www.okenews.net

Selasa, 16 Juni 2026

Gali Makna dan Nilai Wetu Telu, Prodi BK Hamzanwadi Gelar Sarasehan Konseling Lintas Budaya

Program Studi BK Universitas Hamzanwadi menggelar Sarasehan Ilmiah Konseling Lintas Budaya
Okenews.netProgram Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Hamzanwadi menggelar Sarasehan Ilmiah Konseling Lintas Budaya bertema "Klarifikasi Makna dan Nilai Wetu Telu di Bayan dalam Perspektif Sosiolog dan Budayawan Sasak serta Menemukan Praktik Konseling yang Relevan", Selasa (16/6/2026).

Kegiatan yang diikuti 55 mahasiswa semester VI tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mata kuliah Konseling Lintas Budaya. Melalui sarasehan ini, mahasiswa diajak memahami hubungan antara budaya lokal, nilai-nilai sosial masyarakat, serta relevansinya dalam pengembangan praktik konseling yang sensitif terhadap latar budaya konseli.

Budayawan Sasak, Muhir, S.Pd., menjelaskan Wetu Telu perlu dipahami secara proporsional sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Bayan. Menurutnya, berbagai kesalahpahaman yang berkembang selama ini muncul karena Wetu Telu kerap dipandang secara sempit sebagai persoalan keagamaan, padahal di dalamnya terdapat dimensi sejarah, adat, identitas, dan nilai sosial yang telah hidup dalam masyarakat selama berabad-abad.

“Tradisi yang berkembang di Bayan menyimpan nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, kepedulian terhadap lingkungan, serta semangat menjaga harmoni sosial. Nilai-nilai tersebut diwariskan melalui ritual, tradisi lisan, dan berbagai praktik budaya yang masih bertahan hingga sekarang,” jelas tokoh pendiri Repok Literasi itu.

Sementara Dr. Hanapi, M.Si memaparkan wetu telu sering dilekatkan hanya pada Bayan, padahal jejak sejarah, nilai, dan praktik budaya yang berkaitan dengan wetu telu dapat ditemukan di sejumlah desa dan komunitas masyarakat Sasak di Lombok. 

Namun, Bayan menjadi wilayah yang paling kuat mempertahankan dan mewariskan tradisi tersebut sehingga sering dijadikan rujukan dalam berbagai kajian budaya. Karena itu, ketika berbicara tentang wetu welu, tidak hanya berbicara tentang sebuah wilayah, tetapi tentang sistem nilai budaya yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat Sasak.

Wetu Telu dari perspektif sosiologi, kata Hanapi, sosiologi tidak bertugas menentukan benar atau salah suatu keyakinan maupun praktik budaya, melainkan berupaya memahami bagaimana sebuah tradisi lahir, dipertahankan, dimaknai, dan berfungsi dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Hanapi, pendekatan sosiologi melihat wetu telu sebagai realitas sosial dan identitas budaya yang terbentuk melalui proses sejarah panjang. Tradisi tersebut berkembang bersama pengalaman kolektif masyarakat Bayan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui berbagai institusi sosial, seperti keluarga, komunitas adat, ritual budaya, serta tradisi lisan yang masih hidup hingga saat ini.

Dalam kajian sosiologi budaya, kata Dosen Sosiologi Universitas Hamzanwadi ini, tradisi dipahami sebagai bagian dari sistem makna yang hidup dan dipelihara oleh masyarakat. Geertz menjelaskan budaya merupakan jaringan makna (webs of significance) yang digunakan manusia untuk memahami kehidupannya.

“Dari sudut pandang tersebut, Wetu Telu dapat dibaca sebagai ekspresi identitas budaya yang memuat memori sejarah, nilai sosial, serta pandangan hidup masyarakat Bayan. Fokus sosiologi bukan memberikan penilaian normatif terhadap tradisi, melainkan menjelaskan bagaimana tradisi itu dipahami, dipraktikkan, dan dipertahankan oleh komunitas pendukungnya,” jelas Founder Guru Lauq Indonesia itu.

Hanapi juga menjelaskan identitas budaya masyarakat Bayan dibangun melalui sejarah, memori kolektif, dan praktik budaya yang terus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari. Kampu adat, sistem kepemimpinan adat, ritual budaya, hingga tradisi lisan menjadi bagian dari mekanisme yang menjaga keberlanjutan identitas tersebut.

Ia juga menjelaskan Wetu Telu menyimpan memori kolektif masyarakat Bayan yang memuat narasi leluhur, proses Islamisasi Lombok, norma sosial, dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

“Tradisi menjadi media yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Melalui tradisi, masyarakat mempertahankan ingatan kolektif sekaligus menjaga keberlanjutan identitas budayanya,” katanya.

Lebih lanjut, Hanapi melihat Wetu Telu sebagai modal budaya yang mengandung berbagai bentuk pengetahuan lokal. Pengetahuan tersebut mencakup pengetahuan sosial seperti beriuk tinjal, gundem atau sangkep, besemeton, dan saling ajinan; pengetahuan historis mengenai asal-usul komunitas, serta pengetahuan ekologis yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan etika hubungan manusia dengan alam.

Menurutnya, keberlangsungan Wetu Telu hingga saat ini menunjukkan tradisi tersebut masih memiliki fungsi sosial yang relevan bagi masyarakat. Tradisi berperan dalam memperkuat solidaritas sosial, menjaga identitas komunitas, mentransmisikan nilai kepada generasi muda, memperkokoh legitimasi kepemimpinan adat, dan membangun kesadaran ekologis masyarakat.

“Suatu tradisi akan bertahan ketika masih memiliki makna dan fungsi bagi komunitas pendukungnya. Karena itu, tugas akademisi adalah memahami dan menjelaskan realitas sosial tersebut secara objektif,” tambah Ketua Serikat Media Siber Indonesia Cabang Lombok Timur itu.

Dari perspektif konseling lintas budaya, Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Hamzanwadi, Fitri Aulia, M.Pd.I menekankan pentingnya pemahaman budaya dalam praktik layanan konseling. Menurutnya, konselor harus mampu memahami latar sosial dan budaya konseli agar layanan yang diberikan lebih relevan dan efektif.

Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai budaya lokal, seperti solidaritas, penghormatan terhadap tokoh masyarakat, kebersamaan, dan semangat gotong royong, dapat menjadi sumber kekuatan psikologis yang mendukung proses konseling.

“Setiap individu tumbuh dalam lingkungan budaya tertentu. Karena itu, calon konselor perlu memiliki sensitivitas budaya agar mampu memahami cara pandang, pengalaman hidup, dan nilai-nilai yang dimiliki konseli,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami budaya sebagai realitas sosial yang memengaruhi cara individu berpikir, berperilaku, dan membangun hubungan dengan lingkungannya. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam mengembangkan praktik konseling yang empatik, kontekstual, dan menghargai keberagaman budaya.

Fitri juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kompetensi akademik mahasiswa melalui pengalaman belajar yang terhubung langsung dengan realitas sosial budaya masyarakat.

Sarasehan Ilmiah Konseling Lintas Budaya tersebut menjadi ruang dialog yang mempertemukan perspektif budaya, sosiologi, dan konseling. Melalui forum ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya membaca budaya secara ilmiah, menghargai keragaman sosial, serta mengintegrasikan sensitivitas budaya dalam praktik profesional di bidang bimbingan dan konseling.

Senin, 15 Juni 2026

Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid, Minta Kualitas Pemilu Ditingkatkan

Okenews.net-Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid menilai kualitas pemilu pada tahun 2024 merupakan yang paling rendah dibanding pemilu sebelumnya. Penurunan  kualitas pemilu dipengaruhi semakin tergerusnya kemandirian dan integritas penyelenggara pemilu.

“Situasi ini memicu berbagai masalah, mulai dari dugaan pelanggaran etik komisioner, lemahnya penindakan kecurangan, hingga intervensi lembaga lain, diluar penyelenggara pemilu,” kata Fauzan saat memberi sambutan acara Diseminasi Penguatan Kapasitas Tim Pemeriksa Daeah yang digelar Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), di Lombok, NTB, Senin (2/6/2026).

Rendahnya kualitas pemilu, jelas Fauzan, tidak semata-mata salahnya penyelenggara pemilu. Namun, juga disebabkan karena intervensi kekuasaan, yang mulai terlihat sejak pemilu 2019.

Adapun penyelenggara pemilu terdiri dari tiga pilar lembaga, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Ketiga lembaga ini, katanya, memiliki tugas dan fungsi yang saling melengkapi dan bersinergi untuk menjaga integritas pemilu di Indonesia.

 

Menurut Fauzan, Anggota Komisi II DPR RI yang terpilih dari dapil NTB II Pulau Lombok, penilaian terhadap rendahnya kualitas pelaksanaan pemilu 2024 juga banyak disampaikan para pengamat. Karena itu, tugas semua elemen, baik dari penyelenggara pemilu, lembaga lain, serta semua masyarakat untuk terus menjaga agar tidak terjadi regresi demorasi.

Dalam sambutannya, Fauzan menyatakan, banyak kalangan melihat penyelenggara pemilu, KPU dan Bawaslu seperti bermusuhan, padahal tidak. Penilaian ini didasari oleh tugas dan fungsinya yang berbeda, dan seolah-olah bermusuhan.

KPU, merupakan lembaga yang bertugas melaksanakan dan mengelola tahapan pemilu secara operasional. Bawaslu, lembaga yang bertugas mengawasi seluruh tahapan penyelenggaraan pemilu guna mencegah dan menindak pelanggaran serta kecurangan yang terjadi.

“Kalau saya, sebagai orang luar, tetapi pernah berada di lingkungan penyelenggara pemilu, tidak mungkin saya menilai kedua lembaga bermusuhan. KPU dan Bawaslu merupakan dua pilar penyelenggara pemilu yang wajib bersinergi,” ujar Ketua KPU NTB periode 2008-2013 ini.

Fauzan menambahkan, KPU bertindak sebagai penyelenggara teknis, sedangkan Bawaslu mengawasi seluruh tahapan untuk memastikan proses pemilu berjalan jujur, adil, dan berintegritas. DKPP, merupakan, berfungsi menegakkan kode etik dan mengadili pelanggaran yang dilakukan anggota KPU maupun Bawaslu.

Berkaitan dengan KPU, Fauzan, Bupati Lombok Barat dua periode (2016-2024) menilai, KPU bersifat independen mulai 2003. Saat itu, komisioner dari unsur partai politik tidak ada, dan tidak boleh diintervensi oleh siapa saja maupun dari pihak manapun.

Bawaslu pada tahun 2023 juga masih bersifat ad hoc, tetapi mulai bersifat permanen pada tahun 2008. DKPP saat itu menjadi bagian dari penyelenggara pemilu yang dibentuk secara independen oleh lembaga penyelenggara pemilu.


“Saya berharap sejarah ini bisa kita hayati, sebagai bagian dari cara kita memperbaiki kualitas pemilu. Kita semua bertanggungjawab menjaga pemilu sesuai asas langsung, umum, bebas, rahasia (luber), jujur, dan adil atau jurdil.

Pawai Taaruf Meriahkan Tahun Baru Islam, Festival Muharram Lotim Resmi Dimulai

Okenews.net– Pemerintah Kabupaten Lombok Timur secara resmi membuka rangkaian Festival Muharram 1448 Hijriah dengan menggelar Pawai Taaruf yang berlangsung meriah di Kota Selong, Senin (15/6). Kegiatan tahunan tersebut menjadi bagian dari syiar Islam sekaligus upaya melestarikan budaya daerah dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ribuan peserta dari berbagai kalangan ambil bagian dalam Pawai Taaruf yang menandai dimulainya Festival Muharram 1448 H di Kabupaten Lombok Timur. Barisan peserta terdiri dari organisasi perangkat daerah (OPD), instansi vertikal, organisasi perempuan, hingga pelajar dari sejumlah sekolah di Kecamatan Selong dan sekitarnya.

Salah satu atraksi yang menjadi perhatian masyarakat adalah parade dulang tembolak beak yang tahun ini dihadirkan sebanyak 1.448 dulang, menyesuaikan angka tahun Hijriah saat ini. Kehadiran parade tersebut menambah semarak perayaan sekaligus menjadi simbol pelestarian tradisi lokal yang terus dijaga setiap tahun.

Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menegaskan bahwa Festival Muharram bukan hanya agenda seremonial tahunan, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki manfaat yang luas, mulai dari menjaga tradisi dan budaya hingga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

“Pawai Taaruf dengan parade 1.448 dulang ini merupakan bagian dari upaya mengingatkan masyarakat agar menyemarakkan dan memaknai datangnya 1 Muharram sebagai momentum penting dalam kalender Islam,” ujarnya.

Bupati bersama Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya, didampingi Ketua TP PKK, Ketua GOW, unsur Forkopimda, serta pimpinan OPD, turut berjalan bersama peserta pawai menuju Masjid Agung Al-Mujahidin Selong. Kehadiran mereka di tengah peserta menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap pelaksanaan festival tersebut.

Setelah pawai berakhir, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa akhir dan awal tahun serta pengajian Muharram yang dipusatkan di Masjid Agung Al-Mujahidin Selong.

Festival Muharram 1448 H dijadwalkan berlangsung selama sepekan. Selain kegiatan keagamaan, masyarakat juga akan disuguhkan berbagai pameran dan hiburan rakyat yang menghadirkan sejumlah artis nasional, di antaranya Grup Band Gigi, Bams, serta sejumlah seniman lokal.

Melalui festival ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berharap semangat Tahun Baru Islam dapat menjadi momentum memperkuat nilai religius, kebersamaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Wabup Lotim Ajak Masyarakat Perkuat Kebersamaan Sambut Tahun Baru Hijriah

Okenews.net – Momentum pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk memperkuat semangat hijrah menuju daerah yang lebih maju dan religius. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya saat menghadiri doa bersama akhir dan awal tahun di Masjid Agung Al-Mujahidin Selong, Senin (15/6).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Festival 1 Muharram 1448 Hijriah tersebut juga menandai tahun kedua kepemimpinan Bupati H. Haerul Warisin dan Wakil Bupati H. Moh. Edwin Hadiwijaya.

Dalam sambutannya, Wabup Edwin mengajak masyarakat menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum evaluasi dan perbaikan diri, sekaligus memperkuat semangat pembangunan di Kabupaten Lombok Timur.

Menurutnya, semangat hijrah yang diusung dalam peringatan Tahun Baru Islam sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pembangunan di berbagai sektor.

Pada kesempatan itu, Edwin juga menyampaikan rasa syukur atas capaian Kafilah Lombok Timur pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi NTB. Lombok Timur berhasil menembus final di 21 cabang lomba dan sementara menempati posisi kedua, meningkat dibandingkan hasil pada MTQ sebelumnya.

“Ini patut kita syukuri. Peningkatan yang terjadi menunjukkan adanya kemajuan dari pola pembinaan yang dilakukan, termasuk keseriusan LPTQ dalam mempersiapkan para peserta,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah bersama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) akan terus bekerja keras mewujudkan visi pembangunan Lombok Timur SMART, yakni Sejahtera, Maju, Adil, Religius, dan Transparan.

Selain fokus pada pembangunan ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur, pemerintah daerah juga terus memperkuat program-program keagamaan sebagai bagian dari visi religius yang diusung. Penguatan LPTQ, pembinaan pondok pesantren, hingga penyelenggaraan kegiatan keagamaan menjadi langkah yang terus didorong.

Meski demikian, Edwin mengakui masih terdapat berbagai tantangan dan keterbatasan yang harus dibenahi. Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan efektivitas pengelolaan anggaran agar program pembangunan dapat berjalan lebih optimal.

Wabup juga berharap Festival Muharram di masa mendatang dapat semakin meriah dengan melibatkan lebih banyak desa, khususnya dalam kegiatan parade dulang yang menjadi salah satu daya tarik utama.

Menurutnya, parade dulang bukan sekadar tradisi budaya dan keagamaan, tetapi juga mencerminkan kekompakan, kepedulian sosial, serta semangat gotong royong masyarakat Lombok Timur.

“Kebersamaan dan rasa sosial yang tinggi merupakan modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Semangat ini harus terus kita pelihara agar Lombok Timur tetap tumbuh dan berkembang,” katanya.

Di akhir sambutannya, Edwin mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan, keamanan, dan kondusivitas daerah guna mendukung kelancaran pembangunan di Lombok Timur.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengajian hikmah Tahun Baru Islam yang disampaikan TGH Muzayyin Shobri. Acara ditutup dengan makan bersama menggunakan 1.448 dulang yang disiapkan oleh masyarakat Desa Pengadangan sebagai simbol kebersamaan menyambut Tahun Baru Hijriah.

Lombok Timur Raih Juara Umum II MTQ NTB, Bupati Siapkan Bonus Rp1 Miliar

Okenews.net Kafilah Kabupaten Lombok Timur mencatat prestasi membanggakan pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan perolehan nilai 177, Lombok Timur berhasil menempati posisi Juara Umum II, melonjak signifikan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya yang berada di peringkat ketujuh.

Posisi juara umum diraih Kabupaten Lombok Tengah selaku tuan rumah dengan total nilai 245. Hasil tersebut diumumkan pada malam penutupan MTQ XXXI yang berlangsung di Bencingah Masmirah, Lombok Tengah, Senin (15/6).

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, pelatih, official, pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), serta masyarakat Lombok Timur yang telah memberikan dukungan dan doa selama pelaksanaan MTQ.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan buah dari kerja keras dan kesungguhan para peserta dalam berlatih serta pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh LPTQ.

“Peningkatan dari peringkat tujuh menjadi juara umum kedua tentu menjadi prestasi yang sangat membanggakan. Ini berkat kegigihan para peserta, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat,” ujar Warisin.

Meski berhasil meraih posisi kedua, Bupati menegaskan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tidak akan cepat berpuas diri. Evaluasi tetap dilakukan untuk memperkuat pembinaan dan meningkatkan prestasi pada ajang MTQ mendatang.

Ia menilai hasil MTQ tahun ini menjadi bahan penting untuk memetakan langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah bersama LPTQ dalam mencetak generasi Qurani yang berprestasi.

Sebagai bentuk penghargaan atas capaian tersebut, Warisin memastikan Pemkab Lombok Timur akan mengalokasikan bonus sebesar Rp1 miliar melalui LPTQ yang nantinya diberikan kepada para juara.

“Ini bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada para peserta yang telah mengharumkan nama Lombok Timur di tingkat provinsi,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, yang menutup secara resmi MTQ XXXI, mengingatkan bahwa ajang MTQ bukan sekadar kompetisi untuk mencari pemenang. Lebih dari itu, MTQ menjadi sarana memperkuat pendidikan Al-Qur’an di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.

Menurutnya, nilai-nilai Al-Qur’an harus terus ditanamkan kepada generasi muda sebagai benteng moral sekaligus bekal dalam melanjutkan pembangunan daerah dan bangsa.

Wagub juga menekankan bahwa MTQ merupakan wadah yang mampu mempererat persaudaraan, kebersamaan, dan persatuan masyarakat NTB.

Melihat potensi yang ditunjukkan para peserta, ia optimistis para juara yang lahir dari MTQ tahun ini mampu membawa nama NTB bersaing di tingkat nasional.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemerintah kabupaten/kota, panitia penyelenggara, aparat keamanan, serta masyarakat yang telah mendukung suksesnya pelaksanaan MTQ XXXI. Ia berharap NTB kembali mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah MTQ tingkat nasional di masa mendatang.

Paradoks Demokrasi Desa: Ketika Kompetensi Tidak Menjadi Ukuran Utama Kepemimpinan


Oleh: MUHIR (Founder Repok Literasi - Lotim, NTB)

Mengapa Desa Membutuhkan Pemimpin Berkapasitas?

Kualitas kepemimpinan kepala desa tidak cukup diukur dari kemenangan dalam pemilihan. Legitimasi politik memang penting, tetapi keberhasilan memimpin desa sangat ditentukan oleh kapasitas pengetahuan, kompetensi, mentalitas, dan kemampuan membangun jejaring yang produktif. Desa saat ini telah berkembang menjadi pusat pembangunan yang mengelola sumber daya publik, menggerakkan ekonomi lokal, serta merespons berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks. Perubahan tersebut menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai faktor utama yang menentukan arah kemajuan desa. Karena itu, pemimpin desa dituntut memiliki kapasitas yang mampu menjawab tantangan pembangunan yang terus berkembang.

Aspek pertama yang menjadi fondasi kepemimpinan adalah pengetahuan. Nurcholish Madjid menegaskan bahwa kemajuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas pengetahuan para pemimpinnya (Madjid, 1999). Pengetahuan menjadi dasar lahirnya keputusan yang rasional, terukur, dan berorientasi pada kepentingan publik. Bagi kepala desa, kemampuan memahami regulasi, membaca peluang pembangunan, mengelola keuangan desa, serta menyusun perencanaan berbasis kebutuhan masyarakat merupakan bagian penting dari modal kepemimpinan.

Kemampuan tersebut perlu ditopang kompetensi yang memadai. Taliziduhu Ndraha menjelaskan bahwa kompetensi pemerintahan merupakan perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan seorang pemimpin menjalankan fungsi pemerintahan secara efektif (Ndraha, 2003). Salah satu kompetensi yang sangat menentukan ialah kemampuan komunikasi. Pemimpin desa harus mampu menyampaikan gagasan, program, dan arah pembangunan secara jelas kepada masyarakat maupun berbagai pemangku kepentingan. Banyak ide pembangunan yang gagal diwujudkan bukan karena kualitasnya rendah, melainkan karena tidak tersampaikan dengan baik.

Selain kompetensi, mentalitas kepemimpinan memegang peranan yang sama pentingnya. Miriam Budiardjo memandang kepemimpinan sebagai kemampuan memengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama (Budiardjo, 2008). Kemampuan tersebut menuntut keberanian untuk menyampaikan gagasan, memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan mengambil keputusan dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Pemimpin desa memerlukan keberanian moral serta kepercayaan diri agar mampu memperjuangkan kebutuhan masyarakat di hadapan pemerintah daerah, dunia usaha, maupun berbagai lembaga lainnya.

Di tengah semakin terbukanya ruang pembangunan, kemampuan membangun jejaring menjadi kebutuhan strategis. Ryaas Rasyid menegaskan bahwa keberhasilan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpinnya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak (Rasyid, 2000). Jejaring yang luas membuka akses terhadap informasi, program bantuan, peluang investasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga berbagai sumber daya pembangunan lainnya. Pengalaman menunjukkan bahwa desa yang dipimpin oleh individu dengan jaringan luas cenderung lebih adaptif dalam memanfaatkan peluang pembangunan.

Lebih jauh, jejaring tersebut perlu berkembang menjadi kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas sosial, media, dan masyarakat sipil. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran B.J. Habibie yang menempatkan sinergi antara sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan kerja sama lintas sektor sebagai fondasi kemajuan bangsa (Habibie, 2006). Bagi desa, kolaborasi multipihak dapat menghadirkan dukungan kebijakan, pendampingan teknis, akses pendanaan, hingga promosi potensi lokal secara lebih luas.

Pengetahuan menjadi fondasi kepemimpinan. Kompetensi menentukan kemampuan mengelola sumber daya. Mentalitas melahirkan keberanian bertindak, sedangkan jejaring memperluas akses terhadap berbagai peluang pembangunan. Seluruh unsur tersebut saling melengkapi dan membentuk kapasitas kepemimpinan yang utuh.

Karena itu, desa yang ingin maju membutuhkan pemimpin yang memiliki legitimasi politik sekaligus kapasitas kepemimpinan yang kuat. Kemajuan desa tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran yang tersedia, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelola dan mengarahkannya untuk kepentingan masyarakat.

Antara Demokrasi Lokal dan Standar Kualitas Kepemimpinan Desa

Demokrasi lokal merupakan salah satu instrumen penting untuk mewujudkan kedaulatan rakyat pada tingkat pemerintahan yang paling dekat dengan kehidupan warga. Gagasan ini berangkat dari keyakinan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menentukan arah pemerintahan di lingkungan tempat mereka hidup. Robert A. Dahl (1998) menjelaskan bahwa demokrasi yang sehat ditopang oleh partisipasi warga, kesetaraan politik, akses terhadap informasi, serta kesempatan yang sama untuk memengaruhi keputusan publik. Nilai-nilai tersebut lebih mudah diwujudkan pada tingkat lokal karena jarak antara masyarakat dan pemegang kekuasaan relatif dekat.

Pemikiran mengenai demokrasi lokal memiliki akar yang panjang dalam tradisi ilmu politik. John Stuart Mill (1861) memandang pemerintahan lokal sebagai sarana pendidikan politik bagi warga negara. Melalui keterlibatan dalam urusan publik, masyarakat belajar memahami tanggung jawab kolektif, mengawasi penggunaan kekuasaan, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Mill bahkan menilai kualitas demokrasi suatu negara sangat dipengaruhi oleh kualitas demokrasi yang tumbuh pada tingkat lokal.

Perkembangan kajian pemerintahan modern memperluas makna demokrasi lokal. Demokrasi tidak berhenti pada pemilihan pemimpin secara langsung. Konsep local self-government menempatkan masyarakat sebagai aktor yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi kebijakan, mengawasi jalannya pemerintahan, serta menentukan prioritas pembangunan sesuai kebutuhan lokal (Erlingsson & Ödalen, 2017). Perspektif ini menegaskan bahwa demokrasi lokal berkaitan erat dengan kapasitas masyarakat untuk mengendalikan arah pembangunan di wilayahnya sendiri.

Di Indonesia, prinsip tersebut tercermin dalam pemilihan kepala desa secara langsung. Mekanisme ini memberikan ruang yang luas bagi warga untuk memilih maupun dipilih. Dari sudut pandang demokrasi, keterbukaan tersebut merupakan capaian penting karena menjamin kesetaraan hak politik. Setiap warga negara yang memenuhi persyaratan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh mandat dari masyarakat.

Meski demikian, demokrasi lokal menghadapi tantangan ketika berhadapan dengan tuntutan tata kelola pemerintahan yang semakin kompleks. Desa saat ini mengelola anggaran publik yang besar, menyusun perencanaan pembangunan, mengembangkan potensi ekonomi lokal, serta menangani berbagai persoalan sosial yang terus berkembang. Situasi tersebut menempatkan kepala desa sebagai pemimpin politik sekaligus pengelola pemerintahan yang dituntut mampu menghasilkan kebijakan dan pelayanan publik yang efektif.

Persoalan muncul ketika legitimasi politik tidak selalu berjalan beriringan dengan kapasitas kepemimpinan. Demokrasi memberikan hak kepada setiap warga negara untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Akan tetapi, efektivitas pemerintahan sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang memimpin organisasi publik. Pengetahuan mengenai tata kelola desa, kemampuan komunikasi, keterampilan manajerial, integritas, serta kemampuan membangun kolaborasi menjadi faktor yang menentukan keberhasilan kepemimpinan.

Taliziduhu Ndraha (2003) menjelaskan bahwa jabatan pemerintahan merupakan jabatan profesional yang menuntut kompetensi tertentu. Pandangan tersebut relevan untuk memahami posisi kepala desa pada era pembangunan modern. Kepala desa memperoleh legitimasi melalui proses demokrasi, sementara keberhasilan pemerintahannya ditentukan oleh kapasitas dalam menjalankan fungsi pelayanan, pemberdayaan, dan pembangunan.

Perdebatan mengenai demokrasi lokal sesungguhnya bukan mengenai pembatasan hak politik warga negara. Isu yang lebih penting adalah bagaimana demokrasi dapat menghasilkan pemimpin yang memiliki legitimasi sekaligus kompetensi. Demokrasi yang berkualitas memerlukan masyarakat yang memiliki akses terhadap informasi yang memadai mengenai kapasitas para calon pemimpin. Debat publik, penyampaian program pembangunan yang terukur, rekam jejak kepemimpinan, serta pemahaman calon terhadap tata kelola desa dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya.

Pada akhirnya, demokrasi lokal dan standar kualitas kepemimpinan desa tidak berada dalam hubungan yang saling meniadakan. Demokrasi memberikan dasar legitimasi bagi pemimpin, sedangkan kapasitas kepemimpinan menentukan kualitas pemerintahan yang dijalankan. Desa membutuhkan keduanya secara bersamaan. Legitimasi tanpa kapasitas berpotensi menghasilkan pemerintahan yang kurang efektif. Sebaliknya, kapasitas tanpa legitimasi akan kehilangan dasar kepercayaan publik. Oleh karena itu, masa depan pembangunan desa sangat ditentukan oleh kemampuan menghadirkan pemimpin yang memperoleh mandat rakyat sekaligus memiliki kompetensi untuk menerjemahkan mandat tersebut menjadi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Memilih Orang atau Menentukan Arah Masa Depan Desa?

Fenomena yang menarik dalam berbagai ruang publik desa, termasuk percakapan sehari-hari dan grup WhatsApp (WAG), adalah cara masyarakat memaknai pemilihan kepala desa. Proses politik tersebut sering dipahami sebagai upaya menentukan siapa yang akan memimpin desa, sementara pembahasan mengenai arah pembangunan yang akan ditempuh selama enam tahun mendatang cenderung memperoleh perhatian yang lebih sedikit.

Akibatnya, perdebatan publik lebih banyak berpusat pada figur calon, hubungan kekerabatan, kedekatan emosional, asal wilayah, jaringan pertemanan, maupun sejarah hubungan antar keluarga. Sebaliknya, isu yang berkaitan dengan kapasitas kepemimpinan, visi pembangunan, strategi peningkatan pendapatan desa, penguatan ekonomi masyarakat, tata kelola pemerintahan, inovasi pelayanan publik, serta proyeksi pembangunan jangka panjang belum menjadi tema utama dalam diskursus politik desa.

Padahal, secara filosofis pemilihan kepala desa merupakan bagian dari proses demokrasi lokal yang bertujuan menentukan arah kebijakan publik. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menempatkan desa sebagai subjek pembangunan yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingannya berdasarkan hak asal-usul serta kewenangan lokal berskala desa. Amanat tersebut menunjukkan bahwa pemilihan kepala desa sesungguhnya merupakan momentum bagi masyarakat untuk menentukan prioritas pembangunan dan masa depan desanya, bukan semata memilih figur yang akan menduduki jabatan pemerintahan.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan demokrasi deliberatif yang menempatkan kualitas dialog publik sebagai unsur penting dalam kehidupan demokrasi. Afan Gaffar (2006) menjelaskan bahwa demokrasi yang berkualitas ditandai oleh keterlibatan warga dalam pertukaran gagasan, penyampaian argumentasi, serta pembahasan kepentingan publik secara terbuka. Demokrasi tidak berhenti pada proses pemungutan suara, melainkan mencakup ruang diskusi yang memungkinkan masyarakat menilai program, visi, dan kapasitas para calon pemimpin.

Dari perspektif tersebut, kualitas demokrasi desa sangat dipengaruhi oleh kualitas percakapan yang berkembang di ruang publik. Ketika diskusi lebih banyak membahas peluang kemenangan kandidat, kekuatan tim sukses, atau isu-isu personal, ruang deliberasi mengenai masa depan desa menjadi semakin sempit. Padahal, pertanyaan yang lebih strategis adalah bagaimana calon kepala desa akan meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), mengembangkan sektor pertanian, menciptakan lapangan kerja, memperbaiki pelayanan publik, serta memperluas jejaring pembangunan yang dapat mendukung kemajuan desa.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari politik gagasan menuju politik figur. Perhatian masyarakat lebih banyak diarahkan pada individu yang akan menduduki jabatan kepala desa dibandingkan agenda pembangunan yang akan diperjuangkan. Akibatnya, proses politik sering berakhir pada penentuan siapa yang terpilih, sementara pembahasan mengenai desa seperti apa yang ingin diwujudkan belum berkembang secara optimal.

Padahal kepala desa merupakan instrumen konstitusional untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih luas. Undang-Undang Desa mengamanatkan terwujudnya desa yang mandiri, maju, sejahtera, dan demokratis. Oleh sebab itu, ruang-ruang diskusi publik idealnya lebih banyak diisi oleh pertanyaan mengenai arah pembangunan yang akan diperjuangkan, kapasitas calon dalam merealisasikan program, serta kondisi desa yang ingin dicapai setelah masa kepemimpinan berakhir.

Tantangan demokrasi desa pada masa kini tidak terletak pada penyelenggaraan pemilihan yang bebas dan langsung semata. Tantangan yang lebih mendasar adalah membangun budaya politik yang mendorong masyarakat menilai calon berdasarkan gagasan, rekam jejak, kompetensi, dan visi pembangunan. Ketika pemilihan kepala desa mampu menjadi arena pertukaran ide dan perumusan masa depan bersama, demokrasi lokal akan menghasilkan legitimasi politik sekaligus arah pembangunan yang lebih jelas. Pada titik itulah pemilihan kepala desa berfungsi sebagai instrumen untuk menentukan masa depan kolektif desa, bukan sekadar menentukan siapa yang menduduki kursi kepala desa.

Krisis Diskursus Elit dan Hambatan Lahirnya Pemimpin Berkualitas

Jika dicermati lebih mendalam, minimnya diskursus mengenai kapasitas, kompetensi, dan gagasan dalam pemilihan kepala desa tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Dalam banyak kasus, persoalan tersebut berkaitan dengan peran sebagian elit desa yang belum berfungsi secara optimal sebagai penggerak pencerahan publik. Padahal, kelompok yang memiliki pendidikan lebih tinggi, pengalaman organisasi yang luas, serta posisi sosial yang berpengaruh diharapkan mampu membentuk ruang diskusi yang lebih rasional dan berorientasi pada kepentingan bersama.

Dari perspektif sosiologi politik, kondisi tersebut menunjukkan masih kuatnya pola penilaian yang bersifat primordial dan subjektif. Calon pemimpin sering dinilai berdasarkan kedekatan personal, hubungan kekerabatan, afiliasi kelompok, atau sentimen sosial tertentu. Sementara itu, aspek yang berkaitan dengan kompetensi, rekam jejak, kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, dan luasnya jejaring sosial belum selalu menjadi pertimbangan utama dalam proses penilaian publik.

Konsekuensinya cukup serius. Individu yang memiliki pengetahuan, pengalaman, kompetensi kepemimpinan, serta jaringan yang dapat mendukung kemajuan desa sering kali tidak memperoleh dukungan yang sepadan dengan kapasitas yang dimilikinya. Dalam beberapa situasi, mereka justru menjadi sasaran kecurigaan, kritik yang berlebihan, atau penilaian yang lebih menitikberatkan pada kelemahan pribadi daripada kontribusi yang dapat diberikan. Keunggulan seseorang kemudian dipandang sebagai ancaman bagi kepentingan tertentu, bukan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan desa.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep modal sosial. Robert M. Z. Lawang (2004) menjelaskan bahwa modal sosial bertumpu pada kepercayaan, penghargaan, norma bersama, dan kemauan untuk bekerja sama. Kepercayaan memungkinkan masyarakat membangun hubungan yang produktif, sedangkan penghargaan terhadap kemampuan individu membuka ruang bagi munculnya kepemimpinan yang efektif. Ketika prasangka lebih dominan daripada kepercayaan, potensi sosial yang dimiliki masyarakat akan sulit berkembang menjadi kekuatan kolektif.

Situasi ini melahirkan sebuah paradoks. Masyarakat menginginkan desa yang maju, tata kelola yang baik, serta kepemimpinan yang berkualitas. Namun ketika muncul individu yang memiliki kapasitas lebih baik dalam aspek pengetahuan, pengalaman, kemampuan komunikasi, maupun jejaring sosial, perhatian sebagian elit sering terfokus pada pencarian kelemahan pribadi. Kesalahan-kesalahan kecil diperbesar, sedangkan kompetensi dan kontribusi yang dimiliki kurang memperoleh apresiasi yang proporsional.

Padahal dalam kehidupan demokrasi yang sehat, elit intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk membangun standar penilaian yang objektif. Mereka diharapkan mendorong masyarakat untuk menilai calon pemimpin berdasarkan kualitas gagasan, rekam jejak, integritas, kapasitas manajerial, dan kemampuan memperjuangkan kepentingan publik. Peran tersebut penting karena kualitas demokrasi sangat dipengaruhi oleh kualitas diskursus yang berkembang di ruang publik (Dahl, 1998).

Ketika ruang publik lebih banyak dipenuhi prasangka dibandingkan pertukaran gagasan, proses demokrasi kehilangan salah satu fungsi terpentingnya, yaitu menghasilkan keputusan yang rasional dan berpijak pada kepentingan bersama. Akibatnya, masyarakat lebih mudah terjebak dalam perdebatan personal daripada membahas agenda pembangunan yang akan menentukan masa depan desa.

Pada titik tersebut, tantangan yang dihadapi desa melampaui persoalan regulasi dan mekanisme pemilihan. Tantangan yang lebih mendasar adalah membangun budaya politik yang menghargai kapasitas, prestasi, dan kompetensi sebagai dasar penilaian terhadap calon pemimpin. Budaya politik semacam ini akan mendorong masyarakat untuk melihat kualitas seseorang secara lebih utuh, bukan semata melalui kekurangan yang dimilikinya.

Kemajuan desa pada akhirnya memerlukan dua prasyarat yang saling berkaitan. Desa membutuhkan pemimpin yang berkualitas, sekaligus lingkungan sosial yang mampu mengenali dan menghargai kualitas tersebut. Pengalaman berbagai komunitas menunjukkan bahwa keterbelakangan sering kali bukan disebabkan oleh ketiadaan sumber daya manusia yang kompeten, melainkan oleh kegagalan kolektif dalam memberi ruang, dukungan, dan kepercayaan kepada individu-individu yang memiliki kapasitas untuk membawa perubahan. Oleh karena itu, upaya melahirkan pemimpin desa yang berkualitas perlu disertai penguatan budaya intelektual yang menjadikan kompetensi dan kontribusi sebagai ukuran utama dalam kehidupan demokrasi lokal.

Daftar Pustaka

Afan Gaffar. (2006). Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bourdieu, P. (1986). "The Forms of Capital." Dalam J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. New York: Greenwood Press.

Budiardjo, M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dahl, R. A. (1998). On Democracy. New Haven: Yale University Press.

Dahl, R. A. (1998). On Democracy. New Haven: Yale University Press.

Erlingsson, G. Ó., & Ödalen, J. (2017). “A Normative Theory of Local Government: Connecting Individual Autonomy and Local Self-Determination with Democracy.” Lex Localis, 15(2), 329–342.

Habermas, J. (1996). Between Facts and Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy. Cambridge: MIT Press.

Habibie, B. J. (2006). Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Jakarta: THC Mandiri.

Lawang, R. M. Z. (2004). Kapital Sosial dalam Perspektif Sosiologik: Suatu Pengantar. Jakarta: FISIP Universitas Indonesia Press.

Madjid, N. (1999). Membangun Masyarakat Madani. Jakarta: Nuansa Madani.

Mansuri, G., & Rao, V. (2013). Localizing Development: Does Participation Work? Washington, DC: World Bank.

Mill, J. S. (1873). Considerations on Representative Government. London: Parker, Son, and Bourn.

Ndraha, T. (2003). Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta: Rineka Cipta.

Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster.

Rasyid, M. R. (2000). Makna Pemerintahan: Tinjauan dari Segi Etika dan Kepemimpinan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Jakarta: Sekretariat Negara.

Smith, B. C. (2009). Good Governance and Development. New York: Palgrave Macmillan.

 


Minggu, 14 Juni 2026

Be-Rari Half Marathon Dongkrak Sport Tourism Lombok Timur, Diikuti Lebih dari 1.000 Pelari

Okenews.net- Ajang Be-Rari Half Marathon sukses menyedot perhatian masyarakat dan pelari dari berbagai daerah. Kegiatan yang menggabungkan olahraga dan promosi pariwisata tersebut diikuti lebih dari 1.000 peserta, menjadikannya salah satu event olahraga terbesar yang digelar di Lombok Timur tahun ini.

Dukungan penuh diberikan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terhadap kegiatan yang berlangsung pada Minggu (14/6). Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin hadir langsung untuk melepas peserta kategori 5 kilometer (5K) yang diikuti sekitar 600 pelari dari berbagai kalangan.

Sejak pagi hari, suasana di lokasi start telah dipadati peserta yang antusias mengikuti lomba. Kehadiran Bupati Haerul Warisin turut menambah semangat para pelari yang siap menaklukkan lintasan.

Selain menjadi sarana olahraga, Be-Rari Half Marathon juga dirancang sebagai upaya memperkenalkan destinasi wisata Lombok Timur melalui konsep sport tourism. Peserta tidak hanya menikmati kompetisi lari, tetapi juga disuguhkan keindahan alam dan potensi wisata daerah yang menjadi bagian dari rute perlombaan.

Pemerintah daerah menilai kegiatan semacam ini memiliki dampak ganda. Di satu sisi mampu meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga, sementara di sisi lain dapat memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Kategori half marathon atau 21 kilometer dilepas langsung oleh Kapolres Lombok Timur. Sementara kategori 10 kilometer (10K) diberangkatkan oleh Sekretaris Daerah Lombok Timur H. Muhammad Juaini Taofik.

Sekda Juaini Taofik mengapresiasi tingginya partisipasi peserta serta dampak ekonomi yang ditimbulkan dari penyelenggaraan event tersebut. Menurutnya, kehadiran ribuan pelari dan pendamping memberikan efek positif bagi pelaku usaha, mulai dari sektor kuliner hingga jasa penginapan.

“Event seperti ini tidak hanya melahirkan atlet-atlet potensial, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Karena itu pemerintah daerah mendukung agar Be-Rari Half Marathon dapat menjadi agenda tahunan,” ujarnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga diharapkan menjadi wadah bagi para pelari lokal untuk mengasah kemampuan dan menunjukkan prestasi terbaiknya sehingga dapat bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Tingginya minat peserta dari luar Lombok Timur, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia, menjadi bukti bahwa Be-Rari Half Marathon memiliki daya tarik tersendiri dan berpotensi menjadi event unggulan yang mendukung kemajuan pariwisata daerah.

Sabtu, 13 Juni 2026

Wamen Ossy: ATR/BPN Harus Jadi Solusi Atas Pembangunan di Kalimantan Timur

Okenews.net- Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan menegaskan pentingnya peran seluruh jajaran Kantor Wilayah (Kanwil) BPN Provinsi Kalimantan Timur dalam mendukung pembangunan dan investasi di Kalimantan Timur dalam bidang pertanahan dan tata ruang. Menurutnya, Kalimantan Timur memiliki posisi yang sangat strategis setelah ditetapkan sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Kondisi tersebut menjadikan wilayah ini sebagai pusat perhatian pemerintah, investor, masyarakat, hingga dunia internasional.

“ATR/BPN harus terus bisa menjadi solusi atas pembangunan di Kalimantan Timur ini. Tentunya tidak mudah di tengah berbagai regulasi namun kita harus kedepankan menjaga kepercayaan masyarakat dengan memberikan pelayanan yang cepat, mudah, dan pasti," ujar Wamen Ossy saat memberikan arahan kepada jajaran Kantor Wilayah BPN Provinsi Kalimantan Timur serta Kantor Pertanahan kabupaten/kota se-Kalimantan Timur di Kantor Pertanahan Kota Samarinda, Jumat (12/06/2026).

Lebih lanjut, ia juga menyebut, Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid dalam berbagai kegiatan senantiasa menekankan bahwa 80 persen tugas dan fungsi Kementerian ATR/BPN adalah pelayanan publik. Menurutnya, masyarakat akan menilai kualitas layanan berdasarkan kemudahan, kecepatan, dan kepastian dalam mengurus layanan pertanahan.

“Saya meminta kepada seluruh jajaran untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, kita lakukan inovasi-inovasi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Kita cari area-area mana lagi yang kita bisa perbaiki dari sisi pelayanan kita,” ujar Wamen Ossy. 

Didampingi Kepala Kanwil BPN Provinsi Kaltim, Shamy Ardian dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Samarinda, Ceto Subagiyo, Wamen Ossy meninjau loket pelayanan di Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Samarinda. Ia melihat langsung bagaimana proses pelayanan di loket-loket Kantah di daerah. 

Ketika meninjau area pelayanan, Wamen Ossy memastikan layanan yang diberikan jajarannya kepada masyarakat berjalan baik. Ia juga meminta dukungan serta kritik dan saran atas pelayanan yang ada kepada para pemohon yang tengah datang di loket. 

“Mohon dukungannya terus untuk kami, Kalau ada permasalahan pertanahan tak usah lewat orang lain langsung saja datang ke kantornya langsung supaya lebih mudah dimengerti daripada melalui pihak lain,” ujar Wamen Ossy di hadapan para pemohon. 

Dalam kegiatan ini, Wamen Ossy juga menyerahkan total 15 sertipikat tanah kepada masyarakat yang hadir. Sertipikat yang diserahkan mulai dari sertipikat tanah hasil program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dan tanah wakaf. 

Peletakan Batu Pertama Graha PMII Lotim, Investasi Jangka Panjang Cetak Kader Pemimpin Masa Depan

Okenews.net – Semangat gotong royong dan kebersamaan mewarnai peletakan batu pertama pembangunan Graha Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lombok Timur di kawasan Rakam, Kecamatan Selong, Jumat (12/6/2026). Momentum ini menjadi tonggak penting bagi PMII Lombok Timur dalam menghadirkan pusat kaderisasi yang akan menjadi rumah perjuangan dan pengembangan sumber daya kader di masa mendatang.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Lombok Timur H. M. Juaini Taofik yang mewakili Bupati Lombok Timur, unsur Forkopimda, Pengurus Besar Ikatan Alumni PMII (IKA PMII), IKA PMII NTB, IKA PMII Lombok Timur, PKC PMII Bali Nusra, PC PMII Lombok Timur, serta ratusan kader dan alumni PMII.

Ketua Panitia Pembangunan Graha PMII Lombok Timur, Dr. Ahmad Patoni, mengatakan pembangunan gedung tersebut merupakan wujud nyata komitmen para alumni untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi kader PMII berikutnya.

Menurutnya, Graha PMII bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat pembelajaran, ruang diskusi, serta tempat lahirnya berbagai gagasan dan pemikiran yang berkontribusi bagi pembangunan daerah.

“Gedung ini bukan sekadar bangunan. Ini akan menjadi pusat belajar, pusat gerakan, dan tempat lahirnya berbagai gagasan. Siapa pun yang terlibat dalam pembangunan ini telah mengambil bagian dalam amal jariyah yang manfaatnya akan terus mengalir,” ujarnya.

Patoni menjelaskan, pembangunan tahap awal didukung oleh puluhan alumni yang secara sukarela menghimpun dana untuk membangun struktur dasar gedung. Saat ini pembangunan dimulai dengan pengerjaan 24 tiang pondasi sebagai fondasi awal berdirinya Graha PMII.

“Sebanyak 40 alumni telah berkomitmen mendukung pembangunan ini. Ini menunjukkan bahwa PMII Lombok Timur tidak menunggu memiliki banyak sumber daya untuk bergerak, tetapi bergerak karena keyakinan dan semangat pengabdian,” katanya.

Ia menambahkan, kekuatan utama PMII Lombok Timur terletak pada optimisme dan semangat kadernya dalam membawa perubahan positif bagi daerah.

Sementara itu, Ketua IKA PMII Lombok Timur, Muhlis Hasim, menegaskan bahwa pembangunan Graha PMII merupakan investasi jangka panjang untuk mendukung proses kaderisasi organisasi.

“Graha PMII ini bukan untuk kepentingan alumni semata, tetapi dipersiapkan untuk kader-kader masa depan. Dari tempat ini akan lahir generasi yang belajar, berdiskusi, dan berkontribusi dalam pembangunan daerah,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Cless itu menjelaskan, bangunan dua lantai tersebut akan berdiri di atas lahan seluas 15 are. Lantai pertama akan difungsikan sebagai kantor organisasi, sedangkan lantai kedua akan menjadi aula pertemuan dan pusat kegiatan kaderisasi.

Dengan hadirnya gedung tersebut, kader PMII di Lombok Timur nantinya memiliki fasilitas yang representatif untuk melaksanakan berbagai kegiatan organisasi tanpa harus berpindah-pindah tempat.

Muhlis juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur yang telah memberikan dukungan berupa penyediaan lahan untuk pengembangan organisasi. Ia berharap status lahan tersebut ke depan dapat ditingkatkan menjadi hibah penuh guna memberikan kepastian hukum terhadap keberadaan Graha PMII.

Di sisi lain, Sekretaris Daerah Lombok Timur, H. M. Juaini Taofik, yang mewakili Bupati Lombok Timur, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung pembangunan Graha PMII hingga tuntas.

Menurutnya, Bupati Lombok Timur memberikan perhatian khusus terhadap proses legalitas lahan agar seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai aturan dan memiliki dasar hukum yang kuat.

“Pak Bupati berpesan agar seluruh proses ini dikawal hingga selesai secara akuntabel. Insya Allah tinggal selangkah lagi menuju penyelesaian administrasi dan legalitasnya,” kata Juaini.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah memberikan dukungan nyata pada tahap awal pembangunan melalui bantuan alat berat dan material.

“Begitu panitia menyampaikan kebutuhan pembangunan, pemerintah langsung memberikan dukungan berupa alat berat dan material. Ini menjadi bukti bahwa PMII dipandang sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah,” tegasnya.

Pembangunan Graha PMII Lombok Timur diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat proses kaderisasi, melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang berintegritas, serta memperkokoh kontribusi PMII dalam pembangunan Lombok Timur di masa depan. 

Pegawai Kantor Pertanahan KLU Resmi Dilantik Jadi PNS, Kepala Kantor Ingatkan Pentingnya Integritas dan Pelayanan Prima


Okenews.net-  Suasana penuh kebanggaan dan semangat pengabdian mewarnai momen pelantikan Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta pengangkatan dalam Jabatan Fungsional di lingkungan Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara. Keluarga besar Kantor Pertanahan KLU menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada para pegawai yang resmi mengemban status baru sebagai aparatur sipil negara.


Pelantikan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier para pegawai sekaligus awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.


Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara, Muhammad Shaleh Basyarah, berharap para pegawai yang telah dilantik mampu menjaga amanah yang diberikan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab dalam setiap pelaksanaan tugas.


"Pelantikan ini bukan sekadar perubahan status kepegawaian, tetapi juga bentuk kepercayaan negara yang harus dijaga dengan kerja nyata, dedikasi, dan komitmen dalam melayani masyarakat," ujar Muhammad Shaleh Basyarah.


Ia menegaskan bahwa ASN di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memiliki peran strategis dalam mendukung pelayanan pertanahan yang cepat, transparan, dan akuntabel.


"Saya mengajak seluruh pegawai yang baru dilantik untuk terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, serta menjadi teladan dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Jadilah ASN yang berAKHLAK dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat," katanya.


Menurutnya, keberhasilan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh sistem yang baik, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya.


"Kepercayaan masyarakat merupakan aset terbesar yang harus dijaga. Karena itu, setiap ASN harus bekerja dengan hati, mengedepankan etika, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," tambahnya.


Keluarga besar Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara berharap seluruh pegawai yang baru dilantik dapat terus berkontribusi dalam mendukung program-program pemerintah, khususnya di bidang pertanahan, serta menjadi bagian dari upaya mewujudkan birokrasi yang profesional, modern, dan berorientasi pada pelayanan.


Dengan semangat baru sebagai PNS dan pejabat fungsional, para pegawai diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh dedikasi demi kemajuan bangsa, negara, dan kesejahteraan masyarakat.

Kamis, 11 Juni 2026

Laporkan Progres Dukungan KSPEAN Papua Selatan, Wamen Ossy Tegaskan Landasan Kuat untuk Agenda Pembangunan Nasional

Okenews.net - Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, melaporkan progres dukungan Kementerian ATR/BPN terhadap pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) di Provinsi Papua Selatan yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Progres tersebut mencakup perkembangan penataan ruang dan perizinan pemanfaatan ruang guna mendukung pelaksanaan PSN di sektor pangan.

“yang dilakukan Kementerian ATR/BPN dalam mendukung pengembangan kawasan Papua Selatan, pertama adalah penyesuaian tata ruang. Alhamdulillah, penetapan Rencana Tata Ruang wilayah (RTRW) Provinsi Papua Selatan telah dilaksanakan pada Oktober 2025. Kedua soal perencanaan rinci, dari target 19 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di Papua Selatan, saat ini empat RDTR telah ditetapkan melalui peraturan kepala daerah,” ungkap Wamen Ossy dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rabu (10/06/2026).

Dari empat RDTR tersebut, tiga RDTR-nya telah terintegrasi dalam sistem Online Single Submission (OSS). Percepatan penyusunan RDTR lainnya terus didorong untuk memperkuat kepastian pemanfaatan ruang sekaligus mendukung kemudahan investasi di kawasan Papua Selatan.

Pada Rakortas yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan ini, Wamen ATR/Waka BPN juga menjelaskan progres dalam bidang perizinan pemanfaatan ruang. Hingga saat ini, Kementerian ATR/BPN telah menerbitkan tiga Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) untuk mendukung pengembangan kawasan. Selanjutnya, terdapat tiga permohonan KKPR lainnya yang masih diproses. Adapun KKPR yang telah diterbitkan tersebut akan digunakan untuk pengembangan kawasan tanaman pangan, pelabuhan pendukung, dan pengembangan perkebunan sawit.

“Pada prinsipnya, Kementerian ATR/BPN akan selalu mendukung permohonan KKPR yang diajukan kepada kami, sepanjang persyaratan yang diperlukan dapat dipenuhi,” kata Wamen Ossy yang hadir dalam Rakortas dengan didampingi Direktur Jenderal Tata Ruang, Suyus Windayana.

Papua Selatan juga telah memenuhi ketentuan nasional terkait Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) dengan capaian 87,24%. Menurut Wamen Ossy, capaian tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Papua Selatan berpotensi besar menjadi salah satu lumbung pangan, energi, dan bioindustri di Indonesia. Kementerian ATR/BPN berkomitmen memastikan seluruh pengembangan kawasan di provinsi ini memiliki fondasi tata ruang yang kuat, legalitas yang jelas, serta kepastian pemanfaatan ruang sehingga pembangunan bisa mendatangkan kebermanfaatan.

Rakortas ini turut dihadiri oleh Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi beserta jajaran; Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Fais Nurofiq; Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono; serta jajaran Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertahanan, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hadir pula, perwakilan Bupati Merauke serta para pejabat dari kementerian/lembaga terkait.

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Fauzan Khalid Minta MenPAN RB Perketat kinerja ASN

Okenews.net-Anggota Komisi II DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid meminta Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB) untuk memastikan output dan outcome setiap kegiatan yang dilakukan Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui penerapan sasaran kinerja pegawai (SKP) yang terukur.

“Apakah ada mekanisme kontrol yang dilakukan. Bagaimana efektifitasnya agar sesuai target. Pastikan kinerja berdasarkan pada hasil kerja dan dampak nyata, bukan hanya kehadiran fisik,” kata Fauzan dalam rapat kerja (raker) Komisi II DPR RI dengan MenPAN RB, Kepala BKN, Kepala LAN, Kepala ANRI, dan Ketua Ombdsman RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/06/2026).

Fauzan mencontohkan hadirnya Mal Pelayanan Publik (MPP) yang sudah tersebar di ratusan wilayah setingkat kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Menurut Fauzan, hadirnya MPP biasanya efektif sebulan hingga enam bulan, namun setelah itu berjalan kurang maksimal.

Ada banyak alasan dari pemerintah di daerah, hingga menyebabkan MPP berjalan kurang maksimal. Menurut Fauzan, salah satunya karena terbatasanya sumber daya manusia (SDM) di daerah yang menangani MPP tersebut.

“Saya berharap kepada MenPAN RB untuk tidak hanya memastikan MPP itu masih ada dan berjalan efektif. Namun, sistemnya juga harus dipastikan berjalan maksimal dan berdampak pada baiknya pelayanan masyarakat,” tandasnya.

Dalam raker, Fauzan, Bupati Lombok Barat dua periode (2016-2024) juga menyinggung soal manajemen talenta. Fauzan minta Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) memperketat pengawasan terhadap pengangkatan pejabat di daerah.

Fauzan menilai, pengawasan terhadap manajemen talenta saat ini semakin menurun. Saat ini banyak pejabat ditempatkan sebagai kepala dinas, padahal tidak sesuai bidangnya. Misal, sarjana pendidikan ditempatkan menjadi kepala dinas kesehatan, karena menjadi tim sukses kepala daerah tersebut.

“Saya minta pengawasan manajemen talenta ini diperketat lagi. Kalau misalnya dibentuk panitia seleksi (pansel) untuk menentukan pejabat, itu hanya formalitas di daerah karena rangking pun sudah diatur, kata Fauzan.

Manajemen talenta merupakan strategi pengelolaan sumber daya manusia untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan pegawai terbaik. Tujuannya untuk  memastikan organisasi memiliki kader pemimpin masa depan dan SDM unggul untuk mencapai tujuan strategis.

Mengenai Ombudsman, Fauzan mengakui kasian karena ombudsman daerah banyak yang tidak memiliki kantor. Untuk pengadaan kantor, pada akhirnya minta langsung kepada kepala daerah. “Takutnya kalau minta kepada kepala daerah, ini ada konfli kepentingan. Coba nanti dibahas di Komisi II DPR RI dan kami akan komunikasikan dengan kepala daerah,” ujar Fauzan yang pernah menjabat Ketua KPU NTB (2008-2013).

Fauzan Khalid Ajak Generasi Muda Kenali Kalender Hijriah dalam Gawe Beleq Kawule Midang

Okenews.net– Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid, menghadiri pembukaan kegiatan Begawe Beleq Kawule Midang dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Minggu (7/6/2026).

Kegiatan yang telah memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh tersebut dibuka dengan pemukulan gendang beleq oleh Fauzan Khalid, disusul penampilan tarian tradisional gendang beleq yang menjadi simbol pelestarian budaya masyarakat Sasak.

Dalam sambutannya, Fauzan mengapresiasi inisiatif masyarakat dan para pemuda Midang yang terus menjaga tradisi menyambut Tahun Baru Islam melalui kegiatan yang memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat.

Menurut mantan Bupati Lombok Barat dua periode itu, peringatan 1 Muharram bukan sekadar menandai pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperkuat silaturahmi, serta meningkatkan kualitas ibadah.

“Secara spiritual, 1 Muharram adalah momentum muhasabah, hijrah menuju pribadi yang lebih baik, dan menumbuhkan harapan baru untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan,” ujar Fauzan.

Ia menjelaskan, Tahun Baru Islam memiliki makna penting karena menjadi penanda peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi titik awal kebangkitan umat Islam. Selain itu, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam, sehingga umat dianjurkan memperbanyak amal saleh.

Fauzan juga menekankan pentingnya mengenalkan kalender Hijriah kepada generasi muda. Ia mengaku prihatin karena masih banyak anak muda yang belum mengenal atau menghafal bulan-bulan dalam kalender Islam, padahal hampir seluruh ibadah dan hari besar keagamaan Islam berpatokan pada kalender Hijriah.

“Jangan sampai kita menjalankan ajaran agama yang semuanya berbasis kalender Hijriah, tetapi kita sendiri tidak mengenal bulan-bulannya. Ini penting dipahami, terutama oleh generasi muda,” tegasnya.

Ia berharap kesadaran yang tumbuh di kalangan pemuda Midang dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Lombok bahkan Indonesia dalam menghidupkan kembali tradisi menyambut Tahun Baru Islam.

Pada kesempatan tersebut, Fauzan juga memberikan apresiasi kepada panitia yang berhasil menjaga keberlangsungan Begawe Beleq Kawule Midang selama tujuh tahun berturut-turut dengan dukungan swadaya masyarakat dan para donatur.

“Ini kegiatan luar biasa. Saya berharap ke depan semakin banyak pihak yang mendukung sehingga masyarakat tidak lagi terbebani biaya penyelenggaraan. Insya Allah saya akan ikut memfasilitasi agar kegiatan ini terus berkembang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Begawe Beleq Kawule Midang, H. Taufan Buana, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keinginan masyarakat untuk menghidupkan kembali semangat menyambut Tahun Baru Islam sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat Sasak.

Menurutnya, selain menjadi sarana syiar Islam, kegiatan tersebut juga bertujuan melestarikan tradisi-tradisi lokal yang mulai ditinggalkan serta mendorong pertumbuhan pelaku UMKM di wilayah Midang.

“Melalui Gawe Beleq Kawule Midang, kami ingin merawat tradisi dan mengawalnya dengan inovasi. Harapannya, peringatan Tahun Baru Islam seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain untuk ikut memeriahkannya,” ujar Taufan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Fauzan Khalid yang kembali hadir membuka kegiatan tersebut, sebagaimana pernah dilakukan saat menjabat Bupati Lombok Barat pada 2019.

Kegiatan Begawe Beleq Kawule Midang tahun ini diwarnai berbagai pertunjukan seni budaya, permainan tradisional, serta aktivitas yang melibatkan masyarakat sebagai bentuk persiapan menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Bupati Lotim Dorong Peresean Digelar Empat Kali Setahun

Okenews.net Festival Peresean yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Desa Wisata Kembang Kuning resmi ditutup pada Kamis (11/6/2026). Penutupan yang berlangsung di Lapangan Umum Desa Kembang Kuning tersebut dihadiri langsung Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin dan disambut antusias masyarakat serta wisatawan yang hadir.

Dalam kesempatan itu, Bupati Haerul Warisin menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal, khususnya tradisi Peresean yang telah menjadi identitas masyarakat Sasak.

Menurutnya, Peresean tidak sekadar pertunjukan rakyat, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan karakter yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Tradisi Peresean harus terus dilestarikan. Saya berharap kegiatan seperti ini tidak hanya digelar pada momen perayaan tertentu, tetapi bisa dilaksanakan hingga empat kali dalam setahun,” ujar Bupati.

Ia menilai keberlangsungan kegiatan budaya dapat menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda sekaligus memperkuat daya tarik wisata daerah.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Bupati juga menyerahkan bantuan kepada panitia penyelenggara festival. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan berbagai kegiatan budaya yang menjadi kekayaan Lombok Timur.

Festival Peresean yang berlangsung sejak 29 Mei 2026 itu sukses menarik perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara. Sepanjang pelaksanaan acara, arena Peresean dipadati penonton yang ingin menyaksikan aksi para pepadu mempertahankan tradisi bela diri khas Sasak tersebut.

Semangat para pepadu dan tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa Peresean masih memiliki tempat istimewa di tengah perkembangan zaman. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap promosi Desa Wisata Kembang Kuning sebagai salah satu destinasi unggulan di Lombok Timur.

Melalui festival tersebut, pemerintah daerah berharap Peresean dapat terus hidup, berkembang, dan menjadi magnet wisata budaya yang mampu mendukung pertumbuhan sektor pariwisata serta perekonomian masyarakat setempat.

Australia dan Happy Hearts Resmikan Gedung Baru SDN 2 Pohgading, Pemda Lotim Apresiasi Dukungan Pendidikan Senilai Rp1 Miliar

Okenews.net – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mengapresiasi dukungan Kedutaan Besar Australia dan organisasi Happy Hearts yang terus berkontribusi dalam peningkatan kualitas sarana pendidikan di daerah tersebut. Apresiasi itu disampaikan saat peresmian gedung baru SDN 2 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Kamis (10/6/2026).

Kunjungan tim Kedutaan Besar Australia bersama Happy Hearts dilakukan untuk meresmikan sekaligus memastikan seluruh proses revitalisasi sekolah telah rampung dan siap digunakan oleh para siswa serta tenaga pendidik.

Program revitalisasi di SDN 2 Pohgading meliputi pembangunan empat ruang kelas baru, dua unit kamar mandi, serta penyediaan mebel dan berbagai sarana pendukung pembelajaran lainnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, menjelaskan bahwa pihaknya berperan sebagai penerima manfaat dalam program tersebut. Seluruh proses pembangunan dilaksanakan oleh pihak yang ditunjuk langsung oleh Happy Hearts.

“Dalam program bantuan revitalisasi dari Happy Hearts ini, Dikbud Lombok Timur dan pihak sekolah menerima hasil jadi. Seluruh pekerjaan dilaksanakan oleh tim yang telah ditunjuk Happy Hearts,” ujar Wathoni saat mendampingi kunjungan bersama Kabid SMP Samsul Wajdi dan Kepala UPTD Dikbud Pringgabaya M. Nasir.

Menurutnya, bantuan dengan nilai lebih dari Rp1 miliar itu menggunakan konsep bangunan ramah lingkungan yang dirancang tahan gempa dan tahan api. Material yang digunakan merupakan bahan daur ulang yang telah melalui proses pengolahan khusus sehingga memiliki daya tahan hingga puluhan tahun.

“Atas nama Bupati Lombok Timur, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah menyalurkan bantuannya melalui Happy Hearts,” katanya.

Wathoni mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026, Happy Hearts Australia telah membangun enam sekolah dasar di Lombok Timur. Program tersebut akan terus berlanjut dengan rencana revitalisasi sekitar enam sekolah lainnya pada periode Juli hingga Desember 2026 yang saat ini masih dalam tahap verifikasi.

Ia menjelaskan, pihak Dikbud hanya mengajukan data sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan. Selanjutnya, tim Happy Hearts melakukan penilaian dan verifikasi secara independen berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

“Kami hanya menyampaikan data sekolah yang membutuhkan bantuan. Proses verifikasi dilakukan secara mandiri oleh Happy Hearts dan tidak dapat diintervensi karena mereka memiliki standar penilaian tersendiri,” jelasnya.

Di akhir kegiatan, Wathoni mengingatkan seluruh warga sekolah agar menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun. Menurutnya, bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian para donatur dari berbagai negara yang harus dijaga kebermanfaatannya untuk jangka panjang.

“Ini adalah bantuan sosial dari para donatur luar negeri. Sebagai penerima manfaat, kita harus menjaga dan merawatnya dengan baik sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan atas kepercayaan yang diberikan,” pungkasnya.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi