Di Balik Angka 494 Prestasi MAN 1 Lotim: Ada Kepemimpinan Guru SenenG
![]() |
| M. Nurul Wathoni (dok/ist) |
![]() |
| M. Nurul Wathoni (dok/ist) |
Menjelang senja (Kamis, 20/11/2025), Repoq Literasi - Lombok Timur perlahan
berubah menjadi ruang yang lebih hangat dan hidup. Cahaya keemasan matahari
merayap melewati sela-sela pepohonan, memantulkan bayangan lembut di dinding
bambu yang sederhana. Di kejauhan, suara burung-burung yang bersiap pulang
terdengar samar, seolah menjadi musik pengantar bagi percakapan-percakapan
intelektual mengupas pengetahuan Sasak dalam konteks kekinian.
Di tengah suasana itu, tiga kandidat doktor; seorang dari bidang Bimbingan Konseling yang sedang menyusun disertasi tentang Konseling Remaja Berbasis Kebudayaan; seorang lagi dari Sosiologi, dan bidang pariwisata yang saat ini sedang belajar di Australia. Dua orang sahabat saya itu, juga kebetulan sebagai penggagas Guru Lauq Indonesia, sebuah komunitas para intelektual muda dari kawasan selatan Gumi Paer Lombok.
Datang dengan langkah yang pasti namun
tetap rendah hati. Ketiganya membawa aura akademik yang merayap perlahan,
seperti angin sore yang menyingkap lembaran-lembaran buku tua. Mereka tidak
sekadar hadir sebagai tamu, tetapi sebagai penjaga gagasan yang mencoba merawat
pengetahuan lokal agar tetap relevan.
Kehadiran kandidat doktor di Australia itu menambah
warna berbeda dari cakrawala global yang bertemu dengan akar budaya lokal.
Wawasan yang dibawa terasa seperti angin laut dari negeri jauh, memberi
perspektif segar pada diskusi tak terencana itu. Pada akhirnya saya merasakan
keadaan Repoq Literasi sore itu berbeda dari hari hari sebelumnya.
Kesederhanaan Repoq Literasi berubah menjadi
ruang ilmiah yang intim, tempat gagasan tentang budaya Sasak, bimbingan
konseling, sosiologi, dan pariwisata saling menjalin seperti anyaman
tradisional. Meski dengan tanpa aroma kopi, percakapan tumbuh dari serat-serat
kuno yang digali ulang hingga semangat kekinian yang ingin memaknai ulang
pengetahuan bangsa Sasak di tengah dunia yang terus bergerak.
Di bawah cahaya senja yang kian meredup, Repoq
Literasi menjadi pertemuan antara tradisi dan intelektualitas, antara masa lalu
dan masa depan, antara lokal dan global. Sore itu, Repoq Literasi bukan hanya
ruang diskusi—melainkan panggung kecil tempat ilmu, budaya, dan semangat
generasi pencari pengetahuan bertemu dalam keheningan yang syahdu.
Repoq Literasi dengan tanpa sengaja
menjadi sebuah forum intelektual yang
unik, lintas disiplin, dan sarat muatan kebudayaan. Kegiatan tersebut
mempertemukan dua kandidat doktor Bimbingan dan Konseling berbasis kebudayaan,
seorang kandidat doktor yang sedang menulis kearifan lokal etnis Sasak sebagai
pengutan karakter kebangsaan, serta seorang kandidat doktor bidang pariwisata dalam
satu ruang dialog bertema “Dari Serat Kuno ke Semangat Mengungkap Seperangkat
Pengetahuan Bangsa Sasak dalam Konteks Kekinian.”
Kegelisahan bersama muncul dari kesadaran bahwa serat kuno, lontar, dan manuskrip tradisional Sasak bukan hanya memuat nilai estetika atau religius, tetapi merupakan arsip pengetahuan kolektif, memotret cara berpikir, struktur sosial, sistem penyembuhan, moralitas, hingga mekanisme resolusi konflik masyarakat masa lampau. Serat-serat tersebut, seperti Serat Menak, Serat Puspa Krama, Serat Babad Lombok, Medang dan termasuk pula Anjarwali hingga teks-teks petuah lokal, menjadi pintu masuk memahami etos orang Sasak yang dengan kesabaran dan keteguhan serta penghormatan pada harmoni sosial.
Dalam diskusi tersebut, kandidat doktor Bimbingan
Konseling memaparkan bagaimana kearifan lokal itu dapat diterjemahkan menjadi
pendekatan konseling yang lebih kontekstual. Mereka menyoroti bahwa praktik
konseling modern sering kali mengabaikan bahasa simbolik yang hidup dalam
tradisi Sasak, padahal nilai-nilai dalam serat kuno dapat menjadi modal terapi
berbasis budaya. Mulai dari konsep keseimbangan batin, relasi antar individu,
hingga teknik penyembuhan tradisional yang sarat makna psikologis.
Sementara itu, kandidat yang saat ini mendalami
kearifan lokal etnis Sasak tersebut menghadirkan analisis serat kuno berfungsi
sebagai perangkat ideologi dan pengatur sosial. Ia menekankan bahwa teks-teks
tradisional tersebut telah membentuk social imaginary masyarakat Sasak,
dan di era kekinian, pemaknaan ulang terhadap serat itu dapat membantu menjawab
persoalan modern seperti perubahan nilai keluarga, urbanisasi,
dan krisis identitas generasi muda.
Kontributor lain, kandidat doktor bidang pariwisata
tersebut mengaitkan pengetahuan tradisional dalam serat kuno dengan strategi
pengembangan pariwisata berkelanjutan. Menurutnya, narasi budaya yang bersumber
dari manuskrip tua dapat diangkat menjadi bentuk interpretasi wisata budaya
yang lebih kuat, bukan sekadar atraksi permukaan. Ia menekankan pentingnya cultural
storytelling yang bersandar pada sumber otentik agar pariwisata tidak
tercerabut dari akar pengetahuannya.
Diskusi ini kemudian memunculkan gagasan bahwa
Sasak sesungguhnya memiliki “korpus pengetahuan” yang utuh—sebuah epistemic
heritage—yang dapat ditransformasikan menjadi sumber belajar, metode
penyuluhan, rekonstruksi sosial, serta penguatan sektor budaya dan pariwisata.
Sementara itu, bagi saya pribadi yang
kebetulan pernah belajar Tentang Bimbingan dan Konseling yang sangat suka dengan
segala hal yang berhubungan dengan Kebudayaan serta pernah dua kali menjadi
bagian dari Dinas Pariwisata Lombok Timur berpikir bahwa membaca serat kuno
bukanlah upaya romantik terhadap masa lalu, tetapi strategi merawat identitas,
menguatkan literasi budaya, dan menghadirkan pengetahuan lokal sebagai rujukan
dalam memecahkan persoalan modern, berpendapat bahwa hal itu menjadi medium
pengaplikasian Undang Undang No: 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan yang
bagi saya, sebuah regulasi yang merupakan bukti nyata bahwa Negara sangat telat
menyadari pentingnya kebudayaan sebagai basis perencanaan pembangunan.
"Tapi lebih baik telat dari pada tidak sama sekali."
Diskusi tanpa sengaja dan tanpa tema itu, pada
akhirnya mengerucut pada satu kalimat sederhana yang menjadi predikat pada seorang individu yang memiliki seperangkat
pengetahuan berbasis spiritual yakni “Guru Lauq”. (Bersambung....)
![]() |
| Hanapi, M.Si bersama Hasan Basri, MA (kanan) |
Guru Lauq Indonesia yang mengusung “lebur anyong saling sedok” lahir dari hasil obrolan santai sambil minum kopi di berbagai kesempatan antara anak-anak dari pelosok Paer Lauq, wilayah bagian selatan di Kabupaten Lombok Timur, NTB yang tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana.
Percakapan-percakapan penuh kehangatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi cerita, tetapi titik awal dari lahirnya sebuah gerakan yang mengusung perubahan. Sebuah gerakan yang berakar pada kolaborasi dan rasa kebersamaan.
Gagasan yang bermula dari obrolan santai tersebut tidak hanya mencakup pengetahuan, tetapi imajinasi untuk menciptakan perubahan. Dari pertemuan-pertemuan sederhana inilah, lahirlah semangat kebersamaan, memperkuat nilai ke-Sasak-an (solidaritas).
Salah seorang penggagas Guru Lauq Indonesia, Hanapi, M.Si menjelaskan gagasan ini bermula dari kebiasaan saat duduk bersama sambil menyeruput kopi, bercakap-cakap tentang kehidupan dan masa depan sehingga lahir tagline mind of tomorrow (berpikir untuk masa depan).
"Sering kali, percakapan-percakapan yang berlangsung tanpa agenda itu justru mengandung banyak inspirasi. Kami saling berbagi pandangan dan merancang langkah-langkah untuk membawa perubahan," ungkap Hanapi, Senin (17/11/2025).
Guru Lauq Indonesia bukan sekadar komunitas yang menyediakan wadah untuk berkumpul. Gerakan ini berkomitmen sebagai ruang belajar dan kolaborasi yang melibatkan multi pihak mulai dari guru, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat.
“Melalui sinergi tersebut, diharapkan dapat tercipta program-program yang lebih efektif dan relevan, serta mengatasi berbagai isu sosial pendidikan yang dihadapi masyarakat, terutama di wilayah yang kurang mendapat perhatian,” tegasnya kandidat doktor Undiksha, Singaraja itu.
Direktur Eksekutif Guru Lauq Indonesia, Hasan Basri, MA menambahkan telah merancang berbagai program yang mencakup sosial, pendidikan non formal, pelatihan, riset, dan publikasi ilmiah yang dapat diakses semua kalangan.
Salah satu kontribusi penting yang dihadirkan adalah jurnal ilmiah yang dikelola dengan sistem akses terbuka (open access), tanpa biaya publikasi, sehingga karya ilmiah dapat diakses secara gratis oleh masyarakat luas.
“Program ini sejalan dengan upaya untuk menghilangkan hambatan akses terhadap pengetahuan yang selama ini terbatas di kalangan tertentu,” urai kandidat doktor Griffith University Australia itu.
Jurnal-jurnal yang dikelola oleh Guru Lauq Indonesia, seperti Jurnal of Sasak, Journal of Qualitative Review, Guru: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan, dan Asian Journal of Religion yang mengangkat berbagai isu.
Menurutnya, Upaya ini sebagai langkah nyata memperluas cakrawala pengetahuan yang bisa diakses para peneliti, praktisi, dan masyarakat luas. Gerakan ini berpegang pada prinsip-prinsip dasar yang kokoh, seperti integritas ilmiah, kebersamaan, dan keberlanjutan.
"Kami tidak hanya ingin menyediakan akses pengetahuan, tetapi membuka jalan bagi masyarakat untuk ikut serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak," ujar Hasan.
Guru Lauq Indonesia juga memastikan setiap program yang dijalankan relevan dengan kebutuhan dan konteks masyarakat. Sebagai contoh, program-program pelatihan yang melibatkan para guru, dosen, dan mahasisw serta masyarakat.
"Kami ingin melahirkan pengetahuan berbasis pada nilai-nilai budaya lokal, tetap terbuka terhadap perkembangan global. Semua ini bertujuan untuk memperkuat masyarakat agar mampu bertahan dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks,” tegasnya.
Komunitas ini tidak hanya ingin memberikan dampak jangka pendek, tetapi membangun kapasitas manusia yang mampu menciptakan perubahan jangka panjang, mewujudkan masyarakat yang mandiri, berdaya saing, dan adaptif.
Seperti yang dikatakan Nelson Mandela, "Education is the most powerful weapon which you can use to change the world," Guru Lauq Indonesia percaya bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk menciptakan perubahan yang nyata.
“Dengan misi dan semangat, Guru Lauq Indonesia terus memberikan manfaat, dan menjadi kekuatan penggerak perubahan sosial melalui pendidikan yang berbasis kolaborasi, pemberdayaan, dan keberlanjutan,” pungkas pria yang kerap disapa Guru Dane.
![]() |
| foto dok ist. |
![]() |
| Kepala madrasah bersama guru serta siswa-siswinya |
Dalam buku ini, penulis memaparkan kiat sukses MAN 1 Lotim dalam ikhtiar mengejar prestasi yang dilengkapi dengan rekapituliasi prestasi dari bulan Januari - September 2025 dengan jumlah prestasi 347 dari target 360 tahun tahun 2025.
Jumlah prestasi itu sangat beragam, mulai dari mulai jenjang kabupaten, provinsi, nasional dan internasional. Baik bidang akademik maupun non akademik yang membacakan semua warga madrasah dan menjadi inspirasi bagi siswa lain.
Pada buku reportase ini, penulis juga melengkapinya dengan uraian program unggulan yang menjadi penopang utama MAN 1 Lotim dalam meraih prestasi. Selain itu, buku ini turut dilengkapi dengan dokumentasi liputan media atas seluruh capaian prestasi MAN 1 Lotim.
"Baik dari media cetak maupun media online, termasuk pemberitaan pada web madrasah," ungkap M. Nurul Wathoni selaku penulis buku yang didampingi tim editor penulisan, M. Zulkifli Amini dan Siti Surodiana.
Atas terbitnya buku reportase prestasi ini, M Nurul Wathoni yang Kepala MAN 1 Lotim menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Lotim Haerul Warisin dan Kakananwil Kemenag NTB Zamroni Aziz yang telah berkenan memberikan kata sambutan dan suport sehingga buku ini dapat terbit lebih awal.
Pihaknya juga menyanpaikan terima kasih pada dukungan para siswa, para pendidik dan tenaga kependidikan serta keluarga besar MAN 1 Lotim Lotim serta pengurus komite madrasah atas dukungan penuh pada lahirnya prestasi yang terus terukir setiap hari, minggu, bulan sehingga prestasi MAN 1 Lotim bisa mencapai pretestasi yang melampaui target tahun 2025.
Ucapan terima kasih juga pihak madrasah sampaikan pada support dan kerjasama liputan pada prestasi MAN 1 Lotim sehingga capaian prestasi MAN 1 Lotim bisa diketahui publik antara lain Lombok Post, Radar Lombok, KobaranNews, Okenews, Lomboksatu, Topikterkini, SuaraNurani, RagamLombok, Lombokkita, Dutarakyat, InsideLombok, NTBZone, OpsiNTB, Idtimes, NTBPost, Antara, LombokToday dan lainnya.
Peneribitan buku ini, lebih pada ikhtiar mendokumentasikan secara runut pada capaian prestasi MAN 1 Lotim selama satu tahun agar kedepannya dapat menjadi motivasi keluarga madrasah untuk terus bergerak, berproses dalam pembinaan yang maksimal.
Terutama kepada yang terus ikuti ragam kompetisi, karena prestasi tak akan lahir tanpa kompetisi dan suport total dari madrasah baik dari sisi pembiayaan maupun apresiasi. Ia berharap buku ini menjadi pijakan kedepan untuk MAN 1 Lotim bisa meraih prestasi yang semakin gemilang.
"Kami berharap madrasah ini bisa terus mendapatkan kepercayaan publik yang luas dan menjadi lingkungan pendidikan yang unggul dengan pembiayaan yang terjangkau serta menjadi pilihan siswa kurang mampu tapi berprestasi, untuk mengembangkan minat bakatnya sebgai bekal mereka meniti masa depan yang lebih baik," harap Wathoni.
![]() |
| Dewan Guru SDN 2 Rakam saat acara tasyakkuran pelepasan siswa kelas VI |
Okenews.net - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Rakam Kecamatan Selong, Lombok Timur NTB menggelar tasyakkuran pelepasan siswa kelas VI, Rabu (11/06/2025) dengan penuh khidmat.
Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah
tersebut menjadi momen bersejarah bagi 30 siswa yang resmi menyelesaikan
jenjang pendidikan dasar.
Acara tasyakkuran ini dihadiri Kepala Sekolah,
seluruh guru dan tenaga kependidikan, komite sekolah, wali murid, serta tokoh
masyarakat sekitar.
Kepala SDN 2 Rakam, Nuraini, S.Pd. SD dalam
sambutannya menyampaikan rasa syukur dan bangga atas capaian para siswa yang
telah melewati enam tahun proses belajar dengan baik.
Berbagai prestasi yang pernah diraih siswa selama
ini telah mengharumkan nama sekolah, karena itu ia berharap ke depannya SDN 2
Rakam akan terus berupaya meningkatkannya.
Nuraini menekankan pentingnya menjaga semangat
belajar dan budaya berprestasi agar para siswa tidak hanya cerdas secara
akademik, tetapi berkarakter.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh
orang tua yang telah mempercayakan anak-anak mereka menempuh pendidikan di SDN
2 Rakam.
“Ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang
pendidikan anak-anak kita. Kami berharap ilmu yang ditanamkan di sekolah ini
menjadi bekal menapaki jenjang berikutnya,” ujar Nuraini penuh haru.
Ia juga mengapresiasi kerja keras para guru yang
tak kenal lelah dalam mendampingi dan mendidik siswa, termasuk wali murid serta
pengurus komite sekolah.
“Dukungan komite sekolah dan orang tua yang terus
berkolaborasi telah memberikan kontribusi meningkatkan mutu pendidikan di SDN 2
Rakam,” kata kepala sekolah yang belum lama ini menerima penghargaan dari
presiden atas dedikasinya.
Menurutnya, tanpa dukungan dan kontribusi semua pihak
tertutama para orang tua siswa, maka SDN 2 Rakam tidak mungkin meraih prestasi
di berbagai level.
Ketua Komite Sekolah, Drs. H Muh Thuhir, M.Pd
mengajak seluruh orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam perjalanan
pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi keluarga dan
sekolah sebagai kunci keberhasilan pendidikan anak terlebih lagi di tengah
kemajuan teknologi hari ini.
“Kami bangga melihat anak-anak hari ini berdiri
penuh percaya diri. Ini adalah hasil dari kerja sama kita semua. Jangan
berhenti di sini,” ucapnya.
Sejumlah siswa turut ambil bagian memeriahkan acara
tersebut untuk tampil di panggung sebagai rangkain acara, seperti tari
tradisional, pidato perpisahan, atraksi seni bela diri, dan lainnya.
![]() |
| Pose bersama wali kelas VI, Uswatun Hasanah, S.Pd |
Nadzir mengucapkan terima kasih kepada para guru
yang telah membimbingnya selama enam tahun dengan berbagai suka duka bersama.
Menurutnya, perpisahan ini bukan akhir
dari segalanya, tapi justru awal dari petualangan baru untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Terima kasih ya, Bu. Terima kasih, Pak. Tanpa jasa
bapak ibu guru, kami bukan siapa-siapa,” ucap siswa yang meraih juara pertama di kelasnya itu.
Tak kalah menarik, Teguh Rois Amrozi, salah satu
siswa berprestasi di bidang olahraga pencak silat, juga tampil memukau dengan
jurus silat yang menarik perhatian para undangan.
Selain itu, penampilan seni tari tradisional yang
dibawakan oleh tim tari SDN 2 Rakam turut menambah semarak acara.
Dengan balutan busana tradisional dan gerakan yang
anggun, para penari kelas IV dan V tersebut sukses menyampaikan pesan budaya dan
keceriaan kepada para tamu yang hadir.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang ekspresi
kreativitas, tetapi juga bentuk pelestarian seni dan budaya lokal yang terus
ditanamkan sejak dini.
Salah satu momen mengharukan terjadi saat siswa
kelas VI melakukan sungkeman kepada orang tua. Tampak siswa dan wali murid
menitikkan air mata penuh haru.
okenews.net l selalu oke di hati