupa titipan yang dulu dijaga dengan doa dan rasa hormat?" Suara itu tak terucap, namun bergema jelas di ruang batinnya.

Ia mengangkat wajah, menatap laut yang dulu jernih seperti cermin langit."Wahai manusia’, bisiknya dalam hati, “tanganmu mampu membangun peradaban, tetapi mengapa ia juga begitu ringan melukai ibu yang menghidupimu?"

Angin pantai menyibakkan rambutnya, seolah menjawab dengan keluhan panjang. “Hutan kau tebang tanpa jeda, gunung kau koyak demi keserakahan sesaat. Sungai kau jadikan tempat membuang lupa, lalu kau heran ketika air tak lagi memberi kehidupan.”

Setiap langkah terasa seperti menapaki luka. “Apakah kau tak lagi mendengar napas alam? Ataukah hatimu telah terlampau bising oleh keinginanmu sendiri?”

Namun di balik keprihatinan itu, Shang Dyah masih menyimpan seberkas harap. ”Jika tangan manusia mampu merusak, ia pun mampu menyembuhkan,” gumamnya lirih dalam batin. “Asal mereka mau kembali mengingat: bahwa mereka bukan penguasa, melainkan bagian dari semesta”.

Ombak kembali menyentuh kakinya, dan ia melangkah maju, membawa duka, doa, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti sejenak. Pandangannya kosong, menembus garis ombak yang pecah lalu hilang, seperti kesadaran manusia yang datang sebentar lalu lenyap tanpa jejak.

“Kasihan… sungguh kasihan kalian,” ucapnya dalam batin, tanpa nada marah, hanya kelelahan yang dalam.

“Kalian menangis pada banjir, mengutuk panas, menyalahkan takdir dan langit, namun tak pernah sungguh berani bercermin.”

Ia menarik napas perlahan. “Betapa mudahnya jari-jari itu menunjuk ke luar, tetapi betapa beratnya mengarah ke dada sendiri.”

Di hadapan matanya terbayang wajah-wajah manusia: cemas, marah, putus asa. “Kalian bertanya mengapa bumi tak lagi ramah, tanpa menyadari bahwa kaki kalianlah yang menginjaknya tanpa rasa. Kalian mengeluh alam tak setia, padahal kalian lebih dahulu mengkhianatinya.”

Ada iba yang menghangatkan sekaligus melukai.“Andai kalian tahu, bisiknya dalam hati, bahwa alam tak pernah berniat menghukum. Ia hanya merespons. Ia hanya memantulkan apa yang kalian lakukan kepadanya.”

Langkahnya kembali bergerak, lebih pelan dari sebelumnya.“Kalian adalah anak-anak semesta yang lupa asal-usulnya, lanjut suara batin itu. Lupa bahwa setiap pohon yang tumbang, setiap laut yang tercemar, sesungguhnya adalah bagian dari diri kalian sendiri yang ikut runtuh.”

Ia menunduk, seolah memberi hormat pada pasir dan ombak. “Namun bagaimana mungkin kesadaran tumbuh, jika kesalahan selalu dilemparkan pada nasib?” Gumamnya dalam hati

Di antara rasa kasihan itu, Shang Dyah menyimpan kesunyian yang pahit; “Manusia bukan tak mampu memahami. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa kerusakan ini… adalah karya tangan mereka sendiri.”  

Ketika gumam batin itu masih bergetar pelan di dalam dadanya, suara lain menyusup dari kejauhan. Suara manusia, nyata, serak oleh usia dan asin laut. Tak jauh darinya, dua orang nelayan setengah baya duduk di atas perahu kayu yang catnya mulai terkelupas. Tangan mereka cekatan merapikan jaring, meski gerakannya tak lagi sekuat dulu.

“Sedikit sekali hari ini,” ujar yang satu, menghela napas panjang sambil menggulung tali.
“Iya,” sahut temannya lirih, “bahkan tak cukup buat beli solar besok.”

Mereka terdiam sejenak, hanya bunyi jaring yang bergesek dan ombak yang memukul lambung perahu. “Ingat waktu kita masih kecil?” lanjut nelayan pertama. “Bapak kita pulang sebelum matahari tinggi, perahu penuh ikan. Kita sampai kewalahan bantu nurunin.”

Yang lain tersenyum pahit. “Sekarang? Setengah hari di laut, hasilnya segini.” Ia mengangkat jaring yang nyaris kosong. “Lautnya sudah bukan laut yang dulu.”

Percakapan itu membuat langkah Shang Dyah melambat. Ia merapat, berpura-pura hanya seorang pejalan yang menikmati senja, namun telinganya menangkap setiap kata.

“Sejak pantai dipagari tambak udang itu,” gerutu nelayan pertama, suaranya menurun, “air jadi lain. Mangrove habis, ikan entah ke mana.”

“Iya,” jawab temannya, nada suaranya getir. “Katanya demi kemajuan. Tapi kita yang di laut ini malah mundur.”

Ada jeda panjang. Angin membawa bau lumpur tambak yang asing bagi laut. Shang Dyah berdiri tak jauh dari mereka, hatinya bergetar. Gerutu kecil itu, sederhana dan jujur, terdengar lebih tajam daripada ratapan panjang. Ia menyimak dalam diam, menyadari bahwa tanpa mereka sadari, kedua nelayan itu sedang mengucapkan kebenaran yang selama ini dihindari banyak manusia.

Ombak kembali memecah di pasir. Dan Shang Dyah, kian mendekat, mendengarkan namun bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh keprihatinan yang bersemayam di dalam dirinya. Kedua nelayan itu kembali terdiam, seolah pikiran mereka sama-sama terseret ke arah pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban utuh. Di wajah mereka tergambar kebingungan yang lama dipendam.

“Entah kenapa ya,” gumam salah satu dari mereka sambil menatap laut, “sejak tambak itu jalan beberapa tahun lalu, ikan makin jarang. Padahal lautnya masih di sini, ombaknya masih sama.”

“Iya,” sahut yang lain pelan. “Rasanya ada yang berubah, tapi kita nggak paham betul apa. Kita ini cuma nelayan, taunya melaut, bukan hitung-hitungan tambak.”

Mereka menggeleng, pasrah pada ketidaktahuan yang terasa menyesakkan. Ada jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka pahami; jarak yang membuat keluhan hanya berhenti sebagai gerutu.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani, yang sejak tadi menyimak, melangkah lebih dekat. Ia menyamarkan kegundahan batinnya, membiarkan wajahnya tampil sebagai perempuan biasa yang singgah di pantai menjelang senja. “Permisi,” sapanya lembut, disertai senyum tipis. “Sepertinya laut hari ini kurang ramah, ya?”

Kedua nelayan itu menoleh.“Ah, iya, Naken,” jawab salah satu dari mereka, ramah meski letih. “Akhir-akhir ini memang begitu. Ikan susah dicari.”

Shang Dyah mengangguk pelan, seolah hanya ikut merasakan. “Dari dulu juga begini?” tanyanya basa-basi, nada suaranya ringan, namun matanya menyimpan perhatian yang dalam. “Tidak,” jawab nelayan yang lain. “Dulu laut ini murah hati. Sekarang… entahlah.”

Shang Dyah berdiri di antara mereka dan laut, membiarkan percakapan itu mengalir. Dalam diam, ia tahu, inilah celah kecil tempat kesadaran bisa mulai bersemi; dari obrolan sederhana, dari tanya yang jujur, dari manusia-manusia yang sesungguhnya hanya ingin hidup berdamai dengan alam.

Shang Dyah tersenyum kecil, lalu menatap laut sejenak sebelum kembali memandang kedua nelayan itu. Suaranya tetap lembut, namun kini berisi, seolah setiap kata telah lama disusun dengan pengetahuan yang matang.

“Sebenarnya,” ujarnya perlahan, “tambak udang tidak hanya mengambil ruang di pesisir. Dalam prosesnya, tambak menghasilkan limbah cair yang kembali mengalir ke laut.” Ia berhenti sejenak, memastikan mereka mendengarkan.

“Air buangan itu biasanya mengandung sisa pakan, kotoran udang, serta zat kimia seperti amonia, nitrat, dan fosfat. Jika jumlahnya kecil, laut masih bisa menyesuaikan diri. Tetapi jika dibuang terus-menerus dan tanpa pengolahan, zat-zat itu akan mengubah kualitas air.”

Kedua nelayan itu saling pandang, lalu kembali menatapnya. “Perubahan ini,” lanjut Shang Dyah, “menyebabkan eutrofikasi. Fitoplankton tumbuh berlebihan, oksigen terlarut di air menurun, dan biota laut yang membutuhkan oksigen tinggi, termasuk ikan-ikan tangkapan Bapak, perlahan menjauh atau mati.”

Ia menunjuk ke arah garis pantai yang kini tertutup pagar tambak. “Belum lagi hilangnya mangrove. Padahal mangrove adalah tempat pemijahan dan pembesaran banyak jenis ikan dan udang liar. Ketika mangrove rusak, siklus hidup biota laut ikut terputus.”

Nada suaranya tetap tenang, nyaris seperti dosen yang menjelaskan di ruang kuliah terbuka, dengan laut sebagai papan tulisnya. “Jadi bukan laut yang pelit,” simpulnya pelan. “Lingkungannya saja yang berubah, sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan seperti dulu.”

Kedua nelayan itu terdiam lama. Di wajah mereka tampak keterkejutan yang bercampur pemahaman baru. Shang Dyah menunduk ringan, seolah tak ingin terlihat menggurui. “Ini bukan kesalahan satu dua orang,” tambahnya lembut. “Ini soal bagaimana manusia sering lupa bahwa laut adalah sistem hidup yang saling terhubung. Jika satu bagian dilukai, bagian lain akan ikut merasakan.”

Ombak kembali datang dan surut, seakan mengamini penjelasan itu. Dan di senja yang semakin meredup, benih kesadaran mulai tumbuh, pelan namun nyata, di antara kata-kata yang akhirnya menemukan maknanya.

Senja perlahan menanggalkan warna keemasannya. Langit yang tadi berpendar hangat kini berangsur gelap, memasuki gerbang petang yang pekat dan sunyi. Garis laut dan langit menyatu dalam bayang kebiruan, sementara lampu-lampu kecil di perahu mulai dinyalakan satu per satu, berkelip seperti kunang-kunang yang kelelahan.

Shang Dyah menatap perubahan itu dengan diam. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergerak lebih jauh. Bagaimana kehidupan mereka di darat? batinnya bertanya. Bagaimana keluarga yang menunggu di rumah, menggantungkan harap pada laut yang kian menua?

Ia memandang kembali dua nelayan itu. Kerut di wajah mereka bukan hanya milik angin dan matahari, melainkan juga beban yang dipikul bertahun-tahun. Ada dorongan halus dalam dirinya untuk melihat lebih dekat, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai saksi kehidupan.

Shang Dyah pun sedikit memajukan langkah, berusaha menarik perhatian mereka tanpa kesan memaksa. “Petangnya cepat sekali gelap,” ujarnya sambil menatap langit. “Biasanya kalau sudah begini, rumah pasti sudah menunggu.”

Salah satu nelayan tersenyum tipis. “Iya, Naken. Istri sudah pasti resah kalau kami pulang kemalaman.” “Apa rumahnya jauh dari sini?” tanya Shang Dyah, nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa yang lahir dari keakraban mendadak.

“Tidak terlalu,” jawab yang lain. “Masih di kampung pesisir, tak jauh dari tambak itu.
Shang Dyah mengangguk pelan, lalu tersenyum hangat.

“Kebetulan saya belum tahu jalan di sekitar sini,” katanya, sedikit merendahkan suara. “Kalau tidak keberatan, boleh saya ikut sampai ke kampung? Sekalian ingin mengenal kehidupan nelayan lebih dekat.”

Kedua nelayan itu saling berpandangan, lalu mengangguk. “Boleh saja,” kata salah satu dari mereka. “Anggap saja jalan pulang bertiga.”

Di bawah langit yang kian gelap, Shang Dyah melangkah bersama mereka. Dalam hati, ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah rumah sederhana, melainkan menuju kisah manusia yang ingin ia pahami sepenuhnya; dari laut hingga ke ruang paling sunyi dalam kehidupan mereka.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah panggung kecil yang berdiri rapuh di tepi kampung pesisir. Kayunya kusam, beberapa bagian tampak lapuk dimakan usia dan udara asin. Begitu kedua nelayan itu mendekat, pintu rumah terbuka. Tiga orang anak berlarian keluar, wajah mereka cerah meski pakaian sederhana melekat di tubuh mungil itu. Di belakang mereka, seorang wanita menyusul, menyeka tangan di kain sarung, matanya memancarkan lega.

“Bapak pulang,” ujar wanita itu lirih namun hangat.

Shang Dyah berhenti sejenak, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang terasa menghangat sekaligus perih. Anak-anak itu menatapnya penuh rasa ingin tahu, sementara sang ibu tersenyum sopan. 

“Maaf, Bu,” kata Shang Dyah dengan suara halus, sedikit menundukkan kepala. “Bolehkah saya menumpang sholat Magrib?”

Wanita itu tampak terkejut sejenak, lalu mengangguk cepat. “Tentu, silakan. Rumah kami sederhana, tapi semoga cukup.”

Shang Dyah mengucapkan terima kasih. Saat diarahkan ke bagian belakang rumah untuk mengambil air wudhu, langkahnya melambat. Ia menyusuri lantai kayu yang berderit pelan, melewati dinding-dinding tipis yang tak sepenuhnya menahan angin malam. Di halaman belakang, sebuah sumur tua berdiri miring, dikelilingi ember plastik yang retak dan tanah becek bercampur pasir.

Pandangan Shang Dyah menyapu sekitar. Rumah itu jauh dari kata layak huni. Atapnya rendah, beberapa genting tampak bergeser. Tak ada sekat yang jelas antara ruang tidur dan dapur. Namun di tengah keterbatasan itu, terasa ketekunan dan ketabahan yang diam-diam tumbuh.

Sambil membasuh wajah dan tangannya dengan air dingin, Shang Dyah menunduk. Bukan karena air, melainkan karena rasa yang menekan di dalam dadanya. Beginikah harga dari laut yang terluka? batinnya bergumam. Manusia-manusia yang setia menjaganya justru hidup dalam kekurangan.

Air wudhu menetes dari jemarinya ke tanah. Dan di balik tubuh manusianya yang sederhana, Shang Dyah menyimpan tekad yang kian menguat, lahir dari apa yang baru saja ia saksikan di rumah kecil itu.

Usai sholat Magrib, rumah kecil itu dipenuhi suasana yang hangat dan sederhana. Lampu minyak menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding kayu yang kusam. Shang Dyah duduk bersila bersama keluarga nelayan itu. Anak-anak berkumpul di dekat ibunya, saling berdesakan, sesekali mencuri pandang ke arah tamu yang mereka anggap istimewa meski tak tahu alasannya.

Sang istri menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus di atas piring enamel yang pinggirnya terkelupas. “Maaf seadanya,” ucapnya lirih.

“Terima kasih,” jawab Shang Dyah tulus, senyumnya hangat, tangannya menerima suguhan itu dengan penuh hormat.

Percakapan mengalir perlahan. Tentang laut, tentang cuaca, tentang hari-hari yang kian berat. Salah satu nelayan mulai bercerita, suaranya datar namun sarat kelelahan.

“Sekarang melaut bukan soal berani lagi,” katanya. “Kadang kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap tak cukup.”

Istrinya menunduk, jemarinya meremas ujung kain. “Anak-anak tetap harus sekolah,” katanya pelan. “Kadang kami harus memilih, beli beras atau bayar buku.”

Anak-anak itu terdiam, seolah sudah terlalu akrab dengan kata-kata semacam itu. Salah satu dari mereka mendekat ke ayahnya, bersandar tanpa suara.

Shang Dyah mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tetap tenang, matanya lembut, namun di dalam batinnya sesuatu runtuh perlahan. Inilah akibat dari kerusakan yang tak pernah mereka lakukan, jerit hatinya lirih. Mereka membayar harga dari keserakahan yang bukan milik mereka.

Ia menahan napas, menelan getir yang naik ke dadanya. Betapa kejam dunia ketika yang paling setia justru yang paling menderita. Tangis itu tak pernah sampai ke wajahnya, namun di dalam, batinnya menangis pedih, tersedu tanpa suara.

Di tengah kisah-kisah sederhana itu, tawa kecil anak-anak sesekali pecah, menyingkap keteguhan yang tak tergoyahkan oleh kemiskinan. Dan di sanalah Shang Dyah duduk, menyaksikan cinta, ketabahan, dan luka yang hidup berdampingan dalam satu ruang sempit.

Malam kian pekat di luar, namun di dalam rumah kecil itu, api kehidupan tetap menyala. Shang Dyah menunduk pelan, menyimpan semua kisah itu dalam hatinya, bersumpah dalam diam bahwa penderitaan ini tak akan dibiarkan berlalu tanpa makna.

Malam semakin larut ketika Shang Dyah perlahan berdiri. Ia merogoh saku, menatap layar ponselnya, lalu berpura-pura menekan beberapa angka. Suaranya dibuat pelan namun cukup terdengar.

“Iya… aku sudah selesai,” katanya seolah berbicara dengan seseorang di seberang sana. “Tolong jemput aku di pantai tempat tadi kamu menurunkanku.”

Ia menutup panggilan itu dengan senyum kecil, lalu menoleh kepada keluarga nelayan tersebut. “Sepertinya saya harus pamit,” ucapnya lembut. “Teman saya akan menjemput di pantai.”

Sang istri bangkit tergesa. “Sudah malam, Naken. Terima kasih sudah singgah.”

Shang Dyah mengangguk hormat. Namun sebelum melangkah pergi, ia membuka ransel hitam pekat yang sejak tadi setia di punggungnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan dua helai kaos berwarna merah menyala, masih terlipat rapi. Warna itu tampak kontras di bawah cahaya lampu minyak yang redup.

“Ini… sedikit oleh-oleh,” katanya sambil menyerahkan kaos itu kepada sang nelayan. “Semoga bisa dipakai.”

Nelayan itu tampak kikuk, tangannya ragu menerima. “Wah, ini terlalu—”

“Tidak apa-apa,” potong Shang Dyah lembut, senyumnya menenangkan. Lalu ia mendekat kepada sang istri, menyelipkan sejumlah uang ke dalam genggaman tangannya. Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. “Untuk keperluan anak-anak,” bisiknya pelan.

Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia hendak berkata sesuatu, namun Shang Dyah hanya menggeleng perlahan, memohon agar tak ada penolakan.

Anak-anak memandang dengan mata bulat, tak sepenuhnya mengerti, namun merasakan hangatnya perpisahan itu.

Mereka mengantar Shang Dyah hingga ke gerbang kecil dari bambu yang berdiri miring di depan rumah. Angin malam menyapa lembut, membawa aroma laut yang pekat.

“Hati-hati di jalan, Naken,” ujar sang nelayan.

Shang Dyah menunduk hormat, lalu melangkah pergi. Dari balik bayang malam, ia sempat menoleh sekali lagi. Rumah kecil itu berdiri sunyi, namun di dalamnya tersimpan harapan yang rapuh dan doa-doa yang tak pernah berhenti.

Ia melanjutkan langkah menuju pantai stelah menorehkan ujung pemajanya pada lambung sampan sang nelayan;  tubuhnya menjauh, namun hatinya tertinggal; bersama keluarga nelayan yang baru saja ia temui, dan janji sunyi yang kini kian menguat di dalam dirinya. Berambung pekan depan

Jumat, 23 Januari 2026

Institut Elkatarie Perkuat Jejaring Akademik, Resmi Jalin Kerja Sama dengan UNISDA Lamongan

Institut Elkatarie
Okenews.net- Institut Elkatarie resmi menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Lamongan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi Islam, khususnya dalam peningkatan mutu akademik dan kelembagaan.

Penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh Rektor Institut Elkatarie, Dr. Hasbulloh Muslim, bersama Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Elkatarie, Dr. Irfan Azim. Kesepakatan tersebut menegaskan komitmen kedua institusi untuk bersinergi dalam pengembangan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berdaya saing.

Melalui kerja sama ini, Institut Elkatarie dan UNISDA Lamongan sepakat mengembangkan berbagai program, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, kolaborasi riset dan publikasi ilmiah, pendampingan peningkatan mutu akademik, hingga penguatan tata kelola perguruan tinggi.

Rektor Institut Elkatarie, Dr. Hasbulloh Muslim, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan UNISDA Lamongan merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi di lingkungan Institut Elkatarie.

“Kerja sama ini diharapkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi dapat diwujudkan dalam program-program nyata yang memberi manfaat bagi dosen, mahasiswa, dan institusi,” ujarnya.

Sementara itu, pihak UNISDA Lamongan menyambut baik penandatanganan MoU tersebut sebagai langkah bersama dalam membangun perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan responsif terhadap tantangan zaman.

Dengan terjalinnya kerja sama ini, Institut Elkatarie dan UNISDA Lamongan optimistis dapat menghadirkan inovasi akademik serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan tinggi dan pemberdayaan masyarakat luas.

Mahasiswa Unram Dorong Olahan Kelapa Jadi VCO di Desa Korleko

KKN PMD Universitas Mataram

Okenews.net- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN PMD) Universitas Mataram menggelar sosialisasi bertema optimalisasi potensi kelapa melalui produksi Virgin Coconut Oil (VCO) di Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, (22/01/2026), bertempat di Aula Kantor Desa Korleko, dan diikuti oleh pemuda serta masyarakat setempat.


Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang besarnya potensi kelapa sebagai komoditas unggulan desa yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN PMD mendorong terbentuknya kelompok UMKM baru yang mandiri, peningkatan keterampilan teknis produksi, diversifikasi usaha berbasis kelapa, serta peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat desa.


Selama ini, mayoritas petani di Desa Korleko menjual kelapa secara borongan kepada tengkulak dengan harga relatif murah. Kelapa tersebut kemudian dipasarkan keluar daerah setelah dipisahkan dari serabutnya dengan harga yang jauh lebih tinggi. Rendahnya nilai jual di tingkat petani disebabkan oleh minimnya pengolahan dan lemahnya sistem niaga. Padahal, di berbagai daerah lain, kelapa telah diolah menjadi beragam produk bernilai tambah dengan teknologi sederhana yang dapat diterapkan oleh industri kecil dan menengah.


Sebelum sosialisasi digelar, Tim KKN PMD Universitas Mataram Desa Korleko telah melaksanakan pelatihan pembuatan VCO bersama perwakilan pemuda dari setiap dusun. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari pemaparan program kerja yang disampaikan kepada pemerintah desa pada 29 Desember 2025.


Sekretaris Desa Korleko, Mawardi, S.Pd., menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Ia berharap kegiatan yang dijalankan mahasiswa KKN PMD dapat berkelanjutan.


“Jika adik-adik mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram mampu merancang program yang berkelanjutan, kami dari pihak desa siap mendukung pendanaannya. Kami juga meminta setiap dusun mengirimkan perwakilan pemuda untuk mengikuti pelatihan pembuatan VCO,” ujarnya.


Sebagai langkah keberlanjutan, Tim KKN PMD Universitas Mataram Desa Korleko membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan pemuda desa. Pelatihan produksi Virgin Coconut Oil (VCO) dilaksanakan secara intensif mulai 5 hingga 17 Januari 2026.


Anggota Tim KKN PMD Universitas Mataram Desa Korleko 2025, Salju Anorawi, menyebutkan bahwa program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat.


“Program ini tidak hanya menambah pendapatan, tetapi juga menumbuhkan semangat wirausaha dan kesadaran akan pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal. Masyarakat Korleko kini mulai antusias memasarkan produk VCO di wilayah Labuhan Haji,” ungkapnya.


Melalui pengolahan kelapa menjadi VCO, masyarakat Desa Korleko diharapkan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari peningkatan nilai tambah produk. Selain mendongkrak pendapatan rumah tangga, program ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap fluktuasi harga kelapa mentah.


Kamis, 22 Januari 2026

Silaturahmi Ulama Nusantara–Thailand: Rektor IAIH Pancor Kunjungi Saiburi Islam Wittaya School

Silaturrahmi Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., melakukan kunjungan silaturahmi ke Saiburi Islam Wittaya School yang berada di Saiburi, Pattani, Thailand. Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mempererat jejaring keilmuan sekaligus memperkokoh persaudaraan antarlembaga pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara.

Kehadiran TGB beserta rombongan disambut hangat oleh pimpinan Saiburi Islam Wittaya School, Ustadz Abdulloh. Ia menyampaikan rasa hormat dan kebanggaan atas kunjungan tokoh ulama dari Indonesia tersebut, yang dinilai membawa semangat persatuan dan kolaborasi pendidikan lintas negara.

“Kami merasa terhormat menerima kunjungan ulama dan tokoh besar dari Indonesia. Semoga pertemuan ini menjadi awal terjalinnya persahabatan dan kerja sama yang kuat antara Saiburi Islam Wittaya School dan sivitas akademika IAIH Pancor,” ujar Ustadz Abdulloh, Selasa (21/1/2026).

Selain itu, TGB juga disambut langsung oleh pendiri Saiburi Islam Wittaya School, Dato’ Abdul Kadir, tokoh Islam berpengaruh di Thailand Selatan. Dato’ Kadir menyampaikan apresiasi mendalam atas kunjungan tersebut yang dinilainya sebagai kehormatan besar bagi lembaga dan masyarakat sekitar.

“Kami sangat berbahagia atas kehadiran TGB di Saiburi. Ini adalah bentuk silaturahmi yang sangat kami hargai dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.

Pertemuan dua tokoh ini memiliki makna khusus mengingat TGB dan Dato’ Abdul Kadir sama-sama merupakan alumni Universitas Al-Azhar, Mesir. Kesamaan latar belakang keilmuan tersebut semakin menguatkan ikatan intelektual dan ukhuwah Islamiyah di antara keduanya.

Dalam sambutannya, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi menyampaikan penghargaan dan rasa hormat yang tinggi kepada keluarga besar Saiburi Islam Wittaya School atas dedikasi mereka dalam mengembangkan pendidikan Islam di Thailand Selatan.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar YPH PPD NWDI Pancor, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas perjuangan dan jihad ta’lim yang dilakukan Saiburi Islam Wittaya School. Para pejuang pendidikan di wilayah ini adalah garda terdepan umat,” tutur TGB yang juga menjabat Ketua Umum PB NWDI dan Ketua OIA Al-Azhar Indonesia.

Ia menegaskan bahwa kemajuan umat tidak dapat dipisahkan dari penguasaan ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu dan hikmah merupakan fondasi utama dalam membangun umat yang kuat dan bermartabat.

“Pintu kemajuan umat adalah ilmu. Dengan ilmu dan hikmah, umat akan menjadi baik dan berdaya. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk belajar kepada ahlinya,” tegasnya.

Kunjungan ini diharapkan menjadi tonggak penguatan kerja sama dan persaudaraan antara lembaga pendidikan Islam Indonesia dan Thailand, sekaligus menginspirasi pengembangan pendidikan Islam yang berorientasi pada ilmu, akhlak, dan kemajuan peradaban umat.

Silaturahmi ke Thailand, TGB Apresiasi Festival Akademik dan Dorong Pendidikan Islam Holistik

Kunjungan TGB ke Thailand Selatan
Okenews.net-Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor (IAIH) Lombok Timur, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., melakukan kunjungan silaturahmi ke Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah, Thailand Selatan, Selasa (21/01/2026). Kunjungan tersebut dirangkaikan dengan tausiah serta peninjauan langsung festival akademik yang digelar oleh santri dan santriwati.

Didampingi Wakil Rektor I IAIH Pancor Dr. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., TGB beserta rombongan terlebih dahulu menyaksikan berbagai penampilan dalam festival akademik. Kegiatan tersebut menampilkan ragam kreativitas, bakat, dan kemampuan intelektual santri dan santriwati, mulai dari bidang akademik hingga seni dan keterampilan.

Festival akademik ini menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana pengembangan potensi peserta didik dalam suasana yang edukatif, inspiratif, dan penuh semangat keilmuan.

Pimpinan Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah, Ustadz Abdul Hakim, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas kehadiran Rektor IAIH Pancor di lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Ia menilai kunjungan tersebut sebagai sebuah kehormatan sekaligus motivasi besar bagi seluruh civitas sekolah.

“Kami sangat bersyukur dan berbahagia atas kehadiran Bapak TGB di Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah. Semoga silaturahmi ini membawa kebaikan dan keberkahan bagi lembaga kami serta seluruh santri dan santriwati,” ujarnya.

Dalam tausiahnya, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi mengaku terkesan dengan semangat belajar dan kreativitas para santri dan santriwati yang ditampilkan dalam festival akademik tersebut. Ia menilai kegiatan semacam ini sangat penting untuk membentuk generasi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan masa depan.

“Saya merasa sangat bahagia bisa bersilaturahmi sekaligus menyaksikan langsung aktivitas santri dan santriwati dalam festival akademik ini. Semangat belajar dan kreativitas yang ditunjukkan patut diapresiasi dan terus dikembangkan,” ungkap TGB yang juga menjabat Ketua Umum PB NWDI.

Ia mendorong pihak sekolah agar terus menghadirkan berbagai program pendidikan yang mampu menggali, menumbuhkan, dan mengangkat potensi santri dalam beragam disiplin ilmu.

“Sekolah perlu terus mengembangkan kegiatan yang dapat menumbuhkan bakat dan potensi santri dan santriwati di berbagai bidang keilmuan agar mereka siap menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.

Lebih lanjut, TGB menyinggung sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW., di mana para sahabat Nabi berasal dari beragam latar belakang profesi. Menurutnya, sejak awal Islam telah menempatkan seluruh bidang kehidupan sebagai ruang pengabdian umat.

“Sejak masa Nabi, para sahabat tidak hanya ulama, tetapi juga pedagang, penyair, petani, dan pengrajin. Semua ranah ilmu dan profesi harus diisi oleh umat Islam. Karena itu, generasi Islam, termasuk di Thailand Selatan, perlu dibekali dengan berbagai disiplin ilmu,” jelasnya.

Ia menutup tausiahnya dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu dan pembentukan akhlak. Menurutnya, Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah mencerminkan model pendidikan Islam yang ideal.

“Pendidikan Islam harus dibangun di atas keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter. Sekolah ini menjadi contoh lembaga pendidikan Islam dengan keilmuan yang kuat dan akhlak yang nyata,” pungkasnya.

Kunjungan tersebut diharapkan dapat semakin mempererat silaturahmi antar-lembaga pendidikan Islam lintas negara, sekaligus menguatkan semangat pendidikan holistik dalam mencetak generasi santri yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi bagi umat serta bangsa.

Selasa, 20 Januari 2026

TGB Zainul Majdi Sampaikan Tausiah Al-Qur’an di Thailand, Santri Darussalam Antusias

Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi

Okenews.net- Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., menyampaikan kajian keislaman di Sekolah Darussalam, Narathiwat, Thailand. Kehadiran ulama dan cendekiawan Al-Qur’an tersebut disambut antusias oleh para santri dan santriwati.

Sambutan selamat datang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Rusdi yang mewakili pihak Sekolah Darussalam. Ia mengungkapkan rasa bahagia sekaligus kehormatan atas kehadiran Rektor IAIH Pancor di lingkungan pendidikan mereka.

“Kami merasa sangat bahagia dan terhormat atas kehadiran Rektor IAIH Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., di Sekolah Darussalam. Kehadiran beliau menjadi kebanggaan sekaligus motivasi besar bagi para santri dan seluruh keluarga besar Darussalam,” ujar Rusdi, Senin (19/01/2026).

Rusdi juga berharap terjalinnya kerja sama keilmuan dan pendidikan yang berkelanjutan antara Sekolah Darussalam dan Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi. Menurutnya, fokus kajian Darussalam pada integrasi Al-Qur’an dan sains sejalan dengan keilmuan TGB sebagai ulama dan cendekiawan Al-Qur’an.

“Kami berharap kerja sama keilmuan dan pendidikan ini dapat terus terjalin. Fokus kajian Darussalam pada integrasi Al-Qur’an dan sains sangat sejalan dengan keilmuan beliau,” tambahnya.

Dalam tausiahnya, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi menekankan keutamaan Al-Qur’an sebagai sumber keberkahan dan penjaga kehidupan manusia. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga dan menekuni Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, maka Al-Qur’an akan menjadi penjaga sekaligus pembuka berbagai pintu kebaikan dalam hidupnya.

“Siapa yang menjaga Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjaganya. Dan siapa yang menekuni Al-Qur’an, akan dibukakan baginya banyak jalan dan pintu keberkahan,” ungkap TGB yang juga Ketua Umum PB NWDI dan Ketua OIA Al-Azhar Indonesia.

Ia turut membagikan perjalanan hidupnya sebagai motivasi bagi generasi muda. TGB mengisahkan mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 17 tahun dan mampu menyelesaikannya dalam waktu sekitar satu setengah tahun.

“Saya mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 17 tahun dan menyelesaikannya dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Keberkahan Al-Qur’an telah membuka banyak jalan penting dalam hidup saya, mulai dari pendidikan S1 hingga doktoral di Universitas Al-Azhar Mesir, hingga amanah sebagai anggota DPD RI, Gubernur NTB dua periode, dan Ketua Alumni Al-Azhar Indonesia,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, TGB berharap generasi muda Muslim di Thailand, khususnya para santri Sekolah Darussalam, menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan dan perjuangan intelektual. Ia meyakini, dari ketekunan terhadap Al-Qur’an akan lahir generasi dan aktor-aktor peradaban pada masa mendatang.

“Saya berharap para santri menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan dan perjuangan intelektual. Jika Al-Qur’an ditekuninya secara konsisten, saya yakin dari Darussalam akan lahir generasi dan aktor peradaban di masa depan,” pungkasnya.

TGB Zainul Majdi Gaungkan Persatuan Umat, Akhlak, dan Hakikat Ilmu di Forum Internasional Thailand

TGH Muhammad Zainul Majdi, MA. Rektor IAIH Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA, menyampaikan gagasan mendalam tentang persatuan umat, akhlak Islam, dan hakikat ilmu pengetahuan dalam sebuah seminar ilmiah internasional yang digelar di Dawood Conference Room, Attarkiah Islamiah Institute, Thailand, Senin (19/01/2026).


Seminar tersebut diawali dengan sambutan penuh kehangatan dari TGB yang mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT serta penghormatan kepada para ulama, akademisi, dan pemimpin yang hadir. Dalam kesempatan itu, ia secara khusus menyebut Sheikh Babu Hussien sebagai bentuk penghormatan, sekaligus mengenang Dr. Faisal sebagai sosok guru yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan intelektualnya.


Dalam pemaparannya, TGB menegaskan bahwa kedekatan antarmanusia tidak semata ditentukan oleh jarak geografis, melainkan oleh keselarasan hati, pemikiran, dan visi.


“Saya memiliki pengalaman bersama Dr. Faisal dan sejumlah tokoh lain yang meskipun baru bertemu, namun telah merasakan ikatan batin yang kuat. Inilah yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang persatuan hati di antara manusia,” ujar TGB yang juga menjabat Ketua Umum PB NWDI.


Ia menekankan pentingnya persatuan umat Islam lintas negara, seraya menyatakan bahwa perbedaan budaya dan wilayah tidak seharusnya menjadi penghalang kebersamaan.


“Persamaan iman dan tujuan jauh lebih besar. Orang-orang beriman adalah bersaudara dan saling menguatkan, baik di Indonesia, Thailand, maupun di belahan dunia lainnya,” tegasnya.


Lebih lanjut, TGB menyoroti nilai ta’awun (saling menolong) sebagai fondasi utama peradaban Islam. Menurutnya, kejayaan Islam di masa lalu tidak terlepas dari semangat kolaborasi, pelayanan, dan kesediaan untuk saling melengkapi dalam ilmu dan amal.


“Nilai ta’awun sebagai fondasi peradaban Islam tetap relevan untuk terus dihidupkan dalam konteks masyarakat modern,” ujarnya.


Dalam salah satu refleksi penting, ia mengulas makna etika Islam dalam penghormatan kepada tamu, yang disimbolkan melalui pemutaran lagu kebangsaan Indonesia sebelum lagu kebangsaan Thailand.


“Itu merupakan perwujudan ajaran Islam yang menempatkan adab dan perbuatan nyata di atas sekadar retorika. Kebaikan yang diwujudkan melalui tindakan mampu diterima secara universal, melampaui sekat agama dan budaya,” jelasnya.


TGB juga menegaskan bahwa dakwah Nabi Muhammad SAW lebih banyak ditunjukkan melalui keteladanan akhlak daripada ceramah verbal semata.


“Sebagian besar kehidupan Nabi diisi dengan praktik akhlak mulia yang konsisten, sementara penyampaian lisan dilakukan secara bijak agar pesan tetap membekas,” katanya.


Ia kemudian mengulas metode dakwah Rasulullah SAW di Madinah yang sederhana namun efektif, seperti membiasakan salam, berbagi makanan dengan tetangga, menjaga silaturahmi, serta menghidupkan ibadah malam.


“Nilai-nilai ini mampu membangun masyarakat yang harmonis dan penuh kepedulian sosial,” paparnya.


Dalam konteks keilmuan, TGB menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan teori, melainkan harus melalui tiga tahapan utama, yakni ad-dhilawatu (membaca dan mencari pengetahuan), ad-tazkiyatu (penyucian dan penghayatan diri), serta ad-takliyatu (pengamalan ilmu).


“Ilmu yang tidak diamalkan dan tidak membentuk akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang kosong,” tegasnya.


Mengakhiri pemaparannya, TGB mengutip firman Allah SWT, “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”, seraya menegaskan bahwa ilmu sejati melahirkan khashyah, yakni rasa takut yang dilandasi cinta dan penghormatan kepada Allah.


“Ukuran ilmu bukanlah gelar akademik, melainkan perilaku dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.


Minggu, 18 Januari 2026

Dyah Ayu Anjani: Di Antara Awan dan Sunyi (Episode 01)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI
ALAM sebagai kanvas sunyi tempat imajinasi belajar bernapas, setiap desir angin menjadi bisikan cerita, setiap riak air menjelma menjadi gagasan, dan setiap bayangan pepohonan mengajak pikiran melampaui batas nyata menuju dunia yang hanya dapat disentuh oleh rasa.

Penulis: Am. Pupu

Am. Pupu alias Guru Muhir
Istana Raja Taun tidak berdiri di atas tanah sebagaimana bangunan manusia, melainkan menggantung di antara langit dan keheningan. Awan-awan tebal melingkupinya siang dan malam, berlapis-lapis seperti tirai yang sengaja diturunkan oleh alam untuk menyembunyikan rahasia yang terlalu agung bagi mata biasa. Dari kejauhan, puncak Rinjani tampak sunyi dan kosong, seolah tak pernah disentuh kehidupan. Namun bagi mereka yang peka, batinnya terbuka oleh doa atau luka panjang perjalanan jiwa, istana itu dapat dirasakan lalu hadir tanpa rupa serta nyata tanpa wujud.

Udara di sekeliling istana terasa dingin dan berat, seakan menyimpan bisikan zaman purba. Pada setiap hembusan angin hadir gema langkah-langkah yang tak kasatmata, suara kain sutra yang terseret pelan, serta denting logam halus yang tak pernah benar-benar terdengar. Waktu berjalan berbeda di sana. Detik-detik meregang terasa panjang, sementara kenangan berjatuhan seperti abu dupa. Manusia yang mendekat tanpa izin akan merasakan dada mengencang dan langkah yang goyah, seolah ada kekuatan tak terlihat yang memintanya berpaling.

Dinding-dinding istana memantulkan cahaya samar yang bukan berasal dari matahari maupun bulan. Cahaya itu hidup. Sesekali berubah warna mengikuti getar niat siapa pun yang berada di dalamnya. Aula-aula luas terbentang sunyi, dijaga bayang-bayang para Rekyan Patih yang setia pada sumpah lama. Mereka hadir tanpa suara, tanpa usia, menatap dengan mata yang seolah menembus masa lalu dan masa depan sekaligus.

Keangkeran istana bukanlah ancaman, melainkan peringatan. Ia menguji siapa pun yang datang. Apakah langkahnya digerakkan keserakahan atau kesadaran jiwa. Hanya mereka yang terpilih seperti para pertapa, penjaga warisan leluhur, atau jiwa-jiwa yang dipanggil takdir yang dapat melihat gerbangnya terbuka perlahan dari lipatan awan. Bagi yang lainnya, istana itu akan tetap menjadi mitos, cerita bisik-bisik di bawah api unggun, atau rasa ganjil yang tertinggal di dada saat memandang puncak Rinjani terlalu lama. Di sanalah, dalam sunyi yang menggetarkan, istana Raja Taun terus berdiri. Angker, misterius, dan setia menjaga rahasia dunia yang belum siap diketahui manusia.

Di balik tirai awan yang menggantung rendah, halaman belakang istana berdenyut oleh kesibukan yang tertahan. Beberapa sosok bergerak dalam diam, menjalankan tugas masing-masing tanpa perlu aba-aba. Ada yang menyapu permukaan batu hitam yang selalu basah oleh embun abadi, gerakannya perlahan namun pasti, seolah setiap sapuan adalah bagian dari doa. Ada pula yang merawat pusaka-pusaka tua di bawah naungan pohon berdaun perak, membersihkan bilah dan gagang dengan ramuan yang hanya dikenal para penjaga istana. Di sudut lain, asap tipis mengepul dari tungku batu, pertanda ritual kecil sedang dilakukan, menjaga keseimbangan agar istana tetap terikat pada kehendak Raja Taun.

Tak satu pun dari mereka berbicara. Kesunyian menjadi bahasa bersama, karena di tempat itu suara dapat membangunkan hal-hal yang tak seharusnya terjaga. Namun di balik ketenangan gerak, tersimpan kewaspadaan yang rapat. Mata mereka sesekali menoleh ke arah gerbang depan, seakan merasakan getaran yang belum menjelma peristiwa.

Sementara itu, di hadapan gerbang utama istana, suasana jauh berbeda. Para prajurit penjaga berdiri berderet, tubuh tegak bagai patung batu, namun urat-urat tangan mereka menegang. Senjata telah siap pakai. Tombak bermata cahaya suram, keris pendek terselip di pinggang, dan perisai berukir tanda-tanda kuno yang berdenyut pelan mengikuti napas pemiliknya. Awan di sekitar gerbang tampak lebih tebal, berputar perlahan seperti pusaran yang menunggu perintah.

Tak ada teriakan komando, tak pula tanda bahaya yang kasatmata. Namun semua tahu, istana berada dalam keadaan siaga satu. Setiap langkah asing akan terasa bahkan sebelum menjejak tanah. Setiap niat buruk akan tercium lebih dahulu oleh angin. Para prajurit menatap lurus ke depan, ke arah kehampaan yang bagi mata manusia biasa tampak kosong. Padahal di sanalah batas antara dunia yang diizinkan dan dunia yang harus ditolak.Di antara detak jantung istana dan bisikan awan, satu keyakinan mengikat mereka semua, apa pun yang akan datang, istana Raja Taun tidak akan jatuh tanpa perlawanan.

Aula utama istana terbentang luas dalam keheningan yang nyaris sakral. Langit-langitnya menjulang tinggi, lenyap dalam bayang-bayang, seolah tak pernah benar-benar berakhir. Cahaya redup menyusup dari celah-celah dinding, memantul lembut pada aneka lukisan tua yang berjajar rapi, ada kisah-kisah zaman lampau terbingkai dalam warna yang telah memudar, namun auranya tetap hidup. Pada setiap kanvas tergambar perjalanan Raja Taun, perjanjian dengan alam, serta wajah-wajah leluhur yang menatap keluar dari waktu, menunggu untuk dikenang kembali.

Meja-meja panjang dari kayu hitam berurat perak tersusun di sisi aula, permukaannya halus oleh usia dan sentuhan tangan-tangan setia. Kursi-kursi berukir duduk membisu, kaki-kakinya kokoh menjejak lantai batu yang dingin. Aneka perabot antik seperti peti pusaka, lemari tinggi berlapis ukiran halus, serta lampu-lampu gantung dari logam tua, mengisi ruang tanpa kesan berlebih, seolah setiap benda tahu batas keberadaannya. Di bawah semuanya, karpet-karpet tebal terbentang, motifnya rumit dan sarat simbol, meredam setiap langkah hingga gema pun enggan terdengar.

Di ujung aula, singgasana Raja Taun berdiri megah namun ditinggalkan. Tahta itu terbuat dari batu dan logam yang tak dikenal manusia, memancarkan wibawa yang tak luntur oleh waktu. Di pojok kanan singgasana, tersusun aneka bunga segar dan hiasan alam, kelopak-kelopak putih, merah, dan ungu yang menguarkan aroma lembut, dedaunan hijau gelap yang masih basah oleh embun, serta rangkaian anyaman kecil sebagai penanda penghormatan. Tak satu pun bunga layu yang seakan-akan waktu memilih berhenti di sudut itu, menunggu sang pemilik takhta kembali.

Namun aula itu kosong. Sepi. Tak ada langkah kaki, tak ada suara napas, hanya detak halus yang entah berasal dari jantung istana atau dari ingatan masa lalu. Keheningan menggantung tebal, menekan namun tidak mengancam, seperti doa yang belum selesai diucapkan. Aula istana menunggu. Menunggu Raja Taun, menunggu Shang Dyah, atau menunggu sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Di bawah payung langit Kerajaan Taun, ketika kabut pagi masih menggantung di antara puncak dan lembah, berdirilah para pembantu agung Raja Taun. Mereka yang disebut Rekhyan Patih, penjaga keseimbangan semesta kerajaan. Mereka bukan sekadar pejabat istana, melainkan titisan kehendak alam yang hidup, berdenyut, dan bernapas bersama tanah Taun itu sendiri.

Rekhyan Patih Tirta adalah yang pertama disebut dalam doa-doa rakyat. Ia menguasai air, sumber kehidupan sekaligus murka alam. Sungai, danau, hujan, hingga embun pagi tunduk pada isyarat tangannya. Di bawah komandonya berdiri pasukan rahasia dengan sandi kuno: Belabur Bukit dan Belabur Gunung; yakni pasukan yang muncul dan lenyap secepat aliran air yang menyusup celah batu. Mereka menjaga jalur air, bendungan alami, dan mata air suci agar tak jatuh ke tangan yang serakah. Konon, bila Tirta murka, sungai akan meluap tanpa hujan, dan bila ia berbelas kasih, tanah kering pun akan kembali basah oleh kehidupan.

Di jantung bumi, bekerja tanpa sorak puja, berdirilah Rekhyan Patih Mangku Gumi. Ia adalah penjaga keseimbangan unsur hara, penentu kesuburan ladang dan kekuatan tanah. Dengan laku tapa yang sunyi, ia mendengar bisikan bumi. Retakan kecil, getar halus, dan keluh kesah tanah yang kelelahan. Bila keseimbangan terganggu, Mangku Gumi akan mengembalikannya, menenun ulang harmoni antara manusia dan bumi agar panen tetap datang tepat waktu dan tanah tidak menuntut balas.

Lebih dalam lagi, di wilayah yang tak tersentuh mata manusia, Rekhyan Patih Getih Gatah memikul amanah yang jarang dipahami. Ia bertanggung jawab atas seluruh makhluk yang hidup di dalam tanah seperti cacing, akar, serangga, dan roh-roh kecil penjaga bumi. Getih Gatah percaya bahwa denyut kehidupan sejati bermula dari bawah pijakan kaki manusia. Jika makhluk tanah terluka, maka permukaan pun akan runtuh. Maka ia menjaga agar kehidupan yang tersembunyi tetap lestari, agar darah bumi, getih gatah tetap mengalir hangat.

Sementara itu, di atas segalanya, melintasi lembah dan puncak, bersemayamlah Rekhyan Patih Bayu Urip, pengendali angin. Nafasnya adalah hembusan semilir, amarahnya adalah badai. Bayu Urip membawa pesan kerajaan ke empat penjuru mata angun, menggerakkan awan, dan menjaga agar udara tetap hidup. Ia tahu kapan angin harus menenangkan perahu nelayan, dan kapan harus menghalau wabah dari perbatasan kerajaan.

Di batas hijau yang menjadi benteng alami kerajaan, berdiri tegak Rekhyan Patih Mangku Alas, penjaga hutan. Ia melindungi rimba tua yang menyimpan rahasia leluhur dan makhluk-makhluk gaib. Di bawah pengawasannya, hutan hadir bukan sekadar kayu dan daun, melainkan perisai hidup kerajaan. Setiap pohon yang tumbang tanpa izin menghadirkan pertanda, dan setiap langkah serakah berujung pada sunyi yang menyesatkan.

Sementara itu, untuk mengikat seluruh penjagaan agar tetap selaras, berkeliling tanpa henti Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani. Ia ditugaskan memantau setiap sudut wilayah kerajaan sebagai mata dan telinga Raja Taun. Dengan kecantikan yang tenang dan kewaspadaan seorang ksatria, Dewi Anjani menjelajah darat, air, hutan, hingga langit. Melalui pengawasannya, sumpah para Rekhyan Patih tetap terjaga, dan bila muncul celah pengkhianatan atau ancaman asing, dialah yang pertama kali merasakannya.

Demikianlah Kerajaan Taun berdiri, bukan hanya oleh kekuasaan Raja, tetapi oleh kesetiaan para penjaga alam. Selama mereka tetap selaras, Taun akan abadi. Namun para tetua berbisik, bila satu saja dari mereka goyah, maka alam sendiri yang akan menulis babak terakhir kerajaan itu. Tanda itu tidak pernah diumumkan dengan genderang atau panji kerajaan. Ia datang senyap, nyaris seperti kesalahan alam. Orang-orang menyebutnya Ketumbuk yakni hari ketika matahari berdiri tepat di puncaknya, dan bayangan kehilangan keberadaannya. Bumi seakan dilucuti dari penanda waktu yakni tiang, manusia, bahkan menara istana berdiri tanpa jejak gelap di kaki mereka.

Hanya sedikit yang memahami maknanya. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Ketumbuk bukan sekadar peristiwa langit, melainkan isyarat Sang Prabu Raja Taun telah menjadwalkan kedatangannya untuk inspeksi rutin atas negeri-negeri taklukannya. Rahasia itu pernah dibisikkan Rekhayan Patih Ander Geni pada suatu senja yang asin oleh uap samudra. Saat itu mereka berada di atas geladak kapal badai, ketika langit dan laut nyaris tak memiliki bStas. Shang Dyah berdiri di samping sang patih, jubahnya berkibar liar, sementara di kejauhan pasukan badai baru saja mereka kawal menembus arus ganas atas undangan kehormatan dari Senopati Tirta Segara, penguasa laut dalam.

Ketumbuk itu… kapan datangnya?” suara Shang Dyah nyaris tenggelam oleh deru angin. Ander Geni tidak langsung menjawab. Ia menatap cakrawala, tempat matahari seakan menggantung tanpa arah. Lalu, dengan nada yang hanya cukup untuk satu jiwa, ia membalas. “Ketika matahari tak lagi memberi bayangan." Saat itu, Sang Prabu sudah menyiapkan langkahnya. “Itu berarti…. ” Shang Dyah menahan kata-katanya. “Ia akan hadir,” potong Ander Geni pelan. “Bukan untuk disambut, tapi untuk menilai.”

Percakapan itu seharusnya berakhir di antara desir ombak dan rahasia. Namun Patih Bayu, yang baru saja kembali dari buritan setelah memastikan pasukan badai tertib, tanpa sengaja melambatkan langkahnya. Angin membawa sisa kalimat itu kepadanya; terpotong, samar, tapi cukup jelas untuk membuat dadanya mengeras. “Hari tanpa bayangan…” gumam Bayu dalam hati.

Ia tidak berani menoleh, tidak pula menyela. Tetapi sejak saat itu, setiap kali matahari meninggi dan bayangannya memendek, Patih Bayu tahu: negeri ini sedang dihitung waktunya. Dan Ketumbuk, yang selama ini dianggap keanehan langit, kini menjelma menjadi penanda takdir; datangnya Sang Prabu Raja Taun, tepat ketika bayangan pun memilih menghilang.

Menjelang senja, ketika angin mulai berjalan lebih pelan seolah menimbang rahasianya sendiri, Rekhyan Patih Bayu Urip diam sejenak di punggung bukit, lalu mencatat sesuatu dengan goresan halus pada ujung ikat pinggangnya—sebuah pertanda yang hanya ia pahami, lahir dari getar udara yang tak lazim dan bisikan arah angin yang berbelok dari kodratnya. 

Ia tidak mengucap apa pun, sebab angin mengajarkannya bahwa ada firasat yang lebih aman disimpan daripada diumumkan. Jauh di sisi lain Kerajaan Taun, tanpa tanda dan tanpa suara, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti melangkah, dadanya bergetar oleh rasa asing yang tak terlihat, seakan alam sendiri menyentuh batinnya dan memanggilnya seorang diri, membuka jalan sunyi menuju kisah berikutnya, yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar mendengar denyut dunia.

#Bersambung Episode 02 pekan depan. 

Sabtu, 13 Desember 2025

Wabup Edwin Apresiasi Semarak HGN PGRI Sambelia, Dorong Penguatan Peran Guru

Hari Guru Nasional

Okenews.net- Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, memberikan apresiasi atas inisiatif dan semarak kegiatan yang digelar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Sambelia dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional (HGN), Sabtu (13/12/2025).


Menurut Wabup Edwin, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi para pendidik, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan dedikasi guru dalam memajukan dunia pendidikan di Lombok Timur, khususnya di Kecamatan Sambelia.


Dalam kesempatan itu, Wabup Edwin memaparkan sejumlah isu strategis di sektor pendidikan, di antaranya rencana pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Program tersebut diharapkan mampu memutus mata rantai kemiskinan sekaligus melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.


Seiring dengan pergeseran sistem pendidikan yang semakin inovatif, Wabup Edwin menekankan pentingnya peningkatan kapasitas guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan di lapangan. Ia menilai, kualitas guru menjadi kunci utama keberhasilan transformasi pendidikan ke arah yang lebih adaptif dan berkualitas.


Sementara itu, Ketua Panitia, Mahsuf, melaporkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan peringatan HGN dilaksanakan berdasarkan hasil rapat koordinasi Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Sambelia bersama seluruh unsur pendidikan setempat.


Mahsuf menjelaskan, tujuan utama kegiatan tersebut adalah memberikan apresiasi kepada para guru atas dedikasi, inovasi, dan pengabdian luar biasa yang telah diberikan, sekaligus menumbuhkan semangat sportivitas di kalangan tenaga pendidik.


Di akhir kegiatan, ia berharap sinergi dan kerja sama yang telah terjalin antara PGRI, unsur pendidikan, dan Pemerintah Daerah Lombok Timur dapat terus diperkuat demi kemajuan pendidikan di masa mendatang.

Yudisium Ke-35 IAI Hamzanwadi Pancor Kukuhkan 549 Lulusan

IAIH Hamzanwadi Pancor
Okenews.net- Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor menggelar Yudisium ke-35 dengan mengukuhkan 549 mahasiswa dari tiga fakultas, Sabtu (13/12/2025). Momentum ini menjadi penanda berakhirnya masa studi sekaligus awal pengabdian para lulusan di tengah masyarakat.

Prosesi yudisium dipimpin Wakil Rektor I IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.MPd., yang secara simbolis menetapkan status kelulusan para peserta. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa yudisium bukan sekadar seremoni akademik, melainkan pengukuhan tanggung jawab intelektual dan moral sebagai seorang sarjana.


“Yudisium berasal dari bahasa Latin judicium yang berarti penetapan. Hari ini saudara-saudari dinyatakan tuntas dan sah menyandang gelar sarjana IAI Hamzanwadi Pancor,” ujarnya.


Ia menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa yang telah menempuh proses akademik selama kurang lebih 4,5 tahun. Menurutnya, gelar sarjana harus dibarengi rasa syukur dan komitmen untuk memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa.


Dalam pesannya, Abdul Hayyi Akrom menekankan pentingnya nilai syukur sebagaimana diajarkan ulama besar Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani, yakni kesadaran bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT, memanfaatkan nikmat untuk ketaatan, serta memperbanyak pujian kepada-Nya.


“Sebagai sarjana, saudara-saudari dituntut menghadirkan nilai lebih. Jangan menyamakan diri dengan mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Jadilah teladan di tengah masyarakat,” tegasnya.


Ia juga mengingatkan bahwa IAIH Pancor merupakan kampus perjuangan yang didirikan Pahlawan Nasional Almagfurullah Syekh Muhammad Zainuddin Abdul Majid, yang tidak terlepas dari spirit perjuangan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).


“Kampus ini adalah bagian dari instrumen perjuangan menegakkan agama Allah. Alumni IAIH Pancor harus menjadi pelanjut perjuangan, bukan perusaknya,” tandasnya.


Menutup sambutan, ia menekankan dua kunci utama kesuksesan, yakni berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) serta menjaga adab dan penghormatan kepada guru.


“Saya tidak pernah menemukan orang sukses yang tidak berbakti kepada orang tuanya dan melupakan gurunya,” pungkasnya.


Ia pun mendoakan agar ijazah yang diraih para lulusan disertai ilmu yang barokah serta mampu memberi kontribusi nyata bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi