TGB Zainul Majdi Gaungkan Persatuan Umat, Akhlak, dan Hakikat Ilmu di Forum Internasional Thailand - www.okenews.net

Selasa, 20 Januari 2026

TGB Zainul Majdi Gaungkan Persatuan Umat, Akhlak, dan Hakikat Ilmu di Forum Internasional Thailand

TGH Muhammad Zainul Majdi, MA. Rektor IAIH Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA, menyampaikan gagasan mendalam tentang persatuan umat, akhlak Islam, dan hakikat ilmu pengetahuan dalam sebuah seminar ilmiah internasional yang digelar di Dawood Conference Room, Attarkiah Islamiah Institute, Thailand, Senin (19/01/2026).


Seminar tersebut diawali dengan sambutan penuh kehangatan dari TGB yang mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT serta penghormatan kepada para ulama, akademisi, dan pemimpin yang hadir. Dalam kesempatan itu, ia secara khusus menyebut Sheikh Babu Hussien sebagai bentuk penghormatan, sekaligus mengenang Dr. Faisal sebagai sosok guru yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan intelektualnya.


Dalam pemaparannya, TGB menegaskan bahwa kedekatan antarmanusia tidak semata ditentukan oleh jarak geografis, melainkan oleh keselarasan hati, pemikiran, dan visi.


“Saya memiliki pengalaman bersama Dr. Faisal dan sejumlah tokoh lain yang meskipun baru bertemu, namun telah merasakan ikatan batin yang kuat. Inilah yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang persatuan hati di antara manusia,” ujar TGB yang juga menjabat Ketua Umum PB NWDI.


Ia menekankan pentingnya persatuan umat Islam lintas negara, seraya menyatakan bahwa perbedaan budaya dan wilayah tidak seharusnya menjadi penghalang kebersamaan.


“Persamaan iman dan tujuan jauh lebih besar. Orang-orang beriman adalah bersaudara dan saling menguatkan, baik di Indonesia, Thailand, maupun di belahan dunia lainnya,” tegasnya.


Lebih lanjut, TGB menyoroti nilai ta’awun (saling menolong) sebagai fondasi utama peradaban Islam. Menurutnya, kejayaan Islam di masa lalu tidak terlepas dari semangat kolaborasi, pelayanan, dan kesediaan untuk saling melengkapi dalam ilmu dan amal.


“Nilai ta’awun sebagai fondasi peradaban Islam tetap relevan untuk terus dihidupkan dalam konteks masyarakat modern,” ujarnya.


Dalam salah satu refleksi penting, ia mengulas makna etika Islam dalam penghormatan kepada tamu, yang disimbolkan melalui pemutaran lagu kebangsaan Indonesia sebelum lagu kebangsaan Thailand.


“Itu merupakan perwujudan ajaran Islam yang menempatkan adab dan perbuatan nyata di atas sekadar retorika. Kebaikan yang diwujudkan melalui tindakan mampu diterima secara universal, melampaui sekat agama dan budaya,” jelasnya.


TGB juga menegaskan bahwa dakwah Nabi Muhammad SAW lebih banyak ditunjukkan melalui keteladanan akhlak daripada ceramah verbal semata.


“Sebagian besar kehidupan Nabi diisi dengan praktik akhlak mulia yang konsisten, sementara penyampaian lisan dilakukan secara bijak agar pesan tetap membekas,” katanya.


Ia kemudian mengulas metode dakwah Rasulullah SAW di Madinah yang sederhana namun efektif, seperti membiasakan salam, berbagi makanan dengan tetangga, menjaga silaturahmi, serta menghidupkan ibadah malam.


“Nilai-nilai ini mampu membangun masyarakat yang harmonis dan penuh kepedulian sosial,” paparnya.


Dalam konteks keilmuan, TGB menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan teori, melainkan harus melalui tiga tahapan utama, yakni ad-dhilawatu (membaca dan mencari pengetahuan), ad-tazkiyatu (penyucian dan penghayatan diri), serta ad-takliyatu (pengamalan ilmu).


“Ilmu yang tidak diamalkan dan tidak membentuk akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang kosong,” tegasnya.


Mengakhiri pemaparannya, TGB mengutip firman Allah SWT, “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”, seraya menegaskan bahwa ilmu sejati melahirkan khashyah, yakni rasa takut yang dilandasi cinta dan penghormatan kepada Allah.


“Ukuran ilmu bukanlah gelar akademik, melainkan perilaku dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.


Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments