www.okenews.net

Berita Utama

Politik

Sosial



 


Video

Kamis, 29 Januari 2026

Revitalisasi Puluhan Sekolah di Lotim Diresmikan, Bupati Tegaskan Pendidikan Tak Bisa Jalan Sendiri

Peresmian Revitalisasi Sekolah Oleh Bupati Lombok Timur

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pendidikan melalui peresmian program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Peresmian tersebut berlangsung di SDN 1 Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kamis (29/01/2026),

Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin menekankan bahwa keterbatasan anggaran pemerintah, baik dari APBD maupun APBN, menuntut adanya kolaborasi lintas sektor. Ia menilai keterlibatan pihak ketiga, seperti lembaga sosial dan swasta, menjadi faktor penting dalam percepatan pembangunan sarana pendidikan.

Menurutnya, pembangunan dunia pendidikan tidak mungkin hanya bergantung pada anggaran negara. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta pihak swasta harus terus diperkuat agar kualitas pendidikan dapat meningkat secara merata.

Bupati juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dari aspek moral, akhlak, dan ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan pendidikan, Pemkab Lombok Timur juga tengah menyiapkan pengembangan Sekolah Rakyat (SR). Setelah Lenek Duren, program tersebut direncanakan akan dilanjutkan di Kecamatan Jerowaru. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep Sekolah Unggul Garuda sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan.

Tak hanya sektor pendidikan, Bupati turut menyinggung peningkatan kualitas layanan publik lainnya. Ia mengingatkan kepala sekolah, tenaga pendidik, serta tenaga kesehatan untuk bekerja sesuai tugas dan fungsi. Bupati menegaskan agar tidak ada lagi keluhan pelayanan kesehatan yang lambat, termasuk yang berkaitan dengan administrasi BPJS.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, mengungkapkan bahwa lahan pembangunan sekolah di Lenek Duren merupakan hasil hibah dari kepala sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik harus sejalan dengan peningkatan prestasi siswa.

Ia juga memberikan penekanan kepada kepala sekolah agar mampu menjadi motor penggerak kemajuan pendidikan. Menurutnya, sarana yang telah memadai harus dibarengi dengan kepemimpinan sekolah yang kuat dan inovatif. Jika fasilitas lengkap namun prestasi tidak meningkat, evaluasi akan menjadi langkah yang tidak terhindarkan.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Dikbud turut mengapresiasi pola pengerjaan bantuan dari Kementerian Pendidikan yang dilakukan secara swakelola. Skema ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena melibatkan tenaga lokal dalam proses pembangunan.

Ketua Panitia, Nur Hidayati, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan para donatur, khususnya melalui program Classroom Hope. Ia menyebut revitalisasi sekolah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga investasi bagi kenyamanan dan kesehatan mental guru serta peserta didik.

Program revitalisasi pendidikan tahun ini menyasar sebanyak 36 Sekolah Dasar (SD) dan 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di tujuh kecamatan, dengan Kecamatan Lenek menjadi salah satu wilayah prioritas.

Acara peresmian ditutup dengan prosesi pengguntingan pita oleh Bupati Lombok Timur bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai tanda resmi digunakannya gedung sekolah yang telah direvitalisasi.

Rabu, 28 Januari 2026

Pemda Lombok Timur Siap Dikawal BPK, Wabup Edwin Pastikan Pemeriksaan Berjalan Lancar

Wakil Bupati Lotim, Edwin Hadiwijaya

Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung proses pemeriksaan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal itu ditegaskan Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, saat menerima tim BPK dalam pertemuan awal atau entry meeting di ruang kerjanya, Rabu (28/01/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Wabup Edwin memastikan seluruh rangkaian pemeriksaan yang akan berlangsung selama 45 hari ke depan dapat berjalan lancar dan transparan. Ia menyatakan akan mengawal langsung proses tersebut, termasuk menunjuk person in charge (PIC) guna mempermudah koordinasi serta penyediaan data yang dibutuhkan oleh tim pemeriksa.

Menurutnya, kehadiran BPK justru menjadi sarana evaluasi penting bagi pemerintah daerah. Laporan hasil pemeriksaan awal yang disampaikan BPK dinilai sangat membantu Pemda dalam memetakan berbagai aspek yang perlu dibenahi ke depan.

Didampingi sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan Inspektur Daerah, Wabup menegaskan komitmen Pemda Lombok Timur untuk terus melakukan perbaikan tata kelola keuangan. Upaya tersebut, kata dia, tidak semata demi mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), tetapi sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat.

Terkait tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan (LHP), Wabup mengakui masih terdapat sejumlah kendala. Meski demikian, ia optimistis seluruh rekomendasi BPK dapat diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Entry meeting ini sekaligus menandai dimulainya pemeriksaan resmi BPK terhadap pengelolaan keuangan dan kinerja Pemkab Lombok Timur. Adapun fokus pemeriksaan meliputi piutang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pendapatan asli daerah (PAD), pengelolaan aset, serta Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Wabup Lotim Dampingi Mahasiswa IKMM, Posyandu Ternak di Lendang Nangka Utara

Pendampingan Posyandu Ternak Oleh Wabup Lotim
Okenews.net- Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, turun langsung mendampingi mahasiswa Ikatan Keluarga Mahasiswa Masbagik (IKMM) dalam rangkaian program IKMM Mengabdi 2026 yang digelar di Desa Lendang Nangka Utara, Rabu (28/01/2026).

Salah satu program unggulan yang mendapat perhatian khusus adalah Posyandu Ternak, sebuah inisiatif yang bertujuan menjaga kesehatan hewan ternak sebagai penopang ekonomi masyarakat desa. Program ini digagas sebagai bentuk sinergi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati menegaskan bahwa keterlibatan pemerintah dalam program pengabdian mahasiswa bukan sekadar simbolik. Menurutnya, kehadiran pemerintah bertujuan memastikan setiap kegiatan menyentuh kebutuhan riil masyarakat, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun kesehatan.

“Pengabdian masyarakat harus berdampak langsung. Tidak hanya seremonial, tetapi benar-benar menyentuh sektor-sektor vital yang menopang kehidupan warga,” ujar Edwin.

Posyandu Ternak ini dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur, dengan fokus pada pemberian vaksinasi dan vitamin ternak. Program tersebut menyasar dua dusun, yakni Dusun Otak Pancor dan Dusun Benteng Selatan, yang mayoritas warganya menggantungkan hidup dari sektor peternakan.

Lebih lanjut, Edwin mengungkapkan bahwa Desa Lendang Nangka Utara pada tahun 2026 ditetapkan sebagai salah satu lokasi Program Desa Berdaya Provinsi NTB. Program ini akan memberikan intervensi pemberdayaan ekonomi secara intensif kepada sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) kategori miskin ekstrem.

“Insya Allah, fokus utamanya adalah mendorong kemandirian ekonomi masyarakat agar kesejahteraan mereka meningkat secara berkelanjutan,” jelasnya.

Kegiatan tersebut ditandai dengan pemberian obat cacing secara simbolis, sebagai penanda dimulainya gerakan kesehatan ternak secara massal di wilayah tersebut.

Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Dinas Peternakan, Kepala Desa Lendang Nangka Utara, para Kepala Dusun, Ketua IKMM, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta puluhan mahasiswa dan peternak lokal yang menyambut antusias program tersebut.

Angka Stunting Lotim Masih Tertinggi di NTB, Wabup Tekankan Validasi Data dan Kolaborasi Lintas Sektor

Pendampingan Analisis Situasi dalam Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting

Okenews.net-Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting dengan menempatkan akurasi data sebagai fondasi utama kebijakan. Hal tersebut ditegaskan Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, saat membuka kegiatan Pendampingan Analisis Situasi dalam Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, yang digelar di Ruang Rapat Bappeda Lombok Timur, Rabu (28/01/2026).

Dalam forum tersebut, Wabup yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) menilai pendampingan ini menjadi momentum strategis untuk memastikan seluruh program penanganan stunting benar-benar berbasis pada data yang valid dan terukur.

Ia mengungkapkan, Lombok Timur masih menghadapi tantangan serius karena tercatat sebagai daerah dengan angka stunting tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data Desember 2025, prevalensi stunting mencapai 22,39 persen, dan pada Januari 2026 kembali ditemukan penambahan kasus sebesar 0,8 persen atau 545 kasus baru.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Karena itu, saya minta agar data yang ada benar-benar dicek dan divalidasi ulang, terutama data dari 21 kecamatan, agar intervensi yang kita lakukan tepat sasaran,” tegasnya.

Wabup juga menekankan bahwa upaya penurunan stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada organisasi perangkat daerah (OPD). Keterlibatan organisasi kemasyarakatan, pemerintah desa, hingga unsur masyarakat dinilai sangat penting untuk mempercepat penanganan di lapangan.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Tim Pendamping, Arifin Effendy Hutagalung, Analis Kebijakan Madya sekaligus Koordinator Substansi Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Ditjen Bina Bangda, menegaskan bahwa kualitas perencanaan menjadi kunci pencapaian target nasional penurunan stunting.

Ia menyebutkan, berdasarkan RPJMN, target prevalensi stunting nasional ditetapkan sebesar 14,2 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan analisis data yang tajam serta konvergensi lintas sektor yang konsisten dan berkelanjutan.

Menurutnya, Kementerian Dalam Negeri memiliki peran strategis dalam memastikan kebijakan nasional diterjemahkan secara tepat ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran daerah, sekaligus memperkuat tata kelola data melalui sistem terintegrasi seperti SIPD dan sistem sektoral lainnya.

“Kolaborasi TP3S hingga tingkat kecamatan, desa, dan dusun harus diperkuat karena merekalah garda terdepan penanganan stunting,” ujarnya.

Melalui kegiatan pendampingan ini, diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi data yang lebih konkret dan akurat, sehingga menjadi rujukan bersama dalam penyusunan program dan kebijakan penurunan stunting di Lombok Timur ke depan.

Ratusan Mahasiswa IAIH Pancor Siap Mengabdi ke Penjuru Negeri, KKN 2026 Digelar Berskala Nasional

IAIH Hamzanwadi Pancor 

Okenews.net- Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun Akademik 2026. Ratusan mahasiswa resmi dilepas untuk terjun langsung ke tengah masyarakat dalam program pengabdian yang akan berlangsung selama dua bulan.


Kegiatan pembekalan sekaligus pelepasan KKN tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa sebelum diterjunkan ke berbagai daerah, baik di dalam maupun luar Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Tahun ini, jangkauan lokasi KKN IAIH Pancor diperluas hingga skala nasional, mencakup wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, hingga Bali.


Wakil Rektor I IAIH Pancor, Dr. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan tinggi. Menurutnya, KKN bukan sekadar formalitas akademik, melainkan sarana pembelajaran sosial yang memiliki nilai historis dan edukatif yang kuat.


“Kuliah Kerja Nyata adalah kewajiban akademik yang tidak bisa digantikan dengan aktivitas lain. Ini bukan soal administrasi kelulusan, tetapi proses pembelajaran nyata yang telah menjadi tradisi pendidikan tinggi sejak 1951,” ujarnya, Selasa (28/01/2026).


Ia menekankan bahwa capaian akademik setinggi apa pun, termasuk IPK, tidak dapat menghapus kewajiban mahasiswa untuk mengikuti KKN. Bahkan, ia menyebut KKN sebagai pengalaman unik yang hanya bisa dirasakan sekali selama masa studi.


“KKN hanya sekali seumur hidup bagi mahasiswa. Ini adalah pengalaman belajar yang sangat berharga dan tidak tergantikan,” tegasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Hayyi juga berpesan agar mahasiswa membawa dua semangat utama selama menjalankan pengabdian, yakni semangat belajar dan semangat mengajar. Mahasiswa diharapkan mampu membaca realitas sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat, sekaligus hadir sebagai agen perubahan yang memberi manfaat nyata.


“Mahasiswa tidak cukup hanya hadir dan menjalankan program. Mereka harus mau belajar dari masyarakat dan, di saat yang sama, mengabdi dengan penuh tanggung jawab agar kehadirannya memberikan dampak positif dan berkelanjutan,” jelasnya.


Tak kalah penting, ia mengingatkan seluruh peserta KKN untuk menjaga sikap, etika, serta nama baik diri, keluarga, dan almamater selama berada di lokasi pengabdian.


“Di mana pun kalian berada, kalian adalah duta kampus. Jaga nama baik institusi dan jadikan KKN sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkasnya.


Pemuda Jerowaru Pasang Arah Baru: KNPI Resmi Dilantik, Pariwisata Jadi Tumpuan Masa Depan

DPK KNPI Jrowaru

Okenews.net- Semangat perubahan mengemuka dari Kantor Camat Jerowaru, Rabu (28/01/2026), saat Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jerowaru resmi dilantik untuk masa bakti 2025–2028. Pelantikan tersebut sekaligus menjadi momentum awal konsolidasi gerakan pemuda melalui rapat kerja, dengan tekad besar membangun Jerowaru yang lebih maju dan berdaya saing.


Mengusung tema “Membentuk Generasi Muda yang Visioner Menuju Jerowaru Maju”, kepengurusan baru KNPI Jerowaru menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar hadir sebagai organisasi formal, tetapi sebagai kekuatan sosial yang aktif mendorong perubahan di tingkat kecamatan.


Ketua DPK KNPI Jerowaru, Riadi, menekankan bahwa pemuda harus tampil sebagai agen pembangunan yang memiliki visi jelas, kepedulian sosial, serta keberanian mengambil peran strategis di tengah masyarakat. Menurutnya, KNPI harus menjadi ruang pemersatu sekaligus motor penggerak potensi pemuda Jerowaru.


“KNPI hadir untuk melahirkan generasi muda yang visioner, berdaya saing, dan mampu membawa Jerowaru ke arah yang lebih baik,” ujar Riadi.


Ia mengungkapkan, sektor pariwisata akan menjadi salah satu fokus utama program KNPI ke depan. Dengan potensi alam dan budaya yang dimiliki Jerowaru, penguatan peran pemuda di sektor ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.


“Jerowaru punya modal besar di sektor pariwisata. Jika dikelola dengan baik dan melibatkan pemuda, ini bisa menjadi penggerak kemajuan daerah,” tambahnya.


Dari tingkat kabupaten, Wakil Ketua KNPI Lombok Timur Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK), Karomi, mengingatkan bahwa ber-KNPI bukan hanya soal jabatan struktural, melainkan amanah perjuangan untuk masyarakat dan masa depan pemuda.


“KNPI harus menjadi rumah besar pemuda Jerowaru. Di sinilah proses kaderisasi, penguatan karakter, dan perjuangan pemuda dimulai,” tegasnya.


Ia berharap kepengurusan baru mampu menjaga soliditas organisasi, memperkuat gerakan kepemudaan, serta melahirkan kader-kader berintegritas yang peka terhadap persoalan sosial di wilayahnya.


Sementara itu, Camat Jerowaru, Sirah, menegaskan bahwa pemuda merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah. Ia menyatakan keterbukaan pemerintah kecamatan untuk berkolaborasi dengan KNPI, khususnya dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan dan program kepemudaan yang berdampak langsung bagi masyarakat.


“Pemuda harus mampu menghadirkan program nyata yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga,” ujarnya.


Sirah juga menyinggung sejumlah tantangan yang dihadapi Jerowaru, termasuk dampak bencana banjir di beberapa desa yang masih membutuhkan penanganan dan sinergi lintas sektor. Menurutnya, luas wilayah dan kompleksitas persoalan Jerowaru menuntut kolaborasi kuat antara pemuda, pemerintah desa, dan kecamatan.


“Jerowaru ini tantangannya besar. Karena itu, sinergi menjadi kunci,” pungkasnya.


Pemerintah Kecamatan Jerowaru menyatakan dukungan penuh terhadap seluruh kegiatan KNPI selama sejalan dengan arah pembangunan daerah. Harapannya, KNPI dapat menjadi motor penggerak pemuda yang progresif, transparan, dan berorientasi pada kemajuan Jerowaru ke depan.

Menuju Baznas Digital, Lombok Timur Belajar ke Lombok Tengah Demi Transparansi Zakat

BAZNAS Lombok Timur

Okenews.net- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lombok Timur mulai mengakselerasi transformasi digital dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Langkah ini ditempuh sebagai upaya memperkuat transparansi, akuntabilitas, serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga pengelola zakat.


Sebagai bentuk keseriusan, Baznas Lombok Timur mengutus tim teknologi informasi (IT) untuk melakukan studi tiru ke Baznas Kabupaten Lombok Tengah, daerah yang dinilai sukses menerapkan sistem informasi digital dan meraih penghargaan nasional melalui Baznas Award.


Ketua Baznas Lombok Timur, H. Muhammad Kamli, menyebut Lombok Tengah menjadi rujukan karena dinilai paling optimal dalam memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen Baznas (SIMBA) beserta aplikasi pendukung lainnya.


“Lombok Tengah termasuk yang terbaik dalam pengelolaan aplikasi SIMBA. Kami ingin melihat langsung bagaimana operator di sana bekerja, agar sistem yang sama bisa kita terapkan di Lombok Timur demi transparansi lembaga,” ujarnya, Selasa (27/01/2026).


Menurut Kamli, secara kualitas sumber daya manusia, Baznas Lombok Timur telah memiliki tenaga IT yang mumpuni. Namun, penguatan sistem terintegrasi dan sarana pendukung menjadi kebutuhan mendesak agar pengelolaan ZIS berjalan lebih efektif dan profesional.


Transformasi digital ini difokuskan pada penguatan empat pilar utama pengelolaan zakat, yakni pengumpulan, administrasi, pendistribusian, dan pelaporan.


Senada dengan itu, Sekretaris Baznas Lombok Timur, Nuruh Hadi, menjelaskan bahwa keberhasilan Lombok Tengah tidak hanya terletak pada SIMBA yang bersifat nasional, tetapi juga pada pengembangan aplikasi tambahan yang mampu memperluas konektivitas data dan mempercepat proses kerja.


“Empat bidang itu jadi fokus utama. Dengan sistem tambahan, data bisa langsung terhubung. Misalnya, hasil survei lapangan bisa diinput lewat HP dan otomatis masuk ke laporan pusat secara real-time,” jelasnya.


Keunggulan lain dari sistem digital ini adalah kemudahan akses informasi bagi masyarakat. Ke depan, para muzakki dapat memantau langsung penyaluran zakat mereka melalui website maupun media sosial resmi Baznas.


Selain itu, sistem ini dirancang untuk mencegah terjadinya duplikasi bantuan. Basis data mustahik yang terintegrasi memungkinkan Baznas memastikan bantuan disalurkan secara lebih adil dan merata.


“Kalau seseorang sudah menerima bantuan di tahun tertentu, datanya akan tercatat. Tahun berikutnya kita bisa memprioritaskan yang belum tersentuh bantuan. Ini bagian dari keadilan sosial,” tambah Kamli.


Baznas Lombok Timur menyadari bahwa pembangunan infrastruktur digital membutuhkan anggaran yang tidak kecil, dengan estimasi mencapai Rp300 juta, tergantung pada fasilitas yang dibangun. Meski demikian, investasi tersebut dinilai sepadan dengan manfaat jangka panjangnya.


“Ini investasi untuk membangun kepercayaan publik. Dengan sistem yang terbuka dan transparan, kami optimistis minat masyarakat untuk berzakat akan terus meningkat,” pungkasnya.


Melalui penguatan sistem digital ini, Baznas Lombok Timur menargetkan layanan zakat yang terintegrasi dan merata di 21 kecamatan, sekaligus membawa pengelolaan ZIS ke arah yang lebih modern, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara publik.

SMART JKN Antar Lombok Timur Jadi Role Model Nasional Layanan Kesehatan Digital

Sekertaris Daerah Lombok Timur
Okenews.net- Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui terobosan layanan kesehatan berbasis digital bertajuk SMART JKN, Lombok Timur sukses mengukuhkan diri sebagai pelopor transformasi layanan kesehatan yang inklusif dan bebas diskriminasi.

Inovasi tersebut mengantarkan Pemkab Lombok Timur meraih penghargaan Inovasi Terbaik Nasional dalam ajang Universal Health Coverage (UHC) Award 2026. Penghargaan prestisius ini diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Lombok Timur, Dr. HM. Juaini Taofik, di Hotel Jakarta Expo, Selasa (27/01/2026).

Dalam ajang nasional tersebut, Lombok Timur dinobatkan sebagai terbaik pertama kategori Inovasi Terbaik Co-Creation BPJS Kesehatan Bidang Kepesertaan, mengungguli berbagai daerah lain di Indonesia.

Juaini Taofik menjelaskan, SMART JKN hadir sebagai solusi atas keluhan masyarakat terkait rumitnya birokrasi dan perbedaan perlakuan dalam layanan kesehatan. Inovasi ini dirancang sederhana namun berdampak besar, dengan prinsip pelayanan yang mudah diakses dan berkeadilan.

“SMART JKN kami rancang agar layanan BPJS Kesehatan bisa diakses secara setara dan tanpa diskriminasi. Cukup dengan e-KTP, masyarakat sudah bisa mendapatkan pelayanan kesehatan,” ujar Juaini.

Lebih dari sekadar nama, SMART JKN mengusung filosofi pelayanan yang mencakup Setara, Mudah, Akuntabel, Responsif, dan Terintegrasi, dengan sistem yang menghubungkan berbagai OPD terkait guna mempercepat dan mempermudah pelayanan masyarakat.

Meski telah meraih pengakuan nasional, Pemkab Lombok Timur menegaskan tidak ingin berpuas diri. Tantangan ke depan, menurut Juaini, adalah memastikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di seluruh fasilitas kesehatan selaras dengan semangat inovasi tersebut.

“Kami tidak ingin ada lagi perbedaan perlakuan antara pasien umum dan peserta JKN. Baik BPJS maupun non-BPJS, pelayanannya harus sama, senyumnya juga harus sama,” tegasnya.

Ia juga berharap SMART JKN menjadi instrumen quality control bagi seluruh tenaga kesehatan agar pelayanan diberikan secara tulus, bukan sekadar formalitas.

“Kita sudah terbaik nasional. Jangan sampai prestasi ini tercoreng oleh hal-hal sepele seperti sikap pelayanan. Ini komitmen yang harus dijaga bersama,” tambahnya.

Tak hanya itu, Lombok Timur juga berhasil meraih nominasi UHC Award kategori Pratama, berkat capaian kepesertaan JKN yang telah melampaui 98 persen dengan tingkat keaktifan peserta di atas 80 persen.

Dengan capaian tersebut, Lombok Timur semakin mantap melangkah menuju layanan kesehatan menyeluruh dan inklusif, sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain dalam mewujudkan transformasi layanan kesehatan berbasis digital dan berkeadilan.

Selasa, 27 Januari 2026

Perkuat Hak Kesehatan Anak Binaan, LPKA Lombok Tengah Gandeng Puskesmas Aik Darek

LPKA Lombok Tengah Teken MOU Dengan Puskesmas Aik Darek

Okenews.net- Upaya memastikan pemenuhan hak dasar anak binaan terus diperkuat Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Lombok Tengah. Terbaru, LPKA Lombok Tengah resmi menjalin kerja sama strategis dengan Puskesmas Aik Darek dalam rangka peningkatan layanan kesehatan bagi anak binaan.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang pelayanan kesehatan yang berlangsung di lingkungan LPKA Kelas II Lombok Tengah, baru-baru ini. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terstruktur, profesional, dan berkelanjutan.

Melalui kerja sama ini, Puskesmas Aik Darek akan memberikan berbagai layanan kesehatan, mulai dari pelayanan kesehatan dasar, pemeriksaan rutin, penanganan kondisi darurat, hingga program promotif dan preventif guna mencegah munculnya penyakit, khususnya penyakit menular di lingkungan LPKA.

Kepala LPKA Lombok Tengah, Hidayat, menegaskan bahwa aspek kesehatan memegang peranan penting dalam proses pembinaan anak binaan. Menurutnya, pembinaan yang optimal tidak akan tercapai tanpa dukungan kondisi fisik dan mental yang sehat.

“Kesehatan adalah fondasi utama dalam proses pembinaan. Sinergi dengan Puskesmas Aik Darek ini kami harapkan mampu memastikan anak binaan mendapatkan layanan kesehatan yang layak, berkelanjutan, dan sesuai standar,” ujar Hidayat, Selasa, (27/01/2026)

Sementara itu, pihak Puskesmas Aik Darek menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan di LPKA Lombok Tengah. Kolaborasi ini juga dinilai sebagai langkah preventif dalam menjaga kesehatan lingkungan serta meningkatkan kualitas hidup anak binaan selama menjalani masa pembinaan.

Melalui kerja sama ini, LPKA Kelas II Lombok Tengah menegaskan komitmennya menjalankan pembinaan secara holistik. Tidak hanya fokus pada pembentukan karakter dan kemandirian, tetapi juga memastikan terpenuhinya hak kesehatan anak sebagai bagian dari perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Ke depan, kerja sama ini diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan dan memberi dampak positif dalam menciptakan lingkungan LPKA yang sehat, aman, serta mendukung proses pembinaan anak binaan secara menyeluruh.

Dari Bumi ke Meja Makan: Lombok Timur Dorong Pangan Lokal untuk Tekan Stunting

Peringatan Hari Gizi Nasional Ke-66

Okenews.net-Komitmen memperbaiki kualitas gizi masyarakat kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui gelaran talkshow bertema “Pangan Lokal, Gizi Optimal, Sehat dari Bumi”. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Kantor Bupati Lombok Timur, Selasa (27/01/2026), ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 Tahun 2026.

Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya yang membuka acara tersebut menekankan bahwa isu gizi bukan hanya persoalan kesehatan, melainkan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Ia mengapresiasi kolaborasi lintas daerah dan lembaga yang terlibat, sekaligus menegaskan keterbukaan Pemda Lombok Timur terhadap kerja sama dengan berbagai NGO dalam menangani persoalan sosial, termasuk gizi dan stunting.

Menurut Wabup, perhatian pemerintah saat ini sejalan dengan agenda nasional, yakni pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta percepatan penurunan stunting. Dalam konteks tersebut, peran Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dinilai strategis untuk memastikan penyajian gizi seimbang yang tepat sasaran, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Ia memaparkan, hingga saat ini Lombok Timur telah memiliki 213 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan 171 di antaranya telah beroperasi. Keberadaan SPPG tersebut diharapkan menjadi penguat implementasi MBG sekaligus mendukung penurunan angka stunting. Berdasarkan data terakhir, prevalensi stunting Lombok Timur pada Desember 2025 tercatat sebesar 22,39 persen, sementara pada Januari 2026 muncul kasus baru sebesar 0,8 persen atau 545 kasus.

Sementara itu, Manager Wahana Visi Indonesia, Sidik Lando, dalam laporannya menekankan pentingnya komitmen bersama untuk menciptakan generasi anak yang sehat dan berkualitas. Ia menilai sinergi antara Lombok Timur, Lombok Utara, dan Persagi sebagai contoh nyata kolaborasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Sidik juga menggarisbawahi besarnya potensi sumber daya alam Lombok yang dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan pangan lokal. Tema kegiatan ini, menurutnya, bukan sekadar kampanye gizi, tetapi juga ajakan untuk memperkuat ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan nasional. “Sehat dimulai dari diri kita, sehat dari bumi kita,” ujarnya.

Talkshow ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya dokter sekaligus ahli gizi Tan Shot Yen, Ketua Persagi Provinsi NTB, perwakilan Dinas Kesehatan Lombok Timur dan Lombok Utara, hingga tim ahli dari Wahana Visi Indonesia. Diskusi yang berlangsung diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kolektif serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui pemanfaatan pangan lokal.

Cuaca Buruk Melanda, Satlantas Lotim Pasang Peringatan Khusus di Titik Rawan

Kasat Lantas Lombok Timur

Okenews.net- Ketika hujan deras, jalan licin, dan kabut menutup pandangan, satu hal menjadi krusial bagi pengendara: peringatan yang jelas dan mudah terbaca. Inilah yang mendorong Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lombok Timur mengambil langkah tak biasa dalam menghadapi cuaca ekstrem yang belakangan melanda wilayah Nusa Tenggara Barat.


Bukan baliho besar penuh gambar, bukan pula spanduk rumit dengan tulisan kecil. Satlantas Lotim justru memilih pendekatan sederhana namun tegas: banner imbauan dengan huruf besar, pesan singkat, dan langsung mengena. Pemasangan banner semi-permanen ini mulai dilakukan pada Selasa (27/01/2026) di sejumlah titik rawan kecelakaan.


Kasat Lantas Polres Lombok Timur, AKP Abdul Rachman, menyebut langkah ini sebagai bagian dari sistem peringatan dini yang dirancang sesuai kondisi lapangan.


“Pengendara tidak punya waktu membaca banyak tulisan. Karena itu kami buat pesan singkat, huruf besar, dan mencolok. Lewat satu titik, dua titik, tiga titik pesannya terus diingat, hati-hati,” ujarnya.


Hingga kini, enam banner telah terpasang di wilayah yang kerap menjadi lokasi kecelakaan lalu lintas, seperti Sikur, Labuhan Haji, Jenggik, Sambelia, Masbagik, dan Sembalun. Jumlah tersebut merupakan tahap awal dari target 20 banner yang akan disebar secara bertahap di seluruh Lombok Timur.


Langkah preventif ini tak dikerjakan sendirian. Satlantas menggandeng Forum Komunikasi Lalu Lintas yang melibatkan Dinas Perhubungan, Dinas PUPR, Jasa Raharja, hingga pihak swasta seperti ATPM Honda. Menariknya, warga sekitar lokasi pemasangan juga dilibatkan secara aktif.


“Ketika masyarakat merasa ikut memiliki, banner itu terjaga. Kalau rusak atau bergeser, mereka langsung melapor. Ini soal keselamatan bersama,” tambah AKP Abdul Rachman.


Ke depan, Satlantas Lotim juga berencana memanfaatkan plang reklame milik pemerintah yang sedang kosong sebagai media tambahan untuk menyampaikan pesan keselamatan berlalu lintas.

Menghadapi ancaman jalan licin, jarak pandang terbatas, hingga potensi pohon tumbang akibat cuaca ekstrem, AKP Abdul Rachman mengingatkan pengendara agar tidak mengambil risiko yang tidak perlu.


“Pastikan kendaraan layak jalan, terutama ban. Jangan paksakan perjalanan jika cuaca benar-benar tidak mendukung. Menunda lebih baik daripada celaka,” tegasnya.


Di sisi lain, program Poros Polres tetap berjalan. Edukasi keselamatan terus dilakukan oleh Unit Kamsel, sementara penegakan hukum oleh Unit Turjawali siap dilaksanakan menunggu arahan resmi pimpinan Polri.


Dengan pendekatan yang sederhana namun tepat sasaran, Satlantas Lotim berharap setiap pengendara yang melintas di jalanan Lombok Timur merasa diingatkan bahwa di balik huruf besar di pinggir jalan, ada pesan besar tentang keselamatan nyawa.

Perkuat Layanan Publik, Kantah Lombok Utara Satukan Persepsi dengan IPPAT

Atr/Bpn Lombok Utara

Okenews.net- Upaya meningkatkan kualitas dan kepastian layanan pertanahan terus dilakukan Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Lombok Utara. Salah satunya melalui rapat koordinasi proses bisnis layanan pertanahan bersama Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Lombok Utara yang digelar pada Senin (26/1/2026).

Rapat yang berlangsung di Aula Kantah Lombok Utara tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi antara Kantor Pertanahan dan PPAT sebagai mitra utama dalam pelayanan administrasi pertanahan. Hadir langsung Kepala Kantor Pertanahan Lombok Utara, Mohammad Shaleh Basyarah, didampingi jajaran pejabat struktural, serta Ketua IPPAT Lombok Utara Junaedi, bersama seluruh anggota IPPAT.

Dalam arahannya, Mohammad Shaleh Basyarah menekankan bahwa keselarasan proses bisnis menjadi kunci utama dalam menciptakan pelayanan pertanahan yang efektif dan terpercaya. Menurutnya, koordinasi yang berkesinambungan perlu terus dibangun agar setiap tahapan layanan berjalan sesuai aturan, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“PPAT merupakan mitra strategis Kantor Pertanahan. Karena itu, kesamaan persepsi dan pemahaman terhadap alur layanan sangat penting untuk meminimalkan kendala serta mempercepat penyelesaian pelayanan,” ujarnya.

Selain penyampaian kebijakan dan teknis layanan, rapat koordinasi ini juga dimanfaatkan sebagai forum diskusi terbuka. Berbagai persoalan di lapangan, tantangan administrasi, hingga masukan dari PPAT dibahas secara konstruktif sebagai bahan evaluasi bersama.

Melalui rapat koordinasi tersebut, Kantah Lombok Utara berharap terbangun komunikasi yang semakin solid dengan IPPAT. Sinergi ini diharapkan mampu mendorong terwujudnya layanan pertanahan yang profesional, akuntabel, dan memberikan kepastian hukum serta kepuasan bagi masyarakat Lombok Utara.

Senin, 26 Januari 2026

Wabup Lombok Timur Dorong Mahasiswa IKMM Jadi Motor Perubahan Desa


Wabup Edwin Hadiwijaya Membuka Kegiatan (IKMM)

Okenews.net- Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, secara resmi membuka kegiatan Ikatan Keluarga Mahasiswa Masbagik (IKMM) Mengabdi 2026 yang digelar di Aula Kantor Kepala Desa Lendang Nangka Utara, Kecamatan Masbagik, Senin (26/01/2026).

Kegiatan pengabdian masyarakat ini mengusung tema “Membangun Kesadaran Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, dan Lingkungan sebagai Fondasi Lendang Nangka Utara yang Berkelanjutan.” Program tersebut akan berlangsung selama dua pekan dan melibatkan mahasiswa asal Masbagik yang berkuliah di berbagai perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Wabup Edwin menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi sosial, khususnya di sektor pendidikan dan upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di Lombok Timur. Menurutnya, durasi pengabdian selama dua minggu cukup efektif untuk menghadirkan dampak nyata jika diisi dengan program yang tepat sasaran.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Dengan waktu dua minggu, saya yakin banyak hal konkret yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat desa, terutama dalam membangun kesadaran dan solusi berbasis kebutuhan lokal,” ujar Wabup.

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Daerah Lombok Timur yang terbuka terhadap kritik dan aspirasi publik, termasuk dari kalangan mahasiswa. Bahkan, kata dia, ruang demokrasi disiapkan secara serius agar suara masyarakat dapat tersampaikan dengan baik.

“Bupati sudah menegaskan, silakan demo sebanyak-banyaknya. Kami bahkan menugaskan pejabat eselon II untuk mencatat setiap tuntutan. Hearing atau audiensi juga terbuka kapan saja, selama kami tidak sedang berada di luar daerah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lendang Nangka Utara, Moh. Tahir, berharap kehadiran mahasiswa IKMM mampu menghadirkan perspektif baru bagi masyarakat desa. Ia menyoroti masih tingginya angka pernikahan usia dini sebagai persoalan serius yang membutuhkan pendekatan edukatif dan berkelanjutan.

Selain itu, ia juga menyinggung dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan oleh para petani di desanya, sehingga diperlukan inovasi dan pendampingan untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat.

“Mahasiswa kami harapkan bisa menjadi jembatan edukasi, terutama bagi generasi muda dan keluarga yang rentan terhadap pernikahan dini, sekaligus membantu masyarakat menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujarnya.

Di sisi lain, Pembina IKMM, Akmaludin Sya’bani, menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan dua kemampuan dasar, yakni kemampuan melahirkan ide dan gagasan serta mengimplementasikannya dalam bentuk karya nyata maupun karya ilmiah.

“Ilmu tidak cukup hanya didiskusikan. Ia harus diaplikasikan langsung untuk menjawab persoalan masyarakat. Dua hal ini akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa saat terjun ke lapangan,” katanya.

Melalui program IKMM Mengabdi 2026, diharapkan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat desa dapat memperkuat fondasi pembangunan berkelanjutan di Lendang Nangka Utara.

Perkuat Good Governance, BPN Lombok Utara Gelar Internalisasi SPIP dan Manajemen Risiko 2026

Kantor Pertanahan Lombok Utara

Okenews.net – Dalam upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional, Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara melaksanakan kegiatan Internalisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), Manajemen Risiko, serta Penyusunan Risk Register Tahun 2026. Kegiatan tersebut digelar pada Kamis (22/01/2026) dan diikuti oleh seluruh Pejabat Pengawas serta Koordinator Substansi (Korsub) di lingkungan Kantor Pertanahan Lombok Utara.

Internalisasi ini menjadi langkah strategis untuk memastikan seluruh proses bisnis dan pelayanan pertanahan berjalan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mengidentifikasi serta memetakan berbagai potensi risiko yang dapat menghambat pencapaian target dan tujuan organisasi.

Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara, Muhammad Shaleh Basyarah, menegaskan bahwa penerapan SPIP dan manajemen risiko bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian penting dari budaya kerja aparatur.

“Melalui internalisasi SPIP dan penyusunan risk register ini, kami ingin seluruh jajaran memiliki kesadaran risiko dalam setiap pelaksanaan tugas. Dengan pengendalian intern yang kuat, potensi penyimpangan dapat diminimalkan dan kinerja organisasi dapat terus ditingkatkan,” ujar Muhammad Shaleh Basyarah.

Ia menambahkan, penyusunan Risk Register Tahun 2026 menjadi instrumen penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, agar setiap program dan kegiatan yang dijalankan memiliki mitigasi risiko yang jelas dan terukur.

“Kami berkomitmen memperkuat sistem pengendalian intern secara berkelanjutan, sehingga pelayanan pertanahan kepada masyarakat semakin berkualitas, akuntabel, dan terpercaya,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara berharap mampu membangun budaya sadar risiko di seluruh lini organisasi, sekaligus mendukung tercapainya tujuan pembangunan dan pelayanan pertanahan yang berintegritas.

Minggu, 25 Januari 2026

JEJAK SHANG DYAH (Episode 02)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI)
Jejak adalah bahasa sunyi yang ditinggalkan langkah; ia mungkin terhapus oleh waktu, namun maknanya tetap tinggal, meresap ke bumi, menjadi saksi bahwa seseorang pernah hadir, pernah peduli, dan pernah berjanji pada semesta.

Oleh : AM PUPU
Guru Muhir_Pendiri Repoq Literasi, Lombok Timur
Di suatu senja yang lembut, ketika garis cakrawala mengabur antara langit dan laut, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berjalan menyusuri bibir pantai. Pasir dingin menyentuh telapak kakinya, ombak berbisik pelan seolah menyimpan rahasia yang tak pernah diucapkan. Tak seorang pun mengenalinya. Ia hadir dalam tubuh manusia biasa, tanpa sinar keagungan, tanpa tanda-tanda asalnya yang luhur.

Mereka yang berpapasan hanya menangkap siluet seorang wanita cantik yang hampir sempurna, langkahnya tenang, tatapannya jauh menembus samudra. Tak ada yang menyangka bahwa di balik wajah yang sederhana itu berdiam kekuatan purba dan kebijaksanaan yang telah melintasi zaman. Di pantai yang sunyi itu, Dewi Anjani membiarkan dirinya larut dalam kefanaan, menikmati dunia sebagaimana manusia memandangnya, tanpa puja, tanpa takut, hanya angin, ombak, dan rahasia yang setia menemaninya.

Langkahnya melambat. Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani menunduk, memandangi serpihan-serpihan asing yang terseret ombak ke pasir: plastik kusam, potongan jaring yang koyak, sisa-sisa dunia yang kehilangan kepedulian. Dadanya terasa sesak, bukan oleh lelah, melainkan oleh keprihatinan yang mengendap lama.

"Beginikah rupa titipan yang dulu dijaga dengan doa dan rasa hormat?" Suara itu tak terucap, namun bergema jelas di ruang batinnya.

Ia mengangkat wajah, menatap laut yang dulu jernih seperti cermin langit."Wahai manusia’, bisiknya dalam hati, “tanganmu mampu membangun peradaban, tetapi mengapa ia juga begitu ringan melukai ibu yang menghidupimu?"

Angin pantai menyibakkan rambutnya, seolah menjawab dengan keluhan panjang. “Hutan kau tebang tanpa jeda, gunung kau koyak demi keserakahan sesaat. Sungai kau jadikan tempat membuang lupa, lalu kau heran ketika air tak lagi memberi kehidupan.”

Setiap langkah terasa seperti menapaki luka. “Apakah kau tak lagi mendengar napas alam? Ataukah hatimu telah terlampau bising oleh keinginanmu sendiri?”

Namun di balik keprihatinan itu, Shang Dyah masih menyimpan seberkas harap. ”Jika tangan manusia mampu merusak, ia pun mampu menyembuhkan,” gumamnya lirih dalam batin. “Asal mereka mau kembali mengingat: bahwa mereka bukan penguasa, melainkan bagian dari semesta”.

Ombak kembali menyentuh kakinya, dan ia melangkah maju, membawa duka, doa, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti sejenak. Pandangannya kosong, menembus garis ombak yang pecah lalu hilang, seperti kesadaran manusia yang datang sebentar lalu lenyap tanpa jejak.

“Kasihan… sungguh kasihan kalian,” ucapnya dalam batin, tanpa nada marah, hanya kelelahan yang dalam.

“Kalian menangis pada banjir, mengutuk panas, menyalahkan takdir dan langit, namun tak pernah sungguh berani bercermin.”

Ia menarik napas perlahan. “Betapa mudahnya jari-jari itu menunjuk ke luar, tetapi betapa beratnya mengarah ke dada sendiri.”

Di hadapan matanya terbayang wajah-wajah manusia: cemas, marah, putus asa. “Kalian bertanya mengapa bumi tak lagi ramah, tanpa menyadari bahwa kaki kalianlah yang menginjaknya tanpa rasa. Kalian mengeluh alam tak setia, padahal kalian lebih dahulu mengkhianatinya.”

Ada iba yang menghangatkan sekaligus melukai.“Andai kalian tahu, bisiknya dalam hati, bahwa alam tak pernah berniat menghukum. Ia hanya merespons. Ia hanya memantulkan apa yang kalian lakukan kepadanya.”

Langkahnya kembali bergerak, lebih pelan dari sebelumnya.“Kalian adalah anak-anak semesta yang lupa asal-usulnya, lanjut suara batin itu. Lupa bahwa setiap pohon yang tumbang, setiap laut yang tercemar, sesungguhnya adalah bagian dari diri kalian sendiri yang ikut runtuh.”

Ia menunduk, seolah memberi hormat pada pasir dan ombak. “Namun bagaimana mungkin kesadaran tumbuh, jika kesalahan selalu dilemparkan pada nasib?” Gumamnya dalam hati

Di antara rasa kasihan itu, Shang Dyah menyimpan kesunyian yang pahit; “Manusia bukan tak mampu memahami. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa kerusakan ini… adalah karya tangan mereka sendiri.”  

Ketika gumam batin itu masih bergetar pelan di dalam dadanya, suara lain menyusup dari kejauhan. Suara manusia, nyata, serak oleh usia dan asin laut. Tak jauh darinya, dua orang nelayan setengah baya duduk di atas perahu kayu yang catnya mulai terkelupas. Tangan mereka cekatan merapikan jaring, meski gerakannya tak lagi sekuat dulu.

“Sedikit sekali hari ini,” ujar yang satu, menghela napas panjang sambil menggulung tali.
“Iya,” sahut temannya lirih, “bahkan tak cukup buat beli solar besok.”

Mereka terdiam sejenak, hanya bunyi jaring yang bergesek dan ombak yang memukul lambung perahu. “Ingat waktu kita masih kecil?” lanjut nelayan pertama. “Bapak kita pulang sebelum matahari tinggi, perahu penuh ikan. Kita sampai kewalahan bantu nurunin.”

Yang lain tersenyum pahit. “Sekarang? Setengah hari di laut, hasilnya segini.” Ia mengangkat jaring yang nyaris kosong. “Lautnya sudah bukan laut yang dulu.”

Percakapan itu membuat langkah Shang Dyah melambat. Ia merapat, berpura-pura hanya seorang pejalan yang menikmati senja, namun telinganya menangkap setiap kata.

“Sejak pantai dipagari tambak udang itu,” gerutu nelayan pertama, suaranya menurun, “air jadi lain. Mangrove habis, ikan entah ke mana.”

“Iya,” jawab temannya, nada suaranya getir. “Katanya demi kemajuan. Tapi kita yang di laut ini malah mundur.”

Ada jeda panjang. Angin membawa bau lumpur tambak yang asing bagi laut. Shang Dyah berdiri tak jauh dari mereka, hatinya bergetar. Gerutu kecil itu, sederhana dan jujur, terdengar lebih tajam daripada ratapan panjang. Ia menyimak dalam diam, menyadari bahwa tanpa mereka sadari, kedua nelayan itu sedang mengucapkan kebenaran yang selama ini dihindari banyak manusia.

Ombak kembali memecah di pasir. Dan Shang Dyah, kian mendekat, mendengarkan namun bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh keprihatinan yang bersemayam di dalam dirinya. Kedua nelayan itu kembali terdiam, seolah pikiran mereka sama-sama terseret ke arah pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban utuh. Di wajah mereka tergambar kebingungan yang lama dipendam.

“Entah kenapa ya,” gumam salah satu dari mereka sambil menatap laut, “sejak tambak itu jalan beberapa tahun lalu, ikan makin jarang. Padahal lautnya masih di sini, ombaknya masih sama.”

“Iya,” sahut yang lain pelan. “Rasanya ada yang berubah, tapi kita nggak paham betul apa. Kita ini cuma nelayan, taunya melaut, bukan hitung-hitungan tambak.”

Mereka menggeleng, pasrah pada ketidaktahuan yang terasa menyesakkan. Ada jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka pahami; jarak yang membuat keluhan hanya berhenti sebagai gerutu.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani, yang sejak tadi menyimak, melangkah lebih dekat. Ia menyamarkan kegundahan batinnya, membiarkan wajahnya tampil sebagai perempuan biasa yang singgah di pantai menjelang senja. “Permisi,” sapanya lembut, disertai senyum tipis. “Sepertinya laut hari ini kurang ramah, ya?”

Kedua nelayan itu menoleh.“Ah, iya, Naken,” jawab salah satu dari mereka, ramah meski letih. “Akhir-akhir ini memang begitu. Ikan susah dicari.”

Shang Dyah mengangguk pelan, seolah hanya ikut merasakan. “Dari dulu juga begini?” tanyanya basa-basi, nada suaranya ringan, namun matanya menyimpan perhatian yang dalam. “Tidak,” jawab nelayan yang lain. “Dulu laut ini murah hati. Sekarang… entahlah.”

Shang Dyah berdiri di antara mereka dan laut, membiarkan percakapan itu mengalir. Dalam diam, ia tahu, inilah celah kecil tempat kesadaran bisa mulai bersemi; dari obrolan sederhana, dari tanya yang jujur, dari manusia-manusia yang sesungguhnya hanya ingin hidup berdamai dengan alam.

Shang Dyah tersenyum kecil, lalu menatap laut sejenak sebelum kembali memandang kedua nelayan itu. Suaranya tetap lembut, namun kini berisi, seolah setiap kata telah lama disusun dengan pengetahuan yang matang.

“Sebenarnya,” ujarnya perlahan, “tambak udang tidak hanya mengambil ruang di pesisir. Dalam prosesnya, tambak menghasilkan limbah cair yang kembali mengalir ke laut.” Ia berhenti sejenak, memastikan mereka mendengarkan.

“Air buangan itu biasanya mengandung sisa pakan, kotoran udang, serta zat kimia seperti amonia, nitrat, dan fosfat. Jika jumlahnya kecil, laut masih bisa menyesuaikan diri. Tetapi jika dibuang terus-menerus dan tanpa pengolahan, zat-zat itu akan mengubah kualitas air.”

Kedua nelayan itu saling pandang, lalu kembali menatapnya. “Perubahan ini,” lanjut Shang Dyah, “menyebabkan eutrofikasi. Fitoplankton tumbuh berlebihan, oksigen terlarut di air menurun, dan biota laut yang membutuhkan oksigen tinggi, termasuk ikan-ikan tangkapan Bapak, perlahan menjauh atau mati.”

Ia menunjuk ke arah garis pantai yang kini tertutup pagar tambak. “Belum lagi hilangnya mangrove. Padahal mangrove adalah tempat pemijahan dan pembesaran banyak jenis ikan dan udang liar. Ketika mangrove rusak, siklus hidup biota laut ikut terputus.”

Nada suaranya tetap tenang, nyaris seperti dosen yang menjelaskan di ruang kuliah terbuka, dengan laut sebagai papan tulisnya. “Jadi bukan laut yang pelit,” simpulnya pelan. “Lingkungannya saja yang berubah, sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan seperti dulu.”

Kedua nelayan itu terdiam lama. Di wajah mereka tampak keterkejutan yang bercampur pemahaman baru. Shang Dyah menunduk ringan, seolah tak ingin terlihat menggurui. “Ini bukan kesalahan satu dua orang,” tambahnya lembut. “Ini soal bagaimana manusia sering lupa bahwa laut adalah sistem hidup yang saling terhubung. Jika satu bagian dilukai, bagian lain akan ikut merasakan.”

Ombak kembali datang dan surut, seakan mengamini penjelasan itu. Dan di senja yang semakin meredup, benih kesadaran mulai tumbuh, pelan namun nyata, di antara kata-kata yang akhirnya menemukan maknanya.

Senja perlahan menanggalkan warna keemasannya. Langit yang tadi berpendar hangat kini berangsur gelap, memasuki gerbang petang yang pekat dan sunyi. Garis laut dan langit menyatu dalam bayang kebiruan, sementara lampu-lampu kecil di perahu mulai dinyalakan satu per satu, berkelip seperti kunang-kunang yang kelelahan.

Shang Dyah menatap perubahan itu dengan diam. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergerak lebih jauh. Bagaimana kehidupan mereka di darat? batinnya bertanya. Bagaimana keluarga yang menunggu di rumah, menggantungkan harap pada laut yang kian menua?

Ia memandang kembali dua nelayan itu. Kerut di wajah mereka bukan hanya milik angin dan matahari, melainkan juga beban yang dipikul bertahun-tahun. Ada dorongan halus dalam dirinya untuk melihat lebih dekat, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai saksi kehidupan.

Shang Dyah pun sedikit memajukan langkah, berusaha menarik perhatian mereka tanpa kesan memaksa. “Petangnya cepat sekali gelap,” ujarnya sambil menatap langit. “Biasanya kalau sudah begini, rumah pasti sudah menunggu.”

Salah satu nelayan tersenyum tipis. “Iya, Naken. Istri sudah pasti resah kalau kami pulang kemalaman.” “Apa rumahnya jauh dari sini?” tanya Shang Dyah, nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa yang lahir dari keakraban mendadak.

“Tidak terlalu,” jawab yang lain. “Masih di kampung pesisir, tak jauh dari tambak itu.
Shang Dyah mengangguk pelan, lalu tersenyum hangat.

“Kebetulan saya belum tahu jalan di sekitar sini,” katanya, sedikit merendahkan suara. “Kalau tidak keberatan, boleh saya ikut sampai ke kampung? Sekalian ingin mengenal kehidupan nelayan lebih dekat.”

Kedua nelayan itu saling berpandangan, lalu mengangguk. “Boleh saja,” kata salah satu dari mereka. “Anggap saja jalan pulang bertiga.”

Di bawah langit yang kian gelap, Shang Dyah melangkah bersama mereka. Dalam hati, ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah rumah sederhana, melainkan menuju kisah manusia yang ingin ia pahami sepenuhnya; dari laut hingga ke ruang paling sunyi dalam kehidupan mereka.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah panggung kecil yang berdiri rapuh di tepi kampung pesisir. Kayunya kusam, beberapa bagian tampak lapuk dimakan usia dan udara asin. Begitu kedua nelayan itu mendekat, pintu rumah terbuka. Tiga orang anak berlarian keluar, wajah mereka cerah meski pakaian sederhana melekat di tubuh mungil itu. Di belakang mereka, seorang wanita menyusul, menyeka tangan di kain sarung, matanya memancarkan lega.

“Bapak pulang,” ujar wanita itu lirih namun hangat.

Shang Dyah berhenti sejenak, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang terasa menghangat sekaligus perih. Anak-anak itu menatapnya penuh rasa ingin tahu, sementara sang ibu tersenyum sopan. 

“Maaf, Bu,” kata Shang Dyah dengan suara halus, sedikit menundukkan kepala. “Bolehkah saya menumpang sholat Magrib?”

Wanita itu tampak terkejut sejenak, lalu mengangguk cepat. “Tentu, silakan. Rumah kami sederhana, tapi semoga cukup.”

Shang Dyah mengucapkan terima kasih. Saat diarahkan ke bagian belakang rumah untuk mengambil air wudhu, langkahnya melambat. Ia menyusuri lantai kayu yang berderit pelan, melewati dinding-dinding tipis yang tak sepenuhnya menahan angin malam. Di halaman belakang, sebuah sumur tua berdiri miring, dikelilingi ember plastik yang retak dan tanah becek bercampur pasir.

Pandangan Shang Dyah menyapu sekitar. Rumah itu jauh dari kata layak huni. Atapnya rendah, beberapa genting tampak bergeser. Tak ada sekat yang jelas antara ruang tidur dan dapur. Namun di tengah keterbatasan itu, terasa ketekunan dan ketabahan yang diam-diam tumbuh.

Sambil membasuh wajah dan tangannya dengan air dingin, Shang Dyah menunduk. Bukan karena air, melainkan karena rasa yang menekan di dalam dadanya. Beginikah harga dari laut yang terluka? batinnya bergumam. Manusia-manusia yang setia menjaganya justru hidup dalam kekurangan.

Air wudhu menetes dari jemarinya ke tanah. Dan di balik tubuh manusianya yang sederhana, Shang Dyah menyimpan tekad yang kian menguat, lahir dari apa yang baru saja ia saksikan di rumah kecil itu.

Usai sholat Magrib, rumah kecil itu dipenuhi suasana yang hangat dan sederhana. Lampu minyak menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding kayu yang kusam. Shang Dyah duduk bersila bersama keluarga nelayan itu. Anak-anak berkumpul di dekat ibunya, saling berdesakan, sesekali mencuri pandang ke arah tamu yang mereka anggap istimewa meski tak tahu alasannya.

Sang istri menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus di atas piring enamel yang pinggirnya terkelupas. “Maaf seadanya,” ucapnya lirih.

“Terima kasih,” jawab Shang Dyah tulus, senyumnya hangat, tangannya menerima suguhan itu dengan penuh hormat.

Percakapan mengalir perlahan. Tentang laut, tentang cuaca, tentang hari-hari yang kian berat. Salah satu nelayan mulai bercerita, suaranya datar namun sarat kelelahan.

“Sekarang melaut bukan soal berani lagi,” katanya. “Kadang kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap tak cukup.”

Istrinya menunduk, jemarinya meremas ujung kain. “Anak-anak tetap harus sekolah,” katanya pelan. “Kadang kami harus memilih, beli beras atau bayar buku.”

Anak-anak itu terdiam, seolah sudah terlalu akrab dengan kata-kata semacam itu. Salah satu dari mereka mendekat ke ayahnya, bersandar tanpa suara.

Shang Dyah mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tetap tenang, matanya lembut, namun di dalam batinnya sesuatu runtuh perlahan. Inilah akibat dari kerusakan yang tak pernah mereka lakukan, jerit hatinya lirih. Mereka membayar harga dari keserakahan yang bukan milik mereka.

Ia menahan napas, menelan getir yang naik ke dadanya. Betapa kejam dunia ketika yang paling setia justru yang paling menderita. Tangis itu tak pernah sampai ke wajahnya, namun di dalam, batinnya menangis pedih, tersedu tanpa suara.

Di tengah kisah-kisah sederhana itu, tawa kecil anak-anak sesekali pecah, menyingkap keteguhan yang tak tergoyahkan oleh kemiskinan. Dan di sanalah Shang Dyah duduk, menyaksikan cinta, ketabahan, dan luka yang hidup berdampingan dalam satu ruang sempit.

Malam kian pekat di luar, namun di dalam rumah kecil itu, api kehidupan tetap menyala. Shang Dyah menunduk pelan, menyimpan semua kisah itu dalam hatinya, bersumpah dalam diam bahwa penderitaan ini tak akan dibiarkan berlalu tanpa makna.

Malam semakin larut ketika Shang Dyah perlahan berdiri. Ia merogoh saku, menatap layar ponselnya, lalu berpura-pura menekan beberapa angka. Suaranya dibuat pelan namun cukup terdengar.

“Iya… aku sudah selesai,” katanya seolah berbicara dengan seseorang di seberang sana. “Tolong jemput aku di pantai tempat tadi kamu menurunkanku.”

Ia menutup panggilan itu dengan senyum kecil, lalu menoleh kepada keluarga nelayan tersebut. “Sepertinya saya harus pamit,” ucapnya lembut. “Teman saya akan menjemput di pantai.”

Sang istri bangkit tergesa. “Sudah malam, Naken. Terima kasih sudah singgah.”

Shang Dyah mengangguk hormat. Namun sebelum melangkah pergi, ia membuka ransel hitam pekat yang sejak tadi setia di punggungnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan dua helai kaos berwarna merah menyala, masih terlipat rapi. Warna itu tampak kontras di bawah cahaya lampu minyak yang redup.

“Ini… sedikit oleh-oleh,” katanya sambil menyerahkan kaos itu kepada sang nelayan. “Semoga bisa dipakai.”

Nelayan itu tampak kikuk, tangannya ragu menerima. “Wah, ini terlalu—”

“Tidak apa-apa,” potong Shang Dyah lembut, senyumnya menenangkan. Lalu ia mendekat kepada sang istri, menyelipkan sejumlah uang ke dalam genggaman tangannya. Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. “Untuk keperluan anak-anak,” bisiknya pelan.

Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia hendak berkata sesuatu, namun Shang Dyah hanya menggeleng perlahan, memohon agar tak ada penolakan.

Anak-anak memandang dengan mata bulat, tak sepenuhnya mengerti, namun merasakan hangatnya perpisahan itu.

Mereka mengantar Shang Dyah hingga ke gerbang kecil dari bambu yang berdiri miring di depan rumah. Angin malam menyapa lembut, membawa aroma laut yang pekat.

“Hati-hati di jalan, Naken,” ujar sang nelayan.

Shang Dyah menunduk hormat, lalu melangkah pergi. Dari balik bayang malam, ia sempat menoleh sekali lagi. Rumah kecil itu berdiri sunyi, namun di dalamnya tersimpan harapan yang rapuh dan doa-doa yang tak pernah berhenti.

Ia melanjutkan langkah menuju pantai stelah menorehkan ujung pemajanya pada lambung sampan sang nelayan;  tubuhnya menjauh, namun hatinya tertinggal; bersama keluarga nelayan yang baru saja ia temui, dan janji sunyi yang kini kian menguat di dalam dirinya. Berambung pekan depan

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi