www.okenews.net

Rabu, 21 Januari 2026

Stok Blanko e-KTP Kosong, Dukcapil Lombok Timur Ajukan 120 Ribu Lebih ke Pusat

Sekretaris Dinas Dukcapil, Anan Tarfi
Okenews.net – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Lombok Timur mengajukan permohonan lebih dari 120 ribu blanko Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) ke pemerintah pusat untuk kebutuhan tahun 2026. Pengajuan ini dilakukan menyusul kondisi stok blanko e-KTP yang saat ini nihil.

Kepala Dinas Dukcapil Lombok Timur melalui Sekretaris Dinas, Anan Tarfi, mengatakan bahwa ketersediaan blanko e-KTP di daerahnya berada pada kondisi zero stock, sehingga pelayanan pencetakan KTP elektronik berpotensi terganggu jika tidak segera mendapat suplai dari pusat.

“Saat ini kondisi blanko e-KTP benar-benar kosong. Karena itu, kami mengajukan permohonan lebih dari 120 ribu blanko untuk kebutuhan tahun 2026,” ungkap Anan Tarfi, Rabu (21/01/2026).

Ia menjelaskan, secara ideal kebutuhan blanko e-KTP di Lombok Timur setiap tahunnya memang berada di angka di atas 120 ribu lembar. Tingginya kebutuhan tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pertumbuhan penduduk, angka perkawinan, hingga pemekaran wilayah yang mengharuskan adanya pembaruan data kependudukan.

“Perubahan wilayah administrasi maupun peristiwa perkawinan otomatis membutuhkan pembaruan data kependudukan, dan itu berdampak langsung pada permintaan e-KTP,” jelasnya.

Untuk memastikan pelayanan administrasi kependudukan tetap berjalan, Dukcapil Lombok Timur terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah provinsi dan pusat. Bahkan, dalam kondisi darurat, pihaknya juga melakukan peminjaman blanko e-KTP ke kabupaten lain.

“Kami terus berupaya agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti. Mudah-mudahan di tahun 2026 ini semua kendala, terutama yang menghambat pelayanan di tingkat bawah, bisa terselesaikan dengan baik,” harapnya. 


Selasa, 20 Januari 2026

Bupati Lotim Soroti Alat Berat Mangkrak, Minta UPT PUPR Bergerak Cepat Tangani Jalan Rusak

Sidak ke UPT Peralatan dan Laboraturium Donas PUPR

Okenews.netBupati Lombok Timur H. Haerul Warisin melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke UPT Peralatan dan Laboratorium Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Selasa (20/01/2026). Sidak ini membuka fakta masih banyaknya alat berat dan kendaraan operasional dalam kondisi rusak berat dan tidak termanfaatkan secara optimal.


Dalam peninjauan tersebut, Bupati menemukan sejumlah alat perbaikan jalan, termasuk stum dan armada pendukung lainnya, terparkir dalam kondisi tidak layak pakai. Kondisi itu dinilai menghambat kecepatan respon pemerintah daerah dalam menangani kerusakan infrastruktur, khususnya jalan rusak skala kecil yang langsung berdampak pada aktivitas masyarakat.


Bupati pun meminta pihak UPT segera melakukan analisa teknis dan perhitungan biaya terhadap seluruh aset yang ada.


“Saya minta dilakukan analisa mendalam. Mana alat yang masih bisa diperbaiki segera diusulkan, dan kalau biaya perbaikannya rasional, langsung diperbaiki. Tapi kalau sudah rusak total dan tidak mungkin digunakan lagi, lebih baik dihapus,” tegasnya.


Menurut Bupati, penataan aset sangat penting agar area UPT tidak dipenuhi barang mangkrak yang justru menghambat kinerja. Ia juga menyatakan komitmennya untuk menambah armada baru guna menutupi kekurangan alat, sehingga UPT mampu bergerak cepat dan mandiri.


Ke depan, Bupati menargetkan perbaikan jalan dengan kerusakan ringan sepanjang 10 hingga 25 meter dapat ditangani langsung oleh UPT tanpa harus menunggu proyek besar atau keterlibatan pihak ketiga.


“Kalau alat dan stok tersedia, UPT harus bisa mengerjakan sendiri. Masyarakat tidak boleh menunggu lama untuk kerusakan jalan yang sebenarnya bisa ditangani cepat,” ujarnya.


Sidak ini merupakan bagian dari upaya pembinaan aparatur agar seluruh unit kerja di lingkungan Pemkab Lombok Timur menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal serta berorientasi pada pelayanan publik.

Tak Hanya Padamkan Api, Bupati Lotim Minta Layanan Damkarmat Lebih Aktif dan Dikenal Publik

Bupati H. Haerul Warisin

Okenews.netBupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menegaskan pentingnya peran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) sebagai garda terdepan pelayanan darurat masyarakat. Hal tersebut disampaikan saat melakukan inspeksi mendadak ke Kantor Damkarmat Lombok Timur, Selasa (20/01/2026).


Dalam arahannya, Bupati menekankan bahwa tugas petugas Damkarmat tidak terbatas pada penanganan kebakaran semata. Berbagai kondisi darurat lain, seperti evakuasi ular, tawon, hingga penyelamatan warga, merupakan bagian dari layanan yang harus dikenal luas oleh masyarakat.


Namun, Bupati menilai masih banyak warga yang belum mengetahui peran tersebut karena minimnya sosialisasi dan publikasi.


“Masih banyak masyarakat yang tidak tahu ke mana harus meminta tolong saat ada ular atau tawon di rumah. Setiap aksi pertolongan harus dipublikasikan, bahkan di-viral-kan, supaya masyarakat tahu ini memang tugas Damkar,” tegasnya.


Ia mendorong jajaran Damkarmat untuk lebih aktif menyampaikan informasi layanan melalui media sosial maupun kanal informasi lainnya, sehingga kehadiran negara benar-benar dirasakan di tengah masyarakat saat kondisi darurat.


Selain itu, Bupati juga mengingatkan seluruh personel Damkarmat agar selalu siap dan responsif dalam melayani masyarakat, kapan pun dibutuhkan.


“Petugas Damkar adalah pelayan masyarakat. Bukan hanya cepat saat kebakaran, tapi juga hadir dalam berbagai situasi darurat lainnya,” ujarnya.


Sidak tersebut, menurut Bupati, merupakan bagian dari pembinaan aparatur agar setiap pegawai memahami tugas pokok dan fungsi masing-masing serta mampu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat Lombok Timur.

TGB Zainul Majdi Sampaikan Tausiah Al-Qur’an di Thailand, Santri Darussalam Antusias

Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi

Okenews.net- Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., menyampaikan kajian keislaman di Sekolah Darussalam, Narathiwat, Thailand. Kehadiran ulama dan cendekiawan Al-Qur’an tersebut disambut antusias oleh para santri dan santriwati.

Sambutan selamat datang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Rusdi yang mewakili pihak Sekolah Darussalam. Ia mengungkapkan rasa bahagia sekaligus kehormatan atas kehadiran Rektor IAIH Pancor di lingkungan pendidikan mereka.

“Kami merasa sangat bahagia dan terhormat atas kehadiran Rektor IAIH Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., di Sekolah Darussalam. Kehadiran beliau menjadi kebanggaan sekaligus motivasi besar bagi para santri dan seluruh keluarga besar Darussalam,” ujar Rusdi, Senin (19/01/2026).

Rusdi juga berharap terjalinnya kerja sama keilmuan dan pendidikan yang berkelanjutan antara Sekolah Darussalam dan Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi. Menurutnya, fokus kajian Darussalam pada integrasi Al-Qur’an dan sains sejalan dengan keilmuan TGB sebagai ulama dan cendekiawan Al-Qur’an.

“Kami berharap kerja sama keilmuan dan pendidikan ini dapat terus terjalin. Fokus kajian Darussalam pada integrasi Al-Qur’an dan sains sangat sejalan dengan keilmuan beliau,” tambahnya.

Dalam tausiahnya, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi menekankan keutamaan Al-Qur’an sebagai sumber keberkahan dan penjaga kehidupan manusia. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga dan menekuni Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, maka Al-Qur’an akan menjadi penjaga sekaligus pembuka berbagai pintu kebaikan dalam hidupnya.

“Siapa yang menjaga Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjaganya. Dan siapa yang menekuni Al-Qur’an, akan dibukakan baginya banyak jalan dan pintu keberkahan,” ungkap TGB yang juga Ketua Umum PB NWDI dan Ketua OIA Al-Azhar Indonesia.

Ia turut membagikan perjalanan hidupnya sebagai motivasi bagi generasi muda. TGB mengisahkan mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 17 tahun dan mampu menyelesaikannya dalam waktu sekitar satu setengah tahun.

“Saya mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 17 tahun dan menyelesaikannya dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Keberkahan Al-Qur’an telah membuka banyak jalan penting dalam hidup saya, mulai dari pendidikan S1 hingga doktoral di Universitas Al-Azhar Mesir, hingga amanah sebagai anggota DPD RI, Gubernur NTB dua periode, dan Ketua Alumni Al-Azhar Indonesia,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, TGB berharap generasi muda Muslim di Thailand, khususnya para santri Sekolah Darussalam, menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan dan perjuangan intelektual. Ia meyakini, dari ketekunan terhadap Al-Qur’an akan lahir generasi dan aktor-aktor peradaban pada masa mendatang.

“Saya berharap para santri menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan dan perjuangan intelektual. Jika Al-Qur’an ditekuninya secara konsisten, saya yakin dari Darussalam akan lahir generasi dan aktor peradaban di masa depan,” pungkasnya.

TGB Zainul Majdi Gaungkan Persatuan Umat, Akhlak, dan Hakikat Ilmu di Forum Internasional Thailand

TGH Muhammad Zainul Majdi, MA. Rektor IAIH Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA, menyampaikan gagasan mendalam tentang persatuan umat, akhlak Islam, dan hakikat ilmu pengetahuan dalam sebuah seminar ilmiah internasional yang digelar di Dawood Conference Room, Attarkiah Islamiah Institute, Thailand, Senin (19/01/2026).


Seminar tersebut diawali dengan sambutan penuh kehangatan dari TGB yang mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT serta penghormatan kepada para ulama, akademisi, dan pemimpin yang hadir. Dalam kesempatan itu, ia secara khusus menyebut Sheikh Babu Hussien sebagai bentuk penghormatan, sekaligus mengenang Dr. Faisal sebagai sosok guru yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan intelektualnya.


Dalam pemaparannya, TGB menegaskan bahwa kedekatan antarmanusia tidak semata ditentukan oleh jarak geografis, melainkan oleh keselarasan hati, pemikiran, dan visi.


“Saya memiliki pengalaman bersama Dr. Faisal dan sejumlah tokoh lain yang meskipun baru bertemu, namun telah merasakan ikatan batin yang kuat. Inilah yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang persatuan hati di antara manusia,” ujar TGB yang juga menjabat Ketua Umum PB NWDI.


Ia menekankan pentingnya persatuan umat Islam lintas negara, seraya menyatakan bahwa perbedaan budaya dan wilayah tidak seharusnya menjadi penghalang kebersamaan.


“Persamaan iman dan tujuan jauh lebih besar. Orang-orang beriman adalah bersaudara dan saling menguatkan, baik di Indonesia, Thailand, maupun di belahan dunia lainnya,” tegasnya.


Lebih lanjut, TGB menyoroti nilai ta’awun (saling menolong) sebagai fondasi utama peradaban Islam. Menurutnya, kejayaan Islam di masa lalu tidak terlepas dari semangat kolaborasi, pelayanan, dan kesediaan untuk saling melengkapi dalam ilmu dan amal.


“Nilai ta’awun sebagai fondasi peradaban Islam tetap relevan untuk terus dihidupkan dalam konteks masyarakat modern,” ujarnya.


Dalam salah satu refleksi penting, ia mengulas makna etika Islam dalam penghormatan kepada tamu, yang disimbolkan melalui pemutaran lagu kebangsaan Indonesia sebelum lagu kebangsaan Thailand.


“Itu merupakan perwujudan ajaran Islam yang menempatkan adab dan perbuatan nyata di atas sekadar retorika. Kebaikan yang diwujudkan melalui tindakan mampu diterima secara universal, melampaui sekat agama dan budaya,” jelasnya.


TGB juga menegaskan bahwa dakwah Nabi Muhammad SAW lebih banyak ditunjukkan melalui keteladanan akhlak daripada ceramah verbal semata.


“Sebagian besar kehidupan Nabi diisi dengan praktik akhlak mulia yang konsisten, sementara penyampaian lisan dilakukan secara bijak agar pesan tetap membekas,” katanya.


Ia kemudian mengulas metode dakwah Rasulullah SAW di Madinah yang sederhana namun efektif, seperti membiasakan salam, berbagi makanan dengan tetangga, menjaga silaturahmi, serta menghidupkan ibadah malam.


“Nilai-nilai ini mampu membangun masyarakat yang harmonis dan penuh kepedulian sosial,” paparnya.


Dalam konteks keilmuan, TGB menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan teori, melainkan harus melalui tiga tahapan utama, yakni ad-dhilawatu (membaca dan mencari pengetahuan), ad-tazkiyatu (penyucian dan penghayatan diri), serta ad-takliyatu (pengamalan ilmu).


“Ilmu yang tidak diamalkan dan tidak membentuk akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang kosong,” tegasnya.


Mengakhiri pemaparannya, TGB mengutip firman Allah SWT, “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”, seraya menegaskan bahwa ilmu sejati melahirkan khashyah, yakni rasa takut yang dilandasi cinta dan penghormatan kepada Allah.


“Ukuran ilmu bukanlah gelar akademik, melainkan perilaku dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.


Senin, 19 Januari 2026

Wamen ATR/BPN Tegaskan Legalitas Tanah Fondasi Utama Pembangunan Desa Berkelanjutan

Wamen ATR BPN
Okenews.net – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, menegaskan pentingnya legalitas hak atas tanah sebagai fondasi utama dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan dan berkeadilan di seluruh Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Wamen Ossy saat menghadiri Peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Desa Butuh, Kabupaten Boyolali, Kamis (15/1/2026). Menurutnya, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memiliki peran strategis dalam memastikan kepastian hukum atas tanah masyarakat desa.

“Dengan adanya legalitas hak atas tanah, masyarakat memiliki dasar yang kuat untuk meningkatkan kesejahteraan serta mengembangkan potensi ekonomi desa. Ini sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo, yakni membangun dari desa dan dari bawah demi pertumbuhan serta pemerataan ekonomi,” ujar Wamen Ossy.

Ia menjelaskan, setelah masyarakat memperoleh kepastian hukum atas kepemilikan tanah, peran ATR/BPN tidak berhenti pada penerbitan legalitas semata. Penataan akses terhadap tanah juga menjadi langkah penting agar tanah memiliki nilai tambah secara ekonomi dan dapat dimanfaatkan secara produktif oleh masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Ossy juga menegaskan komitmen ATR/BPN untuk terus memperkuat sinergi dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal serta kementerian dan lembaga terkait lainnya dalam mendukung program prioritas Presiden.

“Kementerian ATR/BPN akan terus bergandengan tangan dan bahu-membahu bersama seluruh kementerian, khususnya Kementerian Desa, untuk mewujudkan pembangunan desa yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menyampaikan bahwa Kementerian Desa telah menyiapkan dua belas Aksi Bangun Desa sebagai upaya konkret dalam mewujudkan Asta Cita keenam Presiden.

“Insyaallah, apabila seluruh aksi tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar, Indonesia Emas 2045 dapat kita wujudkan bersama, khususnya untuk generasi anak cucu kita,” ujar Yandri.

Peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal ini mengusung tema “Bangun Desa Bangun Indonesia: Desa Terdepan untuk Indonesia.” Acara tersebut dihadiri sejumlah menteri dan pimpinan lembaga, wakil menteri Kabinet Merah Putih, serta para kepala daerah dari berbagai wilayah.

Satu Tahun MBG Lombok Timur: Dongkrak PDRB, Pemda Siapkan Skema Pengawasan Baru Libatkan Publik

Evaluasi Program Makan Bergizi Gerati

Okenews.net-Setelah setahun penuh dijalankan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lombok Timur akhirnya masuk meja evaluasi. Pemerintah Daerah bersama DPRD Lombok Timur menggelar rapat khusus di Ruang Rapat DPRD lantai III, Senin (19/01/2026), untuk membedah capaian program sepanjang 2025 sekaligus merancang penguatan kebijakan di tahun 2026.

Rapat tersebut mengungkap dua wajah program MBG: capaian positif dari sisi ekonomi daerah, sekaligus tantangan serius di level pelaksanaan teknis.

Sekretaris Daerah Lombok Timur yang juga Ketua Satgas MBG, H. Muhammad Juaini Taofik, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pergerakan ekonomi lokal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan keberadaan MBG turut mendorong peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lombok Timur.

“Program ini menggerakkan rantai ekonomi, mulai dari penyedia bahan pangan hingga tenaga kerja lokal,” ujarnya di hadapan peserta rapat.

Meski demikian, Juaini menegaskan bahwa Pemda tidak menutup mata terhadap berbagai dinamika yang muncul di lapangan. Ia menyoroti pentingnya peran aktif pihak sekolah dalam menyukseskan program, terutama dalam pelaksanaan makan bersama.

Menurutnya, sekolah yang membangun komunikasi intensif dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terbukti mampu menjalankan program tanpa hambatan berarti. Sebaliknya, lemahnya koordinasi kerap memicu persoalan teknis.

Menyadari tingginya risiko dalam penyajian makanan segar, Pemda berencana membuka ruang pengawasan baru yang melibatkan masyarakat. Pada pertengahan 2026, akan dibentuk bidang monitoring khusus yang diisi perwakilan publik di luar mitra resmi.

“Wadah ini akan menampung keluhan, masukan, sekaligus menjadi kontrol cepat dari wali murid dan masyarakat,” tegas Juaini.

Langkah tersebut diharapkan memperkuat transparansi sekaligus memungkinkan penyelesaian masalah secara berjenjang di tingkat daerah, tanpa harus selalu menunggu arahan dari pusat atau provinsi.

Sementara itu, Kepala Regional SPPG, Eko Prasetyo, menekankan bahwa Satgas MBG di tingkat kabupaten memiliki peran krusial sebagai pengawas lapangan. Satgas diminta aktif memantau operasional SPPG dan memastikan setiap persoalan segera dilaporkan ke tingkat lebih tinggi agar perbaikan dapat dilakukan cepat dan tepat.

Dalam rapat yang sama, Ketua MBG Lombok Timur, Agamawan, turut memberikan klarifikasi atas insiden yang sempat terjadi di Desa Kembangsari. Hasil investigasi menunjukkan bahwa persoalan tidak semata berasal dari penyedia, melainkan juga minimnya edukasi konsumsi.

“Susu kedelai yang seharusnya langsung diminum justru dibawa pulang oleh siswa, sehingga melewati batas kelayakan konsumsi,” jelasnya.

Selain itu, ditemukan pula indikasi dari pihak mitra penyedia yang memesan susu mendekati masa kedaluwarsa. Temuan tersebut menjadi catatan penting untuk memperketat seleksi dan pengawasan mitra ke depan.

Dari sisi infrastruktur layanan, MBG Lombok Timur mencatat capaian di atas target. Hingga kini, sebanyak 213 SPPG telah terdaftar dalam sistem, melampaui target awal sebanyak 159 unit. Namun, sekitar 40 SPPG masih dalam tahap persiapan operasional, terkendala aktivasi akun sistem.

Tantangan lain yang tak kalah krusial adalah validasi data penerima manfaat. Sinkronisasi data dari Dapodik, EMIS, dan BKKBN masih menjadi pekerjaan rumah, terlebih setelah tiga kali perubahan petunjuk teknis (Juknis) di tingkat pusat.

Fokus 2026, kata Agamawan, adalah memastikan akurasi data penerima tambahan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga penjaga sekolah yang resmi masuk dalam skema MBG.

Evaluasi ini menjadi penanda bahwa MBG Lombok Timur tengah bergerak menuju fase pematangan kebijakan bukan hanya soal jumlah penerima, tetapi juga kualitas layanan dan akuntabilitas publik.


Fauzan Khalid Minta ATR/ BPN Tingkatkan Koordinasi dengan Kementerian Lain

Fauzan Khalid

Okenews.net- Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid minta aparat Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/ BPN) untuk lebih meningkatkan koordinasi dengan kementerian/ lembaga lain. Sebab, selama ini, petugas BPN sejauh ini lemah dalam hal koordinasi dengan lembaga lain di luar BPN. 

“Saya melihat petugas BPN memiliki kelemahan, kurang berkoordinasi dengan lembaga lain. Padahal, BPN banyak program yang bersentuhan dengan masyarakat dan perlu keterlibatan kementerian atau lembaga lain,” kata Fauzan dalam kunjungan kerja Komisi II DPR RI di Kantor Pertanahan Jakarta Barat, Kamis (15/01/2026).

Anggota Komisi II DPR RI, Fauzan Khalid mengatakan, berbagai program yang dicanangkan BPN, seperti program sertifikat digital (e-serfikat) tidak akan tuntas jika tidak melibatkan aparat seperti kelurahan, kepala desa, RW dan RT. Oleh karena itu, Fauzan menyarankan agar BPN juga berkoordinasi dengan para camat atau apparat di bawahnya.

Fauzan yang pernah menjabat Bupati Lombok Barat dua periode ini mengakui BPN sudah banyak melakukan sosialisai melalui berbagai media, termasuk media sosial. Namun hasilnya belum maksimal, karena program sertifikasi digital BPN memerlukan keaktifan masyarakat. 

“Untuk menggerakkan agar masyarakat aktif mengurus e-sertifikat, saya kira perlu mengajak lurah, kepala desa termasuk RT RW. Yang bisa menggerakkan mereka mengajak masyarakat, ya lurah atau kepala desa ke bawah. Lurah, kepala desa tentu diminta turun oleh pejabat di atasnya seperti camat,” jelasnya.

Sedangkan untuk mempercepat program sertifikat tanah wakaf, kata Fauzan, pihak BPN sebaiknya melibatkan pihak Kementerian Agama, termasuk Badan Wakaf Indonesia (BWI). Sebab, program percepatan sertifikat tanah wakaf ini penting untuk mengamankan aset wakaf, dan agar pengelolaannya sesuai tujuan

“Sekali lagi, saya menyarankan Kementerian ATR/ BPN lebih aktif untuk berkoordinasi dengan berbagai stake holder, agar program sertfikasi digital maupun program percepatan sertifikat tanah wakaf dapat terselesaikan dan tuntas lebih cepat,” ujarnya.

Dalam kunjungan kerja ini, Fauzan minta Kantor Pertanahan Jakarta Barat dan Jakarta Timur memberi contoh koordinasi yang lebih baik dengan lembaga lain guna percepatan berbagai program BPN. “Mudahan proyek percontohan ini datang dari Kantor Pertanahan Jakarta Barat dan Jakarta Timur,” kata Ketua KPU NTB periode 2008-2013 ini.

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan, tanah-tanah yang telah bersertfikat agar dilengkapi dengan peta bidang tanah (PBT). Sebab, peta bidang tanah ini bisa menjadi bukti visual batas fisik tanah, dasar bagi penerbitan sertifikat yang sah, dan penting untuk menghindari sengketa, tumpang tindih kepemilikan, serta memberikan kepastian hukum yang kuat.

Menurut Fauzan, sertifikat tanpa peta bidang tanah, tetap memiliki kekuatan hukum namun rawan konflik dan perlu untuk segera dipetakan ulang. “Sertifikat yang terbit tahun 1980-an ke bawah rata-rata tidak punya peta bidang, tolong disisir dan BPN aktif untuk menghindari konflik pertanahan,” paparnya.

Minggu, 18 Januari 2026

Diskusi Terbatas Hariman Siregar Cs Tekankan Integritas dan Kemanusiaan

Diskusi terbatas Hariman Siregar

Okenews.net- Dunia tengah bergerak dalam ketidakpastian yang kian sulit diprediksi. Konflik geopolitik, krisis ekonomi global, disrupsi teknologi, hingga melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi negara menciptakan kegelisahan yang meluas di tengah masyarakat. 

Situasi ini menjadi perhatian serius sejumlah tokoh nasional dalam sebuah diskusi terbatas yang melibatkan Hariman Siregar, Bambang Wiwoho, Sidra Tahta, dan Ariady Achmad, Minggu 18/01/2025 

Diskusi berlangsung dalam suasana silaturahmi dan refleksi mendalam. Para tokoh sepakat bahwa di tengah keterbatasan negara dan mekanisme pasar dalam merespons krisis yang kompleks, ketahanan masyarakat justru harus dibangun dari bawah, berbasis nilai kemanusiaan dan integritas diri.

Silaturahmi sebagai Modal Sosial

Dalam diskusi tersebut, silaturahmi ditempatkan bukan sekadar sebagai tradisi sosial, melainkan sebagai modal sosial strategis. Ketika polarisasi politik dan sosial kian tajam, relasi antarindividu yang dilandasi kepercayaan dinilai menjadi penopang utama keutuhan masyarakat.

Silaturahmi diyakini mampu membuka ruang dialog, meredam kecurigaan, dan menjaga kohesi sosial di tengah derasnya arus informasi yang sering kali memecah belah. Masyarakat yang saling mengenal dan terhubung dinilai lebih tangguh menghadapi guncangan ekonomi maupun sosial.

Tolong-Menolong di Tengah Logika Transaksional

Para peserta diskusi juga menyoroti menguatnya logika transaksional dalam kehidupan modern. Dalam konteks tersebut, tolong-menolong dinilai sebagai nilai yang semakin relevan dan mendesak untuk dirawat.

Solidaritas sosial dipandang bukan sebagai bentuk belas kasihan, melainkan sebagai kesadaran kolektif bahwa krisis yang menimpa satu kelompok pada akhirnya akan berdampak pada kelompok lain. Ketahanan sosial hanya dapat terwujud jika masyarakat menjaga semangat saling menopang, terutama bagi mereka yang berada dalam posisi rentan.

Kesehatan sebagai Fondasi Ketahanan 

Isu kesehatan turut menjadi perhatian utama. Diskusi menegaskan bahwa ketahanan masyarakat tidak mungkin dibangun di atas individu-individu yang rapuh secara fisik maupun mental. Tekanan ekonomi, konflik sosial, dan banjir informasi berpotensi melahirkan kelelahan kolektif jika tidak diimbangi dengan kesadaran menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Kesehatan dalam diskusi ini dimaknai secara luas, mencakup kesehatan jasmani, mental, emosional, hingga spiritual. Individu yang sehat dinilai lebih mampu berpikir jernih, bersikap tenang, dan tidak mudah terprovokasi dalam situasi krisis.

Integritas Diri dan Keterampilan Manusiawi

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi, diskusi justru menekankan pentingnya integritas diri dan keterampilan manusiawi. Integritas dipandang sebagai fondasi kepercayaan sosial, agar relasi antarwarga tidak terjebak pada kepentingan sempit atau sekadar pencitraan.

Sementara itu, keterampilan manusiawi—seperti empati, kemampuan mendengar, komunikasi yang jujur, dan kerja sama lintas perbedaan dinilai sebagai keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Nilai-nilai inilah yang diyakini menjadi penentu kualitas peradaban di tengah perubahan zaman.

Ikhtiar Sunyi Menjaga Keutuhan Bangsa

Diskusi terbatas tersebut tidak melahirkan seruan bombastis atau agenda politik praktis. Namun, para tokoh sepakat bahwa membangun ketahanan masyarakat memang sering kali merupakan ikhtiar sunyi yang berangkat dari kesadaran individu dan relasi sosial yang sehat.

Di tengah dunia yang serba tidak pasti, diskusi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak semata ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau teknologi, melainkan oleh manusia yang berintegritas, saling terhubung, dan berpegang pada nilai kemanusiaan.

Dyah Ayu Anjani: Di Antara Awan dan Sunyi (Episode 01)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI
ALAM sebagai kanvas sunyi tempat imajinasi belajar bernapas, setiap desir angin menjadi bisikan cerita, setiap riak air menjelma menjadi gagasan, dan setiap bayangan pepohonan mengajak pikiran melampaui batas nyata menuju dunia yang hanya dapat disentuh oleh rasa.

Penulis: Am. Pupu

Am. Pupu alias Guru Muhir
Istana Raja Taun tidak berdiri di atas tanah sebagaimana bangunan manusia, melainkan menggantung di antara langit dan keheningan. Awan-awan tebal melingkupinya siang dan malam, berlapis-lapis seperti tirai yang sengaja diturunkan oleh alam untuk menyembunyikan rahasia yang terlalu agung bagi mata biasa. Dari kejauhan, puncak Rinjani tampak sunyi dan kosong, seolah tak pernah disentuh kehidupan. Namun bagi mereka yang peka, batinnya terbuka oleh doa atau luka panjang perjalanan jiwa, istana itu dapat dirasakan lalu hadir tanpa rupa serta nyata tanpa wujud.

Udara di sekeliling istana terasa dingin dan berat, seakan menyimpan bisikan zaman purba. Pada setiap hembusan angin hadir gema langkah-langkah yang tak kasatmata, suara kain sutra yang terseret pelan, serta denting logam halus yang tak pernah benar-benar terdengar. Waktu berjalan berbeda di sana. Detik-detik meregang terasa panjang, sementara kenangan berjatuhan seperti abu dupa. Manusia yang mendekat tanpa izin akan merasakan dada mengencang dan langkah yang goyah, seolah ada kekuatan tak terlihat yang memintanya berpaling.

Dinding-dinding istana memantulkan cahaya samar yang bukan berasal dari matahari maupun bulan. Cahaya itu hidup. Sesekali berubah warna mengikuti getar niat siapa pun yang berada di dalamnya. Aula-aula luas terbentang sunyi, dijaga bayang-bayang para Rekyan Patih yang setia pada sumpah lama. Mereka hadir tanpa suara, tanpa usia, menatap dengan mata yang seolah menembus masa lalu dan masa depan sekaligus.

Keangkeran istana bukanlah ancaman, melainkan peringatan. Ia menguji siapa pun yang datang. Apakah langkahnya digerakkan keserakahan atau kesadaran jiwa. Hanya mereka yang terpilih seperti para pertapa, penjaga warisan leluhur, atau jiwa-jiwa yang dipanggil takdir yang dapat melihat gerbangnya terbuka perlahan dari lipatan awan. Bagi yang lainnya, istana itu akan tetap menjadi mitos, cerita bisik-bisik di bawah api unggun, atau rasa ganjil yang tertinggal di dada saat memandang puncak Rinjani terlalu lama. Di sanalah, dalam sunyi yang menggetarkan, istana Raja Taun terus berdiri. Angker, misterius, dan setia menjaga rahasia dunia yang belum siap diketahui manusia.

Di balik tirai awan yang menggantung rendah, halaman belakang istana berdenyut oleh kesibukan yang tertahan. Beberapa sosok bergerak dalam diam, menjalankan tugas masing-masing tanpa perlu aba-aba. Ada yang menyapu permukaan batu hitam yang selalu basah oleh embun abadi, gerakannya perlahan namun pasti, seolah setiap sapuan adalah bagian dari doa. Ada pula yang merawat pusaka-pusaka tua di bawah naungan pohon berdaun perak, membersihkan bilah dan gagang dengan ramuan yang hanya dikenal para penjaga istana. Di sudut lain, asap tipis mengepul dari tungku batu, pertanda ritual kecil sedang dilakukan, menjaga keseimbangan agar istana tetap terikat pada kehendak Raja Taun.

Tak satu pun dari mereka berbicara. Kesunyian menjadi bahasa bersama, karena di tempat itu suara dapat membangunkan hal-hal yang tak seharusnya terjaga. Namun di balik ketenangan gerak, tersimpan kewaspadaan yang rapat. Mata mereka sesekali menoleh ke arah gerbang depan, seakan merasakan getaran yang belum menjelma peristiwa.

Sementara itu, di hadapan gerbang utama istana, suasana jauh berbeda. Para prajurit penjaga berdiri berderet, tubuh tegak bagai patung batu, namun urat-urat tangan mereka menegang. Senjata telah siap pakai. Tombak bermata cahaya suram, keris pendek terselip di pinggang, dan perisai berukir tanda-tanda kuno yang berdenyut pelan mengikuti napas pemiliknya. Awan di sekitar gerbang tampak lebih tebal, berputar perlahan seperti pusaran yang menunggu perintah.

Tak ada teriakan komando, tak pula tanda bahaya yang kasatmata. Namun semua tahu, istana berada dalam keadaan siaga satu. Setiap langkah asing akan terasa bahkan sebelum menjejak tanah. Setiap niat buruk akan tercium lebih dahulu oleh angin. Para prajurit menatap lurus ke depan, ke arah kehampaan yang bagi mata manusia biasa tampak kosong. Padahal di sanalah batas antara dunia yang diizinkan dan dunia yang harus ditolak.Di antara detak jantung istana dan bisikan awan, satu keyakinan mengikat mereka semua, apa pun yang akan datang, istana Raja Taun tidak akan jatuh tanpa perlawanan.

Aula utama istana terbentang luas dalam keheningan yang nyaris sakral. Langit-langitnya menjulang tinggi, lenyap dalam bayang-bayang, seolah tak pernah benar-benar berakhir. Cahaya redup menyusup dari celah-celah dinding, memantul lembut pada aneka lukisan tua yang berjajar rapi, ada kisah-kisah zaman lampau terbingkai dalam warna yang telah memudar, namun auranya tetap hidup. Pada setiap kanvas tergambar perjalanan Raja Taun, perjanjian dengan alam, serta wajah-wajah leluhur yang menatap keluar dari waktu, menunggu untuk dikenang kembali.

Meja-meja panjang dari kayu hitam berurat perak tersusun di sisi aula, permukaannya halus oleh usia dan sentuhan tangan-tangan setia. Kursi-kursi berukir duduk membisu, kaki-kakinya kokoh menjejak lantai batu yang dingin. Aneka perabot antik seperti peti pusaka, lemari tinggi berlapis ukiran halus, serta lampu-lampu gantung dari logam tua, mengisi ruang tanpa kesan berlebih, seolah setiap benda tahu batas keberadaannya. Di bawah semuanya, karpet-karpet tebal terbentang, motifnya rumit dan sarat simbol, meredam setiap langkah hingga gema pun enggan terdengar.

Di ujung aula, singgasana Raja Taun berdiri megah namun ditinggalkan. Tahta itu terbuat dari batu dan logam yang tak dikenal manusia, memancarkan wibawa yang tak luntur oleh waktu. Di pojok kanan singgasana, tersusun aneka bunga segar dan hiasan alam, kelopak-kelopak putih, merah, dan ungu yang menguarkan aroma lembut, dedaunan hijau gelap yang masih basah oleh embun, serta rangkaian anyaman kecil sebagai penanda penghormatan. Tak satu pun bunga layu yang seakan-akan waktu memilih berhenti di sudut itu, menunggu sang pemilik takhta kembali.

Namun aula itu kosong. Sepi. Tak ada langkah kaki, tak ada suara napas, hanya detak halus yang entah berasal dari jantung istana atau dari ingatan masa lalu. Keheningan menggantung tebal, menekan namun tidak mengancam, seperti doa yang belum selesai diucapkan. Aula istana menunggu. Menunggu Raja Taun, menunggu Shang Dyah, atau menunggu sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Di bawah payung langit Kerajaan Taun, ketika kabut pagi masih menggantung di antara puncak dan lembah, berdirilah para pembantu agung Raja Taun. Mereka yang disebut Rekhyan Patih, penjaga keseimbangan semesta kerajaan. Mereka bukan sekadar pejabat istana, melainkan titisan kehendak alam yang hidup, berdenyut, dan bernapas bersama tanah Taun itu sendiri.

Rekhyan Patih Tirta adalah yang pertama disebut dalam doa-doa rakyat. Ia menguasai air, sumber kehidupan sekaligus murka alam. Sungai, danau, hujan, hingga embun pagi tunduk pada isyarat tangannya. Di bawah komandonya berdiri pasukan rahasia dengan sandi kuno: Belabur Bukit dan Belabur Gunung; yakni pasukan yang muncul dan lenyap secepat aliran air yang menyusup celah batu. Mereka menjaga jalur air, bendungan alami, dan mata air suci agar tak jatuh ke tangan yang serakah. Konon, bila Tirta murka, sungai akan meluap tanpa hujan, dan bila ia berbelas kasih, tanah kering pun akan kembali basah oleh kehidupan.

Di jantung bumi, bekerja tanpa sorak puja, berdirilah Rekhyan Patih Mangku Gumi. Ia adalah penjaga keseimbangan unsur hara, penentu kesuburan ladang dan kekuatan tanah. Dengan laku tapa yang sunyi, ia mendengar bisikan bumi. Retakan kecil, getar halus, dan keluh kesah tanah yang kelelahan. Bila keseimbangan terganggu, Mangku Gumi akan mengembalikannya, menenun ulang harmoni antara manusia dan bumi agar panen tetap datang tepat waktu dan tanah tidak menuntut balas.

Lebih dalam lagi, di wilayah yang tak tersentuh mata manusia, Rekhyan Patih Getih Gatah memikul amanah yang jarang dipahami. Ia bertanggung jawab atas seluruh makhluk yang hidup di dalam tanah seperti cacing, akar, serangga, dan roh-roh kecil penjaga bumi. Getih Gatah percaya bahwa denyut kehidupan sejati bermula dari bawah pijakan kaki manusia. Jika makhluk tanah terluka, maka permukaan pun akan runtuh. Maka ia menjaga agar kehidupan yang tersembunyi tetap lestari, agar darah bumi, getih gatah tetap mengalir hangat.

Sementara itu, di atas segalanya, melintasi lembah dan puncak, bersemayamlah Rekhyan Patih Bayu Urip, pengendali angin. Nafasnya adalah hembusan semilir, amarahnya adalah badai. Bayu Urip membawa pesan kerajaan ke empat penjuru mata angun, menggerakkan awan, dan menjaga agar udara tetap hidup. Ia tahu kapan angin harus menenangkan perahu nelayan, dan kapan harus menghalau wabah dari perbatasan kerajaan.

Di batas hijau yang menjadi benteng alami kerajaan, berdiri tegak Rekhyan Patih Mangku Alas, penjaga hutan. Ia melindungi rimba tua yang menyimpan rahasia leluhur dan makhluk-makhluk gaib. Di bawah pengawasannya, hutan hadir bukan sekadar kayu dan daun, melainkan perisai hidup kerajaan. Setiap pohon yang tumbang tanpa izin menghadirkan pertanda, dan setiap langkah serakah berujung pada sunyi yang menyesatkan.

Sementara itu, untuk mengikat seluruh penjagaan agar tetap selaras, berkeliling tanpa henti Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani. Ia ditugaskan memantau setiap sudut wilayah kerajaan sebagai mata dan telinga Raja Taun. Dengan kecantikan yang tenang dan kewaspadaan seorang ksatria, Dewi Anjani menjelajah darat, air, hutan, hingga langit. Melalui pengawasannya, sumpah para Rekhyan Patih tetap terjaga, dan bila muncul celah pengkhianatan atau ancaman asing, dialah yang pertama kali merasakannya.

Demikianlah Kerajaan Taun berdiri, bukan hanya oleh kekuasaan Raja, tetapi oleh kesetiaan para penjaga alam. Selama mereka tetap selaras, Taun akan abadi. Namun para tetua berbisik, bila satu saja dari mereka goyah, maka alam sendiri yang akan menulis babak terakhir kerajaan itu. Tanda itu tidak pernah diumumkan dengan genderang atau panji kerajaan. Ia datang senyap, nyaris seperti kesalahan alam. Orang-orang menyebutnya Ketumbuk yakni hari ketika matahari berdiri tepat di puncaknya, dan bayangan kehilangan keberadaannya. Bumi seakan dilucuti dari penanda waktu yakni tiang, manusia, bahkan menara istana berdiri tanpa jejak gelap di kaki mereka.

Hanya sedikit yang memahami maknanya. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Ketumbuk bukan sekadar peristiwa langit, melainkan isyarat Sang Prabu Raja Taun telah menjadwalkan kedatangannya untuk inspeksi rutin atas negeri-negeri taklukannya. Rahasia itu pernah dibisikkan Rekhayan Patih Ander Geni pada suatu senja yang asin oleh uap samudra. Saat itu mereka berada di atas geladak kapal badai, ketika langit dan laut nyaris tak memiliki bStas. Shang Dyah berdiri di samping sang patih, jubahnya berkibar liar, sementara di kejauhan pasukan badai baru saja mereka kawal menembus arus ganas atas undangan kehormatan dari Senopati Tirta Segara, penguasa laut dalam.

Ketumbuk itu… kapan datangnya?” suara Shang Dyah nyaris tenggelam oleh deru angin. Ander Geni tidak langsung menjawab. Ia menatap cakrawala, tempat matahari seakan menggantung tanpa arah. Lalu, dengan nada yang hanya cukup untuk satu jiwa, ia membalas. “Ketika matahari tak lagi memberi bayangan." Saat itu, Sang Prabu sudah menyiapkan langkahnya. “Itu berarti…. ” Shang Dyah menahan kata-katanya. “Ia akan hadir,” potong Ander Geni pelan. “Bukan untuk disambut, tapi untuk menilai.”

Percakapan itu seharusnya berakhir di antara desir ombak dan rahasia. Namun Patih Bayu, yang baru saja kembali dari buritan setelah memastikan pasukan badai tertib, tanpa sengaja melambatkan langkahnya. Angin membawa sisa kalimat itu kepadanya; terpotong, samar, tapi cukup jelas untuk membuat dadanya mengeras. “Hari tanpa bayangan…” gumam Bayu dalam hati.

Ia tidak berani menoleh, tidak pula menyela. Tetapi sejak saat itu, setiap kali matahari meninggi dan bayangannya memendek, Patih Bayu tahu: negeri ini sedang dihitung waktunya. Dan Ketumbuk, yang selama ini dianggap keanehan langit, kini menjelma menjadi penanda takdir; datangnya Sang Prabu Raja Taun, tepat ketika bayangan pun memilih menghilang.

Menjelang senja, ketika angin mulai berjalan lebih pelan seolah menimbang rahasianya sendiri, Rekhyan Patih Bayu Urip diam sejenak di punggung bukit, lalu mencatat sesuatu dengan goresan halus pada ujung ikat pinggangnya—sebuah pertanda yang hanya ia pahami, lahir dari getar udara yang tak lazim dan bisikan arah angin yang berbelok dari kodratnya. 

Ia tidak mengucap apa pun, sebab angin mengajarkannya bahwa ada firasat yang lebih aman disimpan daripada diumumkan. Jauh di sisi lain Kerajaan Taun, tanpa tanda dan tanpa suara, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti melangkah, dadanya bergetar oleh rasa asing yang tak terlihat, seakan alam sendiri menyentuh batinnya dan memanggilnya seorang diri, membuka jalan sunyi menuju kisah berikutnya, yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar mendengar denyut dunia.

#Bersambung Episode 02 pekan depan. 

Rektor IAIH Pancor Sambut Ulama Al-Azhar, Tegaskan Pentingnya Pendidikan Generasi Islam Berakhlak

IAIH Hamzanwadi NWDI Pancor
Okenews.net-Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, M.A., secara resmi menyambut kehadiran ulama muda terkemuka Universitas Al-Azhar Kairo, Maulana Syaikh Alaa Mustofa Na’imah, dalam Seminar Internasional yang digelar di Aula IAIH Pancor, Jumat (17/01/2026). Seminar tersebut mengangkat tema strategis tentang pendidikan generasi Islam yang berlandaskan hikmah, ilmu, dan akhlak.

Mengawali sambutannya dengan selawat serta doa bagi kemaslahatan umat Nabi Muhammad SAW, TGB menegaskan adanya kedekatan emosional dan intelektual antara Universitas Al-Azhar dan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Ia menyampaikan bahwa Maulana Syaikh Alaa Mustofa Na’imah bukan sekadar tamu kehormatan, melainkan bagian dari keluarga besar organisasi sebagai anggota Dewan Pakar Pengurus Besar NWDI.

“Kehadiran beliau menjadi bukti kecintaan dan kepercayaan Al-Azhar terhadap institusi kita. Beliau hadir sebagai representasi Al-Azhar yang selama lebih dari seribu tahun dikenal sebagai menara ilmu dan benteng Ahlussunnah wal Jamaah,” ujar TGB.

Lebih lanjut, TGB menjelaskan bahwa seminar internasional ini berfokus pada tema Tansyi’atul Ajyal atau pendidikan generasi muda. Ia merujuk keteladanan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali melalui karya monumentalnya Ayyuhal Walad (Wahai Anakku), yang sarat dengan pesan dan wasiat mendalam bagi pemuda dalam menata masa depan.

“Tema ini telah menjadi perhatian utama para ulama sejak dahulu. Generasi muda harus membekali diri dengan nilai-nilai dasar berupa hikmah, ilmu, dan akhlak agar mampu menjadi bagian dari umat terbaik (khairu ummah),” tegasnya.

Sebelum mengisi Seminar Internasional di IAIH Pancor, Maulana Syaikh Alaa Mustofa Na’imah juga menyampaikan kuliah umum di Madrasah Diniyah Quranul Hakim (MDQH) NWDI Pancor. Dalam kesempatan tersebut, ia mengulas kitab karyanya tentang Qawaidul Fiqhiyyah (Kaidah-Kaidah Fiqh), yang membahas lima kaidah asasi dalam syariat Islam.

TGB berharap kehadiran ulama Al-Azhar di lingkungan NWDI dan IAIH Pancor dapat membuka cakrawala keilmuan santri dan mahasiswa, sekaligus memperkuat misi dakwah Islam yang moderat, inklusif, dan rahmatan lil ‘alamin.

Sabtu, 17 Januari 2026

Pantai Kahona Resmi Dibuka, Sekda Lotim: Mutiara Baru Pariwisata Teluk Dalam

Peresmian Pantai Kohana, Oleh Sekda Lombok Timur

Okenews.net- Satu lagi destinasi wisata bahari resmi hadir memperkaya pariwisata Lombok Timur. Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, secara resmi melaunching Pantai Kahona yang berada di kawasan Teluk Dalam, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Sabtu (17/01/2025).

Peluncuran Pantai Kahona menjadi penanda terbukanya akses publik terhadap pesona alam yang selama ini tersembunyi. Sekda menyebut kehadiran pantai ini sebagai angin segar bagi sektor pariwisata daerah, terutama karena karakter alamnya yang masih alami dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian.

Pantai Kahona menyuguhkan lanskap khas pesisir selatan Lombok Timur, dengan hamparan laut tenang Teluk Dalam yang berpadu indah dengan bukit-bukit hijau di sekelilingnya. Keasrian alam tersebut menjadikannya destinasi ideal bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan pengalaman berlibur yang lebih dekat dengan alam.

Menurut Sekda, selama ini Pantai Kahona belum banyak dikenal wisatawan lantaran akses menuju lokasi yang cukup terbatas. Sebelumnya, pengunjung hanya bisa mencapai pantai ini melalui jalur laut dengan perahu, biasanya dari kawasan Pantai Pink. Namun, kondisi tersebut kini berubah seiring rampungnya pembangunan infrastruktur jalan menuju lokasi.

“Dengan terbukanya akses darat, Pantai Kahona kini lebih mudah dijangkau dan siap menjadi tujuan wisata unggulan baru,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Sekda juga mengajak masyarakat Lombok Timur maupun wisatawan luar daerah untuk menjadikan Pantai Kahona sebagai salah satu pilihan utama berlibur. Beragam aktivitas wisata dapat dinikmati di pantai ini, mulai dari berenang, memancing, hingga berkemah sambil menikmati suasana alam yang tenang.

Kehadiran Pantai Kahona sekaligus menambah deretan pantai indah di wilayah selatan Lombok Timur, memperkuat potensi daerah sebagai destinasi wisata bahari yang menjanjikan.

Soroti Kesenjangan Pesisir, Sekda Lotim Dorong UNRAM Perkuat Pengabdian Nyata di Ekas

Sekertaris Daerah Lombok Timur, Saat Menghadiri Kegiatan Pengabdian Untuk Masyarakat Fakultas Pertanian Unram

Okenews.net- Sekretaris Daerah Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mengurangi kesenjangan pembangunan di wilayah pesisir. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Pengabdian Masyarakat Fakultas Pertanian Universitas Mataram (UNRAM) di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Sabtu (17/01/2026).

“Kami berterima kasih karena Universitas Mataram kembali mendarmabaktikan sumber dayanya untuk kemajuan Lombok Timur,” ujar Juaini Taofik.

Ia mengungkapkan, Lombok Timur memiliki 38 desa pesisir yang hingga kini masih menghadapi ketimpangan, baik dari sisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) maupun kontribusi ekonomi daerah.

“Sepanjang pantai ini kalau kita lihat dari IPM-nya, ya dari sub PDRB-nya memang masih senjang, Pak,” tegasnya.

Menurutnya, Desa Ekas dan wilayah pesisir Jerowaru merupakan contoh nyata daerah yang memiliki potensi besar, namun masih membutuhkan sentuhan serius melalui kolaborasi akademik dan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.

Sekda juga menaruh harapan besar pada rencana pembangunan laboratorium rumput laut yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat pesisir.

“Kalau nanti ada laboratorium rumput laut, produktivitas masyarakat Ekas pasti meningkat, karena bibitnya unggul dan tata kelolanya lebih baik,” katanya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa peningkatan pendapatan harus diimbangi dengan penurunan beban hidup masyarakat, salah satunya melalui penguatan layanan kesehatan.

“Pendapatan naik saja tidak cukup kalau beban hidupnya tetap berat,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Juaini Taofik berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan Universitas Mataram tetap terjaga, meski terjadi transisi kepemimpinan di lingkungan kampus.

“Kami berharap hubungan antara UNRAM dan Lombok Timur semakin mesra. Apa yang direncanakan hari ini semata-mata untuk mengurangi beban pemerintah daerah dalam rangka terus mengikis jurang kesenjangan di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Kamis, 15 Januari 2026

4.268 Masjid Jadi Kekuatan Pembangunan, DMI Lombok Timur Diminta Bertransformasi

 

Pengukuhan Dewan Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Lombok Timur periode 2025–2030

Okenews.net – Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, menegaskan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak semata ditentukan oleh besar kecilnya sumber daya, melainkan oleh kejelasan variabel yang terukur dan keistikamahan dalam menjalankan visi dan misi. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Pengukuhan Dewan Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Lombok Timur periode 2025–2030 di Pendopo Bupati, Kamis (15/01/2026).

Sekda menyoroti besarnya potensi masjid dan mushalla di Lombok Timur yang mencapai 4.268 titik. Menurutnya, jumlah tersebut merupakan kekuatan strategis untuk mendukung terwujudnya visi Lombok Timur yang maju, adil, religius, dan transparan.

“Bayangkan potensi besar dari 4.268 titik tersebut. Kita harus berkolaborasi dan bersinergi demi kemajuan Lombok Timur,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya tiga variabel utama dalam menggerakkan organisasi DMI ke depan, yakni sinergi dan kolaborasi, komunikasi yang efektif, serta kepatuhan terhadap garis organisasi. Dengan menjaga kepatuhan tersebut, Sekda berharap tujuan besar DMI dapat tercapai secara optimal. Ia pun menegaskan harapannya agar DMI Lombok Timur menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun mental dan spiritual masyarakat.

Senada dengan itu, Ketua Pimpinan Wilayah DMI Provinsi NTB, H. Masyhur, menyoroti tantangan pengelolaan masjid di Lombok Timur. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 74 persen masjid masih berorientasi pada ibadah ritual semata.

“Ini menjadi PR besar bagi pengurus yang baru untuk memperluas fungsi masjid ke arah sosial, ekonomi, dan pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjawab tantangan era milenial dengan memberikan ruang yang luas bagi generasi muda agar mencintai masjid, salah satunya melalui konsep Masjid Ramah Anak. Transformasi digital juga dinilai krusial, tidak hanya dalam dakwah, tetapi juga dalam manajemen organisasi dan pendataan masjid berbasis IT demi tata kelola yang transparan dan akurat.

Sementara itu, Ketua DPD DMI Kabupaten Lombok Timur, M. Husni Mubarak, menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diberikan sekaligus mengapresiasi pondasi kuat yang telah dibangun kepengurusan sebelumnya. Ia menegaskan komitmennya menjadikan DMI sebagai pilar penting pembangunan peradaban di Lombok Timur.

Dalam visinya, Husni menargetkan masjid bertransformasi tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat peradaban Islam yang berkontribusi nyata bagi kemajuan daerah. Empat langkah strategis pun dicanangkan, yakni penguatan fungsi sosial masjid, peningkatan kualitas pengelolaan, pengembangan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an melalui program kemasjidan ramah anak, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.

PTSL Hadirkan Kepastian Hukum, Warga Padak Guar Terima Sertipikat Tanah Elektronik

Penyerahan E-Sartifikat (PTSL)

Okenews.net – Suasana penuh rasa syukur menyelimuti Kantor Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Kamis (15/01/2026). Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Lombok Timur secara resmi menyerahkan Sertipikat Tanah Elektronik kepada warga melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).

Penyerahan sertipikat ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam mempercepat transformasi digital di sektor pertanahan, sekaligus memberikan kepastian hukum hak atas tanah bagi masyarakat pesisir Lombok Timur.

Kepala Desa Padak Guar, Tarmizi, SH, mengungkapkan bahwa program PTSL sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Proses yang mudah, jelas, dan terukur dinilai membantu warga dalam melegalkan aset tanah yang selama ini belum memiliki kepastian hukum.

“Kami sangat bersyukur Desa Padak Guar menjadi bagian dari program PTSL. Awalnya kami mendapat target 600 bidang, namun setelah proses verifikasi menjadi 590 bidang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 440 bidang dinyatakan siap dan selesai secara administratif,” ujar Tarmizi di sela-sela penyerahan sertipikat.

Namun demikian, Tarmizi menjelaskan masih terdapat sejumlah bidang tanah yang belum dapat diselesaikan. Sebanyak 75 bidang saat ini tertunda karena berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Untuk persoalan tersebut, pihak desa bersama instansi terkait terus mengupayakan koordinasi intensif guna memperoleh rekomendasi dari Balai Pengelolaan Hutan (BPHL/KPH).

“Kami berharap ada respons positif secepatnya agar hak masyarakat kami dapat segera terpenuhi,” tambahnya.

Dengan kuota yang cukup besar, Kantor Pertanahan Lombok Timur melakukan penyerahan sertipikat secara bertahap. Perwakilan Kantah Lombok Timur, Nirwana, menjelaskan bahwa penyerahan hari ini merupakan tahap kedua dari rangkaian kegiatan PTSL di Desa Padak Guar.

“Pada tahap kedua ini, kami menyerahkan sebanyak 114 sertipikat elektronik. Sebelumnya, pada tahap pertama telah diserahkan 100 sertipikat,” jelas Nirwana.

Dengan demikian, total sertipikat yang telah diserahkan hingga saat ini berjumlah 214 bidang, dari target 440 bidang yang dinyatakan siap terbit.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sertipikat yang diserahkan kini berbentuk Sertipikat Elektronik. Sertipikat ini dinilai lebih aman karena tersimpan dalam basis data digital Kementerian ATR/BPN, sehingga meminimalisasi risiko kehilangan, pencurian, maupun kerusakan akibat bencana alam.

Masyarakat Desa Padak Guar pun berharap program PTSL dapat kembali dilanjutkan di masa mendatang. Pasalnya, masih terdapat potensi lahan lain yang membutuhkan legalitas hukum guna mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi warga, khususnya melalui akses permodalan perbankan.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi